
Kebahagiaan sederhana lainnya adalah ketika kita masih bisa menyambut pagi kembali. Alhamdulillah masih sehat dan bangun dalam keadaaan baik baik saja, bukankah itu nikmat yang Alalh berikan, namun terkadang kita lupa untuk bersyukur.
"Selamat pagi" ucap Nana pada dirinya sendiri. Tak lupa ia menyambut pagi dengan senyuman.
Dengan langkah pasti, Nana menyusuri jalan dengan senyum yang mengembang diwajahnya. Sampai di restoran, ia segera ke ruang ganti untuk mengganti bajunya dengan seragam pelayan restoran.
Pagi ini tidak seperti biasanya ia sengaja untuk melewatkan rutinitas rutinnya di pagi hari, yaitu mengirim pesan pada kekasihnya.
"Sayang, apa kau sudah sarapan?" Gumamnya sembari melihat ponselnya. Malah Nana yang merasa gelisah jika tak mengirim pesan pada laki - laki yang sudah mencuri penuh hatinya.
"Kenapa aku yang jadi galau" Nana memutuskan untuk mulai bekerja meskipun jam buka restoran kurang 10 menit lagi. Apa saja ia kerjakan untuk mengalihkan pikirannya dari sang pujaan hati.
*
*
Bolak balik Rama melihat ponselnya, sebelum berangkat ke kantor ia merasa heran kenapa belum ada pesan dari kekasihnya, sampai di kantor Rama melihat ponselnya kembali, belum juga ada pesan dari kekasihnya.
"Apa yang dia lakukan sampai lupa untuk mengirim pesan, apa tangannya terkuka sehinga tak mampu untuk menulis" Gumam Rama saat duduk dikursi kebesaraannya. Diletakkannya kembali benda pipih itu ke atas meja.
Rama mulai untuk mengerjakan pekerjaannya, dokumen sudah menumpuk untuk menunggu tanda tangannya. Sesekali diliriknya benda pipih itu, namun belum juga bergetar. Diambilnya kembali lalu mengeraskan volumenya, takutnya ia tidak mendengar jika ada pesan masuk.
Rama sungguh berlebihan.
Waktu jam makan siang sudah tiba, namun ponselnya belum juga berdering, biasanya Nana akan menghubunginya melalui telpon dan pesan. Tapi saat ini.
Dimas yang melihat raut kegelisahan diwajah bosnya pun bertanya. "Anda kenapa tuan? "
Kenapa hari ini tuan Rama lebih sibuk denagn ponselnya.
"Apa dia sangat sibuk hanya untuk sekedar menulis pesan" gumam Rama.
"Hah???"
"Ah... Kau tak akan mengerti" sergah Rama sembari meletakkan kembali ponselnya.
Anda sedang jatuh cinta pada istri anda sendiri tuan.
"Cepat hubungi dia, tanyakan jam berapa dia pulang? "
"Pada siapa tuan? " Dimas berpura - pura tidak mengerti. Dia hanya ingin Rama mengucapkannya.
Rama menatapnya tajam. "Istriku" ucapnya tegas. Rama mulai mengakui keberadaan Nana tanpa ia sadari.
Dimas segera menghubungi Nana setelah mendapatkan apa yang ia inginkan teleponpun terputus.
Padahal anda bisa menghubunginya sendiri, kenapa harus gengsi.
"Nyonya pulang jam lima tuan, mungkin saat ini nyonya juga sedang menunggu pesan anda tuan, seperti anda yang menunggu pesan nyonya sedari pagi"
__ADS_1
"Kau berani mengguruiku? "
"Saya tidak berani tuan"
"Keluarlah! " Titah Rama, Dimas menundukan kepalanya kemudian berlalu pergi dari sana.
Setelah kepergian Dimas, Rama merenungkan ucapan asistennya itu. "Benarkah Dia juga sedang menunggu pesanku" tanyanya pada dirinya sendiri, selama ini Nana yang selalu mengiriminya pesan lebih dulu.
*
*
Seorang wanita senyum senyum sendiri sembari bersandar di balik tembok.
"Kau kesurupan? Senyum - senyum sendiri seperti orang tidak waras saja" Ejek teman seprofesinya yang sudah lama bekerja disana.
"Eh... Mbak kity, lagi bahagia aja mbak" Jawab Nana sumringah
"Paling juga dimabuk cinta" Sambung temannya yang lain, yang sedang melewati jalan itu.
"Mas anton, kok suka benar gitu" Nana terkekeh kecil.
"Yang antar jemput kamu itu kan" tanya mbak Kity memastikan.
"Ya mbak"
"Dari mobilnya saja sudah kelihatan orang kaya, seperti apa wajahnya ya, kenapa pacarmu itu tidak pernah turun? "
"Pacar kaya, kenapa masih kerja"
"Yang kaya kan pacar saya mbak,, saya mah orang kampung mbak"
"Ah sama aja, yuk kerja lagi"
*
*
Nana langsung masuk ke dalam mobil ketika mobil yang menjemputnya sudah ada di depan mata.
Dengan senyum yang mengembang ia menatap laki - laki di sampingnya sembari memasang seatbelt. Mobilpun melaju.
Nana tersenyum dalam hati, melihat wajah Rama yang terlihat kesal.
Biarin aja dulu, langkah ke tujuh tarik ulur, tarik dulu.
"Mas kita beli makan malam dulu ya" ucap Nana mengalihkan pikiran Rama. Nana bersikap biasa saja seakan tidak terjadi apa - apa hari ini.
"Hemmm..... "
__ADS_1
Dasar tidak peka.
Mobil berhenti di warung yang sudah ditunjuk Nana, malam ini ia ingin makan ayam geprek. Salah satu makanan kesukaannya, perasaan semua makanan kesukaannya.
Nana turun dari mobil sementara Rama menunggu di dalam mobil. Nana memesan dua porsi ayam geprek, tambah satu ayam gepreknya saja. Setelah beberapa menit Nana menerima makanannya lalu kembali ke mobil Setelah membayar bungkusan yang ia beli.
Rama melajukan mobilnya kembali menuju apartemen. Nana tidak mengajaknya berbicara lagi, sengaja mendiamkannya. Mereka masuk ke dalam apartemen, Rama menutup pintu karena yang terakhir masuk.
Brug
Nasi yang dipegang Nana terjatuh ketika ada tangan besar menariknya. Rama menempelkan kekasihnya pada dinding sebelah pintu.
Nana tidak bisa bergerak, tubuhnya diapit kedua tangan Rama, sedangkan kakinya dikunci salah satu kaki Rama. Tubuh mereka menempel tidak ada jarak sedikitpun. Hidung mereka pun menempel.
"Kau sengaja melakukannya?" tanya Rama yang mulai merasa kalau Nana mempermainkannya.
"Apa? " pura pura dalam perahu nih Nana.
"Tidak menghubungiku seharian?"
"Aku sibuk, banyak pelanggan" bohong Nana.
"Begitukah?"
"Iya... " Jawab Nana gugup.
"Sepertinya kau minta dihukum" ucap Rama dengan senyum menyeringai.
Dengan gerakan cepat Rama membuka pakaian Nana. Sembari memberinya ciuman bertubi-tubi.
"Mas... . . " desah Nana.
"Diamlah, terima hukumanmu" Rama membawa Nana dalam gendongannya. Lalu melemparkan pelan tubuh mungil itu ke atas sofa.
"Disini? " Tanya Nana setelah tubuhnya dilempar ke atas sofa. Rama menyeringai, menatap tubuh Nana yang hampir polos dengan gairah yang sudah tidak bisa ia tahan, membuka bajunya satu persatu lalu memulai aksinya.
Nana pasrah menerima sentuhan Rama yang memabukkan suara ******* saling bersahutan, irama nafas mereka terdengar merdu.
Cukup lama mereka melakukannya. Sejenak istirahat dulu untuk menetralkan nafas mereka yang memburu. Setelah sedikit tenang, Rama menggendong kembali wanitanya yang terlihat kelelahan karena ulahnya.
Masuk ke kamar mandi, Rama membantu istrinya untuk membersihkan diri, meskipun sedikit malu Nana membiarkan kekasih sekaligus suaminya itu melakukannya.
Nana hendak keluar dari kamar. "Aku akan menyiapkan makanan dulu"
"Hemmm.... " jawab Rama sembari memakai kaosnya. "Jangan lupa minum vitaminmu" ucap Rama kembali membuat langkah Nana terhenti lalu berbalik.
"Ya, aku akan meminumnya" jawab Nana sendu sebelum membuka pintu lalu menutupnya kembali. Rama tidak menyadari perubahan wajah wanitanya.
Menghela nafas kasar, Nana bersandar dibalik pintu.
__ADS_1
Kau masih menyuruhku untuk meminumnya, entah kenapa aku berharap kau lupa. Sudah masuk minggu ke tiga kenapa Susah sekali untuk menembus hatimu.