Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 32 Itu bukan dari si duda


__ADS_3

Pagi ini mentari sangat cerah. Secerah hati seorang wanita yang sedang bersenandung ria. Menghentikan suaranya saat sepeda yang dikendarainya dihentikan oleh lampu berwarna merah, yang artinya semua kendaraan harus berhenti, namun ada saja beberapa orang yang melanggarnya.


Entah apa yang membuat mereka terburu - buru, sehingga lampu merah pun diterobos, mereka tidak memikirkan keselamatan mereka tapi setidaknya pikirkanlah keselamatan orang lain. Orang lain sudah hati - hati namun karena keteledoran orang lain yang bisa menyebabkan kecelakaan terjadi.


Nana teringat akan masa sekolahnya dulu, saat ia masih menggunankan sepeda pancal ke sekolah, ia sudah berhati - hati bersama teman - temannya, namun pengendara sepeda motor dari arah yang sama dengannya, mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, tak dapat dielakkan kagi kecelakaan pun terjadi.


Disini yang terjadi adalah atas kehendak Yang Kuasa, kita sudah berhati-hati namun Allah berkata lain, jadi berhati - hatilah dan jangan lupa berdoa agar kau tidak dianggap sombong.


Nana mengendarai sepeda motornya kembali setelah lampu berubah hijau. Tak lama ia sampai di toko. Memarkirkan sepedanya lalu masuk ke toko yang sudah sedikit terbuka, masih kurang beberapa menit lagi untuk membuka toko. Satu persatu rekannya mulai datang dengan tujuan yang sama dengannya untuk menjemput rezeky.


Dari kejauhan seseorang sudah menunggu kedatangannya lewat teropong yang ia pegang ia dapat melihat wanitanya dengan jelas.


"Selamat pagi sayang" gumamnya yang tak mampu di dengar oleh wanita yang dimaksudnya. "Kau sangat cantik hari ini, aku merindukanmu" aku menyesal seandainya aku tidak menyuruhmu minum obat itu mungkin kita sudah punya baby yang lucu lanjutnya dalam hati.


"Kau sudah melaksanakan apa yang aku perintahkan" tanyanya pada seseorang yang berdiri di sampingnya.


"Sudah bos" jawab Pak Jo.


"Kerja bagus, kau dapat diandalkan" Rama tersenyum bangga, ia yakin bisa merebut hati wanitanya kembali.


*


*


Di sisi lain.


"Permisi, paket bunga untuk nona Nana" kata seorang kurir atas suruhan pak Jo.


"Ya, saya sendiri" Nana menerima buket bunga mawar merah yang sangat cantik. Ia merasa tidak memesan bunga.


"Tanda tangan nona"


"Tapi saya tidak memesan bunga" ujar Nana heran.


"Mungkin seseorang yang menyukai anda yang mengirimkannya nona, saya hanya perlu tanda tangan anda nona, sebagai bukti" dia hanya kurir untuk mengirim bunga yang sudah dipesan untuk dikirim ke alamat yang dituju, untuk hal yang lain ia tidak tahu.


"Baiklah" Nana memberikan tanda tanngannya, toh laki - laki di depannya ini hanya menjalankan tugas, sama seperti dirinya hanya pekerja biasa. Ditanya pun tidak mungkin tahu.


Setelah itu kurir itu pun pergi.

__ADS_1


"Wah..... kiriman dari siapa Na? Cantik sekali" puji Ola sambil mencium aroma bunga mawar yang ada ditangan Nana. "Kau punya penggemar? Apa ini dari sang duda? " Ola terkekeh pelan setelah berhasil menggoda temannnya itu.


Nana dan Ola sama - sama karyawan baru disana, hanya selisih dua bulan. Ola bekerja disana terlebih dahulu. Mungkin karena itu mereka terlihat lebih akrab dibanding yang lain, dari segi usia mereka juga seumuran


"Entahlah, tidak ada nama pengirimnya" jawab Nana sembari menatap bunga cantik di depannya dengan tatapan yang hanya dia yang tahu.


"Sepertinya kau punya pengagum rahasia, siapa ya kira - kira" Ola nampak berpikir.


"Kenapa harus bunga, seperti orang meninggal saja dikasih bunga" ketus Nana.


Pletak.


Ola menyentil kening Nana.


"Nana... ini namanya romantis. Hadeh... pantas saja usahamu gagal merebut hati mantan suamimu, kau kurang peka" ujar Ola dengan ekspresi seperti ibu - ibu yang memberi penjelasan pada anaknya.


Ola sudah tahu perihal rumah tangga Nana, bukannya mengumbar aib, hanya saja Nana butuh teman cerita saat dia merasa down. Dan Nana menceritakan kisahnya pada Ola, Ola sampai menangis mendengar cerita Nana yang mengharu biru.


"Jangan membahasnya. Peka gimana, ini hanya bunga, bagusan bunga deposito bisa bikin kenyang, lah ini aromanya menakutkan seperti di kuburan saja"


Ola geleng - geleng kepala mendengar perkataan sahabat barunya itu.


"Lalu mau kau apakan bunga ini?" tanya Ola yang sudah lelah memberi penjelasan pada Nana, begitulah kalau belum pernah merasakan pacaran.


Mereka menata bunga itu kedalam vas, cukup untuk beberapa vas, mereka meletakkannya di setiap meja yang ada disana. Toko itu terlihat manis berbeda dari biasanya.


Tanpa mereka ketahui Rama mendengar semua ucapan mereka dari anak buahnya yang bekerja disana untuk memata - matai wanitanya.


"Apa semua wanita menyukai bunga? "tanya Rama, entahlah ia bertanya pada siapa, yang jelas disana hanya ada pak Jo.


"Ya bos, kecuali mantan istri anda"


"Kenapa ia tidak suka bunga? "


"Tidak tahu bos, bukankah anda pernah hidup bersama nyonya, apa bos tidak mengetahuinya" Rama menatapnya tajam sepertinya pak Jo salah bicara.


"Kirimkan dia coklat" perintahnya lagi.


"Baik bos" Pak Jo segera melaksanakan tugasnya yang mudah namun terasa berat, bosnya seperti abg yang sedang jatuh cinta. Memang benar bosnya sedang jatuh cinta, jatuh cinta pada mantan istri batin pak Jo.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Nana mendapat paket lagi.


"Siapa yang kurang kerjaan mengirim paket untukku,, bahkan sudah dua kali, apa ini orang yang sama? " tanyanya lirih.


"Paket lagi? " Nana mengangguk. "Kali ini dapat kiriman apa? " tanya Ola penasaran.


"Entahlah, aku belum membukanya" jawab Nana malas.


"Ayo cepat buka, penasaran apa isinya, mungkin itu uang, kau bisa jadi raya kaya"


Tuk


Gantian Nana yang menyentil kening sahabatnya.


"Jangan sembarangan bicara, takut orangnya dengar nanti malah ngirim dolar" Nana tertawa sambil bercanda, namun tidak dengan seseorang yang mendengarnya, ia merasa ucapan Nana serius.


Rama menghubungi anak buahnya untuk mendengar langsung ucapan Nana ketika dia menerima paketnya lagi.


"Kirimkan ia dolar! " perintah Rama yang membuat pak Jo termangu, bosnya ini memang super batinnya.


*


*


"Coklat.... Sebanyak ini, apa yang mengirimnya ingin aku sakit gigi, aku bisa ompong makan coklat sebanyak ini, kalau aku tahu siapa yang mengirimnya, awas saja" gerutu Nana kesal membuat laki - laki yang melihatnya melalui ponsel menatap sendu.


Setahun hidup bersama ternyata aku tidak tahu apa saja kesukaannya.


"Jangan berpikir buruk, dia memberimu banyak coklat supaya kau berbagi dengan teman kerjamu" hibur Ola yang juga merasa coklatnya terlalu banyak.


"Begitukah? " tanya Nana yang merasa jawaban yang diberikan Ola sedikit aneh. Apa iya pengirimnya juga memikirkan temannya.


"Kalu begitu bagikan saja" titah Nana yang tidak mungkin memakan coklat sebanyak itu sendirian.


"Baiklah, dengan senang hati Ratu Nana" ucap Ola dengan gaya seperti menyembah ratu.


"Apa iya si duda memberimu coklat, mungkin ini bukan dari si duda tapi dari orang lain"


Nana mengedikkan bahunya sembari menggigit potongan coklat ditangannya. Ola mulai membagikan coklat kepada semua temannya, setelah dibagikan pun coklatnya masih banyak.

__ADS_1


Rama tersenyum tipis.


"Kau benar itu bukan dari si duda itu, teman yang baik" puji Rama mendengar ucapan Ola.


__ADS_2