
"Jangan terlalu dekat dengannya, aku merasa ia tak sebaik kelihatannya" ucap Rama tegas saat mereka dalam perjalanan pulang.
Makan malam berlangsung sedikit canggung, hanya April yang begitu riang karena bisa bersama Nana. Dia tidak berhenti bicara meskipun Alfa menasehatinya untuk makan terlebih dahulu, dia bercerita tentang dirinya dan juga kebersamaannya dengan abinya, yang sebenarnya April tinggal bersama neneknya hanya sesekali menginap di rumah abinya.
Setelah makan malam selesai mereka pulang kerumah masing - masing. Rama yang menyetir sepeda motor Nana, sementara Nana bonceng di belakang.
"Kenapa? " tanyanya penasaran karena Rama sudah tidak punya hak untuk mengaturnya.
"Tatapannya terlihat aneh, menurutlah jangan terlalu dekat dengannya" instingnya kuat untuk hal seperti itu.
"Aku akan baik - baik saja" jawab Nana meskipun sebenarnya ia merasa tidak nyaman jika ia berdekatan dengan Alfa meskipun bertiga bersama April.
"Jangan keras kepala" tegas Rama.
"Kau saja yang terlihat baik mampu menyakitiku" Nana keceplosan karena kesal pada Rama. Ia tidak suka Rama melarangnya ini itu, mereka sudah bukan suami istri lagi.
Deg
Rama terdiam setelah mendengar ucapan wanita dibelakangnya. Rasa bersalah muncul di hatinya, menyessl telah menyakiti wanitanya.
"Maaf..... kembalilah padaku agar aku bisa menebus kesalahanku selama ini"
Nana terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Andai saja ucapan itu keluar saat ia belum memberikan tandatangannya, tanpa berpikir lagi ia akan menganggukkan kepalanya dan memeluk lelaki di depannya itu.
"Kata orang gelas yang sudah pecah tidak akan sama lagi jika disatukan, retaknya akan tetap terlihat mungkin hubungan kita akan seperti itu, jika kembali tak kan sama lagi"
"Jangan bilang kalau gelasnya plastik" lanjut Nana sebelum Rama mengucapkannya. Rama terkekeh pelan.
"Bukankah itu bagus, pecahan gelas tadi akan bersatu kembali meskipun terlihat retak tapi mereka saling menguatkan, karena pengikatnya sangat kuat, dulu aku tidak mencintaimu tapi sekarang aku akan memberikan segalanya padamu, bukankah sudah benar, jika kembali tak kan sama lagi. Aku akan lebih mencintaimu " jawaban Rama tak terpikirkan oleh Nana.
"Kau menyebalkan" ketus Nana sambil mencubit pinggang Rama.
"Auuuwww.... sakit... belum balikan kau sudah kdrt" gerutu Rama sambil mengusap pinggangnya yang dicubit Nana dengan salah satu tangannya.
"Kau pandai sekali bersilat lidah"
__ADS_1
Kemudian mereka tertawa bersama. Rama merindukan kebersamaan seperti ini, hanya sewaktu menjadi sepasang kekasih hubungan mereka lebih dekat selain urusan ranjang.
"Aku merindukanmu" gumam Rama lirih namun masih terdengar jelas ditelinga Nana. Tapi Nana mengabaikannya.
Rama memberanikan diri untuk menarik tangan Nana yang memegang ujung bajunya sampai ke perutnya dan saat ini kedua tangan Nana sudah melingkar di perut Rama. Entah terbawa suasana atau apa Nana menyandarkan kepalanya ke punggung laki - laki yang sedang membelakanginya itu.
Jauh dilubuk hatinya ia juga merindukan mantan suaminya itu. Haruskah ia menerima tawaran Rama untuk kembali, haruskah ia bahagia diatas penderitaan orang lain.
Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Biarlah seperti ini dulu.
Rama tersenyum kecil, mereka seperti kembali ke masa satu bulan mereka menjadi sepasang kekasih.
Ya Allah aku berharap akan selalu seperti ini. Ijinkanlah kami untuk bersatu kembali.
Tak lama mereka sampai di depan rumah Nana. Nana mengangkat kepalanya setelah sepeda yang dikendarainya berhenti.
"Sudah sampai?" tanyanya.
"Hemmm.... " jawab Rama. Lalu turun untuk membuka pagar rumah, diikuti Nana turun dari atas sepeda. Mereka melangkah bersama memasuki halaman dengan Rama yang membawa sepeda Nana lalu membantu memasukkan sepeda itu ke tempatnya setelah mendengar petunjuk Nana.
"Huh.... percaya diri sekali" ucap Nana sambil mencebikkan bibirnya.
"Masuklah" suruh Rama sembari mengelus lembut rambut Nana. "Besok kita berangkat bersama lagi ya"
Jantung Nana berdetak tak karuan mendapat perlakuan seperti itu dari mantan suaminya, kalau tidak salah ini pertama kalinya Rama mengelus rambutnya seperti ini.
Nana mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam rumah, Rama masih melihatnya sampai Nana menutup pintu dan menguncinya, lalu ia pergi dari rumah Nana menuju rumah yang sudah ia tempati beberapa minggu ini.
*
*
Seminggu berlalu mereka sering berangkat dan pulang bersama, Nana sebenarnya merasa risih dengan kebersamaan mereka sementata Rama masih denagn alasan yang sama, masa sewa mobilnya habis, dan ia juga tidak sempat untuk memperpanjang masa sewanya.
Saat Nana bertanya. "Kenapa Tidak membeli sepeda motor saja" Namun Rama menjawabnya karena dia tidak akan lama di kota ini dan ia akan segera kembali.
__ADS_1
Rama juga sudah berani berkunjung ke rumah Nana, bahkan ketika berangkat atau pulang kerja, Rama tidak lagi menunggu di ujung jalan tapi langsung menadatangi rumah Nana.
Bagaiamana dengan tetangga? jawabannya wauuuuw kereeeen..... Tidak ada yang tidak tahu tentang hubungan mereka, bahkan ada yang mengatai Nana janda gatal secata langsung, namun begitulah Nana, dia cuek dan mengabaikan mereka. Meskipun sebenarnya ia merasa sakit hati tapi biarlah.
"Kau ini kenapa harus kesini, tunggu aja di ujung jalan, gak enak jadi omongan tetangga" ujar Nana kesal melihat Rama yang berjalan ke arahnya dengan senyum lebar.
"Sama saja, biar saja mereka tahu kedekatan kita, apa salahnya? " bela Rama, ia merasa santai saja, untuk apa pusing dengan omongan tetangga batinnya.
Nana meras kesal dengan jawaban yang dilontarkan laki - laki yang langsung mengambil alih sepedanya.
"Mulai besok jangan berangkat bersamaku lagi, beli aja sepeda motor ntar kalau udah gak butuh kan bisa dijual, aku tidak mau jadi artis desa" ucap Nana ketus dengan wajah merengut.
Dia sudah malas bersikap lembut pada Rama, ia selalu membuatnya dalam posisi sulit. Bahkan kemarin ada seorang ibu - ibu yang nendatanginya hanya untuk menanyakan hubungannya dengann Rama karena putrinya menyukai Rama dan ingin Nana mundur karena Nana hanya seorang janda.
Memang kalau sudah janda di pandang sebelah mata.
"Bukankah enak jadi artis bisa terkenal tanpa susah payah" sahut Rama tanpa rasa bersalah sesikitpun.
"Ya kalau artisnya dibayar, lah ini cuma bikin telinga panas. Pokonya kita harus jaga jarak" kata Nana kesal.
"Aku tidak kenal siapapun disini, kau tidak kasian padaku" kata Rama sedikit dibuat sedih.
"Ck..... menyebalkan" Nana menahan gemuruh di hatinya, percuma bicara dengan mantan suaminya itu yang ada mereka tidak berangkat. "Ayo dah berangkat, hanya kali ini saja, jangan harapa besok aku akan memberimu tumpangan. Lagian mas Rama semiskin apa sih sekarang sampai tidak mampu untuk membeli mobil tapi bisa punya toko"
"Miskin? Siapa yang miskin? Aku hanya malas saja untuk beli karena sebentar lagi misiku berhasil jadi aku tidak akan lama lagi disini" Rama merasa heran kenapa mantan istrinya itu berkata ia miskin.
Bangkrut aja masih bisa sombong.
Nana merasa senang sekaligus sedih secara bersamaan mendenagr perkataan dari pria yang pernah ia cintai ini dan mungkin saja cinta itu masih ada sampai detik ini.
Mereka naik sepeda motor setelah lama berdebat dengan Rama yang mengemudikannya. Banyak mata yang memandang ke arahnya, dengan tatapan tak suka, tatapan mencibir dan juga meremehkan.
'Paling juga dia jual tubuh agar bisa bersama tuan Rama, mana mungkin orang seperti tuan Rama mau denagn gadis biasa seperti Nana, apalagi dia mantan anak badung'
'Statusnya juga sudah janda'
__ADS_1