
"Kenapa dimatikan, katanya mau melihatku makan, baru beberapa menit saja sudah menyerah, mas Rama pasti tergoda ingin makan seperti ini juga" gumam Nana.
Setelah puas makan dan merasa kenyang, Nana beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan ke arah mobilnya terparkir.
"Tante? " panggil seorang gadis kecil. Nana menghentikan langkahnya mendengar suara yang tak asing baginya. Ia menoleh kebelakang, terlihat April yang berlari ke arahnya.
Hap
April memeluk Nana. "April rindu tante" ucapnya dengan senyum bahagia bisa bertemu dengan tante kesayangannya. Nana membalas pelukannya.
Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah Nana menikah, karena Nana juga sudah berhenti bekerja. Dan April yang katanya sudah tidak pernah ikut abinya, karena Alfa menyerahkan restorannya pada orang kepercayaannya. Nana yang harus ikut sang suami ke Jakarta tidak bisa bertemu dengan April. Sungguh ini adalah pertemuan tak terduga. Entah apa yang dilakukan April dikota ini.
"Tante juga merindukanmu sayang, sama siapa kesini?" tanya Nana
"Sama bibi" April menunjuk seorang wanita yang sudah paruh baya dibelakang mereka. Sepertinya ia pengasuh April.
"Mau kerumah tante? " tawar Nana.
"Mau" jawab April bahagia. "Tapi.... "
Nana yang mengerti kegundahan April segera menenangkannya. "Nanti tante yang akan meminta ijin pada abi, bagaimana kalau kita hubungi abi dulu" usul Nana yang diiringi anggukan kepala oleh April.
April sangat senang bertemu dengan tante kesayangannya, yang ia harapakan menjadi ibunya namun gagal.
Nana menghubungi Alfa abinya April, setelah terhubung ia mengatakan maksudnya yang mendapat ijin dari Alfa. Lalu sambungan pun terputus.
Setelah mendapat ijin dari Alfa, Nana membawa April beserta pengasuhnya ke rumah mertuanya.
"Ini rumah tante, bagus sekali" tanya April takjub melihat keindahan rumah itu.
"Ini rumah mertua tante, orangtuanya om Rama" jelas Nana.
Sebenarnya rumah mertuanya tidak terlalu besar dan megah untuk ukuran orang kaya seperti mertuanya, karena mama Silvi menginginkan rumah yang sederhana tapi elegan. Namun untuk ukuran orang kecil seperti dirinya rumah itu sangat mewah. Rumah dua lantai yang luasnya kira - kira lima kali rumahnya dikampung beserta halamannya juga. Ini adalah rumah sederhana type orang kaya. Nana jadi tertawa sendiri dalam hati.
"Ayo masuk" ajaknya setelah keluar dari mobil yang juga diikuti oleh pengasuh April.
Nana membawa April dengan memegang tangannya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum" ucap Nana saat melihat keberadaan papa dan mama mertuanya.
"Waalaikumsalam" mereka pun menjawab bersaamaan.
Nana melangkah mendekati mereka. April merasa takut, takut jika dirinya tidak diterima di keluraga tante kesayangannya. April hanya diam saja mungkin ia sedikit memiliki trauma.
"Ma Pa, ini April anak teman Nana saat dikampung"
"Jadi gadis cantik ini bernama April, kemarilah sayang, duduk sini" kata mama Silvi.
April mendongak lalu melangkah ke arah pasangan paruh baya itu lalu mencium tangan mereka bergantian.
"Duduklah sayang, jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri" ucap mama lembut membuat April tenang sepertinya ia diterima di keluarga tantenya.
Mama Silvi memanggil pelayan untuk membuatkan minuman dan membawakan cemilan untuk April dan juga mereka.
"Tetima kasih Nida" sahut April sopan.
"Nida?" tanya mama silvi, dia bingung kenapa dirinya dipanggil nida.
"Ya nenek muda" ucap April polos membuat mama dan papa tertawa keras.
"Kalau nenek nida kalau kakek dipanggil siapa? " tanya papa Yusuf.
"Kida..... kuda..... " jawab April dan mama Silvi bersamaan membuat wajah papa masam.
Lalu mereka tertawa bersama.
*
*
Rama melangkah cepat menuju pintu rumahnya setelah memarkirkan mobilnya. Ia sudah tidak sabar untuk menancapkan pedangnya. Setelah tadi ia melakukan video call dengan istrinya ia jadi tidak fokus bekerja. Pikirannya dipenuhi kegiatan panas mereka di dalam kamar.
Kecepatan langkahnya berkurang saat mendengar suara orang tertawa, ia mendengar suara anak kecil yang juga tertawa.
Suara siapa itu?
__ADS_1
Saat semakin dekat ia melihat gadis kecil yang tak asing baginya.
Gadis nakal.
Rama melangkah perlahan lalu berdiri tepat dibelakang gadis itu, posisinya membelakangi Rama. Nana menyadari kedatangan suaminya saat Nana hendak memanggil suaminya. Rama meletakkan satu jarinya di bibirnya.
Nana menyipitkan kedua matanya. Dapat ia tebak apa yang akan dilakukan suaminya. Rama berdiri menjulang diatas April.
April belum menyadari keberadaan suaminya. Sedetik kemudian April mendongak ke atas, ia terperanjat kaget sampai berdiri sebab terlalu terkejut.
"Om..... " ucapnya sambil memegang dadanya dengan kedua tangannya.
Rama meletakkan kedua tangannya di pinggang membuatnya terlihat seram. Ia sengaja melakukannya karena ingin menakuti April.
"Apa kabar gadis nakal? " sapa Rama dengan ramah namun terdengar menakutkan di telinga April.
"Ba.... baik om? " sahutnya terbata. April bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh laki - laki yang seumuran dengan abinya itu.
Alfa sang Abi sudah menceritakan semuanya, meskipun ia masih anak - anak tapi dia cukup mengerti.
"Apa kita perlu bicara atau ada yang mau kau katakan pada om" tanya Rama lagi.
April menghembuskan nafasnya pelan. Lau ia menunduk. "Maaf" ucapnya sendu. Orangtua Rama belum tahu siapa penculik menantunya dulu karena Rama tidak memperpanjang masalah jadi mereka tidak membahasnya lagi. Mereka percaya Rama bisa menyelesaikannya sendiri.
April duduk kembali ditempatnya disusul Rama yang duduk di hadapannya sembari menatap gadis kecil itu tajam.
"Maaf.... aku hanya sangat menyayangi tante Nana, pertama kali bertemu dengannya aku sudah menyukainya, dan setelah aku mengenalnya aku lebih menyukainya" April memulai ceritanya. Anak kecil itu mengeluarkan suara hatinya.
"Tante Nana tulus menyayangiku, dia tidak pernah melihat Abi, sepertinya tante Nana tidak menyukai Abi, berbeda dengan wanita yang selalu mendekatiku karena Abi. Wanita yang lain perhatian padaku karena ingin dekat dengan Abi"
"Bagiku tante Nana yang terbaik. Aku ingin tante Nana menjadi ibuku, April yakin tante Nana akan menjadi ibu tiri yang baik untukku, bukan begitu tante" tanya April pada tante kesayangannya sambil melihat ke arah Nana.
Nana yang ditanya hanya terdiam kikuk, hanya senyum yang ia berikan, mau menjawab ia sudah mendapat tatapan tajam dulu dari sang suami.
"Tapi om Rama mengambilnya dariku, apalagi om Rama mantan suami yang pernah menyakitinya, aku tidak mau tante Nana disakiti lagi, lebih baik dia jadi ibuku dengan menikahi abi" jujur April.
"Tapi mereka tidak memiliki sinyal cinta, jadi April meminta pada Abi untuk menyembunyikan tante Nana, sekalian membalas sakit hati tante Nana dulu. Maaf kalau aku ikut campur dalam urusan orang dewasa, aku hanya tidak mau orang yang April sayangi tidak bahagia" April memohon maaf dengan tulus seharusnya ia tidak boleh mengurusi urusan orang dewasa.
__ADS_1
"Maafkan April om, tante nida dan kida" ucapnya kembali lalu menundukkan kepalanya.