
"Selamat pagi bang" Sapa Nana saat wawan membuka bengkelnya.
"Selamat pagi neng" jawabnya tanpa menoleh ke asal suara yang menyapanya. Neng pikirnya seketika ia berbalik melihat putri dari pemilik bengkel ada dihadapannya. " Neng " Panggilnya setelah tersadar.
"Ya bang, ini Nana" tersenyum ramah.
"Neng pulang? Sama siapa neng?" tanya Wawan senang setelah setahun tak pernah bertemu. Nana dekat dengan istrinya.
"Sendirian bang" Lalu mereka berbincang melepas rindu.
Nana juga bercerita tentang nasib pernikahannya, wawan pendengar terbaik. Ia merasa kasian dengan putri bosnya itu. Bengkel itu milik ayah Nana yang dipercayakan padanya untuk ia kelola.
Awalnya Wawan berpikir untuk mencari pekerjaan lain, namun Nana menghalanginya, katanya ayahnya akan bersedih jika tidak ada yang mengelola bengkelnya.
"Terima kasih bang, sudah menjaga rumah ayah dengan baik"
"Ya neng sama - sama, itu istri abang yang bersihkan, dia tidak mau rumah bapak jadi rusak, istri abang kangen sama neng"
"Ya bang, sekali lagi terima kasih"
*
*
Di sisi lain.
Tepat jam satu siang pengacara itu datang ke ruangan Rama.
"Ada apa? " Tanya Rama, karena dia merasa tidak ada pekerjaannya yang membutuhkan bantuan pengacara.
"Ini tuan" Pengacara itu menyerahkan akte cerai Rama dan Nana.
"Apa ini?" Pengacara itu tidak menjawab karena Rama sudah membuka dokumen itu.
"Akta cerai? Si..." Lidahnya berhenti setelah melihat nama yang tertera di dokumen itu.
Deg
Tangannya bergetar memegang dokumen ditangannya.
"Kapan kau mengurusnya?" tanya Rama.
"Dua minggu yang lalu setelah Nyonya Nana memberikannya pada saya tuan" jawab pengacara itu jujur.
"Dia menemuimu? "
"Ya tuan, setelah menghubungi saya terlebih dahulu"
__ADS_1
Dari mana kau mendapatkan nomer pengacaraku.
Selama dua minggu ini Rama sibuk dengan pekerjaannya dan juga merawat kekasihnya Arabella.
Arabella sadar setelah empat hari koma. Semenjak kesadaram kekasihnya itu, Rama sibuk merawatnya dan juga banyaknya pekerjaan yang ia tinggalkan untuk menjaga kekasihnya itu.
Apalagi Arabella untuk sementara harus duduk dikursi roda karena mengalami kelumpuhan ringan, yang masih bisa disembuhkan dengan therapy.
Sampai ia melupakan keberadaan istrinya. Kertas yang ia pegang terjatuh. Ia baru ingat bahwa ia ingin menceraikan istrinya dan ia melimpahkan semua urusan pada pengacaranya itu tanpa ia harus hadir. Dan sekarang ia sudah berhasil beecerai tapi kenapa ia tidak bahagia. Ada sesuatu yang berbeda di hatinya.
Ia bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju ke arah pintu.
"Tuan" panggil pengacara itu membuat langkah Rama terhenti "Mantan istri anda juga menitipkan ini" menyerahkan benda itu pada Rama.
Rama manatap kunci apartemen yang ada ditangannya dengan tatapan yang entahlah. Rama melanjutkan langkahnya meninggalkan pengacara itu diruangannya.
Entah kemana tujuannya, mencari istrinya yang sekarang sudah menjadi mantan istri, tapi untuk apa? Apa yang akan ia lakukan.
Namun Rama tetap melajukan mobilnya ke suatu tempat. Mobil itu berhenti di depan restoran tempat Nana bekerja.
Turun dari mobil berjalan masuk ke dalam restoran itu. Mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang sangat ingin ia temui. Tak kunjung menemukan wanitanya, Rama bertanya pada seseorang.
"Permisi, apa Nana hari ini bekerja" tanyanya pada salah satu pelayan yang melewatinya.
"Nirwana?"
"Ya"
Kau pergi tanpa menemuiku.
Rama kembali melajukan mobilnya menuju apartemen yang selama ini ditempati istrinya.
Membuka apartemen itu dengan harapan masih bisa melihat istrinya, tentunya harapan itu hanya sia - sia. Tatapannya tertuju pada satu kamar, kamar istrinya. Berjalan mendekati kamar itu lalu membukanya pelan, masih tercium aroma tubuh istrinya. Mengedarkan pandangannya pada setiap sudut kamar itu.
Teringat istrinya ketika masih bersama disana seraya duduk di tepi ranjang. Tatapannya sendu menatap tempat istrinya biasa bersolek. Didekatinya tempat itu lalu membuka laci kecil yang berada dibawah meja rias.
Ia mengeluarkan kartu atm dan cincin pernikahan mereka yang istrinya tinggalkan.
Kau mengembalikan semuanya sayang. Kau bahkan tidak menuntut apapun.
Ia keluarkan lagi sebuah kertas yang bertuliskan langkah - langkah membuat pria jatuh cinta, dan dibawahnya tertulis misi gagal. Disana juga ada foto mereka.
Kau sangat berjuang untuk membuatku jatuh cinta. Kapan kau mengambil foto kita.
Entah apa yang dirasakan Rama saat ini, dia tidak bisa berbohong kalau dia merasa kehilangan, mungkinkah ia mencintai dua wanita. Arabella jelas kekasih yang ia cintai, apa sekarang perasaannya terbagi, semudah itukah ia mencintai wanita lain selain Arabella.
Mengeluarkan kertas terakhir yang terlipat rapi, sebuah surat.
__ADS_1
Mas terima kasih satu bulan yang kau berikan, aku bahagia bersamamu. Maaf tidak mememuimu karena kau pasti sibuk merawat dia, dia sangat cantik, pantas saja kalau mas Rama tidak bisa melupakannya. Aku harap kalian selalu bahagia.
Rama terisak kecil setelah membaca surat dari wanita yang sudah menjadi mantan istrinya itu.
Kenapa perceraian ini juga membuatnya sakit. Dirogohnya ponsel disaku jasnya, lalu menekan nomer istrinya.
Nomor yang anda hubungi diluar jangkauan.
Rama membuka pesan yang dikirim istrinya, pesan yang belum sempat ia buka. Pesan terakhir dari istrinya, ia menangis membaca pesan itu, ia telah kehilangan wanita yang membuat hidupnya berwarna belakangan ini.
Kenapa aku yang tersiksa, bukankah bercerai denganmu yang aku inginkan.
Ia teringat saat istrinya mengajukan syarat perceraian.
'Baiklah aku setuju untuk bercerai dengan satu syarat, jadilah kekasihku! satu bulan saja'
'Mari kita jalani hubungan sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai. Jika dalam satu bulan kau tidak bisa mencintaiku, aku akan memberikan tanda tanganku tanpa syarat lagi'
'Dan tidak ada wanita lain selama kita menjadi sepasang kekasih, termasuk kekasih yang kau cintai itu'
Bagaimana kabarmu sayang? apa kau bisa hidup dengan baik tanpaku, apa kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
*
*
Ara is calling...
Ponselnya berdering sang kekasih menghubunginya, namun Rama mengabaikan ponselnya. Ia naik ke atas ranjang istrinya membelai tempat disampingnya.
Rama kembali meneteakan air mata, ia menyesal. Tapi apa yang bisa ia lakukan, mereka sudah bercerai.
Aku yang salah, aku mengabaikanmu, dan aku kehilanganmu.
Ponselnya terus berdering. Ara tak menyerah untuk menghubunginya.
*
*
Malam hari.
Ketika terbangun Rama merasakan kepalanya sedikit sakit.
Dia mengambil ponselnya, banyak panggilan tak terjawab dari Ara. Rama masih mengabaikannya kemudian ia menekan nomer Dimas.
"Suruh orang kepercayaanmu untuk mencari keberadaan Nana dan ikuti dia" perintah Rama,
__ADS_1
"Baik tuan" jawab Dimas, ternyata anda menyesal tuan, semoga anda tidak salah lagi dalam mengambil keputusan tuan, ucap Dimas dalam hati setelah sambungan dimatikan.
Rama melihat lagi foto mereka berdua, di foto itu Rama tidur dengan posisi duduk, sementara Nana tidur dipangkuannya dengan tersenyum lucu.