Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 19 Resmi bercerai


__ADS_3

Pasangan paruh baya yang masih terlihat tampan dan cantik itu berjalan tergesa. "Sayang tunggu" Teriak papa Yusuf. Melihat istrinya berjalan cepat di depan. Istrinya berjalan cepat sekali sampai ia tidak bisa mengejarnya, barang ditangannya membuat susah untuk bergerak.


"Ayolah jangan manja, diranjang saja kuat masak jalan seperti keong"


Papa Yusuf geleng - geleng kepala mendengar ucapan istrinya, bagaimana kalau ada yang dengar pikirnya.


"Sayang.... Nana.... " teriak mama Silvi setelah masuk ke dalam rumah.


"Nyonya.... " Sapa bibi tin pembantu dirumah Rama.


"Dimana Nana bi? "


"Nyonya muda sudah sebulan lebih tinggal di apartemen tuan Rama nyonya" beritahu bibi.


Apa hubungan mereka semakin baik, aku akan punya cucu.


Berjalan tergesa kembali menuju arah pintu. Suaminya heran melihat mama Silvi menuju ke arahnya tepatnya ke arah pintu keluar.


"Sayang kenapa? " Tanya suaminya masih diam di dekat pintu, ia mengurungkan niatnya untuk masuk lebih ke dalam setelah melihat mama Silvi hendak keluar.


"Kita ke apartemen Rama, mereka disana" jawab


mama Silvi bahagia.


Papa Yusuf mendengus, tangannya penuh dengan barang yang di beli istrinya untuk putra dan menantunya. Terpaksa ia mengikuti langkah istrinya menuju mobil kembali.


"Apa oleh - olehnya dibawa juga ke apartemen?"


"Ya dong sayang"


*


*


Melihat wajah suaminya yang kelihatan sedikit kesal, Nana membantu suaminya untuk membawa barang yang dia beli setelah sampai di basement. Nana menggandeng tangan papa Yusuf dengan senyum yang terus mengembang.


Istrinya itu memang yang paling bisa meluluhkan hatinya dengan sikap manisnya.


.


Menekan bel apartemen dengan tak sabar.


"Sayang pelan - pelan" ujar papa.


"Sepertinya mereka belum bangun" Melihat jam dipergelangan tangannya, jam sembilan.


"Ini weekend sayang, mereka lagi bersantai, lebih baik kita pulang saja,, suruh mereka ke rumah kita nanti" Ucap papa.


Ceklek


Mereka melihat ke arah pintu yang terbuka, terlihat putranya yang berantakan.


"Mama, papa" Sapa Rama yang sedikit terkejut melihat kedatangan kedua orangtuanya. Mama Silvi memeluk anaknya.


"Ya putraku tampanku, kenapa masih berantakan? " Tanya mama Silvi dengan senyum mengembang di bibirnya. Pikirannya sudah kemana mana.

__ADS_1


"Mamamu sangat merindukan kalian" sela papa Yusuf, yang merasa terabaikan.


Mereka masuk ke dalam rumah. Mama silvi mencari keberadaan menantunya itu. Papa sudah duduk di sofa


"Mana istrimu? " Tanya mama sembari membuka paper bag yang ia bawa. Merasa lama Rama untuk menjawab, ia mendongak melihat ke arah putranya yang masih terdiam.


"Apa dia masih tidur? " tanya mama Silvi lagi.


Rama bingung harus menjawab apa, lebih baik dia jujur saja toh mamanya pasti akan mengerti keadaannya.


"Dia pergi ma" jawab Rama dengan perasaan yang entahlah.


"Kemana?" mama Silvi masih belum menyadari tatapan sendu putranya.


"Ke kampung halamannya" jawab Rama setelah tahu dari orang suruhannya bahwa Nana kembali kerumahnya yang dulu.


"Kau tidak menemaninya?tega sekali membiarkan dia sendiri" padahal dia sangat merindukan menantunya itu.


"Kami sudah bercerai ma"


Brug


Tas yahg dipegang mama terjatuh begitu saja mendengar ucapan putranya itu.


Hal yang ia takutkan akhirnya ia dengar juga, tidak bisa menyalahkan putranya karena memang ia yang memaksa Rama untuk menikah. Namun tetap saja bukan ini yang ia inginkan.


"Bercerai? Kapan kau memberikan surat cerai padanya?" dengan menguatkan diri mama bertanya pada putranya itu. Mama terduduk di sofa.


"Beberapa hari setelah mama pergi"


"Tidak ma, kami baru kemarin resmi bercerai"


"Sekarang kau bisa menikahi wanita pilihanmu, mama tidak akan meminta apapun lagi padamu, kapan kau akan menikah?" tanya mama menatap ke arah putranya itu.


Rama terdiam mendengar pertanyaan mamanya. Kata menikah membuat hatinya sakit. Dia mundur beberapa langkah lalu duduk di sofa tunggal di depan mamanya.


Papa Yusuf hanya menyaksikan kedua orang yang ia sayangi saling membuka hati.


"Kau menyentuhnya? " tanya mama lagi, hal yang dari tadi mama tahan, tapi melihat tatapan sendu putranya dapat ia lihat penyesalan disana.


Rama tetap terdiam, lidahnya seakan terikat sehingga tidak bisa mengeluarkan suaranya.


Tak kunjung mendapat jawaban dari putranya, mama sudah busa menebak apa jawabannya.


"Apa kau juga memberinya vitamin? " Rama semakin membeku mendengar pertanyaan mamanya yang semuanya itu benar. "Vitamin yang sebenarnya adalah obat penunda kehamilan"


Mama Silvi menangis, disela tangisnya ia mengatakan " Kau melakukannya kan? kau melakukannya" tangisnya semakin menjadi.


Rama bingung kenapa mamanya itu bisa menangis histeris seperti itu. Dalam pernikahan tidak menutup kemungkinan itu akan terjadi, apalagi mereka sah sebagai suami istri.


"Sayang maafkan aku. Tenangkan dirimu jangan berpikir negatif, tidak semua wanita akan mengalaminya" suaminya menenangkan.


"Dia benar putramu, tapi kalian tidak salah, aku yang salah, aku yang salah telah memaksa anak kita"


"Maaf" ucap papa merasa bersalah.

__ADS_1


"Pa, apa ada yang aku lewatkan" tanya Rama, namun tidak ada yang menjawabnya.


"Ayo kita pulang" pinta mama yang tidak ingin sesuatu yang mereka rahasiakan belasan tahun akan terbongkar. Papa membawa mama Silvi meninggalkan apartemen Rama.


Sebelum menutup pintu mama Silvi berbalik. " Pulanglah, kita bicarakan pernikahanmu dengan wanita pilihanmu itu" ucap mama Silvi.


Rama masih penasaran dengan ucaoan kedua orangtuanya. Apa yang sebenarnya terjadi pikirnya?


.


Di dalam mobil


"Apa dia juga akan mengalami nasib yang sama denganku? " tanya Mama meminta pendapat papa.


"Berpikirlah positif sayang"


"Bagaimana kalau itu kenyataannya, anak kita sudah merusak masa depannya"


Papa mendengus pelan. Kalau saja ia bisa mengulang waktu ia tidak akan melakukan hal itu, sesuatu yang ia sesali sampai detik ini.


*


*


Sudah beberapa hari Nana tinggal dirumah lamanya.


"Neng...... " panggil Wawan.


"Ya bang.... " Nana keluar dari dalam rumah.


"ini neng... " menyerahkan sebuah amplop panjang berwarna putih. " Itu penghasilan dari bengkel selama setahun ini neng"


"Kenapa diberikan pada Nana bang? "


"Siapa lagi kalau bukan ke neng bapak sudah almarhum" jawab Wawan.


"Ini kan abang yang kerja?"


"Tapi bapak yang punya tempat dan peralatan, anggap saja itu bagi hasil, itu tidak banyak kok neng, abang harap neng mau menerimanya"


Melihat bang Wawan yang memaksanya terpaksa Nana menerima uang itu. Sebenarnya Nana merasa tidak enak karena bang Wawan pasti lebih butuh, tapi bener juga itu adalah bagi hasil. Kalau tidak diterima nanti bang Wawan tidak bekerja lagi disini pikir Nana.


*


*


Sudah seminggu ini Nana bekerja ditoko hp sebagai spg, kerjanya menawarkan ponsel pada setiap orang yang lewat, beda sedikit dengan menjadi pegawai restoran.


Maunya kerja kantoran, cuma sudah melamar kesana kemari tetap aja ditolak, ada yang menerimanya tapi kerjanya di pabrik, Nana tak sanggup kalau harus bekerja di pabrik.


*


*


Rama melihat laporan anak buahnya yang ia perintahkan untuk mengikuti Nana, ia menerima beberapa foto yang dikirim anak buahnya.

__ADS_1


Ternyata kau bisa hidup tanpaku, kau terlihat lebih bahagia.


__ADS_2