
Rumah sederhana berlantai dua namun terlihat elegan. Tidak seperti pemilik perusahaan lainnya, yang rumahnya megah, besar, halamannya luas. Mama Silvi lebih suka kesederhanaan. Tidak akan ada yang mengira dia istri seorang pemilik perusahaan kalau dilihat dari rumahnya.
Semenjak Nana pergi Rama lebih sering pulang ke apartemen dari pada ke rumah yang dulu ditempati Rama dan sang istri. Rumah itu pemberian mama Silvi sebagai hadiah pernikahan mereka.
Kali ini Rama mengemudikan mobilnya menuju kediaman orang tuanya. Tadi saat ia akan pulang mamanya menelponnya, menyuruhnya berkunjung.
Gerbang terbuka melihat putra majikannya berada di luar. Rama memasukkan mobilnya ke halaman rumah. Turun dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya. Seorang pembantu berjalan ke pintu depan untuk membuka pintu.
"Mama dimana bi?" tanya Rama pada pelayan yang membuka pintu.
"Di dapur tuan" jawabnya ramah.
Rama melangkahkan kakinya menuju dapur, ia ingin melihat mamanya. Setelah sampai di dapur ia melihat makanan kesukaannya lalu mengambil udang crispy yang ada di atas piring tanpa meminta ijin pada wanita yang sedang menggoreng sisanya.
Mama kaget tiba - tiba ada tangan yang mencomot udangnya, untung saja ia tidak mengangkat penggorengan ditangannya. "Ihhhh.... kebiasaan cuci tangan dulu" perintah mama sembari menepuk tangan Rama yang memegang udang.
"Satu aja ma, ehm...... enak banget, masakan mama memang the best" ucap Rama di sela kunyahannya. Mama hanya meliriknya, meskipun sudah dewasa kelakuan Rama kadang seperti anak kecil.
*
*
Keluarga kecil itu makan malam dengan lahap, Rama yang sudah lama tidak memakan masakan ibunya sementara suaminya sudah kelaparan daritadi. Mama menatap suami dan anaknya penuh rasa haru. Ia sangat bahagia memiliki mereka.
Terima kasih ya Allah.
Senyum kecil terlihat di bibirnya. "Mama senang melihat kalian makan dengan lahap" mereka berdua hanya menatapnya sekilas lalu melanjutkan makan kembali.
Makan malam telah selesai saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga ntuk mencicipi makanan penutup.
"Apa yang ingin mama sampaikan sampai menyuruh Rama pulang" tanya Rama, ia yakin ada maksud kenapa mama menyuruhnya pulang.
"Memangnga mama tidak boleh menyuruh anak mama pulang" ucap mama pelan.
"Bukan begitu ma"
"Baiklah - baiklah, selain merindukanmu mama memang ingin mengatakan sesuatu, lebih tepatnya mama meminta dukungan kalian berdua" akhirnya mama berkata jujur.
"Apa yang mama inginkan? " tanya papa dan Rama secara bersamaan.
"Mama mau mengadopsi seorang putri" ucap mama cepat. "Nirwana" lanjutnya yang seketika membuat Rama terlonjak kaget dan melepas makanan ditangannya.
"Apa? Aku tidak setuju" jawab Rama, mama menatap Rama lalu berganti menatap papa seraya meminta jawaban.
__ADS_1
"Aku terserah saja" jawab papa yang setuju saja dengan keputusan istrinya.
"Aku tetap tidak setuju" Rama kukuh dengan pendapatnya.
"Kenapa? " tanya mama yang sebenarnya sudah tahu apa alasannya.
"Ma, Rama sudah sebesar ini, tidak mungkin untuk memiliki adek"
"Kalian sudah saling mengenal pasti akan cepat akrab"
Ma kami tidak hanya saling mengenal, bahkan kami tidur seranjang. Dia istri Rama, berubah jadi kekasih lalu mantan istri. Tidak mungkin sekarang jadi adek kakak.
"Ma jangan bercanda" Rama tetap tidak setuju.
"Apa mama terlihat bercanda? mama cukup serius"
" Ma....... "
"Baiklah, mama akan membatalkannya dengan syarat cepatlah menikah dan segera buatkan mama cucu" tantang mama.
"Tidak semudah itu ma" jawab Rama gelisah.
"Apalagi yang tidak mudah, kamu duda, calon istrimu sudah ada, apalagi yang tidak mudah" tanya mama lagi.
*
*
Diruang keluarga setelah kepergian putranya.
"Sayang kau membuat putra kita frustasi"ucap papa.
"Dia sanagt mirip denganmu, menyesal setelah terlambat" balas mama.
"Jangan mengungkitnya lagi, tidak bisakah jangan membawa hubungan kita" pinta ayah, yang masih menyesal dengan apa yang pernah ia lakukan dulu pada istrinya itu.
Mama menghembuskan nafasnya kasar. "Baiklah. Rama menyuruh orang ntuk mengikuti Nana, kemarin waktu mama menemui Nana, ada seseorang yang mengikuti mama, dan mama yakin rama sudah mendengar obrolan kami waktu itu" mama menceritakan apa yang terjadi saat ia menemui Nana dikampung halamannya.
Tebakan mama tepat, menjadi istri seorang pengusaha membuatnya untuk selalu waspada.
"Sepertinya dia sudah menyesal" ucap papa, kenapa putranya itu harus mengulangi kesalahannya dulu batin papa.
"Aku rasa begitu, mungkin dia sudah jatuh cinta pada Nana tanpa ia sadari"
__ADS_1
"Apa mama ingin mereka rujuk? " tanya papa.
Menghela nafas pelan. "Mama hanya ngin menjaga Nana, untuk permasalahan mereka mama tidak akan ikut campur lagi, mereka mau rujuk atau tidak itu adalah keputusan mereka"
*
*
Rama melajukan mobilnya menuju rumahnya bersama Nana. Malam ini ia tidak pulang ke apartemen. Pintu terbuka Rama masuk ke dalam rumah, tanpa menyapa pelayan yang membukakan pintu untuknya. Melangkah ke lantai dua menuju kamar mereka dulu.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, keadaannya masih sama dengan terakhir kali ia berkunjung. Menatap le arah ranjang. Ranjang yang menjadi saksi kegiatan panas mereka. Rama tidak Mencintai istrinya, namun setelah mengambil haknya untuk pertama kali, Dia tidak pernah melewatkan malamnya tanpa menyentuh sang istri. Rama seakan candu dengan tubuh istrinya.
Merogoh ponselnya lalu menekan tombol yang ada di ponselnya, sehingga menampakkan keadaan apartemennya. Melihat Nana cukup menghiburnya.
"Kau menangis? " videoa itu memperlihatkan Nana yang baru saja masuk ke dalam apartemen langsung menangis setelah pintu itu tertutup.
"Apa yang membuatmu menangis? baju itu..... " Rama teringat pakaian yang dikenakan Nana, itu adalah pakaian terakhir kali mereka bertemu di rumah sakit, saat Nana membujuknya untuk makan.
Dan itu adalah pertemuam terakhir mereka, sampai surat cerai berada ditangannya, ia tidak mendapat kesempatan untuk bertemu Nana.
"Sayang, apa sesakit itu, maafkan mas sayang, seandainya waktu bisa diputar, mas tidak akan melepaskanmu" penyesalan yang dirasakan Rama membuatnya terpuruk. Dia sudah menyadari perasaannya terhadap Nana.
'Mas, apa kau ingin makan dulu atau mandi dulu?'
'Mas, aku letakkan disini ya kopinya'
'Mas hari ini tidak libur, ini kan hari libur'
'Apa mas banyak pekerjaan? '
Begitu banyak pertanyaan yang diajukan Nana saat mereka bersama dulu. Rama tidak terlalu Memperhatikan istrinya itu. Nana sering menatapnya dalam diam ketika ia sedang bekerja di kamar itu yang juga terdapat ruang kerja.
"Apa dulu kau sangat ingin jalan - jalan? Seorang wanita bebas sepertimu harus terkurung selama setahun dirumah suamimu sendiri"
Sejak menikah Nana tidak pernah keluar rumah, ia hanya keluar jika mama Silvi membawanya. Selain itu dia habiskan waktunya di dalam rumah.
Berbeda dengan dulu, rasanya sehari saja tidak keluar rumah akan membuat bokongnya kepanasan.
"Kau tidak pernah mengeluh dengan apa yang aku lakukan" gumam Rama lagi.
Rama menghempaskan tubuhnya asal ke atas ranjang. Menatap langit - langit kamar mencoba untuk mencari apa yang sebenarnya ia inginkan.
__ADS_1