Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 35 Ayo kita rujuk


__ADS_3

"Mas Rama" ucapnya kaget, melihat lelaki yang berdiri dibelakangnya. Ia bangkit dari duduknya yang tadi sempat duduk mensejajarkan tubuhnya untuk memeluk anak kecil yang bersamanya.


"Apa yang mas Rama lakukan disini?" tanya Nana bingung, untuk apa mantan suaminya itu berada di toko mainan anak, tidak mungkin dia sudah punya anak, mereka hanya beberapa bulan berpisah. Membeli mainan juga tidak mungkin, untuk siapa?


"Aku hanya melihat keadaan toko ini" jawab Rama santai sembari melihat ke arah anak kecil yang dibawa Mantan istrinya itu. Anak yang manis dan menggemaskan pikirnya. Hatinya seperti tersentil melihat kedekatan keduanya.


Jika pernikahan mereka dulu normal, mungkin saat ini mereka sudah punya anak.


"Maksudnya? " Nana belum bisa menangkap arti perkataan lelaki di depannya itu.


"Aku pemilik toko ini" Ucap Rama bangga sedikit menyombongkan diri. Entah apa maksud Rama menyombongkan dirinya namun Nana mengartikannya berbeda.


"Apa? " Nana terkejut mendengar ucapan Rama. ia sampai melototkan matanya saking terkejutnya. Hampir saja ia terjengkal kebelakang.


Mas Rama sudah bangkrut.


Itulah pikiran Nana, ia menyimpulkan sendiri dengan apa yang terjadi pada Rama. Padahal pikirannya itu tidaklah benar.


"Ya, ini toko milikku" ulangnya lagi.


Orang kaya kalau bangkrut masih bisa ya jadi pemilik toko yang lumayan besar ini, sepertinya ia ditolak untuk miskin.


"Apa mama baik - baik saja?" tanya Nana ingin tahu keadaan mamanya setelah kebangkrutan mereka, karena kalau Rama bangkrut otomatis papa mertuanya juga bangkrut, karena perusahaaan itu masih milik mantan mertuanya, itulah yang dulu dikatakan mas Rama.


"Mama.... " Rama merasa heran kenapa tiba - tiba ia menanyakan mamanya. "Mama sangat baik"


"Syukurlah, aku mendoakan yang terbaik untuk keluarga mas Rama" ujar Nana tulus.


Rama mengerutkan keningnya belum mengerti dengan ucapan Nana, meskipun itu hanya sebuah doa namun dibalik doa itu sepertinya ada maksud yang lain. Mungkin Nana memang mendoakannya batin Rama.


Rama mengabaikan pikirannya beralih manatap anak kecil itu, yang dari tadi hanya menyimak obrolan dua orang dewasa.


"Anak kecil, apa yang kau inginkan, ambillah! Om memberikannya sebagai hadiah pertemuan pertama kita" kata Rama, karena kau yang membawa wanitaku kemari lanjutnya dalam hati.


April tampak diam, ia sedikit takut melihat Rama. Nana merasa heran karena ia baru tahu bahwa April tidak mudah dekat dengan orang lain.


"Tenanglah sayang, om Rama orang yang baik, dia teman tante" Nana berusaha menenangkannya membuat April tersenyum.


Merasa sudah tidak takut lagi April menatap Rama. "Terima kasih om" ucapnya lucu.


Anak ini sungguh lucu.

__ADS_1


Rama tersenyum lebar, ia merasa sedikit cemburu melihat kedekatan wanitanya dengan anak kecil itu. Nana begitu telaten dan pintar menenangkannya.


Dia memang ahli mengambil hati orang lain, seperti yang telah ia lakukan padaku, mengalihkan separuh duniaku.


Rama menganggukkan kepalanya sembari menatap April. "Iya, om temannya tante, teman dekat tante" ia menegaskan kata terakhirnya.


Nana mengernyitkan keningnya. Bingung dengan perkataan mantan suaminya itu.


Apa iya mantan suami istri bisa jadi teman dekat, mungkin mas Rama hanya asal bicara saja.


Lalu mereka berjalan mencari mainan atau boneka yang dinginkan April, Nana juga melihat mainan disana. Tak lama April mendapatkan apa yang dia inginkan, sebuah boneka besar teddy bear berwarna pink.


"April mau itu tante" teriaknya setelah mendapatkan boneka kesukaannya.


Nana menoleh ke arahnya, baiklah tante akan ambilkan untukmu. Namun tangan Nana tak bisa menjangkaunya.


Tiba tiba ada tangan besar yang mengangkat boneka itu, Nana menoleh ke arah pemilik tangan itu, sebentar tatapan mereka bertemu.


"Yeeeee..... boneka teddy bear" jerit April yang memutus tatapan mereka. Seketika mereka merasa canggung.


"Ini untuk April" ucap Rama untuk mengalihkan kecanggungan diantara mereka. Rama memberikannya pada April yang diterima dengan senyum bahagia oleh anak kecil itu.


"Ya" jawabnya singkat, ia masih merasa canggung dan gugup sekaligus berdekatan dengan mantan suaminya itu.


"Bisakah kau menemaniku sebentar saja"


Nana nampak berpikir. "Aku akan mengantar April terlebih dahulu" sahut Nana, tandanya ia setuju untuk menamani Rama. Ia merasa tidak enak menolak Rama setelah apa yang ia lakukan untuk April, gadis kecil yang dibawanya itu.


*


*


Beberapa menit kemudian Nana datang dengan sepeda motor maticnya. Rama sudah menunggunya di depan toko dengan senyum mengembang dibibirnya. Entah kenapa mantan istrinya itu nampak cantik hari ini.


"Naik sepeda motor mau? " Nana bertanya karena ia tidak pernah melihat Rama menggunakan sepeda motor.


"Aku yang akan menyetir" sahut Rama mengiyakan ajakan Nana.


"Memang bisa? " tanya Nana heran. Bukan apa - apa karena ia tidak pernah melihat ada sepeda motor dirumahnya dulu, dia tidak mau menemani Rama ke alam baka.


"Kau meremehkanku" Rama mengambil posisi pengemudi lalu duduk dengan nyaman. "Naiklah! " titah Rama.

__ADS_1


Nana naik ke atas sepeda motor lalu memegang ujung baju Rama. Ini untuk pertama kalinya mereka naik sepeda motor setelah lebih dari setahun menjalin hubungan. Nana sedikit gugup. Dapat ia cium aroma maskulin yang berasal dari tubuh mantan suaminya itu. Aroma yang sangat ia sukai namun tak boleh ia rindukan. Apalagi berpikir untuk dimiliki.


Rama tersenyum tipis, ingin rasanya ia menarik tangan yang malu - malu untuk menyentuh tubuhnya. Tapi keberanian itu entah hilang kemana, ia bisa bersaing dengan pengusaha lain dengan berani namun di depan wanita ini ia seperti mati kutu.


Begini rasanya cukup untuk sementara.


Mereka berhenti di restoran sederhana.


"Aku lapar temani aku makan dulu" pinta Rama namun terdengar seperti perintah.


Mereka turun dari sepeda motor lalu memarkirkannya di tempat parkir. Mereka berjalan beriringan. Rama ingin menyentuh tangan yang berada disamping tangannya itu namun ia urungkan, waktunya kurang tepat untuk bertindak agresif.


Mereka memakan makanan yang telah dipesan oleh Rama, Nana yang sudah merasa kenyang ia hanya memesan cemilan.


"Sejak kapan mas Rama punya toko itu?" Nana bertanya untuk memecah keheningan.


"Beberapa minggu yang lalu" jawab Rama.


"Mas Rama akan lama berada di kota ini?"


"Setelah urusanku selesai" setelah aku bisa membawamu kembali lanjutnya dalam hati.


"Apa kau mau bekerja padaku, aku akan memberimu gaji yang tinggi" tawar Rama.


"Hah? "


Mana mungkin aku bekerja padamu mantan suamiku, bisa - bisa aku kena stroke karena gagal move on.


"Aku serius menawarimu pekerjaan" ujar Rama meyakinkan wanita dihadapannya itu.


"Terima kasih, Aku sudah nyaman bekerja disana" tolak Nana secara halus.


"Aku tidak akan memaksamu" Rama akan mencari cara lain untuk bisa selalu bersama wanitanya itu. Lalu mereka melanjutkan makan.


Rama menatap wanitanya. Dengan segenap tenaga dan sudah ia pikirkan secara matang, ia tidak mau menunda waktu lagi untuk mengutarakan maksudnya.


"Nana..... " panggilnya lirih, membuat Nana penasaran dengan apa yang akan dikatakan Rama selanjutnya.


"Ya..... " Nana menatap kearahnya.


"Ayo kita rujuk"

__ADS_1


__ADS_2