Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 29 Kejarlah kebahagiaanmu


__ADS_3

Rama menatap mantan istrinya yang sudah menunggunya diluar. Berjalan mendekat.


"Aku ambil mobil dulu, tunggu sebentar" kata Rama setelah sampai di dekat Nana.


Berjalan ke arah mobilnya. Mobil itu pun melaju ke tempat Nana menunggunya.


Nana membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam duduk disebelah laki - laki yang sudah berstatus mantan suami. Rama menyetir sendiri mobil itu.


Mobil melaju ka arah mall. Sampai disana adzan magrib berkumandang.


"Kita sholat dulu" kata Nana setelah mereka sampai di parkiran mobil.


"Baiklah"


Mereka melangkah ke arah Musholla yang disediakan mall itu untuk orang muslim melaksanakan ibadah. Setelah melaksanakan sholat mereka melangkah ke arah tempat penjual makanan.


"Kita makan dulu, kamu belum makan kan? " tanya Rama, Nana pun mengangguk, daritadi mantan istrinya itu hanya diam, bicarapun seperlunya saja.


Hubungan mereka terlihat kaku, tepatnya mereka berdua merasa canggung.


Rama jadi ingat dulu ketika mereka masih menjadi pasangan suami istri, Nana selalu tersenyum, bersikap lembut padanya meskipun ia sering cuek. Sewaktu menjadi pasangan kekasih istrinya itu lebih agresif, dan sekarang mereka lebih banyak diam, Rama memang tidak pandai untuk memulai pembicaraan dengan wanita kecuali untuk urusan bisnis.


Hening. Belum ada yang membuka suara antara keduanya setelah mereka memesan makanan. Bukankah Rama yang mau mengajak bicara malah diam daritadi.


"Mas Rama mau bicara apa?" Nana yang merasa terlalu lama menunggu akhirnya membuka suara. Ia merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi mengenai hubungan mereka, apalagi Nana memang tidak meminta harta sedikitpun, karena ia sadar diri selama disana ia hanya numpang.


"Bagaimana kabarmu? " ucap Rama, bukannya menjawab ia malah bertanya.


Nana memicingkan matanya, hanya itu pikirnya. "Aku baik - baik saja"


"Apa kau hidup dengan baik?" tanya Rama lagi.


"Apa sebenarnya maksud mas Rama, apa aku terlihat menderita? " tanya Nana balik, mulai sedikit kesal.


"Aku hanya bertanya, kenapa kau sedikit berbeda?" tanya Rama melihat wanita yang pernah menjadi istrinya sedikit emosian.


"Memangnya aku kenapa?" bukankah ia tak perlu jaim lagi, mereka sudah bukan suami istri lagi.


"Dulu kau wanita yang lemah lembut dan manis"


"Sekarang apa aku tidak manis lagi?"


"Kau semakin cantik"

__ADS_1


"Seorang Rama memujiku, jangan bilang kalau mas Rama jatuh cinta padaku setelah perceraian seperti judul novel yang pernah kubaca" tebak Nana asal.


"Kau terlalu banyak membaca novel"


"Sebenarnya apa yang mas Rama ingin katakan, cepatlah! aku sudah lelah seharian bekerja" keluh Nana.


"Berhentilah bekerja" titah Rama


"Lalu aku makan apa?" sahut Nana nyolot, mulai kesal dengan ucapan Rama, memangnya dia siapa pikirnya.


"Aku akan menanggungnya, aku akan mengirim uang setiap bulannya, gunakan untuk biaya hidupmu"


uhuk.... uhuk......


Nana tersedak minuman yang ia minum. Setelah pelayan mengantar minuman yang di pesannya ia langsung meminumnya.


"Mas Rama mau menjadikanku selingkuhan?"


"Sekingkuhan? sepertinya ide yang bagus" Rama tamoak berpikir.


"Maksudnya?" Nana merasa heran dengan jawaban Rama.


"Kalau kau mau, aku sih gak masalah" Rama berucap santai seperti tidak ada yang terjadi diantara mereka.


Setelah terkejut dengan perubahan Rama, Nana tersenyum sinis. Lebih baik dia mengerjai laki - laki ini.


Kita lihat bagaimana reaksinya.


"Apa mas Rama disuruh mama Silvi untuk membujukku?" tanya Nana polos.


Sekarang gantian Rama yang merasa heran apa hubungannya dengan mamanya. "Tidak" sahutnya tegas.


"Aku kira mas Rama datang untuk membujukku, karena mama memintaku menjadi saudara mas Rama sepertinya sangat menyenangkan punya kakak kaya dan tampan, akan banyak wanita yang mendekatiku untuk mendapat perhatian mas Rama"


Uhuk..... uhukkk....


Berhasil. Rupanya kau terkejut.


Nana tersenyum smirk.


"Mas Rama hati - hati minumnya" Nana bersikap sok perhatian padahal dia sengaja.


"Aku tidak mau punya adik sepertimu, akan sangat menyusahkan"

__ADS_1


"Tapi mama memaksaku, aku mana tega membuatnya sedih, mungkin aku akan menyuruh mama untuk segera mengadopsiku" ucap Nana dengan mimik wajah yang dibuat sedih dan terpaksa.


"Jangan pernah berpikir untuk melakukan itu"


"Memangnya kenapa? mama sangat baik padaku, dia tulus menyayangiku, aku sudah sebatang kara tidak punya siapa - siapa lagi, apa aku memang ditakdirkan untuk hidup sendiri, suamiku sendiri juga membuangku" berucap sendu membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa iba, apalagi dengan aktingnya yang begitu maksimal.


"Aku hanya punya mama Silvi, meskipun kami tidak punya hubungan darah tapi hanya dia yang tulus menyayangiku, mungkin ini sudah takdirku. Baiklah aku akan menjauh dari mama Silvi" Nana menundukkan wajahnya seperti wanita teraniaya.


"Aku pergi dulu, semoga mas Rama selalu bahagia" Nana beranjak dari duduknya, Rama masih terdiam, dia merasa tersindir sehingga tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya menatap diam kepergian mantan istrinya itu.


"Kenapa jadi begini" gumam Rama setelah Nana pergi menjauh dari tempat ia duduk.


*


*


Seminggu yang lalu.


Malam ini akan diadakan makan malam keluarga, antara keluarga Rama dan keluarga kekasihnya. Rama sudah memesan restoran vip untuk kelancaran pertemuan itu.


Pertemuan yang akan membicarakan kelanjutan hubungan Rama dan Arabella. Rama sudah setuju untuk menikah lagi asalkan mamanya membatalkan niatnya untuk mengadopsi Nana. Namun diluar perkiraan pertemuan itu bukan melanjutkan hubungan melainkan mengakhiri secara sepihak karena Arabella tidak mau kehilangan Rama.


"Maaf telah menghianatimu, maaf aku yang salah, marahlah padaku"


"Apa maksud mas Rama? " tanya Ara, matanya sudah berkaca - kaca, dari perkataan Rama dia sudah merasakan hal buruk yang akan terjadi dengan hubungan mereka.


"Aku sudah menikah setahun yang lalu, pernikahan yang sebenarnya tidak aku inginkan, tapi karena situasi membuatku harus menikah, maaf aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, aku berharap kau akan mendapatkan penggantiku yang jauh lebih baik" ucap Rama panjang.


"Tidak, aku tidak mau hubungan kita berakhir, aku mencintaimu" Ara menangis di depan orangtuanya, ia sangat mencintai Rama. Kekasih yang sudah lama menemaninya dalam suka dan duka. Bagaimana Rama bisa meninggalkannya, apa Rama mencintai istrinya batin Ara.


"Tapi aku tidak pantas untukmu"


"Apa kau mencintainya?"


Rama terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan wanita yang saat ini sedang menangis tersedu, ia tidak mau semakin menyakiti hati wanita itu. Hatinya sakit mendengar tangisan wanita di depannya. Tapi apa yang bisa ia lakukan, ia sudah menikah meskipun sekarang hubungan itu sudah menjadi mantan suami istri.


"Jawab! Apa kau mencintainya?" tanya Ara sedikit keras.


"Ya" terpaksa menjawabnya. "Aku mencintainya setelah dia pergi, aku baru menyadari perasaanku"


"Kami sudah bercerai, dia pergi tanpa bertanya lagi padaku, bukankah aku sangat brengsek" lanjutnya.


"Ya kau sangat brengsek, kau laki - laki brengsek" ucap Ara marah.

__ADS_1


"Kejarlah kebahagianmu, lupakan aku yang tak pantas untukmu" Rama berucap dengan tulus, ia mendoakan kebahagiaan wanita yang pernah sangat ia cintai itu. Namun takdirlah yang mempernainkan mereka, kita tidak pernah tahu dengan siapa takdir kita.


__ADS_2