
Duuuaaaaaarrrrrrr............
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Nana terpaku, sendok yabg dipegangnya terjatuh. Hening. Nana berusaha untuk menajamkan telinganya kembali saat laki - laki yang masih ada dihatinya itu berucap kembali.
"Ayo kita mulai dari awal lagi, kembalilah padaku" suara mantan suaminya sangat jelas.
Ya pendengarannya tidaklah salah, penglihatannya pun masih bagus, laki - laki dihadapannya adalah mantan suaminya.
Tes
Tak mampu untuk membendungnya lagi. Air mata itu jatuh tanpa bicara, sekelebat kenangan muncul di kepalanya. Seakan dunia menertawakannya. Takdir apa ini? Haruskah ia bahagia setelah mendengar ucapan mantan suaminya itu. Tapi kenapa ia justru menangis, hatinya merasa sedih.
Tanpa bicara Nana mengambil tasnya lalu beranjak berdiri meninggalkan tempat itu. Belum sempat melangkah tangannya dicekal oleh sang mantan suami. Seketika Nana menoleh kearahnya.
"Jangan pergi" ucapnya penuh harap.
"Apa kau pikir aku ini lelucon, apa kau pikir aku ini barang yang jika kau ingin kau akan mengambilnya kembali jika kau tidak suka kau akan membuangnya sesuka hatimu" ucapnya penuh amarah, entah kenapa ia merasa marah dengan ucapan Rama, ia merasa semakin tak berharga.
"Maaf..... Aku..... "
Belum selesai berucap, Nana berlari meninggalkannya. Rama berusaha untuk mengejarnya.
"Shiittttt...... " ia lupa belum membayar makanannya.
Setelah membayar di kasir ia segera berlari keluar restoran, mencari keberadaan wanitanya.
"Nana..... " panggilnya dengan sedikit berteriak karena posisi mereka sedikit jauh. Nana sudah keluar dari halaman restoran itu.
"Dia meninggalkanku. Sesakit itukah luka yang telah kugoreskan dihatimu"
Rama teringat di malam ia memberikan surat cerai itu pada istrinya. Meskipun Istrinya tidak menangis di depannya dapat ia lihat tatapan kesedihan, kekecewaan dari sorot matanya. Dia lebih memilih menangis dibelakang rumah, menyendiri menyembunyikan kesedihannya. Namun saat itu ia tidak mencintai istrinya sehingga ia abai dengan apa yang terjadi pada istrinya.
Tapi sekarang rasa itu sudah tumbuh bahkan sudah berakar. Rasa yang terlambat ia sadari atau mungkin rasa itu sudah ada sejak lama.
Ia mulai menyadari satu hal, istrinya itu wanita yang pandai menyembunyikan perasaannya, ia ingin selalu tampak bahagia di depan orang - orang yang berada disekitarnya.
__ADS_1
Menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar.
"Apa yang telah aku lakukan, sepertinya salah mengajaknya rujuk di awal seharusnya aku mendekatinya dulu, bersabar untuk mendapatkan hatinya, sekarang dia pergi, aku malah membuatnya menjauh" rutuknya pada diri sendiri.
Memukul angin dengan tangannya,, seperti melempar sesuatu lalu menendang angin dengan kakinya untuk mengeluarkan rasa kesalnya.
Banyaknya pekerjaan tidak membuatnya frustasi, tapi ini hanya karena wanita ia sampai lepas kendali.
Merogoh ponsel yang berada di saku celananya. Lalu mengetik sesuatu disana.
Rama : [Maafkan aku, maaf untuk semua yang aku lakukan padamu]
Meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku celana lalu berjalan seraya mencari taxi, namun di kota kecil ini tidak ada taxi, adanya grab dan ojek.
Dia enggan untuk membuka ponsel kembali, ketika ia melihat tukang ojek ia langsung memanggilnya.
Memesan tukang ojek berseragam warna warni ia harus menggunakan aplikasi dulu, dia membayar dua kali lipat untuk tidak mempersulitnya. Si tukang ojek pun bersedia.
Rama memberitahu alamatnya, ia memilih pulang daripada kembali ke toko. Sudah ada pak Jo yang mengurus tokonya, ia juga tidak benar - benar menjaga toko yang ia lakukan hanya memegang teropong untuk mengawasi wanitanya. Rama percaya pada semua karyawan tokonya.
*
*
Ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan daster rumahan berwarna hijau botol, sangat pas ditubuhnya, ia terlihat segar dengan rambut yang masih dibalut handuk.
Tak lama adzan magrib berkumandang, ia segera mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Nana sudah selesai sholat dan ia mengambil Al-quran, membaca Beberapa lembar halaman Lalu menutupnya setelah selesai.
Tok
Tok
Tok
Terdengar ketukan dari pintu depan. Nana melipat mukenahnya kembali lalu berjalan keluar untuk melihat siapa yang bertamu kerumahnya.
__ADS_1
Krek.... pintu ia buka
Deg
Melihat siapa yang bertamu, Nana hendak menutup pintunya kembali, perasaannya belum bisa menerima kehadiran laki - laki yang saat ini berdiri dihadapannya. Namun ada kaki yang menahan pintu itu sebelum tertutup penuh.
"Jangan menghindar,, ayo kita selesaikan hubungan kita, kau tahu kedatanganku ke kota ini hanya untukmu, untuk membawamu kembali, untuk memulai hubungan dari awal lagi denganmu" Rama mengungkapkan tujuannya.
Setelah sampai dirumah sewanya dan sudah membersihkan diri. Rama keluar lagi, ia tidak mau menunda lagi keinginannya, ia bukan remaja yang harus bermain kejar - kejaran dengan seorang wanita. Ia akan bersikap gentle, ia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Berjalan keluar dengan baju santainya, tujuannya hanya satu rumah mantan istrinya. Banyak mata yang melihatnya, tentu saja tidak ada yang mampu menolak pesonanya.
"Maaf telah menyakitimu, mungkin tidak mudah untuk memaafkanku apalagi melupakan apa yang telau aku lakukan padamu. Tapi aku mencintaimu, mungkin sulit untuk kau percaya dengan apa yang aku katakan"
"Maaf karena terlambat menyadarinya, aku mencintaimu Nirwana, aku mencintaimu mantan istriku, tolong beri aku kesempatan sekali lagi"
Tes tes tes
Bulir - bulir kristal itu jatuh begitu saja, ia tidak bisa lagi bersikap kuat dihadapan laki - laki ini, tidak bisa lagi bersikap baik - baik saja. Hatinya terluka, sakit. Nana menangis sejadinya di depan mantan suaminya. Kenapa takdir begitu mempermainkannya.
Rama masuk lalu mendekap wanita rapuh di depannya itu.
"Maafkan aku, aku menyesal" bisiknya ditelinga wanitanya.
Setelah cukup tenang. Nana berucap "Semuanya sudah berakhir, kita sudah bercerai, perasanmu sudah tidak berguna, sudah sangat terlambat, bukankah aku sudah memberimu kesempatan untuk menyadari perasaanmu padaku. Kau bilang kau menyesal bersamaku, dan sekarang kau bilang menyesal membuangku, apa aku masih bisa mempercayaimu? "
Deg
Rama terdiam, perkataan Nana menjadi pukulan telak untuknya. Ia ingat saat Nana bertanya padanya dulu 'apa kau menyesal'. Rama tidak menjawabnya waktu itu namun diamnya sudah menunjukkan kalau dia menyesal.
Melepaskan dekapannya lalu menatap wanitanya yang sudah sembab.
"Maafkan aku, kali ini percayalah padaku. Apa yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku"
Menutup matanya sejenak, lalu menatap Rama kembali. "Aku sudah memaafkan mas Rama. Mungkin ini sudah takdirku menjadi janda di usia muda. Sekarang statusku janda muda, itu tidaklah buruk" ia tersenyum manis setelah mengucapkannya, agar ia terlihat baik - baik saja.
Rama tersenyum getir melihat wanitanya berpura - pura baik - baik saja. Mantan istrinya itu wanita yang kuat, ia belum benar - benar mengenal wanitanya.
__ADS_1