Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 61 Terima kasih


__ADS_3

Rama menghembuskan nafasnya kasar, ingin marah tapi juga ingin tertawa mendengar penjelasan April, ternyata dia sangat menyayangi istrinya. Meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah sedikitpun.


Bagaimana bisa anak sekecil ini bisa berpikir sejauh itu.


"Dari mana kau tahu aku mantan suami tante kesayanganmu ini? " tanya Rama.


"April mendengarnya saat tante Nana berbicara dengan tante Ola" jawabnya polos.


"Kau menguping pembicaraan orang dewasa"


"Tidak, aku tidak menguping, aku berada disana saat orang dewasa berbicara tentang om Rama" setelah mengucapkannya April berdiri menghampiri Rama.


"Tante Nana sering merindukan om" bisiknya ke telinga Rama. Membuat wajah sok seramnya langsung berubah ramah.


"Om sudah memaafkanmu, jadilah anak yang baik tapi sebagai gantinya om mau meminta sesuatu" Rama langsung berubah ramah tidak berpura-pura sok seram lagi.


"Menginaplah disini, tantemu sangat merindukanmu"


"Apa boleh?" tanyanya girang.


"Sangat boleh, om sendiri yang akan meminta ijin pada Abimu"


"Yeee....... " teriak April senang.


Mama Silvi dan papa Yusuf dari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan mereka. Nana pun ikut diam.


*


*


Lima tahun kemudian


"Kakek..... nenek..... " teriak anak kecil memasuki rumah itu. "Adam pulang" anak kecul itu berlari menghampiri sang kakek yang sedang bermain kuda kudaan bersama adeknya Hana, sementata sang nenek sedang menggendong adeknya yang masih kecil Salsa.


Seorang laki - laki yang tak lain sang papi menyusul dari belakang. Ia menjemput putranya yang sudah duduk dibangku sekolah taman kanak - kanak.


"Kakak sudah pulang?" sapa nenek menirukan suara anak kecil.


"Dek, ayo turun kasian kakek" seru Adam, memegang bahu adeknya.


"Duh pinggang kakek sakit sekali" seru kakek sambil menyentuh pinggangnya berpura - pura sakit.


"Kakek sakit? " suara Hana bertanya pada kakeknya yang diikuti anggukan kepala oleh sang kakek.


"Baiklah Hana akan turun" lalu Hana turun dari punggung sang kakek yang menjadi kuda.


Adam perwira adalah anak sulung dari pasangan Rama dan Nirwana, mereka memiliki tiga anak.


Yang pertama Adam sudah berusia lima tahun, yang kedua Hana Perwira berusia tiga tahun, yang ketiga Salsa Perwira masih berusia satu tahun.


"Mah, kemana maminya anak - anak? " tanya Rama yang sudah berada disana. Ia tidak melihat keberadaa sang istri.


"Nana dikamar, sepertinya kurang sehat, mama menyuruhnya istirahat" jawab mama cepat.


"Rama ke atas dulu ma" pamitnay pada sang mama.


Rama naik ke lantai dua menuju kamar yang ditempatinya bersama sang istri. Segera ia buka pintu kamar setelah ia sampai tepat di depan pintu. Terlihat istrinya berbaring di atas ranjang. Ia melangkah lebih dekat lalu duduk ditepi ranjang.


Merasa ada yang mendekat, Nana membuka matanya perlahan, wajahnya terlihat pucat.

__ADS_1


Ditatapnya wajah cantik wanita yang sudah memberinya tiga malaikat kecil. Padahal tadi pagi sewaktu ia tinggal untuk bekerja, wanitanya masih baik - baik saja. Bahkan sangat sehat.


Habya beberapa jam ia tinggal istrinya sudah sakit. "Apa ada yang sakit? " Tanya Rama melihat istrinya lemah, Nana menjawab pertanyaan suaminya dengan gelengan kepala.


"Aku hanya sakit kepala mas, badanku tiba - tiba lemah" jawabnya denagn suara lemah khas orang sakit.


"Aku akan panggilkan dokter" ucap Rama.


"Tidak perlu, istirahat sepertinya sudah cukup" sergah Nana.


"Baiklah, aku akan menemanimu"


"Mas tidak ke kantor lagi? "


"Istriku sedang sakit, tidak mungkin aku meninggalkannya"


"Dimas pasti repot"


"Itu sudah tugasnya. Kenapa jadi memikirkannya?


"


"Aku tidak memikirkannya,, hanya tidak enak saja"


"Sudahlah jangan dipikirkan lagi, ayo tidur" Rama lalu menarik selimut untuk mereka berdua. Rama memeluk istrinya, posisi mereka berhadapan.


Nana mengendus aroma suaminya, wangi. Ia sangat menyukainya, rasanya menenangkan.


Nana berusaha untuk membuka kancing kemeja suaminya, ia ingin bersandar pada dada bidang suaminya.


"Kau ingin melakukannya? " tanya Rama yang suka melihat keagresifan wanitanya. Nana membuka kancing kemejanya satu persatu.


"Aku hanya ingin mnyentuhnya" jawab Nana.


Nana mengabaikan ucpan suaminya. Setelah kancing kemeja itu terlepas semuanya, terlihatlah singlet yang membungkus dada suaminya. Segera ia menarik kaos tipis itu ke atas, lalu menciumi dada sang suami.


Rama merasa aneh dengan apa yang dilakukan istrinya, bukan hanya geli yang ia rasakan tapi ia juga merasakan pedangnya sudah berdiri sempurna.


"Sayang...... "


"Diamlah, jangan menggangguku, dadamu sangat seksi mas, aku suka"


"Apa kau tak ingin mencium yang bawah, itu lebih seksi" tawar Rama untuk melihat pedangnya.


"Aku lebih suka disini" Nana tetap mengendus dan menciuni dada bidang suaminya sampai mereka terlelap.


*


*


Tak lama mereka pun terbangun karena ada suara yang mengetuk pintu dengan tak sabaran.


"Mami, Papi, " panggil mereka dengan berteriak sambil menggedor pintu. Berkali - kali mereka memanggil dan mengedor pintu.


Rama dan Nana bersamaan membuka mata melihat keributan di dekat mereka. Tiba - tiba pintu terbuka dari luar.


Dua anak kecil berlari menghampiri mereka lalu naik ke atas ranjang.


"Mami, Papi, ayo Kita main, papi tidur terus" rajuk Hana anak kedua mereka yang sudah memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Nana dan Rama tertawa mendengar ucapan anak keduanya.


"Papi ingin sekali main, tapi mami lagi sakit, papi lagi memani mami yang sedang sakit" jelas Rama.


"Mami sakit? " tanya Adam anak sulung mereka, Nana pun mengangguk.


"Tapi melihat kalian mami jadi sehat" jawab Nana dengan senyum lebar.


"Yeee...... " teriak mereka berdua. " Mami sehat, kita bisa main"


"Baiklah kalian tunggu diluar, papi sama mami akan segera menyusul" perintah Rama.


"Ok pi" jawab mereka bersamaan.


Nana menatap kepergian kedua bocahnya. Setelah itu ia bangkit lalu beranjak tapi belum satu langkah. Nana memegang kepalanya lalu ia mendadak jatuh ke atas ranjang. Rama yang masih berada di atas ranjang segera menangkap tubuh sang istri.


"Sayang.... sayang..... " Rama memanggil istrinya seraya menepuk pipinya namun istrinya tak kunjung membuka mata. Melihat istrinya pingsan, Rama membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang.


Lalu ia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas untuk menghubungi dokter. Setelah itu ia mengambil kayu putih di atas meja rias sang istri. Akhir - akhir ini istrinya itu sering menggunakan minyak katu putih, kalau ditanya mengapa jawabannya hanya suka saja dengan aromanya.


Tak lama dokter pun datang lalu memeriksa keadaan istrinya. Semua anggota keluarga sudah tahu kalau istrinya pingsan. Anak - anaknya menangis melihat mami mereka menutup mata.


"Bagaimana dok? " tanya Rama setelah dokter itu selesai memeriksa Nana.


"Tidak apa - apa, nyonya hanya kelelahan, ini biasa terjadi pada ibu hamil" jelas dokter itu.


"Ibu hamil? Maksudnya istri saya hamil" tanya Rama kemudian dokter itu membenarkan dengan menganggukkan kepalanya.


"Tolong dijaga asupan makanannya dan jangan terlalu lelah karena sepertinya kandungannya lemah. Lebih baik bawa istri anda kerumah sakit untuk periksa lebih lanjut"


"Baik dokter" jawab Rama bahagia istrinya hamil lagi. Lalu dokter itu berpamitan untuk pergi


"Rumah kita akan lebih ramai lagi pa" celetuk mama Silvi yang juga mendengarkan penjelasan dokter.


"Ya, papa sangat bahagia ma" jawab papa.


"Temani istrimu Ram, katakan keadaannya" perintah Mama.


Rama mengangguk lalu pergi dari ruangan itu menuju ke kamar dimana sang istri berada.


"Sayang kau hamil lagi" kata Rama sambil memegang tangan istrinya. "Kau tidak terkejut? " tanya Rama lagi melihat wanitanya biasa saja mendengar kabar yang ia bawa.


"Dokter sudah memberitahuku lebih dulu. Anak - anak masih kecil dan aku hamil lagi" ucapnya terlihat sedih.


"Kau tidak senang? " tanya Rama yang sebenarnya mengerti akan kegundahan hati istrinya.


"Bukan begitu, tapi anak - anak masih kecil"


"Jangan khawatir, kita akan merawat mereka bersama" Rama menenangkan sang istri yang sedang galau. " Terima kasih kau sudah melahirkan anak - anak yang lucu" Rama mengecup kening sang istri setelah Nana menjawab Iya.


"Aku mencintaimu"


"Aku lebih mencintaimu"


Terima kasih ya Allah kebahagiaan yang Kau hadirkan di tengah - tengah keluarga kami ini.


Tamat.


Terima kasih sudah membaca.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2