
Tak lama genggaman itu berubah, Rama yang menggenggam tangannya erat. Senyum bahagia tak bisa ia sembunyikan melihat tangan suaminya menggenggamnya erat.
Menatap genggaman itu dengan senyum bahagia, berganti menatap wajah suaminya.
Semoga genggaman ini tak kan pernah lepas.
Mereka duduk disalah satu meja, tangan mereka terlepas begitu saja ketika mereka akan duduk.
"Mau makan apa? " Tanya Rama pada wanita yang masih tersenyum itu.
"Samakan saja denganmu" apapun yang kau makan aku suka batinnya.
"Dua steak dan dua orange jus" Ucap Rama pada pelayan.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Nana, melancarkan aksinya sesuai dengan langkah kedua, memberi perhatian.
Karenamu aku meninggalkan rapat penting.
"Cukup baik" Jawab Rama berbeda dengan ucapan hatinya.
Mereka masih terlihat kaku dengan hubungan baru mereka. Pelayan datang membawa pesanan makanan. Nana menatap sepiring steak di piringnya. Sepertinya enak pikirnya.
"Makanlah! " Titah Rama yang melihat Nana hanya memandanginya saja.
"Ya... " Mengambil sendok dengan ragu ia memotong steaknya lalu memasukkannya kebdalam mulutnya.
Nasinya mana ya, kok lama sekali. Bisa bisa dagingnya habis sebelum nasinya datang.
Menatap Rama yang sudah memulai menyantap makanannya.
Jangan bilang kalau steaknya tidak pakek nasi.
Akhirnya Nana mengikuti Rama menyantap makanan di piringnya.
Emmm.... Lembut sekali. Ini enak.
Nana menatap Rama, terlihat sisa saos di sudut bibir Rama. Nana mengangkat tangannya lalu mengusap sisa saos di bibir Rama.
"Kau makan seperti anak kecil saja" gerutu Nana. Rama diam terpaku. Padahal mereka sudah melakukan hubungan suami istri. Tapi sentuhan istrinya baru saja terasa berbeda.
Beberapa menit kemudian mereka sudah menghabiskan makanannya.
"Aku akan pulang sendiri, kau kembalilah ke kantor" ucap Nana setelah suapan terakhirnya tertelan dengan baik.
"Aku akan mengantarmu" jawab Rama santai.
"Kau akan terlambat jika mengantarku lebih dulu, bosmu akan marah" ujar Nana. Tidak mau kekasihnya itu terlambat, jangan sampai karenanya Rama jadi pengangguran.
Uhuk
Uhuk
Rama tersedak minuman yang sedang diminumnya setelah mendengar ucapan istrinya itu.
Apa Nana tidak tahu aku pemilik perusahaan?Apa mama tidak pernah mengatakannya? Aku pikir mama sudah memberitahunya.
"Dia tidak akan marah, dia sangat baik" jawabnya memuji dirinya sendiri
__ADS_1
"Ohh...baik sekali, aku juga ingin punya bos sebaik itu, tapi yang tidak menyuruh lembur setiap hari, kesannya seperti tidak punya perasaan"
"Hah? "
Dia bilang aku tidak punya perasaan.
Rama mengeratkan rahangnya, menatap wanita yang masih ingin mengomel itu.
"Kau setiap hari lembur, baik tapi kurang mengerti, apa bosmu tidak tahu ada istri yang menunggu suaminya pulang. Kalau aku punya bos seperti itu, aku akan.... " menjedda perkataannya. " aku pikirkan nanti saja" tanpa sadar Nana sudah membicarakan suaminya sendiri.
Apa yang akan kau lakukan padaku Nana
Rama memicingkan matanya. "Kau ingin bekerja? "
"Tentu saja sayang, kalau kita bercerai nanti siapa yang menghidupiku" Nana memanggilnya dengan panggilan sayang, sebelumnya dia hanya berani memanggil sayang di pesan saja.
Rama tampak menganggukkan kepalanya.
"Menurutmu pekerjaanku sebagai apa?" Rama ingin tahu kecerdasan otak Nana.
Mengetuk ngetukkan jarinya pada bibir tebal nan sexy itu. Nana nampak berpikir. "Kalau dilihat dari penampilan, sepertinya kekasihku ini kepala manajer.
" Apa?" Rama rasanya ingin mencium bibir seksi yang sembarangan mengatakan pekerjaannya.
"Salah ya, ternyata mas Rama hanya manajer saja" ucapan Nana seperti merendahkan pekerjaannya.
Apalagi ini, bagaimana mungkin penampilan sekeren ini hanya manajer.
Rama membiarkan istrinya beepikir sendiri.
"Kau mau jalan - jalan?" tanyanya, tidak ingin membahas pekerjaan yang membuatnya kesal dengan pemikiran istrinya itu
Hanya mengajak jalan - jalan saja kenapa sebahagia itu.
"Bukankah kita sedang berkencan? "
"Ya, mas Rama tidak ingin memanggilku sayang?" Menatap Rama dengan wajah malu - malu. " Kalau pacaran biasanya panggilannya mesra" lanjutnya.
"Ehemmm..... " Rama merasa seperti abg saja.
"Kalau belum bisa tidak apa - apa, masih banyak waktu kok. Ayo kita jalan - jalan, tapi jangan lupa bayar dulu makanannya" Nana mengalihkan perkataannya melihat wajah Rama yang berubah.
Rama bangkit dari duduknya kemudian melangkah ke meja kasir untuk membayar makanannya.
Mas Rama kaku sekali, kita tidak seperti orang pacaran. Tenang, step by step, semangat jadi wanita agresif.
Nana menyusul Rama dan langsung memegang tangannya meletakkannya dipundak Nana.
"Ayo sayang" ajak Nana.
Rama belum terbiasa seperti ini. Bukannya ia tidak pernah melakukannya. Ia punya kekasih dan pastinya mereka sudah melalui tahap itu.
Hanya saja dengan Nana ia merasa kikuk. Rasanya aneh dari istri menjadi kekasih.
Mereka masuk kedalam mobil, sebelum mobil itu melaju membelah jalanan kota Surabaya.
*
__ADS_1
"Mau jalan kemana? " tanya Rama lagi, membiarkan Nana yang memilih.
"Panggil sayang dong" goda Nana
Rama menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sayang.. Mau kemana? " ucapnya kaku.
"Mas Rama seperti tidak pernah pacaran saja. Kaku sekali. Kita ke mall saja, mama sering mengajakku kesana" Jawab Nana, Rama menganggukkan kepalanya.
Aku bukannya tidak pernah, tapi kau yang menjadi kekasihku membuatku bingung harus bersikap bagaimana. Aku takut kau akan semakin tidak bisa jauh dariku. Bagaimanapun perceraian itu akan tetap terjadi.
Selama dalam perjalanan Nana menceritakan kehidupannya sewaktu masih dikampung. Nana tidak berhenti bercerita.
Sejak kapan dia jadi wanita cerewet.
Lima belas menit mereka sampai di mall. Mereka saling melempar senyum sebelum turun dari mobil.
Nana memeluk pinggang Rama. Dengan kaku Rama juga mengaitkan tangannya pada pundak Nana.
Nana menatap tangan Rama yang melingkar di pundaknya.
Hari pertama cukup segini dulu. Besok harus lebih baik, motto hari ini sebelum satu bulan mas Rama harus jatuh cinta padaku.
"Sayang sholat dulu yuk" Mereka melangkah bersama ke arah musholla yang ada di malll itu.
Rama juga selalu menjaga sholat lima waktunya meskipun tidak selalu on time. Mereka juga tidak pernah sholat bersama selama tinggal dalam satu atap. Rama bersikap cuek pada Nana.
Rama sudah tahu kalau Nana rajin menjaga sholatnya. Setelah sholat mereka melanjutkan berkeliling mall.
"Mas kita beli baju alahraga couple yuk, weekend kita olahraga ditaman"
"Baiklah"
Sepanjang perjalanan mereka bergandengan tangan. Meskipun sikap Rama masih kaku untuk ukuran sepasang kekasih, mungkin karena masih belum ada cinta dihatinya untuk Nana.
Mereka memilih baju dan mencobanya, tentu saja dengan Nana yang terlihat heboh. Akhirnya mereka memutuskan untuk memilih baju warna biru.
.
"Mas ke kedai eskrim sebelah sana ya" Pinta Nana setelah mereka keluar dari toko baju olahraga. Rama hanya mengikutinya saja.
Nana membeli dua cup eskrim, untuknya satu dan untuk Rama satu.
Rama tidak mau memakan eskrimnya, Nana yang tidak mau menyerah menyuapi Rama dengan eskrim miliknya, dalam satu sendok yang sama.
"Aaaaa."
Hap. Akhirnya Rama membuka mulutnya dengan sedikit memaksa.
Suapan pertama dan selanjutnya. Saat menyuapi Rama, Nana dengan sengaja menyentuhkan eskrimnya ke hidung Rama.
Nana tertawa melihat wajah Rama yang terdapat eskrim. Merasa di tertawakan Rama mecolek eskrim di depannya kemudian mencoretkannya pada wajah Nana.
.
"Mas, jadi blepotan" Mencebikkan bibirnya. Rama hanya terkekeh kecil melihat wajah Nana yang dipenuhi eskrim.
Nana hendak membalas Rama, namun sebelum tangannya sampai Rama sudah lebih dulu menahan tangannya membuat tatapan mereka sejenak bertemu. Hening.
__ADS_1
"I love you mas Rama" Ucap Nana.