Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 31 Nikmati kebebasanmu hari ini


__ADS_3

Menatap langit - langit kamar merupakan ritual yang selalu dilakukan setiap akan berpertualang ke alam mimpi. Yang Maha Kuasa menciptakan malam sebagai waktu untuk beristirahat melepas lelah setelah seharian bekerja.


Termasuk Nana yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang kesayangannya yang menemani dirinya dari kecil, meskipun tidak sebesar ukuran ranjangnya dikamar yang dulu pernah ia tempati bersama sang suami.


Setelah beberapa bulan terbiasa menjalani hidup dengan status yang baru, hari ini harinya mulai terusik dengan kemunculan mantan suaminya.


Kenapa ia harus datang kembali? Kenapa harus bertemu lagi disaat hati masih belum sembuh? dan masih banyak kenapa yang lainnya.


"Apa maksud kedatanganmu mas? " tanya Nana lirih.


Pertemuannya hari ini dengan Rama membuatnya bergetar namun sebisa mungkin ia menutupi semua itu. Satu keahliannya bisa menutupi perasaannya. Untuk pertama kalinya melihat wajah sang mantan suami pasca bercerai membuatnya jantungnya berdebar menandakan rasa itu masih ada. Tapi ia harus menguburnya sedalam mungkin, tidak ada yang perlu ia lakukan lagi, sekarang mereka hanya dua orang asing.


Ia sudah berusaha untuk mempertahankan pernikahannya namun takdir berkehendak lain. Ia harus merelakan semuanya termasuk perasaannya.


Ia sengaja membahas mama Silvi untuk menghindari kegugupan yang ia rasakan, perasaan yang masih berdebar saat di dekatnya. Penuh percaya diri saat mengatakan 'kau jatuh cinta padaku' namun perutnya terasa bergejolak saat mengucapkannya.


Sungguh ia tidak percaya masih bisa mengucapkannya dengan lancar, tapi jangan ditanya bagaimana dalamnya, dag did dug tak karuan.


Berharap agar tidak bertemu lagi dengan mantan suaminya itulah keinginannya.


Cerita kita telah usai, tidak akan ada lagi kelanjutannya mantan suamiku.


*


*


"Tante ayo kita beli eskrim" April menagih janjinya. Saat jam istirahat April berlari ke tempat Nana untuk mengajaknya membeli eskrim sesuai janji yang kemarin diucapkan Nana.


"Iya sayang tunggu sebentar, tante ambil tas dulu, tante akan membelikanmu eskrim yang banyak, tante lagi banyak duit" ucap Nana seraya menyombongkan diri, membuat April tersenyum bahagia karena tante cantiknya mau menepati janjinya.


"Ok" jawab April. Setelah itu Nana berjalan ke arah belakang untuk mengambil tasnya. Sekalian ia akan mengajak April untuk makan siang.


April menunggunya dengan senyum lebar yang mengembang di bibirnya. Begitu senagnya anak itu hanya dibelikan eskrim atau karena siapa yang menemaninya.


Saat Nana kembali, ia juga melihat Abinya April berdiri di sebelah anak kecil yang sedang menunggunya. Anak kecil yang menurut Nana sangat menggemaskan.


Apa kita akan pergi bertiga?

__ADS_1


"Tante, kita juga makan siang ya, abi mengajak kita makan siang" ucap anak itu ketika melihat Nana berjalan kearahnya.


"Tapi..... " jawab Nana sedikit ragu, ia merasa tidak enak pada Alfa, dikiranya nanti dia mau mendekatinya melalui anaknya, padahal ia tudak punya maksud apa - apa.


"April ingin kita makan siang bersama" ucap Alfa membuat Nana tidak bisa menolak kalau itu sudah menyangkut keinginan April.


"Baiklah" jawabnya pelan.


Lalu mereka berjalan bersama dengan Nana berjalan di belakang mereka. Namun baru beberapa langkah, April menarik tangan Nana sehingga langkah mereka berdampingan. Tangan April memegang tangan dua orang yang berlawanan jenis yang berada disampingnya.


Mereka terlihat seperti keluarga kecil. Tampak serasi, siapapun yang melihatnya akan merasakan kebahagiaan yang mereka perlihatkan seperti keluarga kecil yang bahagia. Namun tidak bagi seseorang. Ia melihat dengan tatapan membunuh. Ingin sekali menarik tangan wanita yang digandeng anak kecil itu, namun ia hanya bisa membayangkannya saja.


Ia sadar sudah tidak punya hak untuk melakukannya lagi. Mereka sudah bukan pasangan lagi, ia yang menyia - nyiakan kesempatan untuk bisa bersamanya.


"Siapa dia? tanya Rama pada asisten barunya.


"Dia pemilik restoran di depan bos, dia seorang duda beranak satu" penjelasan Pak Jo membuatnya semakin galau.


"Duda beranak satu, saingan berat" lalu menghembuskan nafas kasar.


"Mereka terlihat serasi bos" ucap Pak Jo yang langsung mendapat tatapan horor dari Rama. Seketika pak Jo menundukkan wajahnya.


"Sepertinya makan siang bos" sahut pak Jo.


"Ikuti mereka dan laporkan setiap gerakan mereka, jangan terlewatkan sedikitpun"


"Baik bos" pak Jo segera pergi untuk menyusul pasangan itu. Meskipun ia dipanggil pak Jo bukan berarti usianya sudah tua, pak Jo masih berusia sekitar tiga puluh tahunan.


Kenapa bercerai kalau masih cinta, kebakaran jenggot kan.


Pak Jo benar mengikuti mereka dan tidak luput melaporkan semua gerakan mereka bahkan pak Jo mengirimkan video saat Nana menyuapi laki - laki yang berstatus duda itu.


Brak


Rama memukul meja di depannya ketika menerima video yang dikirimkan pak Jo.


"Apa yang mereka lakukan, kenapa harus suap - suapan, apa mereka tidak punya tangan, manja sekali" sengit Rama penuh amarah. Wanitanya menyuapi pria lain membuatnya mendidih.

__ADS_1


"Sepertinya anak kecil itu sengaja ingin mendekati wanitaku, aku tidak akan kalah dengan anak kecil, lihat saja" amarah Rama memburu sampai - sampai ia menganggap anak kecil itu saingannya padahal saingan sebenarnya adalah abinya.


"Baiklah anak kecil nikmati makan siang kalian, karena setelah ini tidak akan ada lagi makan siang selanjutnya" Rama tertawa setelah mengatakannya.


Dibalik suara tawanya yang menggelegar tersimpan kegundahan, ia sangat takut wanitanya akan melupakannya, ia takut tidak ada lagi cinta di hati wanita itu.


"Kau akan mengganti posisiku dengan duda itu sesuai perkataanmu waktu itu, tak akan pernah aku biarkan"


"Maaf, keinginanmu tidak akan pernah terkabul. Aku Rama Perwira tidak akan membiarkan milikku akan menjadi milik orang lain, apapun akan aku lakukan untuk membuatmu kembali" itulah sumpah Rama.


"Nikmati kebebasanmu hari ini, karena mulai besok tidak akan ada lagi kebebasan untukmu"


Rama tersenyum licik. Entah apa yang dipikirkan kepalanya, senyumnya membuat merinding.


*


*


"April, sudah tante sudah kenyang" menghentikan tangan April yang terus menyuapinya.


"Tapi April masih ingin menyuapi tante" April belum menyerah, karena momen seperti ini yang selalu ia inginkan dan rindukan.


"Sayang jangan memaksa tante Nana seperti itu, biar abi yang makan, ayo April suapi abi" bukuk Alfa abinya.


"Baiklah dengan satu syarat, Abi suapi tante April dulu" pinta April membuat keduanya kikuk.


"Sayang jangan meminta seperti itu" kata abinya. mendadak wajah April terlihat sendu, siapapun yang melihatnya tak mampu untuk menolak permintaannya.


Alfa mengambil makanan di piring April lalu mengangkat tangannya, mendekatkan ke mulut wanita di depannya. Nana yang merasa ragu akhirnya membuka mulutnya.


"Yeeee.... " teriak April bahagia. "Sekarang tante suapi abi ya? please? "


Nana menatap Alfa, ia tidak mungkin melakukannya, tapi melihat wajah sedih April membuatnya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Alfa padanya. Akhirnya mereka saling menyuapi.


"Terima kasih tante, hari ini April sangat bahagia, April seperti punya keluarga yang utuh" ucap April matanya sudah berkaca - kaca.


Jauh dilubuk hatinya ia sangat menginginkan seorang ibu meskipun ia tidak pernah meminta pada abinya, karena abinya sangat mencintai ibu kandungnya yang sudah tidak bersama mereka lagi karena dipanggil duluan oleh Yang Maha Esa.

__ADS_1


Deg


Membuat jantung keduanya tak beraturan setelah mendengar ucapan polos April.


__ADS_2