Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 17 Kau menyesal?


__ADS_3

Damar masih berada di sana, ia berada dibalik pintu dan mendengar semua yang mereka bicarakan.


"Kau menyesal? " Tanya Nana membuat Rama menatap ke arahnya, tatapan mereka bertemu sejenak. Rama hanya diam.


"Percayalah dia akan sembuh" Ucap Nana lagi sebelum Rama menjawab pertanyaannya, ia tak sanggup untuk mendengar jawaban Rama. "Wanita yang kau pilih pasti bukan wanita biasa, dia wanita yang kuat" Rama masih menatapnya.


"Aku harus pergi sekarang, jaga kesehatan, jangan sakit" setelah Mengucapkannya Nana melangkah pergi dari sana. Rama hanya bisa melihat istrinya pergi begitu saja, tentu saja Rama tidak akan mengerti perasaan Nana karena hati Rama hanya sibuk merasa bersalah denagn apa yang menimpa wanita yang katanya ia cintai itu.


Damar mengikuti langkah Nana menuju ke arah mobilnya. Nana tahu Damar mengikutinya.


"Bisakah kau mengantarku kembali' pinta Nana.


"Tentu"jawab Damar, ia tahu bagaimana perasaan wanita itu.


.


Di dalam mobil.


"Bisakah aku meminta bantuanmu? " Nana berucap kembali setelah tadi terdiam.


"Apa yang bisa kulakukan untukmu? "


"Kau mengenal pengacara yang biasa digunakan mas Rama"


"Ya.... "


"Berikan aku kartu namanya tanpa bertanya untuk apa"


"Baiklah"


"Terima kasih"


Mobil yang dikemudikan Damar berhenti di basement apartemen tempat tinggal Nana.


"Ini kartu namanya" Damar memberikan kartu nama pengacara itu.


Sampai di apartemen Nana langsung menghubungi pengacara itu untuk membuat janji bertemu.


*


*


Situasi yang mengharu biru, Nana berpamitan pada rekan kerjanya bahwa dia akan pulang kampung dan tentunya berhenti bekerja. Dia sudah mengatakan keinginannya pada manajernya untuk berhenti bekerja.


"Kenapa berhenti? Apa kau tak mau kembali lagi kesini? " tanya Kity sembari menangis setelah melepaskan pelukannya pada Nana.


"Aku rindu kampung halaman mbak, jadi aku harus kembali" jawab Nana tidak ingin berbagi masalahnya.


"Apa tidak bisa cuti saja, nanti kerja lagi disini"


"Mbak Kity membuatku terharu" Mereka sama sama mengeluarkan air mata.


"Kalian itu cengeng, tenangkah kalau kau rindu aku akan menemanimu untuk ke kampung halaman Nana"


"Janji" Seru Kity.


"Ya, janji"


"Aku harap kalian berjodoh" canda Nana.

__ADS_1


"Aku tidak suka duda"


"Aku juga tidak suka perawan, menyusahkan" Ucap Anton yang langsung mendapat pelototan dari Kity. Anton bersikap biasa saja.


"Nana, terimalah gajimu bulan ini, kau rajin dan kerjamu bagus, semoga mendapat pekerjaan yang lebih baik disana" Nana menerima gaji pertamanya, adacrasa senang di hatinya.


*


*


Drzt drzt.


"Mama" Lirih Nana melihat panggilan dilayar ponselnya.


"Hallo ma... " jawab Nana ketika mengangkat ponselnya.


"Sayang, aku sangat merindukanmu, tapi mama tidak bisa pulang, mungkin dua minggu lagi mama disini"


"Ya ma, Nana juga rindu mama, mama papa jaga kesehatan ya" jawab Nana seraya ingin menangis.


"Ya sayang, mama akan segera pulang, begitu urusan disini selesai"


"Ya ma" Nana pergi ya ma, Nana tidak bisa mempertahankan rumah tangga Nana. Ucap Nana dalam hati, mulutnya tidak mampu untuk berucap, suaranya seperti tertahan. Sambungan pun terputus.


*


*


Di negara lain.


"Kau sudah merasa tenang setelah menghubunginya" tanya suaminya yang sedang memeluknya dari belakang, tak lama laki laki yang bersamanya itu mencium telinganya, lehernya, membuat sebuah ******* kecil lolos begitu saja.


"Tidak, kita akan bulan madu untuk dua minggu ke depan" tolaknya, dia sudah tidak sabar untuk membuat wanitanya itu menjerit.


"Udah tua masih saja mesum" membuat laki - laki itu terkekeh pelan.


Mereka melanjutkan kembali kegiatan mereka yang sempat tertunda karena mama Silvi kepikiran menantunya itu.


*


*


"Satu bulan sudah kita menjadi sepasang kekasih, dan hari ini aku memenuhi janjiku padamu, aku sudah memberikan tanda tanganku sayang, semoga kau selalu bahagia" Gumamnya lirih sembari menggerakkan pulpen yang ia pegang.


Saat ini surat cerai itu sudah berisi tanda tangan merek berdua.


Nana membereskan semua barang - barangnya, saat ini juga dia akan pulang ke probolinggo, tempat tinggalnya bersama sang ayah, setelah bertemu dengan pengacara yang akan mengurus perceraiannya.


Dia hanya membawa pakaiannya saja, sementara barang yang suami dan mertuanya belikan, ia tinggalkan disana, karena kopernya kecil. Nana juga meletakkan kartu atm dan juga cincin nikahnya dilaci meja rias.


Menarik kopernya keluar dari apartemen, sebelum itu dia melihat ke belakang, mengingat kenangan satu bulannya di apartemen itu, air matanya menetes begitu saja.


Melanjutkan langkahnya menuju restoran tempat ia membuat janji dengan pangacara Rama.


"Selamat siang nyonya" sapanya ramah.


"Anda pasti tahu apa tujuan saya menemui anda" Nana yakin dialah pengacara yang suaminya percaya untuk memgurus perceraiannya, karena tidak ada yang tahu pernikahannya maka perceraian itu pun dirahasiakan. Nana menyodorkan dokumen surat cerai yang sudah ia tandatangani.


"Bisakah tanpa saya menghadirinya? "

__ADS_1


"Tentu nyonya"


"Terima kasih, saya harus pergi"


"Baiklah, semoga anda baik - baik saja" ucap pengacara itu, karena bagaimanapun perceraian itu tidaklah baik.


"Terima kasih"


*


*


"Selamat tinggal Surabaya, selamat tinggal mas Rama" gumamnya lirih


Nana : [Mas, jaga kesehatan selalu ya, jangan mengabaikan makan siang] pesan terakhir yang Nana kirim ke Rama, ia akan menunggu balasan Rama selama satu jam sebelum ia membuang kartu itu. Ia ingin melupakan masa lalunya.


Dua jam berlalu, ponselnya belum berdering. Menghela nafas panjang Nana membuka ponselnya, mengambil kartu lalu membuangnya di tengah jalan.


Tiga jam perjalanan, Nana sampai dikota kelahirannya.


Selamat datang kota kelahiranku.


Nana akan melupakan masa lalunya, sekarang ia harus bangkit dan menata hidupnya kembali. Nana memilih naik becak dari pada menyewa mobil, ia ingin menikmati kota yang selama setahun belum ia kunjungi, suaminya tidak pernah menanyakan keinginannya.


"Selama menikah, dia tidak pernah bertanya bagaimana kabarku, bagaimana perasaanku, begitu tidak pedulinya mas Rama padaku" Ucapnya lirih.


Menghela nafas panjang. "Hidup tidak hanya tentang mas Rama, aku harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup" Lanjutnya.


Setengah jam berlalu Nana sampai dihalaman rumahnya.


"Oh... Rumahku" ucap Nana pelan sembari membuka pintu pagar. Ya Nana memiliki kunci cadangan yang ia bawa ke Surabaya.


"Ternyata bang Wawan menjaga rumahku dengan baik, makasih bang, dia pasti terkejut melihatku kembali"


Membuka pintu rumahnya, lalu masuk ke dalam, melihat sekeliling masih sama dan bersih. Melangkah kembali menuju kamarnya, ia butuh istirahat.


Setelah Selesai membersihkan dirinya, Nana menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang empuknya.


"Milik sendiri memang rasanya beda, ayah Nana rindu"


Rasa sakit ini tidak akan lama, aku hanya tinggal memilihnya, maju atau tetap ditempat.


*


*


Dua minggu berlalu.


Di kantor infood corp.


"Apa jadwalku hari ini" tanya Rama pada asistennya.


"Jam sepuluh anda ada pertemuan dengan client, jam dua anda akan memimpin rapat, dan setelah jam makan siang pengacara anda ingin bertemu"


"Urusan apa dia mau menemuiku" tanya Rama.


"Maaf tuan dia tidak memberitahu saya" jawab asistennya. Sebenarnya dia tahu apa yang akan pengacara itu lakukan. Tuannya itu terlalu sibuk dengan kekasihnya sampai melupakan istrinya.


Penyesalan selalu dibelakang tuan, tapi saya berharap anda tidak akan merasakan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2