Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 23 Mencintai tanpa dicintai.


__ADS_3

Tak terasa sudah tiga bulan Nana tinggal dikampung halamannya. Padahal hanya setahun ia hidup di kota tapi ia merasakan hal yang berbeda selama disana, mungkin karena ia bisa mencintai seseorang yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Ternyata cinta itu suka ngprank, bisa bahagia bisa juga menyakitkan.


Tok


Tok


Tok


Pintu depan ada yang mengetuk, siapa pikir Nana yang datang bertamu, padahal teman - temannya belum ada yang tahu kepindahannya. Nana juga tidak bisa menghubungi mereka, karena nomer ponsel mereka ikut terbuang bersama kartu lamanya. Karena terlalu sedih ia lupa untuk menyimpan nomer teman - temannya


Melangkah pelan ke arah pintu lalu membukanya. Siapa ya kayak kenal tapi siapa, bilang gak kenal tapi pernah lihat pikir Nana ketika melihat laki - laki dihadapannya.


"Cari siapa ya mas? " tanyanya karena ia merasa antara kenal dan tak kenal.


"Cari neng" jawabnya sembari tebar pesona.


"Hah?" Nana membola, untuk apa pria ini mencarinya. Nana memeperhatikan penampilan pria di depannya, lumaya tinggi, kulit sawo mateng lebih ke hitam, wajah lumayan.


Nana jadi merinding melihat pria di depannya senyum senyum tidak jelas. Pikiran Nana suda h melayanh kemana - mana.


Apa pria ini penagih hutang? Apa ayah punya hutang.


"Perkenalkan neng, nama saya mamat, saya tinggal di blok belakang rumah neng"


"Oh tetangga, silahkan duduk mas, diluar saja ya, tidak enak sama orang kalau di dalam" ucap Nana untuk menghindari omongan yang tidak diinginkan, meskipun itu akan tetap terjadi.


Nana sedikit tenang karena pria itu bukan penagih hutang.


"Ya neng, tidak apa - apa" lalu mereka duduk di kursi depan rumah.


"Ada apa ya mas? " tanya Nana.


"Saya terus terang saja ya neng, saya mau melamar neng untuk dijadikan istri" jawabnya tegas.


"Apa?" karena kaget Nana terlonjak dari tempat duduknya.


Apa aku tidak salah dengar, belum juga kenal sudah main ngelamar aja.


"Ya neng, mas tahu neng udah janda mas tidak masalah dengan itu"


Apa? Meskipun aku janda apa aku terlihat semurah itu. Apa tidak ada harganya lagi.


Menutup mata sejenak, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. Hatinya sudah mulai kesal, kenapa janda harus selalu dipandang sebelah mata.


"Maaf mas, saya masih belum ada niatan untuk menikah lagi, saya masih ingin sendiri" jawab Nana masih sopan.

__ADS_1


"Mungkin kita bisa pacaran dulu neng sebelum menikah" masih usaha nih mas mamat.


"Maaf mas, saya benar masih ingin sendiri" Nana berusaha untuk meyakinkan pria di depannya.


"Bagaimana kalau kita saling mengenal dulu" Mamat sudah bertekad untuk meperistri Nana, baginya Nana sangat cicok dengannya.


Maksa banget.


"Maaf mas, saya tidak mau berhubungan dulu,, saya masih ingin sendiri" Nana kehabisan kata - kata untuk menolak Mamat.


"Kalau begitu kita....... "


"Saya harus bekerja mas, saya tinggal dulu ya" potong Nana lalu berlalu pergi, masuk kedalam rumah lalu menutup pintu, membiarkan laki - laki yang di depan rumahnya melongo.


"Janda aja jual mahal, aku masih bisa dapet perawan" sungut laki - laki yang keluar dari halaman rumah Nana.


*


*


Nana hari ini masuk siang, ia sudah siap dengan seragam kerjanya. Berjalan melewati bengkel yang sudah buka dari tadi.


"Neng, gimana jadi nikah lagi" goda wawan yang sempat melihat dan sedikit mendengar obrolan Mamat dan Nana.


"Ah.... abang sukanya godain Nana" jawab Nana manyun.


"Huft.... nasib janda muda begini amat. Apa dikiranya aku gak laku ya, meskipun sudah janda aku juga milih - milih" gumamnya lirih.


Melanjutkan langkahnya kembali, benar saja setelah membuka pintu pagar, seorang laki - laki sedikit berisi tersenyum manis ke arahnya.


"Eh.... neng Nana, mau kerja ya neng? "tanyanya lembut dan sopan.


"Ya mas.... "


"Mas Jaka anterin ya neng" tawar si Jaka.


"Terima kasih mas, Nana naik sepeda sendiri, permisi mas" Nana melangkah melewatinya, menuju pintu depan bengkel, karena sepedanya ada di di bengkel.


"Bang Nana berangkat dulu" pamit Nana pada Wawan yang sedang menyervis sepeda beat.


"Ya neng, hati - hati" jawab Wawan.


*


*

__ADS_1


Di Perusahaan Infood.


Di ruangan Rama.


Wajahnya terlihat kesal menahan amarah, setelah mendapat laporan dari pak Jo anak buahnya. Rahangnya mengeras, tangannya kuat memegang ponsel.


"Mereka tidak ada apa- apanya dibanding diriku? " gumam Rama yang masih bisa di dengar Dimas. "Apa dia mau dengan laki-laki seperti itu"


"Tapi kalau sudah cinta ya mau saja tuan" celetuk Dimas yang sengaja membuat bosnya itu panas, suruh siapa sok playbooy, tersiksa sendiri kan. Karena semenjak ditinggal nyonya, bosnya itu sering tidak fokus saat bekerja.


Rama menatapnya tajam membuat Dimas menunduk, lalu pergi dari ruangan bosnya itu.


*


*


Pelanggan hari ini tidak begitu ramai, Nana sedang mengecek barang, tiba - tiba ada yang menyapanya.


"Sayang....... " mendengar panggilan itu Nana berbalik. Suara yang tidak asing di telinganya. Mendadak tatapannya sendu.


*


*


Di restoran.


Nana menatap mantan mertuanya dengan perasaan bahagia, bersalah yang pasti agak kurang nyaman. Mengingat ia belum berpamitan dengan benar.


"Mama..... apa kabar?" Nana bertanya kabar, dapat ia lihat raut penyesalan disorot mata wanita paruh baya dihadapannya


"Mama baik. Mama minta maaf tidak bisa menjagamu dengan baik" jawab Mama, ada penyesalan yang ia rasakan.


"Tidak, mama sudah sangat baik pada Nana, selama ini mama tulus menyayangi Nana" jawab Nana dengan jujur


"Tapi putra mama telah menyakitimu" sesal mama.


"Setiap orang sudah punya jalannya masing - masing. Mungkin itu jalan takdir Nana, dipertemukan dengan orang yang salah sebelum menuju orang yang tepat buat kita" Nana tahu mama Silvi memiliki beban tersendiri, dia tidak ingin membuat mama Silvi semakin sedih.


"Kau sangat baik dan tulus, putra mama pasti menyesal berpisah denganmu" Nana hanya tersenyum lembut mendengar ucapan mama mertuanya itu.


Tidak akan ada penyesalan ma, dia yang menginginkan perceraian ini.


"Mama harap kamu akan tetap menganggap mama seperti ibumu sendiri, ayahmu berpesan agar aku menjagamu setelah ia tiada, tapi mama yang mengambil keputusan untuk menikahkan kalian, sekarang mama menyesal, kadang hubungan itu tidak bisa dipaksakan"


"Mama tidak perlu menyesal, malah Nana bersyukur dengan menikah Nana bisa menjadi wanita yang lebih baik, dan Nana juga bisa merasakan jatuh cinta, ternyata sakit ya ma, mencintai tanpa dicintai" ucap Nana sendu, mama Silvi hanya menatapnya. "Tapi tidak apa- apa karena Nana juga bisa merasakan punya mertua yang baik seperti mama dan papa" ucap Nana bahagia. Nana memang yang paling jago menyembunyikan perasaannya.

__ADS_1


Mungkin ini alasan kenapa ayahmu begitu khawatir meninggalkanmu sendirian. Hatimu baik dan polos. Meskipun diluar kelihatan seperti tidak peduli.


__ADS_2