Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 40 Dia mantan suamiku


__ADS_3

"Yeeee..... yang lagi bareng ayang beb, kemarin aja gak peduli eh sekarang malah selangkah lebih maju" goda Ola setelah Nana sampai di toko bersama Rama.


"Apaan sih, dia tetanggaku untuk sementara" ya hanya sementara sebentar lagi mas Rama akan kembali batinnya mendadak ia jadi sendu. Ia teringat ucapan Rama tadi saat perjalan kalau dia akan segera kembali.


"Sementara? Maksudnya?" tanya Ola bingung mana ada tetangga sementara.


"Ya dia menyewa rumah di sekitar rumahku, katanya setelah misinya selesai dia akan kembali" dan dia juga mantan suamiku lanjut Nana dalam hati.


Ola hanya manggut manggut. "Tapi sepertinya dia menyukaimu, terlihat jelas saat ia menatapmu penuh cinta" kata Ola dengan mengangkat tangannya ke atas sembari melihat ke atas.


"Biasa saja, hubungan kami tidak lebih seperti apa yang kau pikirkan"


"Benarkah? " tanya Ola curiga, ia yakin ada sesuatu diantara mereka.


Nana yang ditatap seperti itu akhirnya berkata jujur. "Ya ya, dia mantan suamiku"


"Apa? " sahut Ola terkejut.


Nana memutar bola matanya malas melihat ekspresi sahabatnya itu.


"Apa kau gila, kenapa kau meninggalkan laki - laki yang tanpa cela itu"


Nana menghela nafasnya berat Siapa yang kemarin menyemangatinya untuk move on dan sekarang apa?


"Jangan melotot padaku, dan ingat dia yang menceraikan aku"


"Jadi maksudmu dia dalam fase jatuh cinta setelah kekasihnya pergi" tanya Ola sambil terkekeh kecil, seperti di novel saja drama cinta tiada akhir batinnya.


"Mungkin saja" jawab Nana acuh. Ia enggan untuk menjelaskan kalau ia dibuang karena Rama memiliki kekasih.


"Kalau begitu, tangkap saja jangan dilepaskan lagi, turunkan sedikit egomu, sepertinya dia sudah menyesal dan ingin kembali padamu"


Nana mengedikkan kedua bahunya. "Entahlah, biarkan waktu yang menjawab"


*


*


"Nana, kau kah itu" sapa seorang laki - laki yang berjalan mendekati Nana. Ia melihat seorang wanita yang mirip dengan teman lamanya, tapi ia tidak yakin melihat penampilan wanita itu. "Ya.... kau Nana" ia menunjuk Nana dengan jari telunjuknya setelah jarak mereka dekat.


Nana memukul tangan laki - laki yang menunjuk tepat di wahajnya. "Apaan sih bim?"


"Kau mengenalku, jadi benar kau Nana, aku tidak sedang bermimpi" tanyanya menggebu.


"Kau sedang terjaga dan masih bisa melihat dengan jelas" cetus Nana melihat teman lamanya itu.


"Penampilanmu berubah, kau tampak berbeda"


"Aku tambah cantik kan" ucap Nana dengan gaya dibuat secantik mungkin.

__ADS_1


Membuat bimo temannya itu tertawa terpingkal.


"Ternyata hanya penampilanmu yang berubah. Aku tidak percaya ini sungguh kau, aku pikir kamu selamanya akan berpenampilan tomboy, tapi sekarang sangat feminim"


"Yaiyalah, tidak mungkin disini aku berpenampilan kucel, aku sedang mencari uang bukan bermain lagi seperti dulu, hidup itu akan berubah seiring berjalannnya waktu"


*


*


Sekarang mereka duduk di sebuah cafe tak jauh dari tempat Nana bekerja. Bimo menunggu jam istirahatnya untuk makan siang.


"Bagaimana kabarmu? " karena terkejut ia sampai lupa bertanya kabar terlebih dahulu.


Mereka teman kuliah dulu dan lumayan dekat karena sering ikut kegiatan bersama kadang juga Bimo ikut nongkrong bersama dia dan teman - temannya.


"Aku baik, kau bagaimana dan juga teman yang lain? " tanya Nana.


"Seperti yang kau lihat, masih tetap tampan" sombong Bimo sembari tersenyum, membuat berdecak . "Teman - teman juga baik, kau tidak ada menghubungi mereka" tanya Bimo.


"Aku kehilangan ponselku dan aku tidak hafal nomer mereka" jawabnya bohong tidak mungkin ia bilang kalau ia membuang kartunya.


"Selama ini kau kemana saja, terakhir aku melihatmu saat pemakaman ayahmu"


"Aku ikut suamiku ke Jakarta" jawab Nana jujur.


"Kau sudah menikah? "tanya Bimo terkejut, pujaan hatinya sudah jadi milik orang lain.


Membuat tubuh Bimo lemes.


"Yach.... aku terlambat, aku kecewa kau sudah jadi milik orang lain. Kau tidak sedang berbohong kan? " tanyanya lagi mungkin saja masih ada harapan.


"Untuk apa aku membohongimu?"


sahut Nana sembari mengunyah makanannya.


"Tentu saja untuk mematahkan harapanku, kau membuatku patah hati" ucapnya jujur, padahal dulu dia tidak berani berkata seperti itu pada Nana.


Nana tersenyum kikuk, ia bingung harus merespon bagaimana, karena mereka tidak terlalu dekat dulu meskipun sering nongkrong bersama.


"Sudahlah jangan merasa tak enak, aku sudah biasa ditolak wanita"


Rasanya Nana ikut bersedih mendengar curhatan teman lamanya itu, namun juga ingin tertawa karena ia terlalu jujur.


"Kau sering ditolak wanita?"


"Hanya kau yang menolakku dan itu sering sekali" sahutnya sedikit sendu.


"Kapan aku menolakmu? Apa kau pernah menyatakan cinta padaku, kenapa aku tidak ingat ya" kata Nana seperti sedang berpikir, berusaha mengingat apa pernah ada laki - laki yang menyatakan cinta padanya dan jawabannya adalah tidak.

__ADS_1


Belum pernah ada yang menyatakan cinta padanya sampai saat ini, oh miris sekali kisah percintaannya, sekali jatuh cinta malah dicampakkkan eh diceraikan lebih tepatnya.


"Aku belum pernah mengatakannya, hanya saja aku sering memberimu kode, tapi sayangnya kau tak peka" sungutnya sedikit jengkel jika ingat masa lalu.


"Kau itu seperti matematika saja pakai kode, kalau saja kau mengatakannya, mungkin sekarang kita akan menjadi sepasang kekasih, siapa yang bisa menolakmu" goda Nana.


"Benarkah?" tanya Bimo merasa senang, sekarang ia menyesal kenapa tidak menyatakan perasaannya dulu, ia terlalu takut.


"Mungkin saja" sahutnya santai sembari menggerakkan kepalanya.


"Aku akan menyatakan perasaanku sekarang, apa kau mau...... "


"Hemmmmm...... " belum selesai perkataan Bimo, seseorang mendatangi mereka dengan berdehem.


"Mas Rama" sapa Nana.


"Sayang kau disini, apa yang kau lakukan disini, kau sedang berselingkuh dibelakangku"


Nana mengernyitkan keningnya bingung dengan ucapan Rama.


Bimo yang merasa tak nyaman dengan ucapan Rama segera memperkenalkan dirinya, meskipun ia menyukai wanita dihadapannya itu tapi ia tidak mau dituduh selingkuh.


"Perkenalkan saya Bimo temannya, saya yang mengajaknya makan siang karena sudah lama tak bertemu, maaf saya tidak tahu kalau suaminya ada disini" jawab Bimo gugup melihat tatapan horor dari laki - laki yang mengaku sebagai suami Nana, seperti kepergok membawa lari istri orang saja.


Rama masih menatapnya tajam membuat lawannya gelagapan. Aura seorang Rama memang kuat.


"Mas Rama apaan sih? " ucap Nana pelan merasa tidak enak pada Bimo.


"Kami sudah selesai" ucap Bimo sembari menatap suaminya Nana. "Aku pergi dulu suamimu sudah menjemputmu" beralih menatap Nana. Bimo berdiri setelah berpamitan lalu pergi dari sana.


"Mas kau membuatnya ketakutan" ketus Nana kesal.


"Aku tidak melakukan apapun" jawabnya santai tanpa merasa bersalah lalu memesan makanan.


"Kenapa mas Rama berbohong? " tanyanya lagi.


"Aku tidak berbohong, hanya saja ia pergi sebelum aku menjelaskan lebih lanjut kalau aku hanya mantan suamimu" jelasnya sembari tersenyum lebar.


"Ck" decaknya kesal. Lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak lama ia meraih tasnya dan beranjak berdiri.


"Mau kemana? " tanya Rama melihat Nana hendak beranjak dari tempat duduknya.


"Kerja " jawabnya masih ketus.


"Ini masih jam istirahat"


"Aku sudah selesai makan" berdiri lalu melangkah .


Rama menarik tangannya membawanya duduk kembali. "Temani aku makan" perintahnya dan anehnya Nana langsung menurut meskipun bibirnya masih manyun.

__ADS_1


Aku tidak akan membiarkan ada laki - laki lain lagi mengusik hubungan kita, cukap duda satu anak itu tidak ada lagi yang lain.


__ADS_2