
Melihat seragam laki - laki yang berdiri dihadapannya, ia merasa heran. Ini adalah kurir ketiga yang mendatanginya. Siapa yang iseng mengirimnya paket, sekarang apalagi yang dikirm oleh orang asing itu. Dilihat dari dua paket yang ia kirimkan sepertinya pengirimnya adalah seorang laki - laki.
Ingin rasanya Nana menolak paket itu, namun ia juga tidak ingin mempersulit mas kurirnya, kasian dia juga bekerja. Diterima pun ia juga merasa tidak nyaman. Bukannya menolak rezeky namun rasanya aneh saja dalam sehari dapat tiga paket. Bukannya ke GR-an atau sok cantik, namun ia merasa sebaliknya.
"Bungkusnya bagus sekali, kira - kira apa ya isinya" tanya Nana yang sedikit penasaran.
"Buka dirumah saja" celetuk Ola.
"Bagaimana kalau bom? " Nana merasa merinding, ada rasa takut menyelimutinya.
"Ya kau meledak sendirian" sahut Ola asal, lalu terkekeh pelan.
"Ck.... Tidak setia kawan" Nana menunjukkan wajah pura - pura sebal.
"Dapat paket lagi Na?" tanya temannya yang lain.
"Ya mas, entah siapa yang kurang kerjaan sehari ngirim paket tiga kali" ucap Nana sedikit kesal bukannya senang.
"Dari bungkusnya sih kayaknya itu barang" ujar teman yang satunya lagi.
"Tapi bagaimana kalau itu makanan, buka saja takutnya kadaluarsa"
"Belum tentu, bisa jadi itu..... boom"
"Ihh..... apaan, jangan nakut - nakutin dong"
Nana hanya diam saja mendengarkan perbincangan para rekannya.
"Aku akan membukanya" sela Nana. Mereka semua menatap Nana, sang pemilik paket.
Menghembuskan nafas kasar, tangannya bergerak memegang bungkusan itu. Perlahan mulai membukanya, bagian atas sudah terbuka, kertas yang menyelimuti kotak itu sudah terbuka seluruhnya, sekarang tinggal membuka kotak yang sytdah telanjang tanpa bungkus apapun.
Dag Dig Dug
Satu
Dua
Tiga
Dalam hitungan ketiga tutup kotak itu langsung dibuka. Semua orang reflek memundurkan tubuhnya setelah kotak itu terbuka, perlahan mulai mendekat secara bersamaan. Kepala mereka mengintip isi kotak yang sudah terbuka itu.
Duar......
Dolar.........
__ADS_1
"Isinya uang dolar" ucap Nana terbata, terkejut dengan apa yang dilihatnya, begitu pun rekannya. "Orang gila mana yang mengirimiku uang dolar"
Tuk
Ola menyentil keningnya kembali. " Itu bukan orang gila maymune, tapi horang kaya"
Lalu Nana menatap teman - teman seperjuangannya. "Bagaimana kalau uang ini adalah jebakan yang akan membawaku ke kantor polisi"
"Tidak mungkin, terlalu banyak nonton tv, siapa tahu ini memang untukmu dari orang yang baik" sahut teman yang lainnya.
"Kenapa hari ini sungguh ajaib" sungut Nana, yang merasa kesal pada orang yang seharian ini mengiriminya paket. Ia merasa sedikit takut jika orang asing itu punya maksud yang tidak baik padanya.
*
*
Suara tawa Rama memenuhi ruangan itu, yang juga terdengar ke arah luar karena tidak adanya peredam suara.
"Bukankah tadi kau yang memintanya sayang, kenapa sekarang kau ragu" gumam Rama pelan. Ia hanya memberikan apa yang wanitanya inginkan.
"Dan apa kau bilang tadi orang gila, mana ada orang gila setampan diriku, heh.... yang benar saja" Rama merasa tidak terima dirinya disebut orang gila.
Rama memegang teropongnya kembali untuk melihat wanitanya pulang kerja. Untuk beberapa hari ke depan ia hanya akan melihatnya dari jauh, dan akan muncul di waktu yang tepat.
*
*
Nana menatap kembali uang dolar yang saat ini sudah berada di kamarnya. Apa yang harus ia lakukan dengan uang dolar itu? Ia berpikir siapa kira - kira yang mengirimnya paket.
"Alfa, tidak mungkin. Dia dan April sedang keluar kota. Mas Rama...... sepertinya lebih tidak mungkin lagi, secara sejak terakhir bertemu, dia tidak pernah muncul lagi. Mungkin dia sudah pulang ke Jakarta" ucapnya sendu di akhir kata.
Masih saja ia mengingat Rama, masih ada perasaan yang tersimpan di hatinya. sulit untuk melupakan seseorang yang pernah mengisi hatinya, mungkin waktu yang akan menyembuhkannya. Ia hanya perlu menjalani hidup dengan baik.
Seminggu sudah berlalu, setiap hari ada saja yang mengirim paket entah berupa barang atau makanan. Mengirim boneka, makan siang, cemilan, banyak lagi barang yang lain. Lama - lama Nana merasa terganggu dengan kiriman - kiriman itu.
Seperti saat ini, paginya ia mendapat kiriman kaos bergambar hati dan siangnya ia mendapat kiriman makan siang.
"Makanannya lezat, bahkan ia mengirim beberapa porsi cukup untuk semua teman - temanku, apa dia sudah menghitungnya" ujar Nana merasa bingung dengan jumlah makanan yang dikirim orang asing itu.
"Mungkin saja dia sudah tahu semua tentangmu" sahut Ola yang juga merasa heran siapa penggemar rahasianya.
"Apa dia punya mata - mata?" Nana memperhatikan teman - temannya. "Siapa kira - kira yang menjadi mata - matanya" Nana memicingkan kedua matanya meneliti setiap orang yang ada disana.
"Jangan terlalu drama ini bukan drama korea" celetuk Ola.
__ADS_1
"Ck.... kau ini tidak mendukungku" sahut Nana cemberut.
"Biar sajalah, jangan terlalu dipikirkan,kita nikmati makan gratis selama masih ada yang mau membelikan, lumayanlah hemat biaya" Nana tertawa pelan mendengar ucapan Ola yang ternyata benar adanya.
*
*
"Ada apa bang kok pada rame? mau kemana itu ibu - ibu? kenapa terburu - buru" tanya Nana pada bang Wawan yang sudah berada di bengkel.
"Tuh, istri abang juga ikut heboh" tunjuk bang Wawan pada istrinya yang sedang berjalan ke gang sebelah.
"Emang ada apa bang?" Nana belum tahu kabar hari ini karena seharian bekerja.
"Katanya ada penyewa rumah baru yang murah hati, membagikan semua perabot gratis karena semuanya akan diganti dengan perabot yang baru" jelas bang Wawan.
"Siapa penyewanya? baik sekali" tanya Nana sambil memperhatikan jalan depan rumahnya, dari tadi ibu- ibu mondar mandir seperti setrika rusak.
"Katanya seorang laki - laki single" jawab bang Wawan.
"Ooo..... " Nana hanya ber- oh ria.
"Gak ikutan kesana neng?"
"Gak ah bang, kalah sama ibu - ibu kampung, paling Nana cuma kebagian sendok"
"Ibu - ibu kampung semuanya gercep, gerak cepat, tadi saja ada yang sudah tiga kali bolak - balik"
"Yaudah bang, Nana mau masuk dulu, mau istirahat bang"
"Capek ya neng, nikah aja neng supaya gak capek kerja"
"Belum ketemu jodohnya bang" jawab Nana santai. Nana melangkah masuk ke dalam rumah setelah Mengucapkannya.
.
Rama : [Sudah pulang kerja? istirahatlah, jangan lupa makan] emotion love.
Mendengar ada suara pesan dari ponselnya, diraihnya ponsel di atas nakas, lalu membuka ponsel yang telah dipegangnya.
Keningnya berkerut ketika melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
"Mas Rama" gumamnya lirih. "Mas Rama mengirim pesan" matanya tampak menyipit setelah membaca pesan dari Rama.
"Apa maksud mas Rama mengirim pesan seperti itu? Kenapa dia memberiku perhatian? Apa yang mas Rama pikirkan? Aku harap pikiranku salah"
__ADS_1