
Laki - laki itu pintar memyembunyikan wajahnya, Rama tidak bisa melihat wajahnya. Sepertinya dia sudah paham denagn keadaan setiap sudut cctv.
Rama mengirimkan rekaman cctv itu pada asistennya.
"Aku ingin dalam satu jam temukan posisinya" ucapnya setelah sambungan teleponnya diangkat.
Lalu mematikan panggilannya kembali, ia terlihat mengeraskan rahangnya.
Berani sekali dia membawa istriku.
Rama melangkah keluar lalu kembali ke hotel menunggu kabar dari anak buahnya.
*
*
Di tempat lain.
Nana membuka matanya perlahan, sinar lampu menyilaukan matanya, perlahan terbuka sempurna. Nana memegang kepalanya yang sedikit terasa sakit, melihat ke arah sekitar, asing.
Nana merubah posisinya, ia duduk, masih merasa bingung dengan keadaannya.
"Aku dimana? " tanyanya lirih.
Ceklek
Pintu kamar terbuka dari luar, menampilkan sosok lelaki yang ia kenal.
Alfa
Lalu ia teringat kejadian beberpa jam yang lalu waktu ia berada di supermarket. Nana memicingkan kedua matanya.
Apa aku diculik? Dan yang menculikku Alfa. Benarkah seperti itu.
"Kau sudah sadar?" tanya Alfa sembari melangkah mendekat ke arah ranjang tempat dimana Nana duduk.
"Hemmmm...... "
"Makanlah" Alfa menyerahkan piring yang sudah berisi makanan.
"Letakkan saja disana, aku ingin pulang" serunya tanpa mengalihkan tatapannya dari laki - laki yang berdiri dihadapannya.
Alfa tersenyum manis seperti tidak terjadi apa - apa. Alfa berjalan santai ke arah meja nakas untuk meletakkan piring berisi makanan yang dibawanya.
"Tinggallah disini dulu" jawabnya santai.
Nana menepis pikiran buruknya bahwa Alfa sudah melakukan tindak kejahatan padanya. Ia menguatkan dirinya dengan berpikir bahwa semua orang itu baik, tidak ada orang jahat, hanya saja pikiran mereka sedang ingin bermain.
__ADS_1
Nana berusaha untuk berpikir positif. Semua akan baik - baik saja pikirnya.
"Kenapa? " tanyanya, Nana tak ingin berbasa - basi lagi.
"Aku hanya ingin bersamamu" jawabnya santai membuat Nana terkekeh pelan.
"Apa kau bercanda? Suamiku akan mencariku, dia pasti mengkhawatirkanku"
Alfa tersenyum manis. "Statusmu sudah berubah? Kau seorang istri?"
"Ya, aku sudah menikah, aku wanita yang sudah bersuami" serunya penuh penekanan.
"Aku berharap pikiranku ini salah bahwa kau menculikku, tapi sepertinya apa yang aku pikirkan itulah kenyataannya. Untuk apa kau melakukannya" tanya Nana.
"April. Aku melakukannya karena dia. Dia menginginkanmu untuk menjadi ibunya. Tapi itu hanya menjadi keinginannya saja karena kau sudah bersuami. Tapi aku tidak tega untuk menghancurkan impiannya, jadi aku ingin mewujudkan keinginannya dengan menjadikanmu ibu sambungnya" sahut Alfa yang membuat wanita di depannya geram.
Nana tertawa lepas karena merasa lucu dengan apa yang di dengarnya. Lalu berjalan menuju sofa, mendudukkan bokongnya pada sofa panjang di kamar itu.
"Apa aku harus bahgia akan hal itu? Kau sudah melakukan kejahatan dengan menculikku" ucap Nana dengan amarah yang sudah tak bisa ia tahan.
"Tapi tak apa" lanjutnya dengan mengubah mimik wajahnya, berusaha untuk tersenyum. "Ternyata begini rasanya diculik, kau tahu sewaktu kecil dulu aku punya cita - cita diculik orang kaya yang mebutuhkan anak, dan aku akan menjadi anak orang kaya, impian indah seorang anak kecil tak kusangka sekarang dikabulkan setelah aku dewasa, hidup memang tidak bisa ditebak"
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah berhasil menculikku" tanya Nana, ia berusaha untuk mengulur waktu sampai sang suami datang untuk menyelamatkannya.
Awas saja kalau sampai datang terlambat untuk menyelamatkan istrimu ini.
"Menikahimu"
"Aku melakukannya karena April, dia butuh seorang ibu yang menyayanginya'
" Lalu bagaimana dengan mantan istrimu itu, apa dia akan senang? Bagaimana jika dia tak reka melihat suaminya menikah lagi meskipun kalian sudah beda dunia. Apa yang akan kau katakan nanti saat bertemu dengannya di surga" Nana mencoba peruntungannya denagn menggunakan mantan istri Alfa yang sudah meninggal.
Nenek April pernah bercerita padanya, sedikit kisah tentang orangtua April. Mereka saling mencintai, saat ditinggal istrinya Alfa sangat terpuruk. sudah berkali-kali mereka menjodohkan Alfa agar tidak terlalu mengingat mantan istrinya itu.
Namun Alfa selalu menolaknya dengan berbagai alasan. Lalu kenpa sekarang laki - laki itu ingin menjadikan Nana sebagai istrinya. Apa iya hanya karena April atau ada perasaan lain yang tak sengaja tumbuh tanpa disiram.
Alfa mulai berpikir saat mendengar ucapan Nana. Ia teringat akan istri yang sangat dicintainya itu. Yang tega meninggalkannya dan juga putri mereka. Matanya berkaca- kaca, Nana dapat melihat perubahan pada raut wajahnya.
"Bersiaplah satu jam lagi kita akan pergi meninggalkan Bali dan ucapakan selamat tinggal pada suamimu itu karena sebentar lagi kau akan menjadi istriku" setelah mengucapkannya Alfa keluar dari dalam kamar.
"What? apa katanya? Mengucapkan selamat tinggal? akan menjadi istrinya? Ahh.... Aku harus kabur, aku tidak mau punya dua suami, akan sangat menyusahkan kalau sampai suamiku dua. Sepertinya Alfa orang yang nekat, akan melakukan hal apa yang dia inginkan"
Nana menggelengkan kepalanya saat pikirannya melayang, membayangkan dia harus kerepotan melayani dua suami, lalu bagaimana kalau di atas ranjang, mengingat mas Rama begitu buas.
"Tidak..... " teriaknya sedikit keras.
"Aku harus memikirkan cara bagaiamana kabur darinya sampai mas Rama datang" serunya sedikit panik.
__ADS_1
"Mas segeralah datang, jangan biarkan istrimu menikah lagi" ucapnya penuh harap.
*
*
Satu jam berlalu.
Ceklek
Alfa datang lagi. "Kita harus berangkat aekarang juga, sebelum suamimu itu menemukan kita"
"Bukankah itu bagus untukku, lebih baik kita menunggu suamiku datang agar aku bisa berpamitan padanya dan meminta ijin untuk menikah lagi"
"Kau pikir aku bodoh? " sentak Alfa.
"Tidak, kau sangat cerdas, buktinya aku tidak tahu kita dimana" jawab Nana ketus.
"Ayo berangkat"
"Sebentar aku mau ke kamar mandi dulu" lalu melangkah menuju kamar mandi. Nana hanya berdiam diri disana. Ia hanya ingin mengulur waktu menunggu kedatangan suaminya.
"Apa kau sadar aku hilang mas" gumamnya sendu.
10 menit berlalu
lima belas menit
dua puluh menit
Dor dor dor
"Buka pintu, cepat keluar, jangan menguji kesabaranku, aku tahu kau hanya ingin menghindar" teriak Alfa dari luar kamar mandi, tentu saja Nana sangat jelas mendengarnya.
Cekrek
"Apa yabg kau lakukan?" tanyanya setelah Nana keluar dari kamar madi.
"Tentu saja aku memasak di dalam" jawab Nana ketus, ia tidak peduli meskipun saat ini statusnya adalah korban penculikan.
"Jangan menghindariku? "
"Menghindarimu? untuk apa? tentu saja tidak, aku hanya menunda keberangkatan kita" ucapnya dengan senyum sinis.
*
*
__ADS_1
Di tempat lain.
"Mereka masih dibali tuan dan beberapa jam lagi mereka akan meninggalkan Bali" suara laporan dari dalam telepon. "Saya sudah mengirim lokasi mereka, saya akan segera kesana"