
Seorang laki- laki dengan setelan jas rapi duduk di dalam mobil dengan menyilangkan kakinya. Terlihat dari raut wajahnya ia sedang tidak baik - baik saja, rahangnya mengeras, tatapannya tajam seperti ingin membunuh mangsa di depannya.
"Mereka sudah sampai bos" Laporan dari anak buahnya ketika ia mengangkat ponsel yang ia pegang.
"Hemmmm... . " jawabnya hanya berdehem.
Setelah mendapat kabar dari asistennya dimana keberadaan Nana dan rencana mereka untuk meninggalkan Bali, Rama dan anak buahnya beserta pak Jo melajukan mobilnya menuju bandara.
Ia sedag menunggu wanitanya yang dibawa oleh seseorang yang membuat hatinya bergemuruh. Tak lama ia keluar dari mobil, melangkah ke arah pintu masuk bandara. Langkah tegapnya membuatnya menjadi pusat perhatian, kaca mata yang membingkai wajahnya menambah nilai pesonanya. Tidak ada senyum diwajahnya.
*
*
"Turunlah! " perintah laki - laki yang ada disampingnya yang lebih dulu keluar dari mobil namun belum menutup pintu mobilnya.
Dengan langkah berat Nana menurunkan satu kakinya lalu keluar dari dalam mobil.
Nana masih memikirkan bagaimana caranya untuk kabur. Ia harus bisa melarikan diri.
"Aku mau ke toilet dulu" Seru Nana sembari melihat ke kanan dan ke kiri mencari jakan keluar untuk kabur.
"Tadi kau sudah lama di kamar mandi" sindir Alfa.
"Tadi aku tidak benar - benar ke kamar mandi, sekarang aku kebelet" Sahut Nana.
"Nanti saja di pesawat, hanya sebentar saja" ucap Alfa tidak membiarkan Nana pergi karena ia tahu apa yang dipikirkan wanita disampingnya.
"Tapi aku sudah tak tahan" Nana tetap berusaha.
"Tahanlah dulu, sebentar lagi kita akan masuk"
Nana mencebikkan bibirnya, sepertinya ia gagal untuk kabur.
Apa aku lari saja ya
Nana melirik laki - laki disampingnya, lalu dengan gerakan cepat ia berjalan mundur lalu berlari sekencang mungkin.
"Shiit.... " Umpat Alfa lalu mengejar Nana.
__ADS_1
Nana berlari cepat dikerumunan orang lalu bersembunyi, dapat ia lihat Alfa masih mencarinya. Nana mengatur nafasnya yang masih tersengal - sengal. Mengelus dadanya lalu menghela nafas panjang. Saat tubuhnya berbalik.
Duaaarrrr...
"Aku menemukanmu, kau membuang waktu saja, ayo cepat" Alfa menarik tangannya.
"Aku hanya mau ke toilet" elaknya sembari memanyunkan bibirnya.
"Alasan, kau pikir aku tidak tahu kau berniat ingin kabur"
"Itu tahu aku mau kabur, kenapa tidak dibiarkan saja"
Alfa tak menjawab ocehan Nana, ia menarik tangannya.
Suamiku lama sekali, padahal aku sudah memberimu banyak waktu.
Tak lama pesawat pun lepas landas.
"Aku mau ke toilet, tenang saja aku sudah tidak bisa kabur lagi" Ucap Nana ketus membuat Alfa menyeringai tipis.
Nana berjalan ke arah toilet, lalu masuk ke dalam salah satu kamar toilet. Belum ia menutup pintu seseorang menahan pintu lalu menerobos masuk.
Rama langsung menyambar bibir wanita yang sudah membuatnya khawatir.
Saat tahu siapa yang menyosornya Nana menitikkan air matanya. "Kenapa mas Rama lama sekali, bagaimana kalau sampai terlambat, dia akan menikahiku" ucapnya setelah Rama melepaskan tautan bibirnya.
"Berarti kau akan punya dua suami" Goda Rama.
Nana memukul pundak Rama keras. "Jangan bercanda" Rajuknya.
"Pukulanmu keras sekali, kenapa kau tidak memukul si duda itu" tanya Rama.
"Aku tidak mau mati konyol, tenagaku kalah jauh, aku hanya berdua dengannya, aku takut dia menyentuhku, kau tahu dia sangat menakutkan"
"Ayo" ajak Rama membuat Nana bingung. Apa mereka akan kembali ke dalam, Alfa pasti akan melihatnya dan ia tidak mau lagi bertemu dengan Alfa.
"Kemana? Aku tidak mau masuk kesana lagi"
"Tidak mungkin kita di dalam toilet selama perjalanan, percayalah padaku" bujuk Rama.
__ADS_1
Meskipun ada sesuatu yang ia khawatirkan, Nana tetap saja mengikuti suaminya itu. Ia tidak mau apa yang ia khawatirkan akan menjadi kenyataan. Kalau perempuan marah atau sampai bertengkar paling ya adu mulut. Tapi kalau lelaki akan adu jotos bahkan menggunakan benda tajam, ia tidak mau sesuatu terjadi pada suaminya itu.
Ia terkejut ternyata ada ruangan lain di pesawat itu, dan ruangannya lebih bagus dari yang tadi ia tempati bersama Alfa.
Rama mengambil sesuatu di tempat duduknya lalu memberikannya pada wanitanya.
"Ini, gantilah bajumu" seru Rama sembari menyerahkan paperbagnya pada wanita yang masih menatap ruangann itu takjub. Rama membawa tangannya lalu mengantarnya ke toilet.
"Masuklah, aku akan menunggumu disini" Nana menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam toilet.
Beberapa menit kemudian Nana keluar dari dalam toilet. Setelah itu mereka melangkah bersama ke tempat duduk yang Rama tempati.
"Apa ini tidak ada yang menempati? " tanya Nana polos.
"Ini memang kursimu" jawab Rama santai.
"Heh.... " Nana memicingkan ke dua matanya menatap ke arah Rama. Laki - laki sejuta pesona dihadapannya berhasil membuatnya jantungan, bagaimana tidak kalau ia selalu melemparkan senyuman mautnya.
Rama memegang tangannya. " Aku memang memesan tiket ini untukmu, sedangkan kursi yang dipesan duda itu bukan nama aslimu, entahlah bagaimana dia melakukannya, dia niat sekali untuk membawamu pergi dan ya aku belum membuat perhitungan dengannya" Jelas Rama pada wanitanya itu.
Mata Nana berbinar lalu tersenyum manis. "Kau seperti pahlawan bagiku, ternyata pangeran berkuda putih itu memang ada ya, dan kau adalah pangeranku" Nana menyandarkan tubuhnya pada lengan kekar disampingnya.
"Aku mencintaimu" lanjut Nana membuat Rama tersenyum. "Dan merindukan pedangmu itu" bisiknya ke telinga Rama. Membuat Rama seketika dalam mode on.
"Jangan menggodaku sayang, kau tahu aku ingin sekali membawamu ke kamar" Nana tertawa cekikikan melihat perubahan wajah suaminya dan juga merasakan ledang suaminya yang sudah mengeras.
"Sepertinya kau senang sekali, baiklah setelah kita turun aku akan mewujudkan keinginanmu sayang" Seru Rama lalu mengecup pipi wanitanya.
Sementara di tempat yang lain, Alfa menunggu kedatangan Nana.
"Dasar lelet, ke toilet saja lama" Serunya sedikit kesal karena Nana terlalu lama membuatnya menunggu.
Merasa kesabarannya habis, ia langsung bangkit dari duduknya menuju toilet wanita. Ia meminta tolong pada salah satu pramugari untuk melihat apakah ada seorang wanita di dalam. Tak lama pramugari itu mengatakan bahwa tidak ada seorang wanitapun di dalam toilet, kosong.
Alfa menajamkan matanya, ia berjalan kesana kemari mencari Nana di setiap tempat duduk disana, merasa tak menemukan Nana ia berjalan untuk masuk ke ruangan yang lain, namun langkahnya terhenti karena pramugari yang berjaga disana tidak mengijinkannya untuk masuk. Hanya khusus untuk penumpang kelas executive.
"Sial.... " umpatnya dalam hati, ia tidak mungkin membuat keributan di dalam pesawat kalau tidak ingin pesawatnya jatuh atau ia yang akan berakhir di penjara.
Akhirnya Alfa kembali ke tempat duduknya dengan kesal ia mendaratkan bokongnya lalu melihat kursi kosong disampingnya.
__ADS_1
Kemana dia, menyusahkan saja. Apa ia tersesat? tapi kemana ini pesawat, tidak mungkin kan ia tersesat ke arah pintu keluar.