
"Ya sayang, kamu hamil. Kamu mengandung anak kita" ucap Rama penuh haru karena terlalu bahagia.
"Aku hamil" tanya Nana tak percaya. "Aku bisa hamil" tanyanya lagi. "Alhamdulillah" Nana bersyukur akhirnya rezeky yang dinantinya datang juga, kebahagiaan tiada tara.
"Ya sayang, kamu bisa hamil, Allah mendengarkan doamu" Rama sering mendengar istrinya berdoa untuk diberi keturunan dari rahimnya sendiri, dan kini Sang Pencipta mengabulkannya. Meskipun ia mengatakan kepada istrinya untuk tidak terlalu memikirkan keturunan dan seandainya pun mereka tidak diberi keturunan sebenarnya ia juga merasa sedih saat melihat istrinya berdoa untuk diberi keturunan. Ia selalu merasa bersalah mungkin ini efek dari obat yang ia berikan pada istrinya namun ia bersikap tegar untuk memberikan dukungan positif pada sang istri.
Ia juga melarang istrinya untuk melakukan tes kehamilan karena ia tak mau istrinya itu terlalu tenggelam dalam harapan yang akhirnya akan membuatnya kecewa.
Tapi sekarang keajaiban itu datang, rasa syukur ia ucapkan kepada sang Pencipta.
Nana menangis bahagia berbeda dengan tadi saat ia menangis karena takut.
"Ayo kita kerumah sakit? " ajak Rama, Nana pun mengangguk.
Nana bangkit dari atas ranjang, lalu mengambil tasnya mereka pun langsung berangkat kerumah sakit.
*
*
Selama diperjalanan.
"Aku bodoh sekali sampai tidak menyadari keberadaannya di perutku, apa aku bisa jadi ibu yang baik nantinya saat dia hadir saja aku malah tidak bisa merasakannya" ucap Nana.
"Kita akan belajar bersama untuk menjadi orangtua yang baik untuk anak - anak kita kelak" sahut Rama berusaha menyemangati sang istri.
" Aku jadi rindu April" tiba - tiba ia teringat gadis kecil yang sering bersamanya, sudah lama mereka tak bertemu sejak dia menikah dengan Rama.
"Kita akan sering mengunjunginya dan kalau kau mau kita bisa mengadopsinya" ucap Rama penuh arti.
"Alfa tidak akan mengijinkannya. Bagaimana ya kabar mereka saat ini? " Nana mengingat apa yang dikatakan suaminya beberapa waktu yang lalu, dia rasanya ingin tertawa sekaligus menangis dengan kasih sayang April padanya.
*
Flashback on
__ADS_1
Setelah kejadian penculikan Nana dan juga penyelamatan yang dilakukan oleh Rama. Rama menyekap penculiknya sampai ia melangsungkan pesta pernikahan.
Mereka duduk berhadapan dengan saling menatap tajam. Alfa dengan senyum devilnya seakan meremehkan Rama, sementara Rama menatapnya tajam seakan ingin mengelupasi kulit laki - laki yang telah nerani membawa kabur istrinya.
"Apa tujuanmu?" tanya Rama tegas dengan tatapan tidak ramahnya.
"Tidak ada" sahut Alfa santai.
"Kau ingin bermain denganku, apa kau mau aku meratakan restoranmu dengan tanah" ancam Rama bersungguh-sungguh. Ia benci dengan tatapan yang Alfa berikan. Tatapan meremehkannya.
"Lakukanlah jika kau mampu" Alfa masih tetap dengan sikap santainya membuat Rama semakin geram, rasanya ia ingin memukul wajah sok tenang Alfa.
"Kau terlalu meremehkanku"
"Ya, mungkin aku salah memilih lawan, sebelumnya aku memang tidak tahu siapa yang berada dihadapanku, aku pikir hanya seorang penjual boneka. Pesta pernikahanmu cukup meriah untuk seorang Rama Perwira"
"Tapi aku tidak yakin kau bisa menghadapi orang yang menyuruhku, aku yakin kau tidak bisa berkutik sedikitpun" lanjut Alfa memancing kemarahan Rama.
"Siapa? Siapa yang berani menyuruhmu untuk menculik istriku" Sentak Rama, ia bukan orang yang sabar untuk menghadapi laki - laki seperti Alfa. Sepertinya ia sudah cukup sabar dengan membiarkan Alfa, Rama hanya memerintahkan anak buahnya untuk menyekap Alfa.
Alfa terkekeh kecil, ia merasa senang mmembuat Rama penasaran. Alfa sangat tahu siapa seorang Rama, dia bukan orang sembaranagn. Apa yang diucapkannya bisa ia lakukan dengan mudah, apalagi hanya meratakan satu restoran kecilnya, meratakan seluruh cabangnya ia sangat mampu.
"April" jawabnya santai.
"Apa? April siapa, apa aku mengenalnya? " Rama tampak berpikir apa ia mengenal wanita yang bernama April sepertinya tidak, lalu ia teringat satu nama.
"Putrimu" tebaknya. Meskipuan ia sedikit ragu namun hanya pemilik nama itu yang ia ingat.
"Ya" jawabnya tegas.
"Kau jangan bercanda" sentak Rama kembali dengan suara yang lebih keras.
"Tanyakan sendiri padanya"
Rama terdiam, sebesar apapun kekuatannya ia tidak bisa melawan anak kecil, apalagi anak itu kesayangan istrinya.
__ADS_1
Flashback of
*
*
"Aku juga ingin mengetahui kabarnya, aku juga belum membuat perhitungan dengan gadis kecil itu" sambung Rama.
"Jangan terlalu keras padanya, mungkin dia punya alasan yang kuat kenapa meminta abinya untuk melakukan itu. Ingatlah dia yang selalu menghiburku saat aku teringat padamu" Bela Nana meskipun ia tahu suaminya tidak mungkin menyakiti anak kecil.
"Baiklah, aku hanya akan menjitak kepalanya" jawab Rama setelah mendengar ancaman dari sang istri.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit. Mereka turun bersama dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Mereka sudah mendaftar jadi hanya tinggal menunggu antrian saja. Mereka harus menunggu dua antrian lagi.
Tibalah nama Nana dipanggil. Rama dan Nana masuk ke dalam ruangan dokter yang sudah diketahui Rama kalau dokternya perempuan. Dia tidak mau miliknya dilihat laki - laki lain. Biarlah dia dibilang posesif atau apa.
Rama mendampingi sang istri, dokter pun tersenyum menyapa mereka.
"Apa ada keluhan? " tanya dokter ramah.
Mereka saling pandang sebentar lalu Nana menjawab. "Tidak ada dok" karena Nana memang tidak punya keluhan, yang ada dia tidak tahu kalau hamil.
Dokter menggerakkan tangannya dengan lincah di atas perut Nana.
"Bayinya sehat, bentuknya juga sudah sempurna, kalian bisa melihat, ini kepalanya, ini tangannya, paha dan kakinya. Gerakannya juga lincah, bayinya aktif sekali" jelas sang dokter.
"Beratnya juga sudah cukup, usia kehamilan sudah 18 minggu itu artinya sekitar empat bulanan" lanjut dokter sambil melihat layar monitor. Yang juga diikuti pasangan itu, mereka juga menatap layar monitor dengan perasaan yang tidak bisa mereka bayangkan sebelumnya.
"Empat bulan dok? " tanya mereka terkejut dan kompak.
"Ya, kadang di usia empat bulan ada yang perutnya besar sekali seperti usia tujuh bulan, kadang juga kecil seperti tiga bulan tapi tidak perlu khawatir, itu tidak masalah. Yang penting ibu dan bayinya sehat" jelas dokter lagi yang mengerti dengan arah pikiran pasiennya.
Rama mengatakan pada dokter yang memeriksa istrinya jika mereka baru saja mengetahui berita kehamilan istrinya beberapa jam yang lalu, yang ditanggapi dengan senyum ramah oleh si sokter. Karena bagi seorang dokter menghadapi pasien yang aneh bahkan lebih aneh lagi itu sudah biasa.
Setelah puas mendengarkan penjelasan dokter dan setelah selesai diperiksa mereka keluar dari ruangan dokter itu karena masih banyak pasien yang mengantri untuk memeriksa kandungannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...