Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 34 Kenapa tidak dibalas


__ADS_3

Tak kunjung mendapat balasan dari wanita yang sudah bertahta dihatinya membuatnya uring - uringan. Rama sudah menyadari perasaannya, ia tidak mau kehilangan wanita yang sudah dicintainya itu untuk kedua kalinya. Meskipun ia harus menyakiti seorang wanita yang dulu sangat dicintainya. Ia tidak mau pengorbanannya akan berakhir sia - sia, secepat mungkin ia harus mendapatkan Nana kembali sebelum saingannya itu bergerak. Rama dapat melihat tatapan suka dari sang duda pada mantan istrinya itu.


"Ah..... kenapa tidak dibalas, apa dulu dia juga seperti ini saat menunggu balasan pesan dariku, sungguh menyiksa" sungut Rama. Ia merasa kesal pesannya hanya dibaca saja.


Melihat ponselnya kembali, membuka watshap lalu mengetik pesan lagi.


Rama : [Apa kau sudah tidur? ] pesan pun terkirim dan langsung centang biru. Artinya pesan sudah terbaca oleh penerima pesan.


Lima menit


sepuluh menit


lima belas menit


Nana hanya membacanya, dia bingung harus membalas apa karena mereka sudah tidak punya hubungan apapun lagi. Meskipun Nana tidak pernah punya pacar tapi dia cukup mengerti dengan arti sebuah hubungan. Apalagi dia sudah pernah menikah, dan Rama bukanlah orang yang harus berbagi pesan dengannya. Rama hanyalah kenangan masa lalu baginya bukan lagi masa depannya.


Rama : [ Kenapa tidak dibalas]


Rama : [Kenapa hanya dibaca saja, balaslah]


Setelah menunggu cukup lama Nana akhirnya membalas pesannya. Dengan semangat empat lima Rama membuka pesannya.


Nana : [Ya aku balas]


Akhirnya Nana membalasnya karena Rama menyuruhnya untuk membalas pesan.


Rama sedikit kecewa setelah membaca pesan singkat dari wanitanya.


"Tidak apa - apa daripada tidak dibalas, begini juga lebih baik" gumamnya pelan. Lalu ia mengetik pesan kembali.


Rama : [Kenapa baru dibalas, dari tadi kemana? ]


Nana : [ Kan baru disuruh balas]


Rama : [Jadi kau tidak membalas pesanku dari tadi karena aku belum menyuruhmu untuk membalas]


Nana : [Iya]


Rama : [Baiklah, kalau begitu setiap aku mengirim pesan maka balaslah]


Nana : [ Baiklah ]


Rama : [ Tidurlah ini sudah malam]


"Ahh... dia tidak membalas lagi, apa dia langsung tidur setelah kusuruh untuk tidur" sungutnya, niat hati ingin memberi perhatian pada pemilik hatinya saat ini namun yang ia dapatkan kekesalan, ia jadi bad mood setelah berbalas pesan dengan Nana.


"Bukankah kemarin dia lihai mengetik pesan, mungkinkah keterampilannya berubah setelah pindah kota" Setelah cukup berpikir Rama memutuskan untuk naik ke atas ranjang yang baru ia beli, ia sudah pindah ke rumah kontrakan, tidak nyaman terlalu lama di hotel, ia menyewa rumah itu untuk dua bulan ke depan.


*

__ADS_1


*


Pagi hari. Seperti biasa di depan rumah sudah berkumpul ibu - ibu rumpi dengan si penjual sayur tentunya.


'Penyewa baru rumah pak haji Roni tu tampan sekali ya' ucap salah satu ibu rumpi


'Dia juga baik hati, memberikan semua perabotan yang masih bagus gratis, padahal kualitasnya masih ok' sambung ibu yang lain.


'Denger - denger dia seorang duda, katanya istrinya pergi meninggalkannya'


'Tega sekali istrinya itu'


'Mungkin mata istrinya juling tidak bisa melihat mahakarya yang begitu sempurna, sudah tampan kaya lagi'


Nana melewati ibu - ibu itu dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


"Mau kerja neng, gak capek kerja terus, mending terima saja itu lamaran anaknya pak Hasan, biar gak usah kerja lagi"


Nih ibu satu, mulutnya lepas terus, ehmmmm minta dikunci pakek gembok kali ya.


Nana menanggapinya hanya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Terlalu lelah untuk berdebat tak akan ada habisnya. Ia berjalan cepat untuk mengambil sepedanmotornya di bengkel, lalu mengemudikannya secepat kilat untuk menghindari mulut rempong emak - emak. Kenapa juga itu tukang sayur berhentinya dekat dengan pintu pagarnya.


*


*


"Alhamdulillah,, bulan ini bonusnya tidak sebanyak kemarin, berapapun nominalnya tetap harus bersyukur, terima kasih ya Allah" ucap Nana senang, ia tidak berkecil hati ataupun mengeluh meskipun gajinya berkurang dari bulan sebelumnya.


"Sebagai rasa syukur aku akan mentraktir anak orang, sepertinya April sudah kembali" gumam Nana teringat pada gadis kecil yang beberapa hari ini mengisi harinya.


"Tante" teriaknya dari arah luar toko sembari berlarian menuju ke arahnya.


Baru saja diomongin eh.... anaknya udah nongol.


"Hi.... sayang, apa kabar?" sapa Nana.


"Baik tante, April rindu" April memeluk Nana erat.


"Benarkah?" goda Nana sembari mencubit pipinya gemas.


"Ya, April baru kembali dan langsung minta diantar kesini karena ingin bertemu tante" ucap April menggebu saking senangnya bertemu Nana.


"Oh.... tante jadi terharu" sahut Nana bersikap seperti anak kecil juga.


"April, sudah kan ketemu tantenya, ayo ke restoran dulu" Suara Alfa memutus tatapan mereka karena beralih melihat ke arah asal suara.


"Tidak mau bi, April mau disini sama tante Nana" April mulai merajuk.


"April, tante sedang bekerja jangan mengganggunya" sergah Alfa. Ia merasa tak enak putrinya sering mengganggu Nana. Ia juga tak habis pikir bagaimana mereka berdua bisa sedekat itu padahal masih baru kenal.

__ADS_1


"Tante sudah selesai bekerja, April mau jalan - jalan sebentar sama tante"


"Mau banget tante"


"Ehmmm... bolehkah sebentar saja, nanti aku yang akan mengantarnya ke restoran" ucap Nana semabri menatap Alfa.


Menatap April dan Nana bergantian. " Baiklah" ia tak mampu menolak keinginan putrinya apalagi Nana tidak merasa keberatan sama sekali.


"Horeeee.... Ayo tante" teriak April bahagia lalu manarik tangan Nana dengan tak sabar.


"Ok"


Mereka berjalan di sepanjang trotoar, membeli eskrim dan juga cemilan. Mereka terlihat layaknya ibu dan anak.


"Mau beli boneka atau mainan? " tanya Nana ketika melewati toko mainan.


"Mau.... tante"


"Baiklah tante akan membelikan mainan yang April mau"


"Apa tante punya uang? " tanya anak kecil itu polos membuat Nana terkekeh kecil.


"April tenang saja, Hari ini tante banyak uang. April boleh membeli apapun yang April mau"


"Boleh tante? " tanyanya senang.


"Tentu"


Mereka memasuki sebuah toko mainan yang berada di depan toko tempat Nana bekerja. April tampak bahagia melihat banyaknya boneka dan mainan yang tertata rapi disana. Tapi ia lebih bahagia dengan seseorang yang menemaninya.


"Terima kasih tante " ucap April menatap Nana dengan tatapan senang dan sedih sekaligus, ia senang karena bisa bersama Nana karena ia menyukai Nana saat pertama kali perjumpaan mereka padahal sebelumnya April sangat sulit untuk dekat dengan orang lain kecuali abinya, keluarganya yang lain pun sulit untuk mendekatinya. Sedihnya karena ia merindukan pelukan seorang ibu. Ibu April meninggal tiga tahun yang lalu, sewaktu ia masih kecil namun ia masih mengingat kenangan bersama ibunya meskipun hanya sedikit.


"Kenapa berterima kasih sayang, April kan belum beli apa - apa?"


"Karena tante sudah mau menemani April dan sayang sama April" jawab April jujur.


Nana merasa terharu dengan ucapan April, ia juga tidak punya ibu, mungkin karena itu mereka bisa dekat.


"April rindu mama?" tanya Nana dan April pun mengangguk dengan mata yang berkaca - kaca.


Nana memeluknya hangat. "Mama pasti bahagia disana punya putri manis sebaik April"


"Benarkah tante"


"Tentu saja, karena..... "


"Hemmm...... " suara Nana terpotong karena deheman seseorang dari arah belakangnya. Reflek Nana dan April menoleh ke belakang.


Deg

__ADS_1


__ADS_2