Aku Kekasih Suamiku

Aku Kekasih Suamiku
Bab 52 Saran gila


__ADS_3

Semakin hari hubungan pasangan suami istri itu semakin mesra saja. Rasanya seperti dunia milik mereka berdua.


Nana berjalan dengan penuh kantong kresek ditangannya. Ia habis belanja bulanan. Namun ditengah jalan.


Brak


Ia menabrak seseorang karena kurang fokus. Ia berjalan lurus namun kedua penglihatannya melihat kesana kemari. Jiwa wanitanya meronta ketika sang suami memberinya uang bulanan yang fantastis.


"Maaf.... " ucap Nana sembari mengambil kantong plastik belanjaannya tanpa melihat ke arah seseorang yang ditabraknya.


"Tidak apa - apa, lain kali lebih berhati - hatilah" sahut wanita itu.


"Terima kasih" lalu Nana mendongak melihat ke arah asal suara wanita yang berdiri dihadapannya. " Kamu..... "


"Kamu.. "


Mereka sama - sama terkejut.


*


*


Pertemuan tak sengaja antara dua wanita yang pernah ada di hati Rama kini berada di salah satu meja restoran. Setelah pertemuan tak terduga itu Nana berinisiatif untuk mengajak wanita yang pernah menjadi kekasih suaminya itu untuk makan siang.


Kebetulan mereka belum makan siang. Terlihat kecanggungan antara mereka berdua.


"Mungkin kita sudah saling mengenal, hanya saja kita belum berkenalan, aku Nana" Nana memperkenalkan dirinya.


"Ya kita perlu berkenalan secara langsung, aku Arabella mantan kekasih Rama" sahut Ara.


"Aku istri Rama. Apa kabar? " tanya Nana canggung harus menyebutkan statusnya.


"Aku sudah bisa berjalan normal lagi. Selamat atas pernikahanmu, aku tulus mendoakan kebahagiaan untuk kalian" jawab Ara.


Nana merasa tak enak hati. "Kau tak marah padaku atau kau ingin marah padaku, aku mengijinkannya" akhirnya Nana mengucapkan apa yang ada dalam pikirannya.


"Untuk apa aku marah, aku hanya harus berlapang dada mengikhlaskan semuanya, semua sudah ada jalannya" sahut Ara bijak.


"Kau wanita yang baik. Aku minta maaf harus hadir diantara kalian. Seharusnya perjodohan itu tidak pernah terjadi, maaf karena waktu itu aku menerima begitu saja pernikahan yang sudah disetujui orangtua kami" jelas Nana yang merasa bersalah namun semua sudah terjadi.


"Tidak perlu meminta maaf, mungkin itu sudah jalannya. Kau tahu aku sudah mencintainya sejak kami dibangku SMU, sangat sulit membuatnya jatuh cinta padaku namun aku tak pernah menyerah sampai akhirnya kami memutuskan untuk menjalin kasih. Tapi hanya dalam waktu setahun kau bisa merebutnya dariku, kau sangat hebat"


"Entahlah aku harus senang atau sedih mendengar pujianmu" Jawab Nana sambil tersenyum hambar.

__ADS_1


"Ternyata kau sangat menyenangkan dan berterus terang, mungkin itu yang membuat Rama jatuh cinta padamu" puji Ara lagi.


"Aku tidak mungkin menceritakan semua kisah kami padamu kan? aku tidak mau kau semakin sakit hati, sepertinya aku menjadi orang yang tidak tahu diri"


"Aku tahu bagaimana perasaanmu, maka dari itu aku akan memberimu tips untuk meredakan sakit yang kau rasakan" ucap Nana sembari memegang tangan Arabela.


"Aku tidak punya maksud apa - apa, anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku padamu karena sudah mendoakan pernikahan kami"


"Ini pengalamanku, aku dan mas Rama tidak saling mengenal sewaktu kami menikah, kami hanya dua orang asing yang terpaksa harus hidup bersama" lanjutnya sedikit bercerita sebelum menyampaikan tujuannya.


Nana semakin serius bercerita. "Tapi setelah kami bercinta aku jatuh cinta padanya" ucap Nana tanpa dosa membuat Ara geleng - geleng kepala. Nana mengatakan kata bercinta begitu saja tanpa memikirkan wanita dihadapannya. Dia belum menikah.


"Aku serius, mungkin dengan bercinta hatimu akan berubah haluan dan tidak sakit lagi, tapi menikahlah dulu jangan berbuat dosa"


Ternyata istri Rama polos, sedikit bodoh, apa terlalu jujur ya.


Arabella tersenyum mendengar ucapan istri mantan kekasihnya itu.


"Terima kasih sarannya, akan aku pertimbangkan saranmu yang menurutku sedikit ekstrim"


Pelayan datang membawa makanan yang telah mereka pesan. Mereka langsung menyantap makanan yang sudah tersaji di atas meja. Setelah selesai makan, mereka berpamitan untuk kembali ketujuan awal mereka sebelum bertemu. Lalu mereka berpisah.


*


*


Ia cukup serius memikirkan saran dari wanita itu, yang menurutnya itu saran tergila yang pernah ia dengar, haruskah ia mencoba saran gila itu atau terpuruk dalam kesedihan yang tidak tahu sampai kapan akan berakhir.


Mungkin orang baru akan sejenak mengalihkan pikiranku.


*


*


Setahun sudah usia pernikahan Rama dan Nana. Nana berada didalam kamar mandi menatap alat kecil yang dipegangnya. Hanya garis satu, kembali perasaan kecewa ia rasakan, ini sudah kesekian kalinya ia melakukan tes kehamilan saat ia telat datang bulan.


Namun rezeky itu belum datang juga. Ada sedikit kekhawatiran dihatinya, bagaimana jika ia tidak bisa memberi Rama keturunan. Keluarga Rama pasti butuh keturunan untuk melanjutkan dunia bisnis mereka.


Meskipun tidak dituntut untuk memberi keturunan dan mas Rama pun sepertinya cuek, tapi bukankah dia harus tahu diri. Keluarga suaminya bukan keluarga sembarangan, mereka keluarga konglomerat meskipun Nana tidak tahu pasti seberapa besar kekayaan mereka. Tapi percayalah keluarga suaminya sangat kaya.


Nana keluar dari dalam kamar mandi setelah menyimpan tespacknya, jangan sampai suaminya tahu karena Rama sudah melarangnya untuk melakukan itu.


Rama tidak mau istrinya merasa kecewa.

__ADS_1


Ceklek


Pintu terbuka, Nana terkejut ketika melihat suaminya berdiri di depan pintu. Nana merasa gugup ia takut ketahuan.


"Ada apa? " tanya suaminya.


"Tidak, aku hanya mau keluar dari dalam kamar mandi" jawab Nana, benar kan dia memang mau keluar dari dalam kamar mandi.


Nana melangkah melewati Rama namun tangannya ditarik lalu mengambil apa yang disembunyikan Nana ditangannya.


"Mas..... " panggil Nana ketika apa yang dipegangnya berpindah ke tangan sang suami.


Rama menatap benda kecil ditangannya, sama seperti sebelumnya, tertera garis satu disana.


"Kau melakukannya lagi?" ucap Rama pelan namun penuh penekanan. "Kau tidak mendengarkan ucapanku"


"Aku...... " sahut Nana terbata.


"Bukankah aku sudah mengatakannya, aku tidak pernah menuntutmu untuk hamil, aku tidak masalah jika kita tidak punya anak, kita bisa mengadopsinya"


"Tapi rasanya tak akan sama, mas Rama tetap butuh keturunan" bela Nana.


"Apakah cintaku saja tidak cukup untukmu, ini hidup kita ada anak ataupun tidak akan tetap sama tidak akan ada perubahan" untuk kesekian kalinya Rama meyakinkan Sang istri.


"Mas..... aku..... "


"Tidak bisakah kau mengerti keinginanku, aku tidak mau kita bertengkar hanya karena hal seperti ini, jangan lakukan lagi" ucap Rama.


Jujur ia juga menginginkan anak tapi jika Allah belum memberinya ia bisa apa, ia sangat tahu karakter sang istri, ia akan mengorbankan dirinya sendiri untuk kepentingan orang lain, termasuk mmberikannya keturunan. Rama tidak mau itu sampai terjadi ia tidak akan pernah menyakiti hati sang istri meskipun itu permintaan istrinya.


"Maaf.... aku berjanji tidak akan melakukannya lagi tanpa persetujuan mas Rama" akhirnya Nana menuruti perkataan suaminya. Ia juga tidak mau bertengkar lagi. Biarlah waktu yang menjawab.


"Terima kasih sayang" Rama memeluk sang istri.


Ya Allah sungguh hamba sangat menginginkan keturunan dari rahim hamba, tapi jika Engkau belum ridho maka hamba akan bersabar, tapi hamba mohon selama waktu itu jangan biarkan ada orang ketiga masuk dakam pernikahan kami.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hi kakak.... semoga hari ini selalu bahagia.


Sambil nunggu bab berikutnya. yuk mampir di novel teman mom. Ceritanya seru banget loh.


__ADS_1


__ADS_2