
Rama dan Nana saling melempar senyum.
"Mas aku tak percaya kalau aku sudah lama hamil, bagaimana bisa aku tidak merasakan kehadirannya, gini dah resiko kalau terlalu pintar" ucap Nana sedikit menyindir dirinya sendiri.
"Sudahlah yang pasti aku sangat bahagia, ayo kita kerumah mama, aku sudah tidak sabar untuk memberitahu mereka, mereka pasti senang dengan kabar bahagia ini" seru Rama.
"Ayo, aku hanya merasa bodoh saja mas"
"Memangnya kapan kau pintar, hemmm" sindir Rama sambil tertawa kecil. Nana memukul pundak suaminya.
"Seharusnya mas Rama menyadari perubahanku" sambung Nana mendengus kesal.
"Ya ya, aku yang salah. Padahal aku tahu kalau perutmu membuncit, berarti aku juga bodoh" ucap Rama menyunggingkan bibirnya.
"Ya, sekarang kita sama- sama bodoh" sedetik kemudian mereka tertawa bersama.
Mereka keluar dari rumah sakit, lalu masuk ke dalam mobil. Mobilpun melaju meninggalkan rumah sakit menuju kerumah orangtuanya.
Melihat mobil anak majikannya, penjaga pintu gerbang membuka gerbang, Rama memasukkan mobilnya lalu masuk ke dalam rumah setelah turun dari dalam mobil.
Mereka melangkah dengan senyum yang terus mengembang di bibir mereka.
"Assalamu'alaikum" ucap mereka bersamaan setelah memasuki pintu utama.
"Waalaikumsalam" sahut mama Silvi yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga.
"Apa kabar ma? " sapa Nana yang langsung memeluk mama mertuanya. Setelah itu gantian Rama yang memeluknya.
"Tumben, malam begini kalian kesini" tanya mama yang merasa heran dengan kedatangan putranya yang terlalu malam.
"Ihh... mama... anak kesini bukannya seneng... " gerutu Rama.
"Kenapa tuh suamimu sensi banget" mama balas menyindir.
"Lagi datang bulan kali ma" goda Nana yang langsung mendapat pelototan dari Rama.
Rama merubah raut wajahnya ketika teringat tujuannya berkunjung.
"Ma.... " mama Silvi pun menoleh ketika putranya memanggil " Mama akan jadi nenek, mama semakin tua saja"
"Dasar anaka ku..... Apa? Jadi nenek? " lalu mengalihkan tatapannya ke arah Nana. "Kamu hamil sayang? " tanya Mama yang diikuti anggukan kepala oleh Nana.
"Kamu hamil sayang? Syukurlah.... mama sangat bahagia, terima kasih sayang" mama memeluk Nana sambil menangis bahagia. mengurai pelukannya lalu menghapus setitik bening yang jatuh di pipi.
"Papa..... " teriak mama memanggil suaminya.
__ADS_1
Papa berjalan dari arah belakang ketika mendengar teriakan sang istri. "Ada apa teriak - teriak?" tanya papa setelah sampai di ruang keluarga.
Lalu papa menjatuhkan tubuhnya di sofa dekat Rama. Papa melihat ke arah sang istri yang terdiam setelah ia berkumpul disana lalu berganti menatap putra dan menantunya.
"Kenapa kalian jadi diam? " tanya papa.
"Papa sudah tua, sebentar lagi akan jadi kakek" seru bahagia tersenyum lebar.
Awalnya respon papa sama seperti mama, papa melotot tajam ke arah sang istri. Namun papa lebih cepat menyadari. "Kalian sudah berhasil produksi? " tanyanya sembari mengalihkan tatapannya ke arah pasangan muda itu.
"Ya dong pa" sombong Rama.
"Alhamdulillah, kita akan jadi kakek dan nenek ma" seru papa dengan wajah berbinar, akhirnya ia akan mendengar suara tangisan bayi setelah sekian lama. Sekaligus ia bisa menebus kesalahan pada istrinya dengan hadirnya seorang bayi di keluarga mereka.
"Ya pa" sahut mama tak kalah berbinar.
"Kalian buatlah cucu yang banyak, kasian dia tak punya teman main seperti Rama" perintah papa
"Papa jangan khawatir, papa dan mama akan dikelilingi banyak cucu seperti kucing" jawab Rama
"Ishhh..... Jangan bicara sembarangan" cetus Nana.
"Kalian menginaplah disini, ini sudah malam" mereka pun mengangguk.
Setelah sedikit berbincang, mereka masuk ke dalam kamar masing - masing untuk beristirahat.
*
*
Dirumah yang lumayan besar tapi terlihat mewah itu disibukkan dengan kegiatan mendadak yang diadakan oleh nyonya rumah. Mama Silvi terlihat sibuk menata ini itu. Nana keluar dari kamar ketika mendengar suara ribut - ribut.
"Ada apa ini ma? " tanyanya, karena banyak orang di rumahnya.
"Sudah bangun sayang?" tanya mama, Nana pun mengangguk. "Ini untuk acara empat bulananmu sayang yang akan diadakan nanti sore" jawab mama cepat karena tangannya bergerak kekanan dan kekiri.
Mama Silvi terkejut saat tahu usia kandungan Nana yang sudah empat bulan, dan yang lebih mengejutkan lagi ketika mama tahu kalau anak - anaknya juga baru tahu malam itu. Mama Silvi mendengus kesal, bagaimana bisa menantunya tidak sadar kalau sedang hamil, putranya juga.
Mama dengan sigap mengadakam acara empat bulanan tanpa memberi tahu mereka terlebih dahulu, sebab ini mendadak sekali.
"Empat bulanan? " tanya Nana bingung, dia tidak tahu apa- apa.
"Ya sayang, kita akan mengadakan pengajian kecil kecilan untuk mendoakan bayi dalam kandunganmu itu" jelas mama.
Nana nampak manggut - manggut. "Nana harus bantu apa ma? " tanya Nana kemudian, dia merasa tak enak, mertuanya sibuk sementara dia hanya berdiri tegak.
__ADS_1
"Balik ke kamar, kamu belum mandi kan? mandi dulu terus istirahat, jangan terlalu lelah" titah sang ratu.
Belum menjawab namanya sudah dipanggil sang suami.
"Nana.... sayang.... mas mencarimu, kenapa tidak membangunkanku, ayo tidur lagi" Nana merasa heran dengan ucapan suaminya. Tidur lagi, ini sudah jam sembilan teriaknya hanya dalam hati. Tiba - tiba tubuhnya sudah berada digendongan sang suami.
Rama menggendong istrinya tanpa menghiaraukan keberadaan siapapun. Fokusnya hanya pada wanita pujaan hatinya yang sekarang mengandung benihnya.
Mama hanya geleng - geleng kepala dengan keposesifan putranya. Persis bapaknya batin mama.
"Mas kenapa harus digendong, aku bisa jalan sendiri, lagian malu dilihat banyak orang" cetus Nana sedikit malu melihat banyak orang yang menatapanya.
"Kau sedang hamil sayang, jangan terlalu lelah"
"Aku hanya berjalan di dalam rumah mas, tidak akan membuatku lelah" elak Nana.
"Jangan sayang, itu sangat bahaya" duh Rama posesif banget ya.
Apanya yang bahaya, kemarin aku berjalan seharian di mall bersama mbak Kity aku baik - baik saja. Berlebihan sekali, jangan - jangan sebentar lagi aku tidak boleh kemana - mana.
Nana memilih diam kalau sudah seperti ini percuma berdebat dengan suaminya. Semenjak pernikahan mereka yang kedua Suaminya berubah 200 derajad, kadang ia sampai tak mengenali suaminya sendiri, berbeda jauh dengan yang dulu. Bahkan saat mereka pacaran pun Rama tak seperhatian itu, tak seprotektif itu.
Rama meletakkan sang istri di atas ranjang lalu menyelimuti tubuh wanitanya dengan selimut. Lalu Rama ikut berbaring di sampingnya.
"Mas ini sudah jam sembilan, aku tidak bisa tidur lagi" meskipun hari ini weekend ia tak bisa tidur lagi, apalagi ia baru bangun.
"Kenapa?" tanya Rama sok polos.
"Aku sudah bangun tidur" sahut Nana
"Tidurlah lagi biar tidak lelah"
Nana memutar bola matanya malas. "Ayolah.... Aku harus sarapan, bayimu butuh makan"
"Astaga aku melupakan asupan makanannya" ucap Rama sambil menepuk jidatnya.
Rama segera bangkit dari atas ranjang lalu keluar dari kamar dengan terburu - buru. Nana tertawa kecil melihat tingkah lucu suaminya.
Tak lama Rama pun kembali dengan nampan besar berisi banyak sekali makanan. Nana dibuat melotot kerenanya.
*
*
*
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...