
Nana meneguk salivanya kasar melihat banyaknya makanan, suaminya membawa banyak sekali makanan.
"Makanlah, jangan dilihatin terus" titah Rama.
"Ya.... mas tidak makan? " tanyanya pada suaminya. Dia tidak mau disuruh menghabiskan makanan sebanyak itu sendirian.
"Aku nanti saja. Yang penting sekarang anakku makan lebih dulu, makanlah semuanya"
Glek
Benar kan dugaannya, semua makanan itu untuknya. Dengan cepat Nana memutar otaknya. Nana diam saja sebelum Rama menyuruhnya makan lagi.
"Kenapa belum dimakan, apa B tidak suka makanannya? " tanya Rama yang sudah tahu kalau selera makan wanita hamil itu berubah - rubah. Rama sudah mencari informasi seputar wanita hamil ketika ia tahu sang istri telah mengandung buah hati mereka.
"B? Siapa B? " tanya Nana heran siapa yang dimaksud suaminya, mereka hanya berdua di kamar itu.
"Calon bayi kita, aku memanggilnya B" jawab Rama tersenyum manis.
"O..... " jawab Nana membulatkan mulutnya membentuk O.
"B mau papinya juga ikut makan, B tidak mau maminya makan sendirian" rayu Nana lembut dan sok imut, mencoba untuk menggunakan nama B untuk melancarkan maksudnya.
"Baiklah papi akan ikut makan" Lalu Rama mengambil piring yang sudah ia isi berbagai lauk untuk wanitanya lalu menyerahkannya pada sang istri.
"Banyak sekali? " Nana dibuat melotot melihat piring yang diterimanya. Bagaimana caraku menghabiskannya batinnya.
"Karena yang makan dua orang jadi porsinya harus lebih banyak, bukankah B lapar?" tanya Rama membuat Nana lemes.
Nana tiba - tiba kikuk... senjata makan tuan pikirnya tapi Nana tidak kehilangan ide.
"B juga mau papinya makan banyak?"
"Benarkah? " Rama jadi bingung yang hamil kan bukan dirinya kenapa dia harus ikutan makan banyak.
Nana mengangguk dengan muka popy eyesnya.
"Baiklah, papi juga akan makan banyak. Ayo kita makan"
Lalu mereka mulai memakan makanannya, mereka makan dengan lahap. Awalnya makanan itu terlihat banyak sekali tapi setelah dimakan ternyata bisa habis juga. Mereka berdua menghabiskan semua makanannya.
"Ternyata habis juga, kau benar B kelaparan" ucap Rama membenarkan perkataan wanitanya.
__ADS_1
Nana menggaruk kepalanya yang tak gatal, karena ia yang paling banyak menghabiskan makanan. Entah kenapa makanannya lezat sekali sangat disayangkan kalau dianggurin.
*
*
*
*
Acara empat bulanan selesai, tamu undangan juga sudah pulang. Rama memutuskan untuk tinggal dirumah orangtuanya agar Nana tidak kesepian saat ia tinggal kerja.
Nana merasa bahagia mendengar keputusan suaminya, sebab ia kadang kesepian tinggal sendirian. Ia akan banyak menghabiskan waktu bersama mama Silvi, ia bisa merasakan punya orang tua yang lengkap lagi. Bahkan Nana tidak sungkan untuk meminta uang pada ayah mertuanya, seperti saat ini.
"Pa, minta uang jajan dong, Nana mau jajan di gang depan" pinta Nana sambil menengadahkan satu tangannya kehadapan papa mertuanya.
"Apa suamimu tidak memberimu uang, mintalah uang yang banyak pada suamimu jangan sampai kekurangan, uang suamimu sangat banyak" ucap papa sambil memberi nasehat.
"Tidak pa, mas Rama sudah memberi Nana uang yang banyak, hanya saja Nana kangen dikasih uang sama ayah, lebih tepatnya Nana yang minta uang" Nana terkekeh kecil. "Sekarang ayah sudah tiada, jadi apa Nana boleh minta uang ke papa buat jajan, biasanya Ayah selalu memberinya" seru Nana sendu lalu menundukkan kepalanya.
"Kau membuat papa merasa bersalah" Papa langsung mengambil dompetnya lalu mengeluarkan sepuluh lembar uang merah. "Ini ambillah, jangan sungkan untuk meminta lagi pada papa" papa langsung memberikannya pada Nana.
"Waaauuuu..... banyak sekali pa" Nana terlihat girang dapat uang saku membuat papa mertuanya tersenyum lebar.
"Uang jajan yang papa berikan lebih banyak dari mama, terima kasih pa" bisik Nana takut kedengaran mama mertuanya. "Jangan bilang mama ya pa"
"Nana pergi dulu pa" Nana langsung pergi setelah berpamitan dan mencium tangan papa mertuanya.
"Jangan lupa bawa sopir" teriak papa.
"Ya pa" semenjak hamil ia tidak boleh pergi sendiri, kemana - mana jauh ataupun dekat harus sama sopir.
*
*
Di dalam mobil.
"Wah... Nana banyak uang pak" ucapnya pada pak sopir yang bertugas mengantarnya kemanapun. Pak sopir hanya tersenyum melihat tingkah majikannya.
"Kalau setiap jajan dapat uang segini, bisa kaya mendadak" lanjutnya sambil memegang uangnya.
__ADS_1
Pak sopir yang mendengarnya hanya tersenyum canggung.
Apa nyonya muda tidak sadar kalau sekarang dia sudah jadi orang kaya setelah menikah dengan tuan mudanya. pikir pak sopir.
"Ini buat bapak satu" Nana memberikannya satu lembar pada pak sopir.
"Tidak usah nyonya, saya sudah dapat gaji"
"Tidak apa - apa, anggap saja lagi rezeky pak, ini uang dikasih papa, eh Nana yang minta uang jajan ke papa" ucap Nana sambil terkekeh kecil.
Akhirnya pak sopir itupun menerima dengan senang uang pemberian nyonya mudanya.
"Terima kasih nyonya" jawab pak sopir.
Nana menyuruh pak sopir untuk membawanya ketaman karena disana lebih banyak yang jual jajanan. Nana memborong makanan disana. Saat ia hendak duduk ponsel di dalam tasnya berdering. Tertera nama suaminya disana, Nana segera mengangkatnya, mereka melakukan video call.
"Apa yang kau makan? " tanya Rama. Rama tidak menanyakan dimana keberadaannya karena ia sudah menerima laporan dari pak sopir.
Rama memberi perintah untuk selalu melaporkan kemanapun istrinya pergi dan apa yang dilakukannya.
Tanpa menjawab Nana menunjukkan apa yang dibelinya lewat video call yang mereka lakukan, sebab Nana sibuk mengunyah makanan.
"Kau lahap sekali, seperti tidak pernah dikasih makan saja" goda Rama.
"Ini sangat enak" sahutnya sambil mengunyah makanan.
"Jangan jajan sembarangan, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk makan makanan yang sehat, jangan makan di pinggir jalan" perintah Rama, ia melarang wanitanya jajan sembarangan karena akhir - akhir ini istrinya itu suka jajan pinggir jalan yang menurutnya makanan yang kurang sehat untuk ibu hamil.
"Tapi aku menginginkannya" sahut Nana sendu sambil menghentikan suapannya. Mood makannya jadi hilang setelah mendengar omelan suaminya.
Rama tampak menghembuskan nafas kasar setelah melihat wanitanya merajuk. Alamat gak dapat jatah pikirnya. masih saja pikiran Rama mesum.
"Baiklah kau boleh memakannya, tapi hanya kali ini saja, tidak ada lain kali"
"Oke" jawab Nana. Tapi aku tidak janji lanjutnya dalam hati.
Akhirnya Rama mengalah, sebab yang paling penting baginya adalah senyuman sang istri. Karena jika wanitanya bahagia maka bayi dalam kandungan istrinya pun akan bahagia, dan jika bahagia maka mereka pasti sehat. Rama masih menatap istrinya makan dengan lahap. Ia menolak mematikan sambungan telepon dengan alasan ingin menemani sang istri jajan. Nana pun tidak keberatan dengan itu, sesekali ia menawari Rama makanan yang ia beli, juga menggodanya dengan gaya makannya yang dibuat selezat mungkin.
Rama tertawa lepas melihat wanitanya menjilat makanan yang dipegangnya. Bukannya ingin makanannya malah Rama kepikiran yang memakannya, tingkah wanitanya terlihat sensual di matanya. Rama jadi ingin pulang.
"Sebentar lagi aku akan pulang" lalu Rama mematikan sambunagn teleponnya setelah mengucapkan salam.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...