
Nana mencebikkan bibirnya. Merasa kesal dengan ucapan suaminya.
"Ya... Iya.... kau tidak gendut dan tidak berisi" ralat Rama melihat sang istri kesal. Rama tersenyum tanpa dosa.
"Kau tidak ikhlas mengatakannya" sahut Nana kesal ia masih cemberut.
"Apa aku boleh makan, aku sangat lapar" ucap Rama yang belum mencicipi makananya. Ia sengaja mengalihkan perhatian istrinya agar tidak marah lagi.
Nana membukatkan bola matanya, ia lupa untuk memberi suaminya makan siang. Ia terlalu fokus dengan tubuhnya.
"Maaf aku lupa" ucap Nana cengengesan, lalu ia membuka paperbag yang ada di atas meja, lalu membuka kotak makan yang dibawanya.
"Silahkan dimakan tuan Rama" kata Nana namun Rama bukannya mengambil sendok, malah membawa kepala Nana mendekat ke arahnya lalu mencicipi benda kenyal yang daritadi melambai ke arahnya.
"Itu makanan pembuka" ucap Rama setelah melepaskan benda kenyal sang istri.
Entah keberanian dari mana Nana mengatakan hal yang membuatnya nikmat. " Aku mau lagi" ucapnya dengan gaya nakal sambil membusungkan dadanya.
Rama langsung melahap hidangan dihadapannya. Menikmati setiap jengkal tubuh istrinya. Dan mereka melakukannya dikantor Rama tepatnya diatas sofa, untung saja pintu sudah dikunci secara otomatis olehnya sebelum Rama menghampiri istrinya tadi.
Mereka terengah - engah, berusaha untuk mengatur nafas setelah pergulatan mereka tadi. Mereka dalamnkeadaan polos denagn posisi saling berpelukan.
"Terima kasih makan siangnya sayang, aku suka dapat makan siang plus - plus" ucap Rama bangga.
"Aku juga menginginkanmu suamiku" sahut Nana malu - malu.
"Jangan menggodaku lagi sayang, kau menggemaskan" bisik Rama ditelinga wanita pujaan hatinya.
"Tapi aku benar menginginkanmu lagi suamiku, apa pedangmu tak mampu untuk menusuk lagi" goda Nana, entah kenapa ia merasa kurang dengan sentuhan suaminya.
"Kau meremehkanku sayang" Lalu kepala Rama bergerak liar dibawah sarangnya.
"Oh..... suamiku.... emmm.... enak.... terus sayang, teruskan...... " racau Nana. Lalu terjadilah pergulatan yang kedua.
Setelah selesai menuntaskan hasratnya, Nana terkulai lemas di atas sofa.
"Kau hebat sayang" puji Nana di tengah nafasnya yang masih memburu.
"Kau juga semakin liar istriku, aku suka keliaranmu sayang" ucap Rama yang suka dengan gaya bercinta sang istri.
Rama mengambil semua pakaiannya dan juga milik sang istri yang tergeletak dilantai, lalu membawa sang istri dalam gendongannya menuju kamar rahasia di ruangan itu. Rama mendorong pintu ruangan itu dengan satu kakinya.
"Kenapa tidak bilang kalau disini ada kamar rahasia, lain kali aku ingin mencobanya disini" ucap Nana setelah melihat ada ruangan lain diruangan suaminya tepatnya sebuah kamar rahasia. Nana mengucapkannya tanpa memperhatikan reaksi sang suami, tentu saja Rama sangat senang jika istrinya meminta lebih dulu.
"Kita bisa melakukannya lagi sekarang juga" Rama tersenyum menggoda.
"Oh No... aku lelah dan suamiku ini harus bekerja" sahutnya sembari menatap wajah tampan suaminya. Lalu beralih menatap tubuh polos mereka berdua membuat wajahnya merona.
__ADS_1
"Baiklah kita akan melakukannya besok"
Lalu Rama menurunkan sang istri di kamar mandi.
"Kita seperti bayi saja" cetus Nana. Rama hanya tersenyum lalu memutar kran, tubuh mereka berdua basah karena guyuran air. Mereka keluar dengan menggunakan handuk setelah selesai dengan ritual mandinya.
Rama menuju lemari yang ada di kamar itu lalu mengambilkan baju ganti untuk sang istri.
Rama memberinya jaket hoody, Nana menerimanya lalu memakainya, ia memakai dalaman yang tadi karena tidak mungkin meminjam punya suaminya. jaket Rama kebesaran ditubuh Nana, panjangnya sampai dilutut. Setelah selesai berganti pakaian mereka keluar dari kamar rahasia itu.
"Sayang perutmu sedikit buncit" celetuk Rama tanpa ada maksud yang lain.
"Ya, aku akan olahraga, ah kau membuatku kesal saja" seru Nana.
"Aku hanya memberitahumu sayang, aku tidak masalah meskipun perutmu besar dan tubuhmu gendut, aku akan tetap mencintaimu"
"Sekarang kau bisa bilang seperti, tapi nanti saat aku benar gendut kau tak akan berkata seperti itu lagi"
"Aku mencintai semua yang ada pada dirimu dan juga semua perubahanmu, jangan ragukan cintaku padamu" sambung Rama lagi.
"Kau tahu suamiku, aku ingin terbang ke angkasa setelah mendengar rayuan mautmu" balas Nana.
"Sekarang makanlah makan siangmu" lanjut Nana setelah mereka duduk di sofa kembali. Nana mengambil kotak makan di atas meja lalu menyuapi sang suami. "Aa....... "
Rama menerima suapan istrinya. Setelah itu Rama gantian menyuapi wanita yang sudah mengalihkan dunianya.
"Tunggulah disini, kita pulang bersama, aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebentar, kau bisa melakukan apapun agar tak bosan"
"Kalau begitu aku pinjam laptop, aku mau nonton film saja"
"Itu, ambillah disana, kau bisa memilih laptop yang kau suka" Rama menunjuk ke rak yang berisi beberapa laptop disana.
Di luar ruangan Rama, Dimas asistennya uring - uringan karena pintu ruangan sang bos yang tak kunjung terbuka, berapa kalipun ia mengetuk pintu.
"Apa yang dilakukannya didalam bersama istrinya" tanya Dimas lalu ia pergi meninggalkan ruangan sang bos karena ia harus menghadiri rapat, terpaksa ia harus menggantikan sang bos.
*
*
Beberapa minggu kemudian.
Semakin hari Nana merasa tak nyaman dengan tubuhnya, ia juga tidak tahu apa yang terjadi padanya. Badannya tidak panas, kepalanya juga tak pusing, perutnya juga tak sakit, hanya merasa tak nyaman saja. Lalu harus periksa apa kalau ke dokter pikirnya.
Seperti saat ini, tiba - tiba ia merasa lelah padahal dia tidak melakukan apapun.
Nana mendudukkan bokongnya di depan televisi, karena merasa bosan ia menghidupkan televisi. Dan tatapannya langsung bertemu dengan para mayat hidup yang sedang berjalan, tubuh mereka tepatnya daging mereka bergerak entah apa yang ada di dalamnya. Seperti ada binatang kecil yang masuk ke dalam daging mereka.
__ADS_1
Nana langsung mematikan televisinya. "Menjijikakn sekali" gumamnya.
Setelah melihat sekilas adegan tadi tubuhnya semakin tak nyaman, terutama bagian perutnya, entahlah dia merasa ada yang aneh dengan perutnya. Mungkin ini efek film tadi pikirnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? perutku terasa aneh? apa aku sakit? Bagaimana kalau aku sakit parah? apa aku akan meninggal di usia muda" tanyanya dengan pikiran yang sudah kemana - mana.
"Lalu mas Rama akan menikah lagi dan dia akan melupakanku" gumam Nana lagi lalu ia tiba - tiba menangis.
Ia menangis dengan alasan yang tidak jelas dan belum tentu itu terjadi.
Rama melangkah masuk ke dalam rumah, ia menyapu pandangannya ke seluruh ruangan.
Kemana istriku, tak biasanya dia tak menyambutku.
Setelah masuk lebih ke dalam dia melihat sedikit rambut didepan televisi, ia mendekat kesana dan menemukan sang istri yang sedang duduk sambil terisak.
"Sayang kau menangis, apa yang terjadi padamu? kau sakit?" tanya Rama sambil menyentuh kening Nana.
Nana menoleh ke arah suaminya.
"Tidak, aku baik baik saja, aku hanya takut mas rama menikah lagi"
Rama duduk di sampingnya. "Hey... apa yang kau bicarakan, ada apa denganmu?"
"Aku tidak apa - apa, aku hanya terbawa suasana menonton film"
"Benarkah?" tanya Rama tak percaya.
"Ya"
"Aku pikir ada apa, jangan membuatku khawatir. Ayo kita ke kamar" ajaknya lalu membawa istrinya ke kamar. Mereka melangkah bersama.
"Aku belum mandi"
Rama mengernyitkan keningnya. Biasanya istrinya sudah mandi sebelum ia pulang kerja, tapi hari ini eh bukan beberapa hari ini istrinya terlihat berbeda.
"Kalau begitu ayo mandi" ajak Rama.
"Aku mau mandi sendiri"
"Ya baiklah, aku akan mandi di kamar mandi lain, kau mandilah dikamar kita"
Nana pun mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih sudah membaca, yuk mampir di novel temen mom, seru loh.
__ADS_1