
Apa dirumah ini ada orang lain. Nana keluar dari kamar untuk memastikan siapa yang sedang berbicara. Di dekat pintu ia melihat seorang wanita paruh baya berbicara dengan orang yang ada di depan pintu. Nana tak dapat melihatnya karena pintu itu hanya terbuka separuh, hanya tubuh wanita paruh baya itu yang kelihatan karena posisinya berdiri didalam rumah. Sepertinya tidak hanya satu orang yang, ada beberapa orang diluar pintu.
Nana hanya melihat dari jauh tepatnya di depan pintu kamar, mau melangkah lebih keluar tapi keadaannya hanya menggunakan bathroobe. Saat hendak masuk kembali ke dalam kamar langkahnya terhenti.
"Nana, itu dia... " spontan Nana berbalik mendengar namanya dipanggil.
"Ya itu dia, apa yang dia lakukan dirumah ini? " sahut yang lainnya, jumlah mereka semakin banyak ketika pintu terbuka seluruhnya.
Nana masih terkejut dengan situasi di hadapannya itu. Ia masih diam.
"Nana kau sudah merusak nama baik desa kita" bentak seorang wabita yang merupakan tetangganya sendiri.
Nana melangkah perlahann mendekati mereka. "Ada apa?" tanyanya bingung.
"Lihat pakaiannya, dia sudah seperti wanita murahan" hina yang lainnya.
"Dasar janda gatal" wanita paruh baya yang lainnya juga melontarkan kata hinaan.
"Kalian kesini hanya untuk menghinaku? "tanya Nana ia masih belum mengerti dengan situasi yang ia hadapi, ada apa mereka kerumah mantan suaminya.
Deg
Nana sedikit mulai tersadar dengan situasinya. Ia berada dirumah mantan suaminya dengan status mereka yang single, ia berada disana mulai pagi hampir siang dan ini sudah hampir malam.
Dan lihatlah pakaian yang ia kenakan. hanya handuk saja meskipun itu membungkus tubuhnya hanya kakinya yang kelihatan. Dengan penampilannya seperti itu orang akan berpikir macam - macam.
Jangan - jangan mereka berpikir kami sedang berbuat hal yang tidak senonoh.
Seketika Nana melihat bathroobe yang dikenakannya. Dia sudah tidak bisa mengelak apa yang dituduhkan padanya. Meskipun ia menjelaskan seperti apapun itu tidak akan berguna. Hanya Rama yang bisa menyelamatkannya.
Nana membalik sedikit tubuhnya untuk melihat ke arah kamar, tidak ada. Mas Rama masih tidur pikirnya.
Orang - orang di hadapannya tidak berhenti mengoceh, entah apa yang mereka bicarakan Nana lebih fokus pada dirinya sendiri.
__ADS_1
*
Seringaian muncul dari bibir sesorang yang daritadi berdiri di balik pintu. Ia mendengar semua apa yang terjadi di luar.
Maaf sayang membuatmu terluka lagi. Tapi ini mungkin kesempatan yang Tuhan berikan untuk kita bersama.
Rama segera melangkah masuk ke kamar mandi. Belum lima menit ia keluar dari kamar mandi lalu melangkah keluar dari kamar hanya dengan handuk yang melilit dipinggangnya, rambut basahnya masih menetes.
Baiklah aku hanya mengikuti alur yang kalian buat dan terima kasih.
"Sayang...... " Panggilnya dari arah kamar, membuat semua orang menoleh ke arah asal suara. Namun hanya suara yang terdengar, yang ditunggu belum juga muncul.
Tap tap tap
Rama muncul dari ambang pintu yang ia buka seluruhnya, ia berpura - pura terkejut.
"Ada apa ini?" tanyanya tegas, meskipun terkejut ia tidak mau diintimidasi oleh lawan.
Semua mata tertuju padanya. Para ibu - ibu meneteskan air liurnya melihat roti sobek di depan mata, otot - otot yang membuat dada sesak nafas.
Nana terpaku melihat penampilan Rama, bukankah ia sedang sakit kenapa harus mandi dan lihatlah dia hanya keluar dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Nana menghembuskan nafasnya berat.
Bagaimana caraku membela diri kalau apa yang mereka lihat sudah membenarkan semuanya.
Mas kenapa kau harus mandi disaat yang tidak tepat.
Nana menatap mantan suaminya seraya meminta bantuan akan situasinya saat ini. Entahlah Rama mengerti apa tidak arti tatapannya itu. Nana yang merasa panik sementara Rama tenang - tenang saja, bahkan hatinya bersorak gembira melihat raut putus asa dari wajah wanitanya.
"Saya akan ganti baju dulu, silahkan duduk" kata Rama karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya, ia tak mau terlalu lama mengumbar ototnya. "Kau juga gantilah pakaianmu"
Nana mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Rama untuk meminjam baju karena bajunya masih basah. Rama pun menyusulnya masuk ke dalam kamar.
Orang - orang yang melihatnya seperti terhipnotis dengan adegan di hadapan mereka. Tidak ada yang berani bersuara setelah melihat tatapan dingin dan aura Rama yang kuat.
__ADS_1
Tak lama mereka keluar, Rama menggunakan baju santai dan celana trainingnya, sementara Nana mengenakan kaos dan celana training milik Rama, yang juga kebesaran ditubuhnya.
Mereka duduk di sofa yang masih kosong, jumlah mereka sudah sedikit berkurang, mungkin sebagian sudah pergi atau menunggu di luar Rama tak melihat mereka. Diruang tamu itu hanya mereka berlima yang Rama ketahui salah satunya adalah seorang ustad dan juga ketua Rt.
"Begini nak Rama, bapak menerima kabar kalau dirumah nak Rama sedang melakukan hubungan wanita dan laki - laki yang tak seharusnya dilakukan bagi pasangan yang belum menikah" ucap pak RT.
"Nak Rama tinggal sendirian dan saat ini sedang ditemani seorang wanita cantik dengan status janda, itu membuat pemikiran buruk di masyarakat"
"Pastinya nak Rama mengerti maksud saya, apalagi setelah kami sampai disini kami melihat pemandangan yang kurang baik untuk dilihat mata, bukan begitu pak ustad" sambung pak RT lalu bertanya pada pak ustad yang duduk disebelahnya.
"Ya itu benar dan kalian harus bertanggung jawab agar tidak membuat malu desa kami ini, kalian harus menikah"
Good job.
Rama bersorak bahagia dalam hatinya, sungguh ia mendapatkan jackpot. Dia akan memberikan hadiah untuk pak ustad dan pak Rt serta yang lainnya karena memuluskan rencananya untuk menikahi mantan istrinya.
Rama dan Nana daritadi hanya diam saja mendengarkan perkataan mereka namun dengan pemikiran yang berbeda.
"Tapi kami tidak melakukan apapun pak" sergah Nana. "Saya hanya mengunjungi mas Rama yang sedang sakit lalu saya ke kamar mandi yang membuat baju saya basah, karena disitu hanya handuk saja jadi saya memakai yang ada kemudian kalian semua datang" jelas Nana masih berusaha.
Pak rt dan pak ustad menatap Rama meminta penjelasan lebih lanjut.
"Ya saya sakit, dia menamani saya disini, karena gerah saya mandi terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar"
"Tapi masyarakat terlanjur berpikiran negarif dan juga tidak ada saksi yang mengatakan kalau kalian tidak melakukan apapun" seru pak RT kembali.
"Saya..... "
"Saya akan bertanggung jawab" potong Rama sebelum Nana mengucapkan apa yang ada dipikirannya. "Saya akan menikahinya saat ini juga"
"Mas.... " seru Nana dia tidak mau gegabah.
"Kita tidak punya pilihan lain lagi, ini adalah jalan satu satunya" bisiknya ke telinga Nana.
__ADS_1
"Bisakah kalian membantu saya untuk mempersiapkan pernikahan ini" tanya Rama menatap mereka, yang mendapatkan anggukan dari ketiga orang itu. Rama tersenyum tipis, jangan sampai Nana melihat semyum lebarnya, bisa - bisa ia gagal memanfaatkan situasi ini.
"Tentu nak Rama" sahut pak Rt