
Hoaammmm.... Nana menguap lebar, karena tidur terlalu malam pagi ini ia bangun kesiangan. Melihat jam di atas nakas. Matanya membulat melihat jam di atas nakas. Setelah sholat subuh Nana tudur kembali. Meskioun dia bukan orang yang akim tapi ia selalu ingat oesan ayahnya, jagalah lima waktumu. Nana tidak pernah meninggalkan lima waktunya dan berusaha untuk selalu tepat waktu.
"Ah sial aku kesiangan, sudah jam tujuh biasanya mas Rama sudah di meja makan" Gumam Nana, mengambil ponselnya uang ada di atas nakas, lalu membuka aplikasi whatsapp.
Nana : [Selamat pagi mas, jangan lupa sarapan ya... Muachhh]
"Malu gak ya.... " Menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Buang rasa malu, tahan aja" Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Beberapa menit kemudian. "Belum ada balasan" Melihat ponselnya kembali. "Harus semangat, satu kali gagal, coba lagi, ya coba lagi" Nana menulis pesan lagi.
Nana : [Selamat bekerja sayang, semoga hari ini rezekinya berlimpah, nanti traktir aku ya sayang.. . ]
"Untuk menghadapi laki - laki cuek seperti mas Rama, aku harus jadi wanita agresif, benar kan? Pasti benar lah" ujarnya pada diri sendiri sembari keluar dari dalam kamar.
Berjalan memuju dapur untuk sarapan. Semalam ia sudah mengisi kulkas dengan menggunakan kartu yahg diberi Rama. Dia masih berhak atas kartu itu, karena statusnya masihlah seorang istri.
Dulu sarapan selalu nasi, semenjak menikah ia mengikuti kebiasaan Rama sarapan makan roti tawar, cuma beda porsi saja, kalau Rama satu potong Nana dua potong roti. Kalau cuma satu masih bekum kenyang.
Dua potong roti sudah habis dilahapnya. Dengan semangat Nana mengambil ponselnya berharap Rama sudah membalas pesannya.
Namun nihil, wajah cerianya berubah cemberut.
"Dia belum membalas pesanku, tapi sudah centang biru" gumamnya tidak semangat.
Nana pindah ke ruang tamu, duduk di sofa panjang sembari merebahkan tubuhnya, kakinya menjulang ke atas, sementara rambutnya tergerai ke bawah.
"Mungkin dia lupa kalau hari ini kita adalah sepasang kekasih. coba lagi, jangan menyerah"
Nana : [sayang hari ini kita resmi sepasang kekasih, sayang tidak lupa kan? ]
satu menit
lima menit
Sepuluh menit
Belum ada balasan.
__ADS_1
Nana : [Balas dong sayang, aku merindukan senyummu]
"Huft. . Apa begini rasanya menunggu balasan seseorang. menyiksa" Gumamnya lirih.
Nana : [Sayang sedang kerja ya]
Setiap sepuluh menit Nana menulis pesan di whatsapp, meskipun tak satupun balasan yang ia dapatkan. Prinsipnya hanya satu coba lagi sampai berhasil.
Nana : [Semangat ya sayang, i love u]
Nana : [Aku baik - baik saja di apartemen, jangan khawatir]
Nana : [Sayang sepertinya dari tadi aku hanya menulis pesan, aku bersih - bersih dulu ya, apartemenmu kotor]
Nana : [Jangan rindu ya, kata Dilan berat, cuma aku gak tahu seberat apa, muachh]
*
*
Dimas juga merasa heran, ada apa dengan tuannya itu. Selama Dimas bekerja dengan Rama, tidak pernah sekalipun Rama menunda rapat. Rama selalu profesional dalam bekerja. Pekerjaan adalah yang paling penting baginya..
Tapi apa yang terjadi dengan tuannya hari ini. Rama sepertinya kurang fokus, bahkan ia tampak sering senyum - senyum sendiri.
"Tuan, nanti siang anda ada pertemuan dengan tuan Ridwan" beritahu Dimas setelah cukup lama memperhatikan tuannya, yang tersenyum dengan ponselnya.
Ada apa di ponselmu itu tuan?
"Tunda pertemuannya, kosongkan jadwalku hari ini. Aku akan makan siang diluar, dan kau tidak perlu ikut"
"Baik tuan" Dimas keluar dari ruangan Rama.
Tuan Rama akan makan siang dengan siapa, biasanya dia selalu mengajakku.
Rama menatap ponselnya kembali, tak lama ia mengetik sebuah pesan.
Rama : [Ayo makan siang bersama, aku akan menjemputmu, tunggulah dibawah]
__ADS_1
"Hanya satu bulan, tidak ada salahnya jika aku menikmatinya, aku penasaran bagaimana usahanya membuatku jatuh cinta dan membatalkan perceraian itu" gumam Rama sembari tersenyum membaca pesan dari sang istri.
Selama menikah Istrinya itu tidak pernah mengirim pesan padanya, pernah sekali dua kali Nana menelponnya itupun atas permintaan mamanya. Mungkin ini adalah pertama kalinya ia menerima pesan dari istrinya.
*
*
Nana selesai bersih - bersih, sudah lama ia tidak melakukannya karena selama tinggal bersama Rama, ada pembantu yang melakukannya. Dia hanya duduk manis dan menyibukkan diri di taman. Tidak ada kegiatan spesial yang ia lakukan, namun ia tidak merasa bosan selama disana padahal sebelumnya ia adalah type wanita yang tidak bisa diam dirumah. Apa iya? Nana terlalu meresapi perannya sebagia istri yang baik.
Duduk di sofa sembari membuka ponselnya. Matanya berbinar tatkala melihat pesan dari Rama. Rama mengajaknya makan siang. Nana melompat kegirangan.
Dengan langkah semangat ia memasuki kamar untuk bersiap. Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dulu. Setelah lima belas menit, Nana keluar dengan hanya memakai handuk kimono. Senyum bahagia tersungging di bibir manisnya.
Ia memakai celana jeans dengan kaos hitam, sepatu kets putih melekat indah pada kedua kakinya, tak lupa tas selempang ia gunakan. Rambutnya ia kuncir kuda. Selama menikah ia hanya menggunakan dress agar terlihat feminim.
Kali ini ia ingin menjadi dirinya sendiri. warna lipstik kalem menambah cantik penampilannya.
Setelah cukup bersiap ia memutuskan turun ke bawah, ia tidak mau Rama terlalu lama menunggu. Nana bedriri di depan gedung apartemen setelah baru saja ia keluar, menunggu seseorang yang juga ia rindukan, sehari saja tak melihat suaminya, ternyata benar seberat rindu Dilan.
Mobil mewah berhenti di depannya. Pintu depan terbuka Rama yang mengemudikannya. Nana tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil. Senyum tak lepas dari bibirnya. Sementara Rama masih tetap dengan wajah cueknya.
Mobilpun melaju kembali.
Akhirnya aku akan merasakan seperti apa itu kencan. Ternyata sebahagia ini bertemu denagn kekasih untuk berkencan.
Nana menatap Rama, pria yang sudah mencuri hatinya. Dengan sikap berani dan juga sudah ia lihat di beberapa video, Nana meletakkan kepalanya di bahu Rama. Nyaman ucapnya dalam hati.
Bisa dibilang ini adalah kencan pertama mereka. Nana tidak habis pikir ternyata selama setahun menjadi istri Rama masih banyak yang belum ia lakukan bersama Rama. Ia berjanji akan menebusnya selama satu bulan ini.
Apapun yang aku lakukan, tidak akan pernah ada penyesalan. I love U suamiku.
Mobil yang membawanya berhenti di sebuah restoran. Dari luar terlihat lumayan ramai. Nana keluar dari mobil mengikuti Rama yang juga keluar. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam Restoran.
Ternyata dia bukan type pria romantis. Bukankah disaat seperti ini dia memegang tanganku. kemudian berjalan bergandengan tangan. Sepertinya harus usaha ekstra untuk mendapatkan hatinya.
Nana memegang tangan Rama lebih dulu dengan rasa gugup yang luar biasa. Rama terlihat biasa saja padahal dihatinya ada rasa yang membuncah tanpa bisa ia cegah, ada rasa yang tiba - tiba muncul.
__ADS_1