Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 22# Liburan


__ADS_3

Hari - hari berlalu begitu cepat. Seserahan untuk lamaran pun sudah lengkap. Dan semua di persiapkan oleh Ardhan dan Alea sendiri. Tapi tentu saja menggunakan uang Ardhan.


Prosesi lamaran itu berjalan dengan lancar. Dan karena saat itu juga di tentukan tanggal pernikahan mereka. Tepatnya 3 bulan lagi pernikahan mereka akan di langsungkan. Saat Alea berusia genap 21 tahun.


Hari ini mereka kembali ke Ibukota dengan status yang berbeda. Yakni sudah sebagai tunangan.


Alea berbaring di tempat tidurnya di kost an nya. Alea mengangkat tangan kirinya dan menatap dengan senyuman cincin yang melingkar di jari manisnya.


Sungguh dia tidak sabar menunggu hari ulang tahunnya, karena hari itu akan menjadi momen sejarah untuknya.


# # # # # #


Hari - hari berlalu, hari ini Ardhan dan Alea sama - sama libur kerja. Mereka memutuskan untuk berlibur. Menghabiskan akhir pekan yang jarang mereka dapatkan.


Karena Ardhan selalu libur di hari minggu, sedangkan Alea hanya mendapat jatah satu bulan sekali untuk bisa libur di hari minggu.


Cerahnya langit pagi ini mengantarkan mereka untuk memilih berlibur keluar kota. Ke daerah yang sudah dikenal sebagai surganya wisatawan.


Mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk bisa sampai di pantai yang cukup sering di bicarakan orang.


Alea mengganti celananya dengan celana pendek agar lebih mudah di gunakan bermain di tepi pantai.


Ardhan pun mengganti celana jeans panjangnya dengan celana boxern dan melepas kaos nya. Menyisakan kaos dalaman berwarna putih.


Ardhan keluar dari toilet dan berjalan mendekati Alea yang tampak tengah berteduh dan menunggunya.


Alea menoleh ke arah Ardhan, dan sedikit di buat kagum dengan tubuh Ardhan yang ternyata cukup atletis untuk seorang laki - laki.


Aku tidak menyangka, tubuhnya sebagus itu!


Batin Alea sambil cengar cengir di bawah pohon kelapa.


"Sana yuk!" ajak Ardhan.


"Ayok!" Mereka berlari ke pantai dengan bertelanjang kaki.


Mereka bermain - main di bawah langit yang biru. Di antara hembusan angin laut yang kencang. Bertabrakan dengan deburan ombak.


Mereka berfoto bersama, berlarian, bermain ombak, juga menulis di pasir yang basah oleh ombak.


'I love you Alea!'


Kalimat yang di tulis Ardhan itu membuat Alea semakin berdebar saat melihat Ardhan yang tersenyum di bawah terik matahari.


Alea mengabadikan tulisan itu, sebelum akhirnya menghilang oleh deburan ombak.


Untuk pertama kalinya Alea memeluk tubuh Ardhan. Kehangatan menjalar di tubuhnya. Apalagi saat kepalanya bersandar tepat di dada bidang Ardhan. Hingga Alea mampu mendengar dekat jantung Ardhan.


Mereka berpelukan di tepi pantai yang tidak terlalu banyak pengunjung itu. Alea menyempatkan untuk berfoto bersama.


Kemudian Alea meletakkan ponselnya di batu karang kecil yang ada di pasir kecil. Mengambil angle yang pas untuk mengambil gambar pantai secara penuh.


Setelah mengatur timer, Alea berlari ke arah Ardhan, dengan sigap Ardhan menangkap tubuh Alea dan mengangkatnya ke atas. Sehingga sebuah gambar romantis tercipta dari jepretan itu.


Keduanya tampak sangat bahagia dengan foto - foto yang berhasil mereka abadikan.

__ADS_1


Tapi keduanya belum puas. Mereka masih menyusuri tepi pantai untuk mengambil foto yang bagus.


"Abang, aku udah laper!" ucap Alea.


"Makan di sana aja ya?" Ardhan menunjuk tempat makan sederhana di pinggir pantai.


"Iya!" jawab Alea.


Ardhan menggandeng tangan Alea untuk menjauh dari panasnya pasir pantai yang kering.


Mendekati sebuah warung makan yang menyediakan bakso, nasi lalapan, es jeruk, degan, dan banyak menu lainnya.


Alea memesan bakso dan es degan. Ardhan pun memilih pesanan yang sama Alea.


"Aku ambil dompet dulu, yank! kamu tunggu sini!" ucap Ardhan.


"Iya!" jawab Alea.


Ardhan pergi mengambil barang - barangnya di loker yang dia sewa untuk menyimpan barang - barang yang ia tinggalkan saat bermain di pantai. Dan kembali pada Alea yang sudah menghadap pesanan makan siang mereka.


Setelah sesi makan siang dan pembayaran selesai, mereka kembali ke pantai. Namun mereka lebih memilih untuk duduk di selembar tikar yang mereka sewa untuk menikmati angin pantai yang menerpa tubuh mereka.


Ardhan duduk di belakang Alea, dan dengan sengaja mengurung tubuh Alea agar berada di lingkaran tangannya dan lutut yang di tekuk.


Alea menyandarkan kepalanya di dada bidang Ardhan sambil bercerita panjang lebar tentang masa kecilnya, masa sekolah dan menertawai jarak usia mereka.


"Kalau kita pacarannya pas Abang masih sekolah, Abang kelas 3 SMK, sedang Alea baru kelas 6 SD!"


Ardhan terkekeh, "Ya ampun menjijikkan sekali berpacaran dengan anak SD!"


"Ya enggaklah, ngapain godain anak SD! bisa - bisa Abang di bawakan berang sama ayah mu!"


"Hahaha!" Alea terkekeh mendengar jawaban Ardhan yang menurutnya sangat lucu. "Tapi dulu pas masih SD Alea nggak pernah pacaran sih!"


"Pertama kali kapan?" tanya Ardhan.


"Kelas tiga SMP, tapi putus dua bulan kemudian!"


"Kenapa?"


"Takut! dia ngajak keluar melulu, sementara Alea masih belum berani keluar berdua sama cowok! Meskipun Abang tau?" ucap Alea mendongak Ardhan.


"Nggak tau!" jawab Ardhan.


"Iyalah! kan Alea belum cerita!" ucap Menyikut pelan perut Ardhan yang terkekeh. "Teman - teman Alea itu banyak lo, Bang! yang sudah tidak perawan pas Alea kelas tiga SMP!"


"Kamu tau dari mana? nanya langsung?" tebak Ardhan.


"Desas - desus, Bang! Awalnya Alea nggak percaya, tapi kemudian ada bukti kalau itu benar!"


"Terus kamu percaya?" tanya Ardhan.


"Ya percayalah, Abang! aku cuma mikir kenapa mereka sebodoh itu, menyerahkan mahkota di usia sekecil itu? apa mereka tidak membayangkan orang tua mereka yang susah payah bekerja untuknya? keringat yang bercucuran! eh mereka malah masuk pergaulan bebas dan melakukan dosa se enak jidat! kasian kan?"


"Mana Abang tau, Sayang!" jawab Ardhan sembari terkekeh.

__ADS_1


"Yaaah Abang mah di ajak cerita nggak tau - nggak tau mulu!" celetuk Alea memukul paha Ardhan yang mengurung tubuh kecilnya.


"Hahahah, ya kan Abang bukan temannya, bukan bapaknya, juga bukan dirinya!" ucap Ardhan menekan kedua pipi Alea dengan jari - jari tangannya karena gemas.


"Heheh! Alea salah tempat cerita deh kayaknya!" ucap Alea.


"Hahah! hal seperti itu sudah lama Abang tau, Ayank!"


"Hah? beneran Abang juga tau?" Alea mendongak dengan mata yang membulat.


Ardhan menoleh ke bawah dimana Alea terlihat sangat menggemaskan dengan kepolosannya. Ardhan mendaratkan kecupan singkat di bibir Alea yang terlihat menggemaskan berada di antara wajah yang shock itu.


"Laki - laki justru lebih gamblang menceritakan hal seperti itu, Sayang!" jawab Ardhan.


"Maksudnya?"


"Mereka akan membahas lebih dalam! dan kamu tau sebagian besar anak bengkel itu meskipun yang sudah menikah cuma satu, tapi ..."


"Tapi apa Abang?" Alea di landa penasaran dengan terus menatap Ardhan.


Sedangkan Ardhan justru terkekeh melihat wajah Alea yang terlihat begitu menggemaskan.


"Ayo Abang, ngomong dong!" rengek Alea memukul paha Ardhan lagi.


"Cium dulu dong!" Ardhan mengarahkan pipi kirinya.


"Ah! Abang mah cari - cari kesempatan!" ucap Alea.


"Mau lanjut nggak ceritanya?" tawar Ardhan masih dengan posisi yang sama.


Cup!


"Dah!"


Alea mencium singkat pipi kiri Ardhan. Ardhan terkekeh sambil mengarahkan pipi kanannya.


"Yah! Abang mah nyebelin!"


"Ayoo!" seru Ardhan.


Cup!


"Dah! ayo lanjut cerita!" seru Alea.


🌺🌺🌺 bersambung . . . 🌺🌺🌺


.


.


.


.


β€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆšβ€’βˆš

__ADS_1


...Happy holiday ya kalian! πŸ₯°...


__ADS_2