Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 29# Kehamilan Muda


__ADS_3

Mereka berpindah ke rumah sakit besar, untuk memastikan Alea benar - benar tengah hamil. Setelah mendapat kepastian bahwa Alea hamil, mereka meninggalkan rumah sakit itu.


Sepanjang perjalanan Ardhan tersenyum puas. Tidak lama lagi dia akan menjadi seorang ayah. Dan menjadi orang tua untuk sang buah hati.


"Uuk!" Alea menutup mulutnya yang ingin muntah.


"Kenapa sayang?" tanya Ardhan.


"Mas berhenti, Mas! aku mau muntah!" ucap Alea dengan raut wajah yang masam.


Secepat kilat Ardhan mencari pinggiran yang tepat untuk Alea bisa memuntahkan isi perutnya.


Ardhan berhenti di lahan kosong. Dengan cepat Alea turun, dan tak butuh waktu lama semua isi perut Alea keluar begitu saja.


Ardhan dengan sabar memijat leher bagian belakang Alea. Air mata Alea menetes begitu saja. Wajahnya sudah pucat dan tidak karuan.


"Sayaang?" panggil Ardhan lembut, merasa kasian dengan sang istri yang terlihat begitu pucat dan lemas.


Alea menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan setelah mencuci mulutnya dengan air mineral yang di beli Ardhan.


"Sudah, mas" ucap Alea lirih.


"Yakin bisa motoran lagi?"


"Bisa Mas" jawab Alea lirih dengan mata yang seolah tidak bisa terbuka lebar.


Ardhan menghembuskan nafasnya. Dalam benaknya sungguh tidak tega melihat kehamilan istrinya yang begitu menguras tenaga.


***


Sampai di rumah Alea tak sanggup lagi untuk bangun. Dia hanya rebahan dan Ardhan melakukan semua pekerjaan rumah.


Melihat kondisi Alea yang seperti itu, akhirnya Ardhan akhirnya mengambil keputusan sepihak. Yakni membuat pengajuan resign untuk Alea.


Awalnya Alea tidak setuju, karena di Galaxy store tidak boleh resign mendadak. Minimal dua minggu sebelum hari H. Jika tidak makan di wajibkan membayar sisa kontrak kerja. Yang mana sisa kerjanya masih tiga bulan lagi. Itu artinya Alea harus membayar tiga kali gaji.


Tapi dengan bujukan Ardhan, Alea menerima keputusan suaminya. Ardhan akan membayar denda yang di jatuhkan pada istrinya.


Ya, tiga kali gaji Alea sama dengan gajinya selama satu setengah bulan di AutoGalaxy. Lagi pula tabungan Ardhan masih cukup, jika untuk membayar denda sebesar itu. Meskipun akan lebih tipis dari sebelumnya.


Akhirnya Alea menandatangani surat resign yang di buat Ardhan dengan berat hati. Meskipun merasa berat meninggalkan pekerjaan pertamanya itu, Alea tetap berfikir positif. Menuruti kemauan suami jauh lebih baik pikirnya.


Ardhan membawa surat itu ke kantor pusat, yakni Galaxy Company. Meninggalkan Alea yang tertidur pulas di kamar.


Ardhan memarkirkan motornya di parkiran khusus tamu. Ardhan berjalan menuju gedung 12 lantai itu. Dengan membawa sebuah map, dan menyiapkan uang sebesar tiga kali gaji Alea.


Galaxy Company, terdiri dari beberapa anak perusahaan. Namun intinya, Galaxy Company milik seorang milyarder. Yang mana anak perusahaan masing - masing di pimpin oleh keturunannya.

__ADS_1


Salah satunya Auto Galaxy Putra, yang menaungi AutoGalaxy dan berbagai jenis bisnis yang berhubungan dengan otomotif. Termasuk sebuah merk pelumas. Di pegang oleh anak pertama sang milyarder.


Ada juga Galaxy Retail, yang menaungi Galaxy store, dan juga Galaxy supermarket. Di pimpin oleh seorang perempuan yang merupakan anak kedua sang milyarder.


Satu lagi, Galaxy Indonesia. Yang bergerak di bidang produksi. Pabrik pembuatan sabun, minyak goreng dsb. Di pimpin oleh anak ketiga sang milyarder.


Semua bisnis Galaxy Company bukan hanya ada di provinsi itu. Tapi menyebar di seluruh Indonesia.


Sehingga Galaxy Company masuk sebagai salah satu perusahaan swasta terbesar di Indonesia.


Ardhan meminta izin untuk masuk ke lantai ke lantai enam. Lantai dimana karyawan cabang menyelesaikan urusan dengan Galaxy retail berada.


"Saya akan bertanggung" jawab Ardhan saat di tanya supervisor yang tadi pagi di hubungi Ardhan.


"Yakin Aleandra tidak akan menyesal?" sahut manager dari Galaxy Retail.


"Tidak, pak!" jawab Ardhan yakin.


"Baiklah, semoga keadaan Alea lekas membaik!" ucap Supervisor itu.


"Terima kasih, pak!" ucap Ardhan.


"Sama - sama! uang ini saya terima!" ucap Manager Galaxy Retail.


"Baik, pak! saya permisi!"


***


Dua bulan berlalu, Ardhan membawa Alea untuk memeriksakan kandungannya. Sepulang dari rumah sakit itu, Ardhan kembali di landa kekhawatiran. Karena berat badan terus menurun.


Berat badan yang mana sebelum hamil 48 kg, turun menjadi 46 kg bulan lalu, dan bulan ini malah menjadi 44 kg.


Alea sungguh sulit membuat makanan yang masuk ke perutnya bertahan lama di sana. Baru tiga sendok makan semua akan keluar dengan sendirinya.


Hanya susu ibu hamil rasa coklat yang berhasil masuk ke perut Alea. Tapi Alea selalu saja ingin makan ini dan itu. Namun hasilnya tetap saja kembali keluar.


"Mas, aku pengen deh makan bebek goreng dan sambal mangga" ucap Alea suatu sore, saat Ardhan baru saja sampai di rumah sepulang kerja.


"Iya Yank, tapi mas mandi dulu ya?"


Meski Ardhan tau apa yang di minta istrinya tidak akan masuk ke perut, Ardhan tetap menuruti apapun yang di minta istrinya itu.


Hal itu sering membuat Ardhan enggan untuk makan. Karena tidak tega melihat istrinya yang tidak bisa makan.


Dan dugaannya benar, Alea kembali memuntahkan semua itu. Padahal baru tiga suapan Ardhan yang dia kunyah.


"Maaasss..." keluh Alea lirih sembari air mata yang menetes. Seolah sudah tidak sanggup lagi mengalami semua itu dalam jangka waktu yang cukup panjang.

__ADS_1


"Sayaang... maafkan aku, ini semua karena aku" ucap Ardhan yang membuat Alea spontan menggeleng pelan.


Hamil adalah tugas seorang istri pikir Alea. Jadi ini semua bukan seutuhnya salah Ardhan yang membuatnya hamil.


Ardhan menghela nafas beratnya. Tidak di pungkiri jika berat badan Ardhan sebenarnya juga ikut turun. Meski tidak terlalu banyak.


Hingga kehamilan Alea berusia lima bulan, Alea masih sering muntah meski tidak separah trisemester pertama.


Jika pagi Alea akan tetap muntah. Tapi sore sampai malam dia sudah bisa makan, tapi dengan porsi kecil.


Ardhan cukup senang, karena pemeriksaan kali ini berat badan Alea sudah merangkak naik menjadi 47 kg. Setelah bulan lalu hanya naik satu kilo menjadi 45 kg.


Ardhan semakin giat membelikan Alea aneka makanan. Agar istrinya tidak bosan. Ardhan pun selalu pulang saat jam istirahat.


Wajah pucat Alea yang berlangsung hingga kehamilan empat bulan. Sedikit demi sedikit mulai memudar. Menunjukkan kondisi Alea yang mulai membaik.


Ardhan bisa bekerja dengan tenang saat ini, dan bisa makan lebih banyak dari sebelumnya.


Tak jarang Randi saat pulang kampung kembali membawakan Ardhan berbagai makan makanan khas kampung yang di sukai ibu hamil.


Maklum selama Alea hamil muda dan muntah, Ardhan ijin pada ayah Alea untuk tidak pulang kampung sampai Alea kembali membaik.


"Thanks ya bro!" ucap Ardhan menghampiri Randi yang masih di atas motornya.


"Sama - sama! ya udah aku langsung ke mess!" pamit Randi, bersiap menggeber motornya.


"Iya!" ucap Ardhan.


Senin pagi, setelah dari kampung halamannya, Randi mampir ke rumah Ardhan. Dia membawakan Alea pepes ikan pindang dan bumbu tomat.


Yang konon kata Alea sungguh rasanya berbeda dari yang beli di kota. Meskipun Ardhan bilang sama saja. Tapi memang mulut dan hidung ibu hamil itu sensitif.


Ardhan sungguh beruntung memiliki sahabat seperti Randi. Yang ikut gelisah melihat Ardhan yang harus tetap fokus bekerja, sedang istrinya di rumah sendirian dengan kondisi yang lemah.


Bicara tentang Randi, dia telah menjadi seorang ayah. Ayah muda yang sangat menyayangi anak dan istrinya.


.


.


.


•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√


...Happy reading 🌹🌹🌹...


...Jangan lupa jejaknya ya kakak 🥰...

__ADS_1


...Salam Lovallena 🌸...


__ADS_2