Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 70# H-1 Resign


__ADS_3

Ardhan berhenti tepat di depan perusahaan Sentani Group. Alea melihat kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang orang ia kenal lewat di sana.


"Biarlah, Yank! semua orang tau. Memangnya kenapa sih?" tanya Ardhan yang gemas dengan istrinya itu.


"Memangnya kamu nggak malu, istri kamu jadi OG. Orang pasti bertanya ada masalah apa sampai istri manager jadi OG?" jawab Alea.


"Setiap rumah tangga pasti pernah diterpa masalah. Dan banyak cara yang di lakukan setiap orang untuk menyelesaikan permasalahan di dalam rumah tangga mereka. Termasuk cara kamu, sayang. Mereka pasti memaklumi itu." jelas Ardhan.


Alea yang mendengar ucapan Ardhan sedikit banyak menyerap ke dalam otaknya. Suaminya memang sesungguhnya orang yang sangat bijak dan dewasa. Namun kembali lagi, setiap rumah tangga pasti pernah di terjang badai.


"Kenapa senyum?" tanya Ardhan.


"Nggak papa!" jawab Alea kembali tersenyum.


Ardhan melepas seat belt nya, kemudian mendekatkan kepalanya pada wajah Alea. Mendaratkan kecupan di kening istrinya. Lalu beralih mencium perut Alea, dan mengusapnya dengan sayang.


"Maafin Papa ya sayang! gara - gara Papa kamu jadi di bawa kerja oleh Mama! Tapi tinggal dua hari kok sayang! kamu yang kuta ya di perut Mama. Jangan bikin perut Mama mual. Kasian kan kalau Mama mual - mual tapi Papa nggak ada? Nanti siang kalau Papa sempat, Papa akan tengok kamu dan Mama di gedung biru itu!" ucap Ardhan kembali menciumi perut istrinya.


Alea tersenyum, lalu menunduk dan mencium kepala suaminya.


"Hati - hati ya, Yank! jangan capek - capek! aku akan protes Leader kamu kalau berani buat kamu capek!"


"Heheh, apaan sih, Pa!"


"Hahaha! cup!" Ardhan mencium singkat bibir istrinya.


Alea pun turun dari mobil, dan berjalan cepat setengah berlari menjauhi mobil suaminya. Berharap tak ada satu mata pun yang melihat dia turun dari mobil.


"Di bilangin hati - hati malah lari - lari" gerutu Ardhan di dalam mobil sambil menghela nafasnya.


Alea melangkahkan kakinya memasuki gedung, kantor masih sepi. Hanya ada scurity dan beberapa Cleaning service yang abru datang.


Alea duduk di ruang khusus istirahat pada OG dan OB. Ia bersiap dengan perlengkapan kerjanya.


"Al, besok jadi hari terakhir kerja nih?" tanya Vania saat memasuki ruangan itu.


"Iya lah, Van!"


"Hemm... bakalan kangen!"


"Masa sih? Uukh!" mendadak Alea merasa mual.


"Kamu kenapa Al?" tanya Vani yang langsung menoleh Alea.


"Emm.. sepertinya aku masuk angin. Dari pagi aku mual - mual!" ucap Alea.


"Hah! masuk angin?" tanya Vania setengah tak percaya.


"Iya! Uukh!" jawab Alea kembali merasa sesuatu ingin keluar dari tenggorokannya.

__ADS_1


"Al, mending kamu minta ijin dan istirahat saja!" saran Vania.


"Aku kerja tinggal dua hari ini, Van"


"Kalau makin parah gimana?"


"Nggak! tenang aja!"


"Atau kamu sedang hamil, Al?"


"Hah!" Alea tertegun, bagaimana bisa temannya yang belum menikah ini mengira dirinya tengah hamil.


"Kenapa kamu nebak aku sedang hamil?"


"Ciri - ciri orang hamil kan begitu? meskipun aku belum menikah tapi aku bukan anak kecil, Al!" ucap Vania. "Lagi pula kamu ada suami, jadi kemungkinan besar kamu sedang hamil anak kedua, ya kan?" tebak Vania.


"Semoga saja sih begitu!" jawab Alea. "Eh, udah ayo cepet! keburu karyawan pada dateng!"


"Kamu yakin!"


"Iyaaa ayo!"


Mereka pun kembali mengerjakan tugas masing - masing. Jam tujuh pagi, Alea membersihkan toilet wanita.


"Uukkh!" Ale kembali ingin muntah saat mengelap wastafel.


"Ugh!" Alea menutup mulutnya dengan tangan, supaya tidak muntah.


Kenapa harus ada dia sih!


Gerutu Alea dalam hati melirik resepsionis yang mencuci tangan di wastafel sebelahnya.


"Jangan - jangan kamu hamil!" celetuk wanita itu. "Anak siapa?" tanya nya sinis tanpa rasa berdosa bertanya anak siapa.


Alea yang sudah menahan kesal sejak kama ingin rasanya mencakar mulut perempuan satu itu.


"Jangan - jangan anaknya salah satu manager di sini lagi! atau anak tamu perusahaan?" sindirnya.


"Apa urusannya dengan mu?"


"Secara kamu kan godain sana - sini!"


"Terus?"


"Ya kasian suami kamu kan, kalau kamu hamil anak orang! apalagi kalau jabatannya lebih tinggi dari suami kamu yang hanya sekedar montir itu!"


Alea menghela nafas. "Kamu benar, Nona! aku memang sedang hamil anak seorang manager! darah seorang manager!" ucap Ale sinis dan ketus.


Perempuan itu tersentak kaget, membulatkan matanya menatap dirinya sendiri dari cermin wastafel yang berukuran besar itu.

__ADS_1


Alea menahan senyumnya melirik ekspresi perempuan yang selama sebulan ini seolah terang - terangan membenci dirinya. Namun di dalam hatinya dia tengah terbahak - bahak melihat ekspresi konyol perempuan itu.


"Kenapa? shock?" tanya Alea mengejek.


Perempuan itu menoleh Alea, lalu mengangkat sudut bibirnya sebelah kiri.


"Hah! ngarang! jangan - jangan kamu godain manager, berharap supaya bisa hamil anak manager?" gerutunya sambil mengeringkan tangannya.


Alea menarik nafas panjang, dan membuangnya dengan kasar.


"Kenapa yang ada di dalam otak mu itu hanya aku yang menggoda manager! kenapa tidak ada kalimat lain, misal jangan - jangan aku ini istri manager yang sedang menyamar, mencari karyawan yang busuk di perusahaan sebesar ini secara diam - diam?" hardik Ale setengah menakuti.


Sontak perempuan itu kembali terhenyak. Ekspresi wajahnya menunjukkan seolah mengatakan tidak mungkin Alea istri manager. Mengelak semua pernyataan Alea. Itu hanya ancaman, mungkin itulah yang ada di dalam otak perempuan itu.


"Hah! kalau aku saja yang resepsionis, pekerjaan bersih, tanpa menyentuh benda kotor seperti mu tidak bisa menggapai manager, apalagi elu!" ejeknya.


"Memangnya semua manager memilih istri hanya dari penampilan dan pekerjaan?" seru Alea.


Terlihat jelas wajah perempuan itu meremang. Masih berusaha mengelak dan tidak mempercayai ucapan Alea.


"Dasar gila!" umpatnya.


"Kamu yang terlalu gila, nona! sampai lupa diri!" kesal Ale. "Lihat!" Alea menghadap cermin dan menunjuk wajahnya dan wajah perempuan itu dari cermin. "Aku sudah memiliki satu anak, tapi lihatlah badan ku masih bagus! kulitku masih putih mulus! wajah dan rambut ku terawat! kenapa kau masih tidak juga berfikir jangan - jangan aku ini istri orang penting!" ucap Alea ketus.


"Hah!" perempuan itu tersenyum sengak. "Khayalan mu terlalu tinggi tuan putri! bisa jadi ini hanya keberuntungan mu sejak lahir! kalau istri orang penting, mana mau gosok closed! haha!" perempuan itu tersenyum sinis.


"Liburan mu kurang jauh, nona! jadi otak mu terlalu kecil untuk memikirkan hal besar seperti ini!"


Terlihat perempuan itu menatap Alea dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan mengejek.


"Wanita gila! sok cantik! sok iyes! padahal nggak banget!" ucap perempuan itu dan langsung membalikkan badannya dengan raut wajah kesal.


"I don't care!" seru Alea mengarah pada punggung resepsionis itu.


Alea menghela nafasnya kesal, "Untung aja besok terakhir kerja! nggak perlu lagi lihat wanita ular itu!" gerutu Alea. "Suatu hari nanti aku akan meminta mas Ardhan mengajakku datang ke kantor ini! mulut perempuan itu harus di bungkam!"


Sialnya gumaman Ale terdengar oleh seseorang di balik pintu, saat seseorang itu hendak masuk.


.


.


🪴🪴🪴


**Happy reading 🌹🌹🌹


Maap baru up 🙏


Othor recehnya sibuk kemarin 🙏🤩**

__ADS_1


__ADS_2