Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 66# Kecurigaan Vania


__ADS_3

Dengan sedikit malas Alea menyantap sedikit demi sedikit makanannya. Sesekali melirik suaminya yang sedari justru terang - terangan menatapnya.


Alea mengambil ponselnya di samping piringnya. Lalu mengirim pesan pada Ardhan, yang taj lain laki - laki yang tengah duduk di sampingnya.


๐Ÿง•๐Ÿ“จ Cepat pergi! ๐Ÿ˜ค


Ardhan yang merasa ponselnya bergetar di saku jas segera mengambilnya. Membuka pesan masuk yang ternyata dari sang istri.


Ardhan mengulum senyum di bibirnya. Rasanya mengerjai sang istri di Sentani Group sepertinya akan menarik. Dan bisa saja akan menjadi hobi barunya.


๐Ÿ‘ณโœ‰๏ธ Kenapa? nggak kangen makan siang sama aku? ๐Ÿ˜‰


๐Ÿง•๐Ÿ“จ Sengaja ya kamu, Mas!๐Ÿ˜ 


๐Ÿ‘ณโœ‰๏ธ Nggak juga kok! hanya saja semakin di goda kamu semakin cantik dan menggemaskan.๐Ÿค—๐Ÿฅฐ


๐Ÿง•๐Ÿ“จ Jangan mulai deh!๐Ÿค•


๐Ÿ‘ณโœ‰๏ธ Hahaha sudahlah, sayaang... cepat habiskan nasi mu. Atau aku akan bilang ke Viana jika kamu adalah istri ku. Sekalian saja Sentani Group gempa bumi! ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


๐Ÿง•๐Ÿ“จ Heh! kurang ajar kamu, Mas! coba saja kalau kamu berani! Aku tidak akan memaafkan kamu! ๐Ÿ˜ก


๐Ÿ‘ณโœ‰๏ธ Jangan gitu dong, Yank! kamu makin cantik dan imut kalau marah!


๐Ÿง•๐Ÿ“จ Cepat pergi sana! Galaxy Company butuh kamu! ๐Ÿคจ


Vania yang duduk di depan mereka pun di buat heran. Dua manusia berbeda gender, duduk berdampingan dengan ekspresi yang berbeda.


Satu tampak menahan kesal sambil mengetik pesan. Seperti tabung elpiji yang siap meledak.


Dan satu lagi tampak senyum - senyum sendiri sambil sibuk mengetik di layar ponselnya.


Vania semakin menggeleng - gelengkan kepalanya. Saat melihat ponsel dua orang itu sama persis. Ponsel berlogo apel di gigit, dengan tiga mata di pojok atas.


Vania tidak tau lagi ada apa di antara dua orang itu. Kenapa di rasa cukup aneh.


Apa mereka ini sudah saling mengenal?


Atau mereka terlibat skandal?


Secara, keduanya sudah punya pasangan masing - masing!


Tapi sejak kapan mereka saling kenal?


Siapa yang menggoda terlebih dahulu?


Jiwa kepo Vania mulai meronta - ronta. Rasanya ingin segera di tuntaskan.


๐Ÿ‘ณโœ‰๏ธ Aku tau jadwal dan tugas ku, Yank! jadi jangan mencoba mengalihkan perhatian ya! ๐Ÿ˜‹


Alea hanya membaca pesan terakhir itu dengan menahan kesal di dadanya. Ia meminum habis es teh manis miliknya.


Di rasa kurang, ia langsung meminum es jeruk manis yang bertahta di samping gelasnya.


Sontak hal itu menarik perhatian Vania. Mengingat itu minuman Ardhan yang baru saja di minum sedikit.


"Alea! gila ya kamu!" pekik Vania lirih memperingatkan Alea yang bertingkah konyol di matanya.


Sedangkan Ardhan mengulum senyumannya lagi.

__ADS_1


"Apa?" tanya Alea yang tidak menyadari kelakuannya. Karena yang di dalam benaknya sudah biasa meminum satu gelas yang sama dengan suaminya. Ia lupa dengan perannya sendiri dalam berakting.


"Yang kamu minum itu punya Pak Ardhan!" jelas Vania sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Aa!" Alea baru tersadar jika dia dalam situasi yang tak seperti biasa.


Alea menoleh Ardhan dengan pura - pura takut. Terlihat Ardhan tersenyum lucu dengan tingkah Alea.


"Maaf, Pak Ardhan! saya tidak sengaja" ucap Alea menyungging senyum terpaksa seolah takut akan di marahi.


"Hahah! nggak masalah, mangkanya konsentrasi. Jangan cemberut terus! saya lihat kamu cemberut terus dari tadi!" ucap Ardhan tersenyum penuh kemenangan.


"Tau nih Alea, kamu kenapa sih Al!" sahut Vania lirih.


"Nggak papa kok!" jawab Alea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya pesankan lagi ya Pak Ardhan!" ucap Alea sok ramah dengan berdiri.


"Oh, nggak usah Alea! saya sudah selesai kok!"


"Loh kok tau namanya Alea!" sahut Vania.


"Lah kamu tadi manggil dia Alea kan?"


"Oh iya sih!"


Alea kembali duduk di kursinya. Tangannya merayap di bawah meja, mencubit paha suaminya dengan gemas.


"Aduh!" pekik Ardhan.


"Ada apa, pak?" tanya Alea pura - pura bodoh dengan mengulum senyumnya.


"Eh, di gigit semut deh kayaknya!" jawab Ardhan santai tapi tangannya mengepal gemas pada sang istri.


"Iya, pak! lagi pula selama ini tidak pernah ada sekelas manager makan di sini!" sahut Vania dengan polosnya.


"Walau pun saya sekarang manager, dulunya saya juga jongos perusahaan. Dengan posisi terendah!"


"Oh ya!" Vania tampak antusias dengan cerita kecil Ardhan.


"Iya!" Ardhan mengangguk menanggapi keterkejutan Vania.


"Dimana pak?" tanya Vania sambil memilih menghentikan aksi makan siangnya. Sepertinya mengobrol santai dengan sorang manager lebih menarik. meskipun manager dari perusahaan lain.


"Sebenarnya saya tidak menyangka, saya bisa menjadi salah satu manager di Galaxy Company pusat. Sebelumnya saya hanya montir di AutoGalaxy!"


"AutoGalaxy?" ulang Vania. "Bukannya suami kamu kerja di AutoGalaxy ya Al?" tanya Vania.


"Eh!" Alea tercekat.


"Oh, ya?" sahut Ardhan semakin asyik bersandiwara. "Suami kamu di AutoGalaxy, Alea?"


"Iya, pak!" jawab Alea santai.


"Saya termasuk bos suami kamu dong!" celetuk Ardhan yang terdengar menyebalkan di telinga Alea.


"Iya, Pak! dia seorang montir! bapak pasti tau kan perbedaan montir dengan manager? Tapi menurut saya, tidak perlu punya suami bos atau apalah! yang penting itu setia dan tidak neko - neko! apalagi main perasaan! Bapak harus belajar dari suami saya yang montir itu! suami saya meskipun hanya montir si perusahaan bapak, tapi dia sangat setia!" Balas Alea setengah menyindir. Dan dalam hatinya ia tengah tertawa terbahak - bahak.


"Ale!" seru Vania kembali memukul lengan Alea sedikit keras.


"Apaan sih, Van!" lirih Alea kesal pada Vania yang sedari tadi mencoba memperingati dirinya.

__ADS_1


Ardhan menghela nafas, dengan senyum tipis yang menggambarkan suatu penyesalan.


"Tidak masalah! saya suka di ingatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik!" ujar Ardhan tersenyum simpul.


"Nah, orangnya saja tidak keberatan, kok kamu keberatan sih, Van!"


"Nggak sopan, Alea! dia kan tamu perusahaan."


"Walaupun beliau tamu perusahaan dan seorang manager, tetap saja beliau kan manusia, iya kan pak?" ucap Alea yang di angguki Ardhan. "Lagi pula kalau Pak Ardhan ini mau duduk bersama kita di sini, berarti tidak ada perbedaan di antara kita! kita bicara sebagai sesama manusia. Bukan bos dan anak buah!"


"Hemm.. betul!" Ardhan mengangguk.


"Pak Ardhan, ngapain di sini?" ucap seseorang dari arah belakang Ardhan.


Sontak semua menoleh ke sumber suara. Dimana ada Fikri dan seorang resepsionis bermuka menyebalkan yang berdiri sekitar 5 meter dari mereka.


"Oh, pak Fikri! saya hanya sedang mencoba menu makan siang di kantin unik ini!" jawab Ardhan berdiri.


Fikri berjalan mendekati Ardhan di ikuti resepsionis itu.


"Di lantai 12 ada kantin, Pak! di sana banyak menyediakan menu yang enak dan bersih!" jelas Fikri.


"Tapi di sini juga enak! ini nasi rawon saya habis."


"Hemm.. sebaiknya kita ke kantor lagi pak!"


"Baiklah saya bayar makanan saya dulu!" Ardhan mengeluarkan dompetnya.


"Biar saya saja yang bayar, Pak! Pak Ardhan kan tamu perusahaan."


"Tidan usah, saya bayar sendiri saja. Saya tadi janji buat traktir mereka."


"Oh, jadi begitu, ya sudah pak!"


Ardhan menyelesaikan pembayaran, kemudian berjalan bersama Fikri meninggalkan kantin yang menurut Ardhan unik itu. Meninggalkan para CS dan seorang resepsionis yang tadi sempat nyinyir di lobby.


"Bener - bener gatel ni anak!" ucapnya sinis pada Alea. "Ingat laki loe di rumah!" lanjutnya dengan wajah sinis. "Gue laporin juga loe ke pak Fikri!" ancamnya.


"Maaf, mbak! tapi Pak Ardhan sendiri yang menghampiri kami!" bantah Alea dengan nada sedikit keras. Mungkin saja Ardhan mendengarnya. "Ya kan, Van!"


"Iya!" jawab Vania yang ikut kesal dengan resepsionis itu.


"Alasan!" seru perempuan itu. Kemudian berlalu dari sana dan mengejar langkah Fikri dan Ardhan.


"Wanita gila!" celetuk Alea.


"Tau tuh!" Sahut Vani.


Suatu hari nanti, akan aku bungkam mulut kotor mu itu!


Ancam Alea dalam hati.


.


.


๐Ÿชด๐Ÿชด๐Ÿชด


...Ada aja konfliknya si Alea ini....

__ADS_1


...Happy reading ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


__ADS_2