
Sesaat kemudian, Alea kembali fokus untuk menyuapi Andra. Wajah Alea tampak masam.
"Mama, minum!" ucap Andra meminta minum.
"Iya, sayang!" Alea meraih gelas es milo dan membantu Andra untuk meminumnya.
Kehidupan rumah tangga memang tak selamanya mulus. Pasti ada saja jalan berlubang yang harus di lewati.
Jika bukan masalah ekonomi maka masalah perasaan dan faktor eksternal yang akan mengganggunya.
Apa ini suatu balasan? karena aku pernah mengabaikan niat baik Bang Fahry?
Tapi memilih menikah dengan mas Ardhan adalah pilihan ku. Sangat lucu jika aku menyesalinya.
Aku yakin badai pasti berlalu!
Sepertinya Bang Fahry sekarang terlihat bahagia dengan keluarga kecilnya.
Istrinya berhijab sesuai dengan keinginannya. Sedangkan aku, sampai saat ini belum juga punya niatan untuk berhijab.
Batin Alea melihat sekilas pada tubuhnya. Yang kini tengah memakai celana jeans, dan sweater lengan panjang. Dengan rambut lurus yang di gerai dan poni panjang yang ikat menjadi satu. Di tambah sepatu kets ala anak muda.
Alea kembali menyuapi Andra. Setelah Andra bilang kenyang barulah ia memakan makanan miliknya.
Sedangkan Andra kini asyik melihat serial kartun di aplikasi YT.
Ardhan yang juga berada di gerai itu namun duduk menjauh dari Alea hanya menghadap spaghetti yang dia pesan. Dia hanya meminum sedikit minumannya. Karena dia memakai masker, dan memegang ponsel seolah sibuk dengan dunia maya. Padahal matanya fokus curi - curi pandang pada punggung sang istri.
Ardhan membuka aplikasi chat miliknya, terlihat ada 27 pesan chat dari Sofia yang belum dia buka sama sekali sejak tadi pagi.
Ardhan mengabaikan hal itu, saat ini kepalanya sedang di buat pusing oleh aksi dingin sang istri. Di tambah melihat Fahry terlihat bahagia dengan keluarga kecilnya, membuatnya semakin di landa kecemasan. Takut jika sang istri merasa iri pada kebahagiaan Fahry. Apalagi jika sampai berpaling.
Beberapa saat berlalu, Ardhan melihat Alea yang beranjak dari duduknya untuk mencuci tangan. Ardhan menunduk karena tempat cucu tangan berada di belakangnya.
Alea melewatinya tanpa curiga, karena Ardhan memakai hoodie yang baru di belinya secara acak di salah satu gerai baju yang ada di mall itu.
Air mengalir membasahi jari jemari Alea yang kotor. Dan saat hendak menekan sabun, tangannya bertemu dengan tangan lainnya.
"Eh, maaf!" ucap Alea tanpa melihat orang itu.
"Alea kan?" ucap orang yang tangannya hampir bertabrakan dengan tangannya.
Spontan Alea menoleh karena suara yang tak asing di telinganya. Rasa canggung merasuki tubuh Alea. Mengingat dulu Fahry benar - benar enggan bicara dengannya, sejak ia jadian dengan Ardhan.
Begitu juga dengan Ardhan yang seketika menajamkan pendengarannya. Supaya tau, apa yang di bicarakan Alea dan Fahry.
"Eh, Bang Fahry!" ucap Alea menetralkan dirinya. "Apa kabar, bang?" tanya Alea.
"Baik! kamu gimana?" tanya Fahry sembari tangannya memberi kode agar Alea mengambil sabun duluan.
__ADS_1
"Baik juga, Bang!" jawab Alea sembari memencet sabun. "Bang Fahry sendirian?" tanya Alea pura - pura tidak tau.
"Sama istri dan anakku," jawab Fahry sambil memencet sabun.
"Oh, yang mana?"
"Itu!" Fahry menunjuk kursinya. Padahal Alea sebenarnya sudah tau.
"Oh!" Alea mengangguk setelah menoleh meja Fahry.
"Kamu sama Ardhan?"
"Nggak, Bang! cuma sama Andra, anak kami!" jawab Alea yang masih membasuh tangannya di guyuran air kran.
"Memangnya Ardhan kemana?"
"Biasa lah, bang! lembur dia!" jawab Alea asal. "Cari cuan yang banyak buat anak dan istrinya yang mata duitan ini. Hahaha!" canda Alea.
"Ohh.... namanya juga manager! soal cuan mah gampang! ya kan?"
"Iya, Bang!" jawab Alea sumbang.
Lembur? Cari cuan yang banyak untuk anak dan istri?
Yang benar saja! mungkin dia lagi asyik vicall sama si Sopiah itu!
Eh, tapi kan akhir - akhir ini mereka mulai jarang online!
"Ya udah ya, bang! Alea duluan! keburu malam!" pamit Alea setelah mengeringkan kedua tangannya yang basah.
"Iya!" jawab Fahry mengangguk.
Alea beranjak dari area cuci tangan. Dan kembali menghampiri Andra yang masih asyik menonton serial kartun.
Sedangkan Ardhan mulai dilanda rasa cemas dan bersalah. Istrinya sungguh berhati mulia. Di saat dia melakukan kesalahan, dan membuat sang istri berubah menjadi dingin, ternyata istrinya masih menutupi semua itu dari orang lain. Dan masih menunjukkan wajah bahagia, meskipun pura - pura.
Maaf Sofia, aku tidak bisa lagi fokus untuk membalas pesan mu! Aku punya istri yang wajib untuk ku jaga hatinya!
Ucap Ardhan dalam hati, sembari mengetikkan itu di layar ponselnya.
Send! pesan itu terkirim pada Sofia.
"Ayo, nak! di habiskan es milo nya." ucap Alea pada Andra. "Setelah itu kita pulang, ini sudah malam, sayang! kasian Papa di rumah sendiri."
"Iya, Ma!"
Alea dan Andra meninggalkan gerai K*C. Sedang Ardhan tampak menunduk saat Alea melewati mejanya.
Ternyata istri ku masih begitu mengingatku! Kenapa aku sampai melakukan hal sebodoh itu.
__ADS_1
Batin Ardhan.
"Mama, beli mainan boleh?" tanya Andra saat melewati penjual mainan. "Satu aja!" rayu Andra.
"Oke, janji ya? satu aja?"
"Iya, Ma!" jawab Andra girang.
Mereka masuk ke toko mainan, dan Andra langsung antusias untuk memilihnya.
Mainan di sini pasti mahal! haduh, harus pandai mengatur keuangan ini!
Ucap Alea dalam hati.
Alea mengeluarkan dompetnya dan menghitung uangnya yang ada di dalam dompet. Sembilan lembar, alias sembilan ratus ribu.
Di ATM masih ada 3 juta, untuk ngirim ayah dan ibu setara uang dari mas Ardhan, mana cukup! Tapi kalau aku kirim sedikit, bagaimana kalau mereka tanya tumben kirim sedikit?
Yaa Tuhan apa yang harus aku lakukan?
Alea tampak suntuk melihat isi dompetnya yang sekarang. Dulu apapun yang di minta Andra pasti di turuti, meskipun harga mainan di atas 500 ribu sekalipun.
Kalau beli pakai uang Mas Ardhan, kan aku tadi bilangnya traktir Andra, masa aku ambilin uang dia?
Alea memanyunkan bibirnya menatap dompetnya lalu melihat Andra yang tampak masih asyik memilih mainan.
Ardhan, yang melihat Alea dari balik dinding kaca memejamkan matanya dalam. Sungguh tidak tega melihat sang istri seperti itu. Ia tau jika sang istri tengah menimbang - nimbang keuangannya.
Apalagi Ardhan menyadari jika putranya itu terbiasa membeli mainan atau barang apapun tanpa melihat harga.
Jika aku bersujud di kaki mu sekarang, apa kamu akan kembali seperti dulu sekarang juga, Yank?
Tanya Ardhan dalam hati.
Hatinya terasa remuk melihat sang istri yang tampak bingung. Setetes air mata Ardhan menetes begitu saja. Dengan mengabaikan ponsel yang sedari tadi bergetar.
"Ini, Ma!" teriak Andra girang menemukan mainan incarannya.
Kompak! dengan kompak mata Ardhan dan Alea menoleh ke arah Andra yang menunjuk mainan berkardus besar, yang sebagian kardusnya di terbuat dari plastik bening kaku yang memperlihatkan sebuah mobil mainan berukuran besar beserta remote nya.
Dilihat saja sudah bisa di pastikan harganya masih di atas 500 ribu. Di mall seperti itu mana ada mainan murah.
Spontan mata Alea membulat melihat itu. Dan Ardhan pun seketika melihat ekspresi istrinya yang seperti mendapat kabar buruk.
.
.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹