
Hari ini tepat pemeriksaan di bulan ke enam. Ardhan kembali merasa lega, karena berat badan Alea kian meningkat, menjadi 49 kg.
Dan hari ini juga pemeriksaan di lakukan sekaligus USG. ya, dokter bilang anak pertama mereka berjenis kelamin laki - laki.
Yang mana orang bilang, jika USG menunjukkan hasil laki - laki, maka sampai ia lahir akan laki - laki.
Berbeda dengan hasil USG yang menunjukkan perempuan. Dia masih bisa berubah di kemudian hari. Karena kemungkinan saat USG di lakukan, jenis kelaminnya tertutupi.
"Yank, mau beli apa?" tanya Ardhan.
"Aku mau makan nasi bebek di tempat dulu biasa kita makan, Mas. Boleh?" tanya Alea.
"Boleh dong!" jawab Ardhan cepat.
Ardhan melajukan motornya ke warung bebek yang di maksud istrinya. Mereka baru keluar dari rumah sakit Ibu dan Anak jam setengah delapan malam.
Ardhan dan Alea memang memilih rumah sakit itu, karena menerima pemeriksaan malam hari sampai jam sembilan malam. Kecuali hari Sabtu dan Minggu.
Ardhan dan Alea duduk lesehan di warung nasi bebek itu. Alea tak melepas jaketnya, karena hawa dingin berlebih bisa membuat perutnya merasa mual.
Kali ini Alea menghabiskan sepertiga bagian dari nasi bebek itu. Mata Ardhan berbinar melihat itu. Kendati jarang bicara, Ardhan sebenarnya sangat memperhatikan setiap perkembangan dan pergerakan sang istri.
"Minumnya, Yank!" ucap Ardhan menyodorkan jeruk manis hangat pada Alea.
"Terima kasih, Mas!" ucap Alea menyeruput jeruk manis hangat itu.
"Mau kemana lagi?" tanya Ardhan yang sangat antusias memberi tawaran apapun pada Alea.
"Pulang aja, mas! Alea pengen tidur!" jawab Alea.
"Ok, sayang!"
# # # # # #
Karena kondisi Alea yang kian membaik, akhir pekan ini Ardhan membawa Alea untuk jalan - jalan di salah satu taman kota terbesar di Ibukota. Yang selalu di adakan car free day setiap hari minggu.
Alea semakin rileks dengan berbagai perhatian yang di berikan suaminya. Dengan memakai sepatu olah raga, keduanya berjalan - jalan santai di sepanjang car free day.
Alea membeli banyak makanan kali ini. Dia sudah tidak lagi mual mencium bau masakan. Tak seperti biasanya. Dia akan mual dan muntah walau hanya mencium bau orang memasak.
Hanya dua menu yang sangat di hindari Alea, yakni soto dan bakso. Alea belum bisa beradaptasi dengan dua menu makanan itu.
"Mau apa lagi, Yank?" tanya Ardhan saat sang isti baru saja menghabiskan burger berukuran besar.
"Beli es kopi boleh nggak, Mas?" tanya Alea menatap penjual es yang berbahan dasar kopi, dengan ludah yang seolah siap menetes.
"Dikit aja ya?" ujar Ardhan.
__ADS_1
"Iya deh!" jawab Alea sumringah. Yang penting boleh, pikirnya.
Setelah membeli apa yang di inginkan Alea, mereka bersantai di salah satu kursi taman yang di khususkan untuk ibu hamil. Karena kursi umum sudah penuh, sehingga Ardhan hanya bisa duduk lesehan di bawah Alea. Sambil memijat betis Alea, yang mungkin saja terasa pegal.
Sebenarnya Alea ingin ikut duduk di bawah saja. Sangat tidak sopan rasanya, dia duduk di atas sedang suaminya duduk di bawah. Tapi dengan tegas Ardhan melarangnya.
"Mas, nggak malu dilihati banyak orang?"
"Nggak! ngapain malu? kan pijitin istri sendiri, bukan istri orang!" jawab Ardhan dengan mata yang masih fokus dengan kaki Alea.
"Ish! awas aja, kalau Mas berani mijit istri orang!"
Ardhan terkekeh geli dengan seruan Alea.
"Mas, Alea pengen makan mie level yang pedas!" ujar Alea kemudian.
"Kapan sayang?"
"Setelah anak kita lahir!" jawab Alea cepat. "Ya sekarang lah, Ayank!" lanjut Alea memanyunkan bibirnya dengan kesal.
"Hahaha!" Ardhan terkekeh dengan jawaban Alea.
# # # # # #
Menjelang siang, keduanya sudah berada di kedai mie level yang cukup hits di Ibukota. Setelah memesan, mereka mengambil duduk di luar kedai. Mencari udara segar pikir mereka. Mumpung hari minggu, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang.
"Wow!" seru Alea dengan ludah yang hampir menetes melihat hidang mie level yang tengah ia idamkan.
"Iyaa!" jawab Alea memanyunkan bibirnya. Dalam benaknya ingin sekali segera menghabiskan semua yang ada di atas meja itu dalam sekali telan.
Namun lagi - lagi rasa malunya menciut. Saat melihat banyak muda - mudi di sekitarnya yang berpenampilan anggun. Dan makan dengan pelan dan sopan.
Akhirnya Alea memakan mie level itu dengan pelan, dan menghayati. Karena sungguh tidak etis jika dia terlihat menonjol.
Harusnya di bawa pulang saja tadi!
Ucap Alea dalam hati.
Terakhir dia memakan siomay ayam dan juga crepes pisang coklat. Itu pun dia makan dnegan gaya queen nya.
Ardhan tersenyum puas melihat porsi makan sang istri. Dia sama sekali tidak marah dengan banyaknya makanan sang istri. Baru kali ini Ale makan sebanyak itu.
# # # # # #
Menjelang malam, setelah sholat maghrib berjamaah, Alea berbaring di tempat tidurnya sembari memainkan ponselnya.
Seperti biasa, Ardhan akan membawa al qur'an dan mengaji di samping perut istrinya yang mulai membuncit. Saat itu juga Alea menanggalkan ponselnya baru saja di geser beberapa kali oleh ibu jarinya.
__ADS_1
Tangan kanan Ardhan memegang al qur'an, tangan kirinya mengusap - usap lembut perut istrinya.
Alea begitu tersentuh dengan hal - hal kecil yang di lakukan Ardhan untuk nya dan calon anak. Lantunan suara - suara lembut Ardhan membuat Alea dan bayi dalam perutnya merasa jauh lebih tenang.
Ardhan memang tidak terlalu pandai membaca tartil. Tapi bacaan nya cukup lancar dan jelas. Sehingga untuk orang awan cara ngaji Ardhan itu sudah bagus.
Setelah selesai dengan rutinitasnya, Ardhan menanggalkan kitabnya di atas nakas. Di lanjutkan dengan sesi mengajak ngobrol sang calon anak.
Kepala Ardhan berangsur - angsur mendekati perut buncit Alea. Dan mendekatkan bibirnya. Tangan kanannya mengusap lembut perut buncit yang sesekali bergerak itu.
Alea menatap Ardhan dengan mata teduh dan bahagia. Menggambarkan kekagumannya selama ini tak sia - sia. Tanpa sadar tangannya terangkat dan menyisir rambut hitam suaminya. Sudut bibirnya terangkat sempurna.
"Baby, kamu ingin di kasih nama siapa?" tanya Ardhan dengan serius. "Masuk dalam mimpi Papa ya, nak? ngomong sama Papa mau nama apa? yang keren boleh yang religius boleh, yang penting kamu suka!" ucap Ardhan.
Spontan Alea terkekeh mendengar obrolan Ardhan dan sang calon anak.
"Eh, atau kamu mau nama kita sama? Ardhan Bagaskara **! biar sama kayak Cristiano Ronaldo!"
"Ish, nama kok sama sih! nggak asik ah!" sahut Alea memukul pelan lengan suaminya.
"Dari pada bingung, Yank! nama ku juga nggak jelek - jelek amat kan?" ujar Ardhan.
"Nggak juga sih! nama Mas bagus kok! tapi kalau di samakan dengan nama anak kita, sungguh tidak lucu, nggak kreatif dan membagongkan tetangga!"
"Hah?" Kening Ardhan mengerut.
"Iya, kalau tetangga manggil Mas, dua - duanya noleh!"
"Iya juga sih! terus kamu mau kasih nama siapa?"
"Nunggu dia lahir aja, Mas!" jawab alea. "Alea sudah punya beberapa ide nama untuk si baby!"
"Beneran?"
"Iya!"
"Bagus nggak?"
"Bagus dong!" jawab Alea bangga.
.
.
.
...•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√...
__ADS_1
...Ok! part ini sampai di sini dulu!...
...Lusa ketemu lagi 😘...