Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 52# Memantau!


__ADS_3

"Dimana kamu bekerja?" tanya Ardhan masih dengan posisinya berdiri di belakang pintu.


"Hanya jadi cleaning service di sebuah kantor, Mas! tapi tenang, tak ada satu orang pun yang tau jika suami ku seorang manager!" ucap Ale dengan senyuman manis dan cerah.


Berbanding terbalik dengan ekspresi yang di munculkan Ardhan. Bagai sebuah tinjuan di kepalanya, seketika mata Ardhan menajam menatap Alea.


"Lebih baik pecat Nur, dan kamu bekerja di rumah ini!" ucap Ardhan. "Aku yang akan menggaji mu!"


"Hihihihi!" Ale tertawa sumbang. "Aku tau mas, status ku sebagai istri sebentar lagi akan turun jadi pengasuh." Jawab Ale dengan santainya. "Kamu tenang saja, aku akan menjadi pengasuh yang baik untuk anak seorang majikan seperti kamu, Bapak Ardhan Bagaskara."


Alea kembali tersenyum. Mungkin air matanya telah mengering, sehingga ia tak lagi bisa meneteskan air mata.


"Cukup, Ma!" bentak Ardhan. "Hentikan candaan tidak penting seperti ini!"


"Mas Ardhan, istrimu ini tidak sedang bercanda!" jawab Alea sembari menyisir rambutnya. "Aku senang, di sana punya banyak teman yang sepadan dengan ku. Sama - sama jong*s, tapi bukan jong*s gatel!" ucap Alea dengan seulas senyuman sinis.


Ardhan menggelengkan pelan kepalan, menatap punggung istrinya.


"Sepertinya kamu perlu di beri pelajaran, Aleandra!" ucap Ardhan penuh penekanan.


"Aku sudah bosan belajar 12 tahun, Mas! untuk apa di beri pelajaran." jawab Alea santai.


Ardhan semakin tidak mengerti dengan Alea yang tampak sangat santai. Sama sekali tidak menunjukkan rasa kesal, marah ataupun cemburu.


Alea membuka kunci pintu, dan keluar meninggalkan Ardhan yang masih mengatur emosi di dalam kamar itu.


Jika biasanya setelah mandi, ia akan memoles make up tipis untuk menyambut suaminya pulang kerja. Naka kali ini tak sedikitpun make up menempel di wajahnya. Hanya pelembab tipis saja yang ia di oles si wajahnya.


Suasana rumah semakin canggung sekarang. Sungguh jauh dari kesan nyaman. Dan jauh berbeda dari beberapa minggu yang lalu.


Ardhan mulai merasa sepi, hanya Andra saja yang mau bercakap dengannya. Sedang Alea hanya mau berceloteh dengan Andra saja.


Keadaan itu berlangsung sampai seminggu berikutnya. Alea lebih asyik dengan Andra dan ponselnya di banding mengurusi Ardhan.


Hari ini hari minggu, Andra tengah asyik bermain sendiri dengan mainan baru yang di belikan Ardhan. Sedang Alea duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


"Ada apa dengan ponsel mu itu, Ma?" tanya Ardhan yang sudah tidak tahan dengan situasi seperti itu.


Alea melirik Ardhan yang duduk di sofa pojok. "Nggak ada." Jawab Alea dengan entengnya. "Cuma group chat anak - anak CS!"


"Lebih seru dari suasana rumah?"


"Iya.. kadang - kadang memang lebih seru dunia maya kan dari pada dunia nyata!" sindir Ale. "Bukan begitu, Mas Ardhan?" tanya Alea.


Ardhan menghela nafasnya. "Kamu benar!" jawab Ardhan cuek.


Padahal Alea tengah asyik membaca chat grup SD suaminya, dan juga membaca chat suaminya dengan Sofia.


Sepertinya perempuan itu ngambek! gara - gara sering di cueki Mas Ardhan. Aku akan membuat kepala Ardhan Bagaskara semakin pusing! Lihat saja apa yang akan aku lakukan!


pelakor menang itu mustahil, Nona! kalau pun seandainya kau menang, akan ada saatnya kalian jatuh! Jatuh - sejatuhnya!


Ucap Alea dalam hati dengan senyum sinis yang di sembunyikan.


Alea semakin geram saat sebuah pesan masuk dan mendapati itu adalah sebuah pesan video dari Sofia. Alea pikir itu video apa, karena durasinya cukup panjang.


Tanpa menggunakan volume, Alea memutar video itu. Alea membulatkan matanya lebar, tatkala melihat video itu ternyata cuplikan video Sofia yang tengah beraktifitas di kamar mandi.

__ADS_1


Terlihat sofia melepas tang top nya yang berwarna kuning dengan menghadap kamera. Menyisakan br* berwarna putih dan rok mini.


Dengan raut wajah seperti orang kehausan, Sofia memijat dan memainkan dadanya. Ia melirik Ardhan, dia juga tengah memandangi ponselnya. Namun dengan raut wajah jengah dan malas.


Belum selesai Alea menonton, ternyata Ardhan sudah menghapusnya. Alea cukup tersentak, saat Ardhan menghapusnya. Karena sudah bisa di pastikan vidio itu belum selesai di lihat oleh Ardhan.


Alea menunggu Ardhan yang terlihat tengah mengetik sesuatu di ponselnya.


^^^Ardhan Bagaskara 📨^^^


^^^Jangan membuat rekaman menjijikkan! itu akan membuat malu dirimu sendiri suatu saat nanti.^^^


✉️ SOFIA LARASATI


Kan cuma buat kamu, Dhan!


^^^Aku justru tidak suka!^^^


Lah! kok gitu sih?


^^^Aku mau lanjut kerja dulu ya, Sof! kerjaan ku numpuk!^^^


Ardhan! tunggu dong!


Ardhan, aku kangen! pengen ngobrol banyak! kamu sibuk mulu!


Alea melirik Ardhan yang meletakkan ponselnya dan memilih membuka laptopnya dari pada membalas pesan Sofia.


Mampus kamu! semakin kamu menggoda suami ku! aku akan buat suami ku pusing, mumet, stress dan ujung - ujungnya kamu di buang!


Ucap Alea dalam hati.


# # # # # #


Alea tengah membersihkan meja resepsionis di lantai dasar. Saat jam menunjukkan pukul 06.45 WIB.


"Alea, setelah meja - meja di sini bersih, tolong pindah ke lantai tiga ya? bantuin Denis membersihkan ruang rapat! nanti mau di pakai soalnya!" ucap kepala divisi yang menangani posisi CS.


"Siap, pak!" jawab Ale semangat.


Jam setengah delapan, Toni meminta Alea untuk segera naik ke lantai tiga saja. Karena meeting biasanya di mulai setengah sembilan.


Dengan sigap dan semangat Alea beranjak baik ke lantai tiga menggunakan lift karyawan. Alea dan Denis dengan kompak merapikan ruang meeting yang berukuran cukup besar itu.


Terdapat kurang lebih 30 kursi yang mengelilingi sebuah meja panjang dan cukup besar.


"Ale, kamu rajin juga!" puji Denis, laki - laki seumuran Alea.


"Harus dong, Nis!" jawab Alea sembari menata botol air mineral di masing - masing meja yang terdapat kursi.


# # # # # #


🍄 Ruang Kerja Ardhan . . .


"Pak Ardhan, meeting di Sentani Group di mulai jam setengah sembilan pagi!" ucap Weni sopan.


Ardhan melirik jam dinding yang sudah menunjukkan hampir jam delapan pagi.

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang! siapkan berkas meeting!"


"Siap, Pak! permisi!" Weni berbalik.


"Tunggu, Wen!"


Seketika langkah kaki Weni terhenti. Dan kembali menghadap Ardhan.


"Ada yang bisa saya bantu, pak?"


"Bagaimana dengan pembangunannya? aku tidak sempat menengok?"


"Sudah terlaksana dua minggu lebih, pak! pondasi sudah di buat sekokoh mungkin, dan bahan bangunan juga di pilih daei bahan terbaik!"


"Baguslah, Wen! aku harap enam bulan lagi sudah beres!"


"Siap, pak! kontraktor sudah mengusahakan semaksimal mungkin! cukup banyak pekerja yang di kerahkan!"


"Hemm!" Ardhan mengangguk. "Pergilah!" titah Ardhan.


"Baik, pak!"


Weni meninggalkan ruang kerja Ardhan. Menyisakan Ardhan yang membereskan laptop, meraih ponsel dan kunci mobil miliknya.


Ting!


✉️ SOFIA LARASATI


Pagi Ardhan? sibuk kah?


^^^📨 Ardhan Bagaskara^^^


^^^OTW meeting!^^^


✉️ Selalu saja sibuk! perasaan awal - awal selalu menyempatkan buat chatting sama aku!


^^^📨 Maaf lah, lagi sibuk beneran ini.^^^


✉️ *Atau istri kamu marah? aku chat sama istri kamu deh! boleh? minta nomor wa nya dong!


^^^📨* My Wife 😘^^^


Ardhan mengirimkan kontak nomor Alea pada Sofia.


Tepat jam delapan, Ardhan dan Weni beserta manager keuangan berangkat menuju Sentani Group.


.


.


🪴🪴🪴


Eng ing eng! kira - kira Ardhan bertemu Alea di Sentani Group atau tidak ya?


Atau kah Alea punya rencana jitu untuk memporak - porandakan hati suaminya?


Tunggu episode selanjutnya ya kakak 🤩

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan dukungannya ya kakak! sedih Othor, saat nggak dapat dukungan.


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2