Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 76# Surprise!


__ADS_3

Mobil Ardhan berbelok, memasuki gang lebar berukuran empat meter, bertuliskan jalan Strawberry.


"Kita mau ke rumah siapa?" tanya Alea penasaran.


"Rumah kamu" jawab Ardhan.


Hah! spontan Alea menoleh suaminya dengan dahi yang mengkerut.


"Kamu ngantuk, Pa?" heran Alea.


"Kok ngantuk sih, Yank! beneran, ini arah jalan ke rumah kami"


Alea seolah masih tidak paham juga akan ucapan Ardhan. Ia tidak menjawab justru mengelus perut buncitnya.


Cit!


Mobil Ardhan berhenti tepat di depan sebuah rumah berlantai dua dengan warna nude yang mendominasi.


Sangat jelas terlihat jika rumah itu baru selesai di bangun. Semua cat terlihat baru. Bahkan masih ada sisa - sisa alat pembangunan yang berserakan di beberapa titik.


Sebuah kolam ikan yang masih kosong tampak mempercantik area taman depan rumah yang terlihat baru di tanami berbagai jenis bunga. Pagar stainless setinggi dua meter tampak terbuka lebar.


Alea menatap rumah itu dengan rasa heran dan penasaran. Matanya berhenti pada nomor rumah yang menempel di dinding pagar, Jalan Strawberry no 327.


"Ini rumah siapa, Pa?" tanya Alea tanpa melihat suaminya.


"Rumah kita!" jawab Ardhan tersenyum melihat ekspresi Alea.


"Hah! rumah kita?" tanya Alea tak percaya.


"Iya, rumah baru kita!" jawab Ardhan santai.


"Yang bener kamu, Pa?" tanya Alea menatap dalam mata suaminya. Mencari kebenaran di dalam sana.


"Ya iyalah, sayang!" jawab Ardhan.


"Wow! ini rumah baru kita, Papa?" tanya Andra antusias.


"Iya, sayang! setelah adik Andra lahir, kita akan pindah kesini!" jawab Ardhan.


Alea membuka mulutnya tak percaya. Seolah semua ini hanya mimpi belaka.


"Ayo turun!" ajak Ardhan.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah yang terlihat cukup mewah itu. Untuk bisa membangun rumah di di lokasi itu cukup merogoh kocek. Sehingga Alea belum bisa percaya seratus persen.


Alea melihat ada beberapa orang yang tengah memasang kabel listrik, dan ada juga yang tengah memasang wallpaper dinding di beberapa sisi dinding.


"Wow! bagusnya!" seru Andra.


"Pa! ini beneran rumah kita?" tanya Alea belum bisa percaya.


"Iyaa, Ma!"

__ADS_1


"Kamu uang dari mana untuk membangun rumah di sini, Pa?" tanya Alea yang takut suaminya terjerat kasus korupsi.


"Hemm..." Ardhan menghela nafas sebelum bercerita. "Tabunganku selama ini, aku gunakan untuk membeli tanah di sini. Lalu aku mendapat fasilitas pinjaman dari perusahaan sebesar 900 juta, untuk membangun sebuah rumah. Jadi aku bangunlah rumah ini untuk masa depan kita."


"Hah! 900 juta kapan lunasnya?" tanya Alea membulatkan matanya.


"Potong gaji 20%, sayang! tidak akan terasa!"


"Bunganya?"


"900 juta kembali 1 M!" jawab Ardhan. "Itu adalah salah satu tunjangan untuk para manager!"


"Lalu rumah kita yang lama?"


"Sebenarnya aku ingin rumah itu di kontrak kan. selain untuk kenangan, juga untuk uang tambahan kan lumayan, sekaligus jadi tabungan masa depan. Tapi berhubung rumah ini di bangun dengan uang pinjaman, jadi rumah itu akan kita jual, lalu uangnya untuk mencicil hutang!"


"Paaa.. kenapa tidak rumah lama saja di renovasi?"


"Komplek di sini lebih asri, Ma!" jawab Ardhan. "Lihat Andra akan lebih bebas dan nyaman bermain di ruangan yang lebih luas!"


"Iya, sih!" Alea mengangguk melihat Andra yang tampak berlari ke sana kemari dan naik turun tangga. "Hati - hati, sayang!" ucap Alea memperingati buah hatinya.


Tapi Andra kecil tidak peduli dengan peringatan sang Mama. Ia tetap asyik menyusuri rumah barunya.


"Kapan kamu mulai membangun rumah ini, Pa?"


"Sebelum badai menerpa tiang rumah kita!" jawab Ardhan tersenyum hambar.


"Jadi kamu sudah menyiapkan rumah ini sejak lama?"


"Kenapa kamu merahasiakan pembangunan rumah ini dari ku sih, Pa?"


"Kalau tidak di sembunyikan, bukan surprise namanya, sayaang!" jawab Ardhan gemas.


Alea tersenyum melingkarkan tangannya pada tubuh suaminya.


"Terima kasih ya, Pa. Kamu punya tekat yang baik untuk membangun rumah yang lebih baik untuk kuta semua!"


"Sudah kewajiban ku, Yank! apalagi setelah kamu memaafkan kebodohan ku, rasanya rumah ini tidak ada harganya untuk membalas kemuliaan hatimu," ucap Ardhan mencium kening Alea.


Alea mendongakkan kepalanya, menatap sendu, lembut dan penuh cinta pada sang suami.


Tuhan masih berbaik hati untuk memberinya kesempatan hidup bersama sang suami.


"Untuk sementara barang - barang di rumah lama kita pindah kesini. Jika ada rejeki baru kita beli yang baru." jelas Ardhan.


"Siap, Papa!" jawab Alea menggigit pelan pundak Ardhan.


Ardhan terkekeh gemas dengan ulah istrinya.


Kemudian mereka memutuskan untuk berkeliling. Mengecek perlengkapan inti dari rumah itu. Mulai dari lampu kristal, lampu dapur dan lampu kamar yang akan mereka tempati.


"Puas sekali dengan warna catnya!" seru Alea. "Siapa yang memilih?"

__ADS_1


"Aku meminta bantuan Weni untuk mengurus pembangunan rumah ini!"


"Weni?"


"Iya, tapi tentu saja dengan tips tersendiri!"


"Hehe! terima kasih juga pada Weni! dia pasti makin sibuk!"


"Yaaa... begitulah! haha!"


# # # # # #


🍄 Dua bulan kemudian . . .


Bayi perempuan baru saja dilahirkan oleh seorang ibu hebat dan luar biasa. Tentu saja semua ibu itu hebat dan luar biasa.


"Arsyila Kinara Bagaskara!" ucap Ardhan setelah mengadzani sang putri.


"Selamat ya Alea!" ucap Farah pada Alea yang masih berbaring di brankar rumah sakit.


"Terima kasih, Kak!" jawab Alea.


Semua keluarga berkumpul untuk menyambut kelahiran anak kedua Ardhan dan Alea.


Seminggu kemudian di adakan acara aqiqah di rumah lama. Dan mungkin acara aqiqah Arsyila akan menjadi acara terakhir yang di adakan di rumah itu. Sebelum akhirnya berpindah ke rumah baru yang berukuran dua kali lipat.


# # # # # #


🍄 Dua bulan kemudian . . .


Berbagai macam barang di rumah lama telah berpindah ke rumah baru. Hari ini mereka akan berpindah ke rumah baru mereka. Di jalan Strawberry komplek perumahan bernama Griya Asri.


Alea tampak di sibukkan dengan acara pindahan yang mana nanti malam akan di adakan open house. Mengundang para tetangga untuk tasyakuran di rumah itu.


Di jalan Strawberry, tepat di mana rumah Ardhan berdiri kokoh hanya di huni oleh beberapa rumah yang bisa di bilang setara dengan rumah Ardhan.


Rata - rata rumah di jalan itu hanya di huni oleh mereka yang minimal berprofesi sebagai pegawai perkantoran dengan jabatan yang bagus. Atau pengusaha kelas menengah.


Sehingga bisa dipastikan kehidupan Alea dan Ardhan itu berkecukupan. Sehingga tak mungkin ragu bagi mereka bergaul dengan ibu komplek di gang itu.


Malam itu, seluruh keluarga Alea berkumpul. Termasuk Ari dan istrinya. Begitu juga adik Ardhan yang kini bekerja di salah satu perusahaan BUMN, sambil berkuliah.


Belasan anak yatim di undang oleh Ardhan dan Alea untuk sekaligus berbagi rezeki kepada mereka yang sudah kehilangan orang tua mereka sejak kecil.


.


.


🪴🪴🪴


Mohon do'a semoga kehidupan Ardhan dan Alea (asli) beserta putra putrinya di berikan keberkahan, kesehatan dan rejeki yang cukup. Aamiin 🤲


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya kakak 🙏


Othor sangat berterima kasih kepada teman - teman memberikan hadiah untuk novel receh Othor 🙏


__ADS_2