
"Keluar dari Sentani Group!" Ardhan mengulangi kalimatnya.
"Nggak, Mas!" jawab Alea. "Aku masih ingin bekerja!"
"Ma, aku hanya tidak ingin kamu lelah! apalagi gaji yang kamu dapatkan tak seberapa." Kilah Ardhan. "Untuk apa kamu membuat dirimu kelelahan, sedangkan kamu bisa menggunakan uang suamimu sepuas kamu. Berlipat - lipat dari gaji yang kamu dapatkan, Yank!" lanjut Ardhan. "Please, Yank! berhentilah bekerja, Yank!" mohon Ardhan memelas.
"Nggak, Mas! aku belum yakin kamu benar - benar berubah, sebelum nomor ponsel mu benar - benar ganti. Dan perempuan ular itu tidak lagi mencari kamu! aku tidak akan berhenti bekerja!"
"Aku sudah berjanji, Yank! kalau sampai aku melanggar janji, kamu bisa memenggal kepala ku! atau apapun yang ingin kamu lakukan padaku!" jawab Ardhan.
"Aku butuh bukti, Mas! bukan janji!"
"Tapi untuk saat ini aku hanya bisa berjanji, Ma. kalau urusan nomor baru, aku tidak berkutik. Aku tidak tau kapan perusahaan akan memberi acc nomor baru ku. Jika nomor baru ku di acc, barulah aku bisa menonaktifkan nomor lama. Semua itu butuh proses dari perusahaan, Ma!"
"Pokoknya aku tidak akan berhenti bekerja, sebelum nomor ponsel kamu baru!" kekeh Alea.
"Kamu boleh menyiksa ku seperti apapun yang kamu mau, tapi jangan menggunakan keringat mu, Yank!" ucap Ardhan. "Mata ku tidak sanggup melihat kamu bekerja, Ma! lagi pula kamu masih dalam masa training. Cukup mudah untuk keluar!"
"Beri aku waktu, Mas!"
"Jika tidak mau keluar kerja demi aku, maka keluarlah demi Andra. Dia butuh perhatian penuh dari kamu, Ma! dia masih balita!"
"Aku tau itu, Mas! aku tau porsi dan tugas ku!"
"Maka dari itu berhentilah bekerja!" ucap Ardhan tegas. "Kembalilah menjadi Alea istri Ardhan. Yang hanya menghabiskan waktunya bersama anak, suami, dan pergi ke tempat fitnes atau klinik kecantikan! lihat, Yank! wajah mu mulai sedikit kusam." Ardhan berusaha untuk menghangatkan suasana yang terasa panas.
Alea terdiam, dia tidak tau lagi harus bicara apa. Soal kusam di wajah, memang dia tidak terlalu merawat sejak ia bekerja.
"Kalau kamu tidak mau keluar, aku yang akan turun tangan!" ancam Ardhan. "Aku yang akan membuat kamu di pecat dari Sentani Group! aku harap kamu tidak lupa siapa suami mu ini, Yank!" bisik Ardhan.
"Jangan egois kamu, Mas! kamu mau membuat aku malu?"
"Aku akan membuat semua penghuni Sentani Group tau, jika kamu adalah istri ku!" ancam Ardhan. "Istri Ardhan Bagaskara!" lanjut Ardhan penuh penekanan.
"Please, Mas! beri aku waktu!" kekeh Alea.
"Kita lihat besok, sayang!" bisik Ardhan dingin.
Ia tak sabar ingin menunjukkan identitas Alea yang sesungguhnya. Sungguh ia tak sanggup melihat istrinya bekerja dengan posisi jauh di bawahnya.
"Dasar kepala batu!" gerutu Alea lirih dengan wajah cemberut yang khas. "Kamu yang cari masalah duluan, sekarang kamu yang ngancam - ngancam!" protes Alea. "Bagaimana kalau aku tidak mau memaafkan kamu!" ancam balik Alea.
"Eh, jangan dong, Yank!" ucap Ardhan spontan kembali memelas.
__ADS_1
"Biar saja! siapa suruh ngancam aku!"
"Baiklah, aku tidak mengancam, tapi ..." Ardhan menggantung kalimatnya.
"Apa!" ketus Alea menahan kesal.
"Untuk saat ini kita damai, ya?" bisik Ardhan. "Sebenarnya yang membuat aku teramat sangat tidak suka kamu di sana adalah karena si Fikri sialan itu melirik kamu!" ucap Ardhan kesal.
Alea tersenyum miring, "punya cemburu juga kamu, mas!" celetuk Alea.
"Bisa jadi aku adalah laki - laki pencemburu nomor satu di dunia, Yank!" ucap Ardhan. "Maafkan aku yang sempat khilaf, tak memikirkan perasaan mu, Yank!" ucap Ardhan lirih.
"Halah, kalau ada yang ngelirik istrinya aja, baru sadar! kemarin kemana aja!" sindir Alea.
"Maafkan aku, Yank! please!" ucap Ardhan mencium leher jenjang Alea. Setelah sekian lama tak bisa mencium leher itu.
"Harus pak Fikri gak usah ngomong ke kamu! langsung aja tikung bininya! biar tau rasa!" ucap Alea ketus.
"Emang kamu mau sama dia?" tanya Ardhan cemburu. "Dia kan lebih tua dari aku, Yank!"
"Tua atau muda yang penting itu setia dan pekerja keras!" celetuk Alea. "Dan bisa menjadi pemimpin yang baik di dalam rumah tangga. Menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk anak - anaknya. Memberi contoh yang baik untuk anak dan istrinya. Dan satu lagi, tidak egois!" ucap Alea panjang lebar yang membuat Ardhan tertegun dan menjadi pendengar yang baik.
"Seperti kamu, yang lebih asyik chatting dengan janda tidak jelas, daripada chatting dengan istrinya yang sudah membosankan! Kalau saja kamu terus seperti itu di saat sehat, jika kamu sakit kelak, aku dan Andra akan kabur! biar kamu tau rasanya kesepian di saat sakit! Dia itu mengejar kamu karena kamu tampan, kaya, dan sehat, Mas! Kalau saja kamu itu sakit dan tak berpenghasilan, aku yakin dia tidak akan sampai mengirim vidio nya yang buka baju untuk kamu!"
Ardhan menyadari kesalahannya. Apalagi ia memang sempat membuka video yang dikirim Sofia itu. Dan melihat beberapa detik video gila Sofia. Meskipun ia tak menonton sampai selesai karena risih. Tapi kini ia merasa jijik dengan matanya sendiri.
"Maafkan aku, Yank! aku janji itu yang pertama dan yang terakhir!" ucap Ardhan tulus. "Aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan kamu dan Andra, Yank! aku mau kita selalu bersama saat sehat dan sakit!"
"Kita lihat saja, Mas!" ucap Ale ketus.
"Tapi sekarang kira berdamai ya? kita tidur bersama terus! kamu nggak kedinginan tidur sendiri!" rayu Ardhan.
"Nggak! kamar tamu kan nggak ada AC nya! cuma kipas angin, jadi nggak dingin!" elak Alea.
"Yaaankk... bukan itu maksud ku...." Ardhan mulai gemas. "Kamu nggak rindu peluk aku di tempat tidur?" goda Ardhan. "Atau kamu nggak rindu menahan des*han di kamar ini karena takut Andra bangun?"
Plaaak!
Kalimat Ardhan berakhir dengan tamparan Alea di pipi kanan Ardhan yang bertengger di pundaknya.
"Auwh!" pekik Ardhan merasakan sedikit panas di pipinya.
"Lepas!" ucap Alea ketus. "Sempat - sempatnya bahas begituan di saat seperti ini!" lanjutnya sembari berusaha menarik dua tangan Ardhan yang masih memeluk posesif perutnya.
__ADS_1
"Hehe! sorry.. sorry, sayang!" Ardhan justru gemas dengan gaya Alea yang sebenarnya malu - malu membahas hal seperti itu.
"Lepas!"
"Nggak mau!"
"Lepas, Mas! sebentar lagi Andra pulang!"
"Cium dulu!" rengek Ardhan seperti bocah.
"Enak aja!" Alea masih berusaha jual mahal.
"Ayolah, Yank! katanya damaai?"
"Kamu yang bilang bukan aku!" elak Alea.
"Heheheh!" Ardhan justru terkekeh.
Kalau kamu nggak mau berdamai, kamu pasti menggigit tangan ku, atau melakukan hal liar lain nya! nyatanya kamu hanya sedang jual mahal, Sayang!
Ucap Ardhan dalam hati yang hafal akan sifat sang istri.
"Lepas, Mas!" ucap Alea.
Ardhan merenggangkan sekilas, saat Alea hendak kembali meraih sisir untuk menyelesaikan sisirannya, justru Ardhan menggendong tubuhnya ala - ala bridal.
"Mas!" pekik Alea memukul lengan Ardhan. "Jangan gila kamu!" ucap Alea ketus saat Ardhan membawanya mengarah ke ranjang.
"Aku memang sudah gila, Yank! tergila - gila sama kamu!" jawab Ardhan sembari meletakkan tubuh Alea di atas tempat tidur dengan hati - hati.
"Minggir, Mas!" hardik Alea saat Ardhan mengunci tangannya ke atas kepalanya.
"Cium doang, Yank! kangen!" bisik Ardhan.
"Nggak! nggak boleh!" jawab Alea dengan wajah memerah karena malu. Jujur saja ia juga merindukan sang suami. Tapi rasa ingin jual mahal masih menguasai hati dan isi kepalanya.
Namun akhirnya adegan ciuman itupun tetap berlangsung. Alea malu - malu menikmatinya, dengan sesekali mencoba untuk memberontak. Tapi Ardhan sudah hafal watak dan tingkah sang istri.
.
.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Damai beneran nggak nih kira - kira? 🤔