Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 56# Bertemu Masa Lalu


__ADS_3

Ardhan menatap Alea dengan bingung dan waswas.


"Kamu bingung aku tau dari mana?" tanya Alea. "Percakapan kamu dengan Leon di warung soto!" ucap Alea tegas dan sinis. "Kamu tidak tau kan aku juga ada di sana!"


Seketika mata Ardhan menajam karena kaget.


"Keterlaluan kamu, Mas!" ucap Alea sembari menyeka air matanya. "Berikan kunci pintu!" ucap Alea.


"Ma, dengarkan aku dulu, semua tidak seperti yang kami pikirkan! aku hanya tidak ingin ada salah paham."


"Tidak ingin ada salah paham dan tidak ingin aku tahu, itu beda tipis, Mas!" ucap Alea. "Dan intinya adalah kamu sembunyi - sembunyi dari istri mu, untuk memberi nafkah perempuan lain!" tegas Alea. "Bagaimana jika aku melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan pacar mu itu? merayu suami orang, untuk mengeruk hartanya!"


"Aku tidak akan rela, Maa!" jawab Ardhan lirih "please Ma, jangan lakukan hal seperti itu."


"Tapi yang kamu lakukan itu masuk dalam masalah itu, Mas!"


"Aku tau, Maa! maafkan aku. Beri aku waktu, aku akan menjauhi dia perlahan. Karena jika aku langsung menghilang juga tidak enak bukan?"


"Hahahah!" Alea tertawa sumbang. "Tidak enak atau tidak rela?" tanya Alea sinis. "Yang jadi masalah itu, kenapa kamu mengirim uang sebanyak itu untuknya? jangan kamu pikir aku bodoh mas! aku tau semuanya!" Alea mulai tersulut emosi. "Semua kebohongan kamu, aku tau mas! sakit hatiku mas!" Air mata Alea kembali menetes.


"Maa?" Ardhan merasa sakit melihat air mata yang menetes di pipi Alea. "Aku hanya ..."


"Hanya apa?" potong Alea, karena Ardhan berbelit. "Sedekah?" sindir Alea. "Kalau sedekah kenapa harus pada perempuan itu? masih banyak di luaran sana janda yang lebih membutuhkan dan tidak gatel seperti Sofia!"


Ardhan menunduk lalu meraih tangan Alea dan menciumi punggung tangan istrinya itu.


"Aku minta maaf, Ma! aku janji tidak akan melakukan hal itu lagi!" raut wajah Ardhan di penuhi rasa penyesalan yang mendalam.


"Bilang saja kamu tidak tega pacar mu bekerja untuk menghidupi anaknya!" hardik Alea.


"Tidak Yank, tidak!"


"Berhentilah menutup - nutupi kesalahan, mas!" pungkas Alea menarik tangannya dari dekapan Ardhan. "Sekarang mana kunci kamar! atau aku akan melakukan hal lebih bodoh dari sekedar bekerja!"


"Jangan yank, jangan yank! jangan please!" Ardhan memohon. "Melihat kamu bekerja saja rasanya hatiku remuk yank!" Ardhan memejamkan matanya.


Masih punya hati rupanya!


Batin Alea.


"Kalau begitu berikan kunci pintu!" Alea menengadahkan tangannya.


Dengan berat Ardhan menyerahkan kunci pintu kamar pada istrinya. Alea segera keluar dan menghampiri putranya yang masih di jaga oleh Nur.


Kemudian Nur pulang setelah Alea menyelesaikan sholat maghrib nya. Dan menyisakan Alea dan Andra yang tengah bermain.


Sedang Ardhan tengah duduk di depan laptop di ruang tamu. Ia sudah tampak tak lagi asyik dengan ponselnya.


Alea dengan iseng mencoba untuk mengecek sadapan ponsel suaminya. Dan Alea sedikit menyungging senyum tipis. Karena tampaknya Ardhan tidak membalas chat Sofia sejak jam tiga sore tadi. Dan terlihat chat mereka tak begitu banyak hari ini.

__ADS_1


***Maaf Sofia, kami memang mengenal suami ku lebih dulu. Dan suami ku lebih dulu mencintai kamu di banding mencintai ku.


Tapi bagaimana pun sekarang kedudukan ku lebih tinggi dari pada kamu. Itu artinya aku tidak akan membuat celah untuk kamu bisa masuk dan merusak semua impian ku dan putra ku!


Inisial kami semua A dan kau S, jaraknya sangat jauh bukan? Jadi jangan mimpi terllau jauh!


Hahaha, sebenarnya tidak pengaruh sih, tapi biarlah, agar aku ada penyemangat***!


Ucap Alea dalam hati, dengan senyum yang di tahan.


# # # # # #


🍄 Dua minggu kemudian . . .


Alea dan Ardhan masih tidak banyak interaksi. Bahkan sebenarnya Nur mulai menyadari suasana beku di rumah itu. Namun kepintaran Alea membuatnya merasa biasa saja.


Ya, Alea memang cukup pandai menyimpan masalah seorang diri.


Sore ini, Alea pulang kerja dengan membawa sepuluh lembar uang ratusan ribu yang baru saja dia ambil dari mesin ATM.


Ya, dia gajian untuk pertama kalinya.


Setelah menjemput Andra, Alea segera mandi. Dan bersiap akan membawa sang putra untuk makan malam di luar.


Berdua, hanya berdua! itulah rencana Alea.


Selepas maghrib, Alea segera bersiap dengan pakaian santai namun tertutup. Dengan jaket yang menyelimuti tubuhnya, Alea membawa jaket Andra keluar dari kamar.


"Mau kemana, Ma?" tanya Ardhan.


"Jalan - jalan sama Andra." jawab Alea sembari memakaikan jaket Andra.


"Kemana? ini kan malam, Ma?"


"Cuma makan malam!" jawab Alea cuek.


"Aku antar!" ucap Ardhan.


"Nggak perlu, uangku nggak cukup buat satu bulan kalau harus traktir selain Andra."


Deg!


Jantung Ardhan seperti di hantam meteorid yang sampai ke bumi. Ardhan menyadari selama sebulan ini Alea tak mengambil uang sama sekali selain untuk jajan Andra.


"Ma, jangan begitulah! aku sudah berusaha lepas darinya!"


"Aku mau bukti bukan omongan doang, Papaaa" ucap Alea dengan nada santai namun penuh sindiran.


Alea segera berlalu dari hadapan Ardhan dengan menggandeng tangan Andra.

__ADS_1


"Da..da.. Papa!" ucap Andra yang masih sangat polos.


Alea tau suaminya memang mulai jarang menanggapi chat Sofia. Terkadang justru sampai dua hari tidak menanggapi chat Sofia sama sekali.


Tapi Alea tidak mau terlena dan lengah. Bisa saja itu hanya taktik semata.


Tak di pungkiri, meskipun selama sebulan Alea dan Ardhan terjadi perang dingin, tapi Alea tetap selalu berdo'a agar suaminya itu bisa 100 persen lepas dari masa lalu yang membelitnya.


Semua orang memang pasti punya masa lalu, tapi jika masa lalu itu muncul kembali di kemudian hari, sudah bisa di pastikan jika akan menimbulkan masalah dan luka pada salah satu sisi.


***


Alea tampak asyik menyuapi Andra dengan ayam kentucky di salah satu restauran cepat saji K*C.


Tak di sangka ternyata Ardhan mengikuti pergerakan mereka. Ardhan hanya khawatir jika sang istri dan anaknya kenapa - kenapa. Ini sudah malam batinnya.


Dan mata Ardhan yang mengintai Alea menajam, saat mata Alea mengarah pada salah satu kursi di sudut gerai.


Ya, terlihat di kursi pojok itu ada seseorang yang sangat ia kenali dulu. Yang pernah menjadi rivalnya di masa lalu,


"Fahry?" pekik Ardhan.


Fahry tengah duduk dengan seorang perempuan yang menggendong bayi. Mungkin itu anak mereka.


Ardhan kembali melihat ekspresi sang istri saat melihat Fahry. Ardhan di landa kecemasan membaca ekspresi istrinya.


Senang kah?


Sedih kah?


Cemburu kah?


Menyesal kah?


Ya, Fahry terlihat sangat bahagia dengan keluarga kecilnya.


Sedangkan Ardhan semakin di landa kecemasan, dan ingin rasanya segera memeluk sang istri. Untuk menunjukkan pada dunia, jika mereka juga keluarga bahagia.


.


.


🪴🪴🪴


Bagaimana kelanjutan kisah mereka?


Tunggu episode selanjutnya ya kakak 🤩


Happy reading 🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan dukungannya 🥰


__ADS_2