
Jam makan siang karyawan Sentani Group telah tiba. Berbeda dengan para OB dan OG. Mereka masih harus membersihkan sampah yang di tinggalkan para karyawan di tong sampah mereka.
Setelah Alea tengah membantu Toni mendorong troli sampah ke TPS. Setelah itu Toni kembali menarik bak sampah dan mengembalikannya di tempat semula.
Sedangkan Alea berjalan sendirian untuk kembali masuk ke dalam gedung. Baru beberapa langkah, mata Alea teralihkan oleh mobil yang melewati dirinya dan masuk ke area parkir mobil khusus tamu di belakang gedung.
Ngapain lagi nih orang! baru tiga hari lalu datang dan aku berhasil sembunyi. sekarang muncul lagi! pasti dia sudah lihat aku!
Gerutu Alea dalam hati.
Alea mencoba untuk berjalan dengan cepat, dan bahkan setengah berlari. Dia malas kalau sampai ada yang melihat. Dia masih ingin bekerja pikirnya.
"Eiits!" Ardhan berhasil meraih tangan Alea dan membuat perempuan cantik itu berhenti berjalan.
"Mas, lepas!" lirih Alea menarik tangannya paksa.
"Iyaa.. iyaa! tapi jangan kabur!" Ardhan melepas genggaman tangannya di pergelangan tangan Alea.
"Mau apa lagi sih, Mas! nanti di rumah kan bisa!" gerutu Alea dengan mata yang sibuk melihat sekitar.
"Tanda tangani ini dan berikan pada HRD mu, Ayang!" ucap Ardhan tersenyum bangga menyerahkan amplop coklat berukuran besar.
"Apa ini?" Alea meraihnya dan memutar amplop itu.
"Surat pengunduran dirimu, sayaang" jelas Ardhan senang hati. Bibirnya tersenyum penuh kemenangan.
"Apa - apaan sih kamu, Mas!" gerutu Alea dengan wajah penuh kekesalan menatap Ardhan.
"Pergantian nomor ponsel ku sudah di ACC, Ayang! jadi sesuai perjanjian! sekarang juga kamu harus mengundurkan diri dari perusahaan ini."
Alea menatap tak percaya pada suaminya. Secepat itukah? benarkah itu nyata? Kenapa pula suaminya membuat surat pengunduran dirinya.
"Kenapa malah kamu yang buat surat pengunduran diriku?"
"Cepat serahkan itu pada HRD mu, atau aku akan mencium mu di sini?" ancam Ardhan lirih tapi penuh penekanan.
"Alea dan Pak Ardhan memang mencurigakan? apa benar mereka terlibat skandal?" gumam Toni yang mengintip dari balik dinding genset.
Ia hendak kembali ke gedung perusahaan setelah mengembalikan troli sampah, namun tak di sangka ia melihat Ardhan dan Alea yang tampak terlibat cek cok menegangkan.
"Mana dulu buktinya kalau nomor kamu baru?" tanya Alea.
Ardhan mengeluarkan ponselnya, lalu mendial nomor Alea. Ponsel di saku Alea pun bergetar. Alea mengeluarkan ponsel dan sebuah nomor tak di kenal masuk ke ponselnya.
"Itu nomor baruku, Yank! kalau chat aku juga ke nomor itu!" ucap Ardhan mematikan panggilannya.
"Sofia tau nomor ini?" tanya Alea.
"Yank! jangan bikin aku gemes sama kamu di tempat ini, ya!" hardik Ardhan gemas dengan pertanyaan konyol istrinya. "Susah payah aku ganti nomor biar Sofia nggak bisa ganggu aku lagi demi kamu, masa iya dia aku kasih nomor baru! kamu ini gimana sih!" Ardhan menoyor manja dahi istrinya.
"Heheh! siapa tau kamu mau coba - coba lagi!" Alea mengusap - usap dahinya yang di toyor Ardhan.
__ADS_1
"Huuh!" Ardhan menghela nafas gemas.
"Iya.. iyaa! cepat pergi, sebelum ada yang liat!" ucap Alea lirih tapi penuh nada mengusir.
"Berani kamu ngusir tamu perusahaan" ledek Ardhan.
"Heheh! kalau ada yang liat ya aku nggak berani! berhubung cuma ada kita ya kenapa enggak! weekk!" Alea menjulurkan lidahnya pada suaminya.
Ardhan terkekeh gemas melihat istrinya yang terlihat tengah menggoda.
"Berarti nanti malem udah bisa bikin dedek buat Andra dong?" tanya Ardhan menggoda.
"Emmm...." Alea mengetuk - ngetuk dagunya dengan ujung jari telunjuknya. "Liat ntar deh!" jawab Alea. "Sekarang pergi dulu, Mas! takut ada yang liaaat!" usir Alea mendorong lengan suaminya.
"Iyaa! aku juga mau ketemu Pak Fikri!"
"Ya udah, cepet!"
"Cium dulu!"
"Hemm!" Alea menunjuk kepalan tangannya.
"Hahah!" Ardhan justru terkekeh melihat istrinya yang terlihat salah tingkah.
"Buruan, Mas!" ucap Alea.
"Mulai sekarang panggil Papa lagi! bukan Mas!" ucap Ardhan.
"Hahaha! good!" Ardhan membalikkan badan dan meninggalkan Alea bersama sebuah amplop besar di tangannya.
Alea menatap punggung tegap suaminya yang di balut dnegan jas berwarna hitam. Matanya kembali memancarkan rasa sayang dan cinta pada suaminya itu. Kemudian bibirnya mengulum senyuman tipis.
Tangannya terulur ke atas, mengangkat amplop coklat yang di berikan suaminya dengan perasaan suka cita. Setidaknya suaminya memang benar - benar peduli padanya.
"Aku tidak yakin jika mereka tidak saling kenal? selingkuhan? kakak adik? atau apa?" gumam Toni di balik persembunyiannya.
"Atau jangan - jangan mereka suami istri? secara Alea bilang anaknya sekolah di Cambridge School! kalau suaminya hanya seorang montir di AutoGalaxy, aku yakin gajinya tak akan cukup untuk bayar yang lainnya! Meskipun gaji montir di sana setara dua kali lipat gaji OB!"
"Apa lagi jika lihat secara fisik, Alea seperti bukan istri orang biasa. Terlalu cantik jika dia hanya istri seorang montir! bahkan tas yang di pakai Alea juga bukan untuk kalangan seperti kami."
Pikiran Toni di penuhi pertanyaan - pertanyaan yang hanya bisa dia terka - terka saja jawabannya. Dia terdiam untuk sesaat, mencoba menggabung - gabungkan sesuatu tentang kisah dan kehidupan Alea.
"Ah! sudahlah!" Toni memilih untuk tidak ambil pusing akan hubungan dua orang beda jabatan yang jauh itu.
***
Sedangkan Ardhan berjalan masuk lewat pintu utama perusahaan. Yang di sambut oleh resepsionis di luar untuk mengisi buku tamu. Kemudian memasuki lobby dan sontak menatap sinis pada resepsionis yang berada di lobby. Yang tak lain resepsionis yang pernah mengatai Alea di warung unik.
Resepsionis yang di tatap itupun merasa GR, sehingga ia justru melempar senyuman manis ke arah Ardhan, yang justru di balas Ardhan dengan buang muka.
Entahlah apa yang ada di pikiran dua manusia itu. Alea hanya memantau suaminya dari pintu masuk belakang yang hanya boleh di lewati karyawan.
__ADS_1
Bagus! suami ku ternyata cuek dengan perempuan tidak penting seperti wanita itu!
Batin Alea lega.
Kamu tinggal menunggu saatnya tubuhmu kejang, Nona! suatu hari nanti aku akan buat kamu tau jika Ardhan Bagaskara adalah suamiku! Dasar genit!
Desis Alea di dalam hati.
Kemudian Alea membawa amplopnya ke ruang loker, dimana ia biasa istirahat. Membaca sekilas surat resign yang di buat Ardhan untuknya.
"Akhir bulan ini?" gumam Alea melihat tanggal yang tertera.
"Baiklah! di ACC atau tidak, akan aku ajukan!" lanjut Alea meraih bolpoin dari saku bajunya.
Alea menanda tangani surat itu dengan penuh harap. Agar proses resign nya berjalan lancar, sesuai harapannya juga harapan suaminya.
Dengan langkah yakin, Alea membawa amplop itu menuju ruang HRD. Menemui seseorang yang dulu mewawancarai dirinya saat melamar kerja.
"Kamu yakin, Alea?"
"Yakin, Bu!" jawab Alea tegas.
"Baiklah, saya kaji dulu. Besok saya beri jawaban. Paling lambat dua hari lagi, kamu baru saya beri kepastian kapan bisa resign. Karena saya juga harus cari pengganti!"
"Siap, Bu!" jawab Alea seadanya dan terlihat yakin. "Terima kasih!"
"Hemm.."
***
Malam harinya, Ardhan dan Alea kembali seperti sebelum badai menerpa. Mereka dengan kompak menemani Andra bermain dan belajar.
"Terima kasih sudah memaafkan aku, sayang!" bisik Ardhan lirih.
"Hemm!" Alea menyebikkan bibirnya.
***
Malam itu pun di tutup dengan aksi yang sudah sebulan lebih mereka lupakan. Terakhir kali saat ia mencoba memaksa Alea, dan meninggalkan benihnya di sana. Kali ini pun Ardhan melakukan hal yang sama.
Aku harap dia akan tumbuh!
Batin Ardhan mengusap perut istrinya yang kini sudah terlelap di pelukannya.
.
.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1