
Hari ini adalah hari pertunangan Ibram dan Naomi. Alea yang bersahabat dengan mereka tidak mungkin bisa datang, karena Ibram yang sedang libur.
Sepulang kerja, Alea pergi nonton bersama Rafa, teman satu shift nya pagi ini. Mereka pergi ke mall yang tak jauh dari tempat kerja mereka dengan menggunakan motor masing - masing.
"Sebentar lagi di mulai tuh, ayo cepet!" ucap Rafa pada Alea yang berusaha mengunyah camilannya dengan cepat.
"Bentar!" ucap Alea.
Alea membuang bekas camilannya dan kemudian langsung mengikuti langkah Rafa masuk ke gedung bioskop. Mereka duduk bersebelahan, menonton film yang sedang hits saat ini.
"Yaa ampun manisnya!" ucap Alea mengakhiri sebuah film remaja yang berakhir romantis.
"Dasar jomblo!" seru Rafa.
"Sama!" sahut Alea.
"Hehe!" Rafa terkekeh.
"Makan yuk! laper!" ucap Alea.
"Ayo!" ajak Rafa.
Mereka keluar dari gedung bioskop saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Mereka memutuskan untuk makan malam di salah satu stand makanan di mall itu.
Jam delapan malam, mereka keluar dari mall dan kembali melajukan motor mereka masing - masing, menuju kost an masing - masing.
Di perempatan jalan, Alea berbelok dan langsung di buat panik dengan keberadaan banyaknya anak bengkel yang telah berkumpul di warkop Mang Ale. Sungguh tak biasanya mereka berkumpul sebanyak itu.
Saat Alea lewat, hanya Dimas, Eza dan Ardhan yang tau. Saat Dimas bilang ******Alea******!, barulah semua menoleh ke arah Alea. Sontak Alea di buat panik dengan tatapan mereka yang berjumlah 10 orang lebih.
Akhirnya Alea hanya menyapa dengan menunduk dan senyuman tipis, kemudian berlalu menambah kecepatan motornya agar cepat menjauh dari tempat itu.
"Dari mana dia jam segini baru pulang?" gumam Leo.
"Nonton sama Rafa tuh!" sahut Dimas.
"Tau dari mana kamu?" tanya Zaka.
"Historinya Rafa!" jawab Dimas.
"Oh!" Leo mengangguk.
"Kok nggak nonton sama kamu, Ry?" tanya Zaka.
Fahry hanya menyebikkan bibirnya malas mendengar pertanyaan Zaka.
Pantas saja di chat tidak di balas! terakhir di lihat pun tadi sore! jalan - jalan rupanya!
Ucap Fahry dalam hati dengan perasaan dongkol.
# # # # # #
Satu minggu kemudian . . .
Alea tengah asyik duduk di salah satu cafe yang tak jauh dari tempatnya bekerja saat jam menunjukkan pukul tujuh malam. Dia duduk sendiri sambil memainkan ponselnya. Dia baru saja menyelesaikan nasi goreng yang dia pesan.
"Ngapain di sini?"
"Bang Fahry!" pekik Alea melihat Fahry yang tiba - tiba duduk di depannya.
"Ngapain di sini sendirian?" ulang Fahry.
"Gak ngapa - ngapain, Bang! bosen di kost!" jawab Alea sembari meminum jus alpukat yang dia pesan.
"Nggak takut duduk di Cafe sendirian seperti ini?" tanya Fahry menyelidik.
"Kan rame, Bang! takut apa?" tanya Alea.
"Kamu nggak sadar, jadi pusat perhatian cowok - cowok di sana?" tanya Fahry menunjuk anak - anak muda yang tengah berkumpul untuk menikmati kopi dan sambungan wifi gratis.
"Aku kan nggak ada niat caper sama mereka, Bang!" ucap Alea.
"Sama saja!" ketus Fahry.
"Bang Fahry kenapa aneh begitu sih?" tanya Alea serius. "Bang Fahry sadar nggak? Bang Fahry terlalu mengekang Alea! padahal Bang Fahry bukan siapa - siapa Alea. Kakak bukan! saudara bukan! apalagi pacar!" protes Alea.
Fahry menatap dalam mata Alea yang menatapnya balik, seolah menantang dan menunggu jawaban.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tau kau tidak menyukai ku!" ucap Fahry, "kau selalu membantah pada ku, karena ada orang lain yang kau suka!" lanjut Fahry tegas.
"Maksud Bang Fahry?" tanya Alea yang tidak mengerti maksud Fahry.
"Kau menyukai Ardhan kan?" hardik Fahry langsung pada intinya.
"Ardhan?" Alea menautkan alisnya, karena merasa asing dengan nama Ardhan. "Siapa Ardhan?' tanya Alea yang merasa tidak pernah mendengar nama Ardhan.
"Ck!" Fahry berdecih. "Jangan pura - pira tidak mengenal siapa Ardhan!"
"Bang!" panggil Alea tegas, "kenapa sih Bang Fahry selalu tidak percaya dengan Alea?" tanya Alea. "Alea tidak tau siapa Ardhan! bahkan baru kali ini Alea mendengar nama Ardhan!"
Fahry mengeluarkan ponselnya, menyalakan layar ponselnya. Mengusap layar ponsel itu beberapa kali, lalu menghadapkan pada Alea yang kebingungan.
"Kau menyukai dia kan!" ucap Fahry menunjukkan foto profil Ardhan.
Deg!
Tiba - tiba jantung Alea berdebar hebat melihat siapa yang ada di dalam foto itu.
Jadi si abang montir itu namanya Ardhan!
Ucap Alea dalam hati.
"Kenapa?" tanya Fahry sedikit geram saat melihat ekspresi Alea. Seolah dugaannya memang benar adanya, jika Alea menyukai Ardhan.
Alea menoleh Fahry sekilas, lalu kembali melihat foto profil Ardhan yang di tunjukkan Fahry melalui ponselnya.
Dari mana Bang Fahry tau tentang itu! Padahal tak sekalipun aku bercerita pada siapapun!
Tanya Alea dalam hati.
Fahry menarik nafas dalam, nafas yang bercampur rasa kesal. Karena semakin jelas terlihat Alea begitu mengagumi orang yang ada di dalam foto itu.
Dengan perasaan dongkol, Fahry mengambil dan mematikan layar ponselnya. Nafasnya mendadak menggebu, semakin menunjukkan rasa kecewanya pada Alea.
"Benar kan?" hardik Fahry dengan nada dinginnya.
"Apa yang membuat Bang Fahry bisa membuat kesimpulan seperti itu?" tanya Alea.
"Alea! banyak anak montir yang berusaha mendekati mu bukan?" tanya Fahry, "dan aku nekat maju lebih cepat dan berusaha membuat mereka mundur perlahan! dan aku berhasil!" ucap Fahry. "Tapi aku juga mengikuti arah gerak mata dan ekspresi mu! kau selalu berbeda saat berhadapan dengan Ardhan!" jelas Fahry.
"Tapi tatapan matamu selalu berbeda saat berhadapan dengan Ardhan!" ucap Fahry geram. "Jangan kamu pikir aku tidak pernah memperhatikan tingkah mu dengan laki - laki lain, Alea!" ucap Fahry tegas.
"Bang Fah..."
"Stop!" Fahry memotong kalimat Alea. "Namanya Ardhan Bagaskara, dia termasuk senior di bengkel! dia masuk 3 tahun lebih dulu dari ku! orang tuanya sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Dia punya seorang adik laki - laki yang saat ini di kampung bersama neneknya. Dan dia.." Fahry menjeda kalimatnya, menarik nafas dalam. Berusaha sebisa mungkin meredam rasa kecewa dan marahnya pada Alea. "Dia berasal dari kota yang sama dengan mu!"
"Apa!" pekik Alea lirih. Shock mendapati kenyataan montir yang mencuri perhatiannya sejak lama ternyata berasal dari kota yang sama dengannya.
"Kenapa?" tanya Fahry sinis. "Kau senang?" tanya Fahry lagi, bahkan sebelum Alea menjawab.
"Bang Fahry, apa maksud Bang Fahry mengatakan semua itu pada Alea?" tanya Alea.
"Jangan munafik! kau senang kan dengan informasi yang aku berikan!" hardik Fahry geram.
"Bang ..."
"Stop Alea! berhenti berusaha menjelaskan padaku!" ucap Fahry memotong kalimat Alea. "Aku tau kau tidak menyukai ku! mulai hari ini aku mundur mendekati mu! dan tentang perasaan mu pada Ardhan, aku tidak akan pernah ikut campur!" pungkas Fahry sembari menarik nafas berat dan membuangnya dengan berat pula. "Aku tidak akan bilang apapun pada Ardhan maupun teman yang lainnya!"
"Bang Fahry, bukan begitu maksud Alea! Alea bukan tidak menyukai Bang Fahry. Alea hanya ..."
"Stop!" pungkas Fahry. "Semoga kalian berjodoh!" ucap Fahry sembari berdiri dari duduknya dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Alea.
"Bang Fahry!" panggil Alea ikut berdiri.
Tapi Fahry mengangkat tangan kanannya, sebagai tanda jangan bicara.
"Semoga kau bahagia, Alea!" ucap Fahry sembari berlalu dari tempat itu.
"Bang Fahry!" panggil Alea.
Tapi Fahry tidak lagi memperdulikan panggilan Alea. Fahry segera menaiki motornya, dan meninggalkan Cafe itu.
Sementara mata Alea terus menatap kepergian Fahry dari Cafe itu sampai Fahry tak terlihat lagi.
Alea masih berdiri menghadap dinding kaca dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
Sungguh dia tidak menyangka, jika selama ini Fahry mengamatinya sedetail itu.
Maafkan aku Bang Fahry!
Ucap Alea dalam hati.
Di sisi lain Alea merasa lega, karena yang mencuri perhatiannya bukan bukan montir yang bernama Randi, sang montir beristri.
Bang Ardhan!
Sebut Alea dalam hati.
Jantung Alea berdebar menyebut nama itu. Nama yang baru pertama kali dia dengar.
Alea kembali duduk di kursinya, kemudian mencari di akun media sosial nya. Mencari akun anak montir yang berteman dengannya. Kemudian mencari nama Ardhan Bagaskara.
Dan Alea berhasil menemukan satu akun dengan nama Ardhan17. Dengan cepat Alea membuka akun itu.
Untung tidak di kunci!
Ucap Alea dalam hati, saat langsung bisa melihat kolek postingan Ardhan.
Alea melihat satu persatu postingan foto Ardhan. Beberapa foto benar - benar menarik perhatian Alea. Foto saat Ardhan kecil bersama almarhum kedua orang tuanya pun tak luput dari pantauan Alea.
Dia benar - benar sudah tidak punya orang tua!
Batin Alea, saat melihat postingan itu dengan caption, I love you to jannah!.
Mendadak tubuh Alea merinding membaca caption itu. Terlihat jelas Ardhan begitu menyayangi orang tuanya, saat dimana terkadang dia mengeluhkan sikap orang tuanya yang tidak adil padanya.
Maafkan aku ayah, ibu, terkadang aku mengeluhkan sikap kalian yang selalu berbeda kepadaku. Maafkan aku yang terkadang memendam sakit hati, saat ayah dan ibu memperhatikan kakak - kakak, sementara aku harus berjuang sendiri untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.
Ucap Alea dalam hati.
Ternyata bagi mereka yang sudah merasakan kehilangan orang tua, sangat memilukan tidak memiliki orang tua! Apalagi saat masih kecil seperti Bang Ardhan dan adiknya.
Lanjut Alea merasa miris. Membayangkan kehidupan Ardhan dan adiknya tanpa orang tua di saat mereka membutuhkan support orang tua.
Alea kembali stalking akun milik Ardhan. Dan Alea kembali di buat tercengang melihat postingan tepatnya tiga tahun lalu.
Ternyata dia seorang sarjana teknik!
Ucap Alea dalam hati, saat melihat postingan Ardhan yang sedang wisuda dengan di dampingi seorang nenek dan anak yang berusia sekitar 13 tahun.
Apa itu nenek dan adiknya?
Tanya Alea dalam hati.
Aku tidak menyangka dia tetap memikirkan pendidikan meskipun tanpa orang tua yang membantu membiayai! Aku saja tidak ada niat untuk kuliah.
Ucap Alea dalam hati.
Postingan terakhir yang dia lihat adalah sebuah foto dimana foto Ardhan yang berusia sekitar 13 tahun dengan seorang gadis dan seorang laki - laki yang seumuran. Entah siapa mereka itu, saudara, sepupu, teman atau siapanya Ardhan.
Sangat lucu!
Ucap Alea dalam hati, menyunggingkan senyuman tipis.
Alea mengakhiri kepo nya di akun sosial media itu. Kemudian memutuskan untuk pulang ke kost an nya.
.
.
.
.
.
.
•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√
...Ternyata si abang montir itu Ardhan, bukan Randi. Hehehe...
...Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya Kakak 🥰🥰...
__ADS_1
...Happy reading 🌹🌹🌹...