
Romi
Eh! muncul lagi lo Sof, begitu Ardhan nongol!
Lia
Dari kemaren kan dia nungguin Ardhan nongol π
Indah
Mimpinya kesampaian ya Sof! π€
Diki
Wah, ketemu lagi, tapi dengan status yang berbeda ya? π€£
Zio
Namanya juga bukan jodoh, bang Diki π€
Romi
Iya, ya! kan jodoh di tangan Tuhan. Bukan di tangan mereka π
Diki
Mau nggak, kalau jodoh aku pindah di tanganku?
+62 857-1723-xxxx ~Sofia
Kalau sekarang jodoh di tangan mu, kamu mau nggak jodohin aku sama Ardhan?
Romi
Wkwkwk! Sofia parah lo! Ardhan sudah beristri.
Lia
Lagian kau kan sudah punya suami Sof.
Diki
Kalau jodoh di tangan ku, aku jodohin kamu sama Romi, Sof! dia ngefans ama lo dari dulu!
Indah
Seriusan Rom?
+62 857-1723-xxxx ~Sofia
Dari dulu Ardhan selalu lebih baik Dik, dari pada siapapun! Itu di mataku ya!
Zio
Cieee... jauh di lubuk hati masih belum move on ya?
+62 857-1723-xxxx ~Sofia
Misunderstanding.. π
Indah
BTW Ardhan kok menghilang π€
Lia
Romi juga mendadak hilang, begitu namanya di sebut Diki!
Diki
Hai kalian! muncul lagi dong! atau sudah mulai private chat?
Sedari tadi mata dan tangan Ardhan membeku. Dia memang tidak membalas, tapi dia terus membaca setiap nama - nama yang muncul di di percakapan terbawah.
Desiran - desiran yang tak biasa menyisir hatinya begitu saja. Dia bahkan seolah lupa tengah berada dimana.
Dunia yang luas, menyempit begitu saja. Udara yang bebas, menjadi pengap dalam sekejap.
Ting!
Sebuah pesan pribadi masuk dari nomor yang belum dia simpan. Ardhan meninggalkan percakapan grup. Dan melihat nomor asing yang mengirimnya pesan.
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Aku tau kamu baca chat grup! kenapa tidak balas?
__ADS_1
Ardhan hanya membaca pesan itu dari layar utama chat. Dia belum yakin untuk membuka pesan itu. Meskipun dia tau siapa yang mengirim chat pribadi itu.
Ibu jarinya kembali membeku. Seolah tidak siap jika harus berkomunikasi dalam kondisi seperti ini.
Dengan memantapkan hatinya, secara sedikit demi sedikit ibu jari itu bergerak untuk membuka chat pribadi yang dia terima.
Ardhan kembali membeku menatap layar ponsel yang berisi pesan chat dari nomor yang belum dia simpan itu.
^^^Ardhan Bagaskara π¨^^^
^^^Maaf, aku hanya tidak tau harus bicara apa.^^^
Akhirnya pesan balasan itu terkirim juga, pada perempuan bernama Sofia.
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Ardhan? marah kah kau padaku?
Hati kecil Ardhan kembali terombang - ambing saat mendapat balasan. Entah, dia harus senang atau bagaimana mendapat pesan dari orang yang dulu pernah dia cari. Yang jelas dia tertarik untuk membalas chat itu.
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Marah? lebih tepatnya saat itu bukan marah. Tapi kecewa.^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Ardhan, percayalah! Saat itu aku tidak berniat meninggalkan mu. Tapi ayah marah begitu tau aku memiliki kekasih, dan nilai sekolah ku turun. Aku juga sedih dan marah, Dhan. Ketika ayah memutuskan untuk kami semua pindah keluar pulau.
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Lupakan saja!^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Dhan? apa namaku di hatimu sudah benarΒ² hilang? kalau kamu tau? sampai saat ini aku masih berharap bisa bertemu dengan mu.
^^^π¨Ardhan Bagaskara^^^
^^^Kita punya kehidupan masingΒ². Tidak perlu membahas apa yang sudah berlalu.^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Dhan?
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Kamu tinggal di mana?
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Di Ibukota, bersama anak dan istriku.^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Dhan? bisakah saat kita bicara jangan menyebut anak dan istri kita?
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Kenapa?^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Tidak apa - apa. Aku hanya rindu pada kita yang dulu. Hampir dua puluh tahun yang lalu.
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Kenapa rindu? kamu dulu tidak pernah membalas surat ku!^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Surat?
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Ya!^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Surat apa, Dhan? tidak pernah ada surat datang!
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Aku dulu sering mengirim surat pada alamat yang kau catatkan di buku ku!^^^
__ADS_1
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Serius?
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Iya.^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Tapi aku tidak pernah menerima satu surat pun dari mu, Dhan.
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Beneran?^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Iya, Dhan! aku tidak berbohong. Memangnya surat apa yang kamu kirimkan?
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Surat rindu! aku menulis surat rindu. Tapi sayang rinduku saat itu sia - sia.^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Dhan, aku sungguh tidak pernah menerima surat apapun dari siapapun.
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Ya sudah lupakan.^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Dhan? aku rindu! rindu ketua kelas yang selalu rapi, dengan baju yang selalu di setrika dan di masukkan rapi. Dan rambut yang selalu di potong rapi dan klimis. Sungguh berbeda dari teman - teman yang lain. Dhan? aku ingin melihat mu yang sekarang.
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Aku juga pernah merindukan gadis kecil yang cantik. Berwajah oriental, tidak banyak bicara, rambut keriting gantung yang selalu di ikat tinggi. Seragam putih yang bagian belakangnya selalu di beri dua garis horizontal. Sepatu hitam yang selalu baru setiap awal tahun ajaran baru.^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Ardhan? π’
^^^π¨ Ardhan Bagaskara^^^
^^^Aku pernah memberinya sebuah hadiah, yang ku beli dari hasil menabung. Sebuah kaset tape Nike Ardila, yang konon sangat di idolakan nya. Saat itu bersama teman ku, kami mencari penjual kaset itu. Mengingat cukup sulit di dapatkan. Karena sang empunya lagu sudah meninggal lima tahun sebelumnya.^^^
^^^Tapi aku tak patah semangat, akhirnya aku menemukan kaset itu di pasar bekas. Dan di hari ulang tahunnya, dengan membawa hadiah itu, aku menyatakan sebuah perasaan.^^^
^^^Perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dan aku di terima. Namun sayang, empat bulan kemudian dia menghilang, entah kemana.^^^
^^^Aku mencari, namun nihil. Aku menunggu sampai aku menginjak bangku SMK, namun tetap nihil.^^^
^^^Akhirnya aku menyerah. Melupakan kisah yang belum usai.^^^
βοΈ +62 857-1723-xxxx
Maafkan aku Ardhan aku bersalahπ’π’ Tapi aku mohon, percayalah! aku tidak berniat meninggalkan mu kala itu.
Sekarang aku mendapat karma itu, Dhan. Aku di tinggalkan suami ku. Dia pergi karena ada perempuan lain di hatinya. Meninggalkan aku dan putri kami π.
Sekarang aku harus berjuang banting tulang untuk kami berdua π. Mengais rejeki di sebuah bank simpan pinjam milik swasta.
Ardhan maafkan aku π’.
Hati Ardhan kembali berkecamuk. Awalnya dia ingin mengungkapkan kekesalannya pada masa itu. Namun membaca balasan Sofia, Ardhan merasa kasihan.
Entah, apa yang di rasakan Ardhan saat ini. Dia bahkan tidak lepas dari layar private chat dengan nomor yang belum juga dia simpan itu.
Ardhan menggelengkan kepalanya pelan. Menarik nafas dalam, dan membuangnya panjang. Seolah ini masalah yang cukup berat dipikirkannya.
Ardhan menggoyang sedikit kursi kebesarannya. Dengan tangan kiri yang memijat pelipisnya.
.
.
πͺ΄πͺ΄πͺ΄
...Othor mengsedih! π’...
...Tapi Othor akan tetap ucapkan,...
...Happy reading πΉπΉπΉ...
__ADS_1