
Kaki Alea tercekat, dia hanya bisa diam di tempat. Bahkan ia seolah takut untuk menoleh dimana suara itu berasal.
Pelan - pelan kepala Alea menoleh ke arah sofa, dan benar saja suaminya tengah berdiri tegak dan gagah di sana. Dengan satu tangannya yang di masukkan ke dalam saku celana.
Tatapan lembut dan penuh cinta Ardhan tertuju pada mata sayunya. Sontak semua menoleh ke arah Alea. Mata Ale beredar di seluruh lobby. Menyadari semua mata tertuju pada dirinya. Yang di kenal sebagai OG dengan tampang HRD.
Alea tersenyum kikuk, saat pandangan matanya menangkap sorot mata Vania yang berdiri tertegun di samping kirinya.
Alea kembali menatap suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya. Menyadari istrinya seolah terkunci dari posisinya berdiri sekarang, Ardhan mengayunkan kakinya untuk mendekati istrinya.
Mata Alea pun tak lepas dari wajah suaminya yang tersenyum manis padanya. Begitu juga dengan Vania yang menatap mereka berdua bergantian.
"Ternyata benar kamu istrinya Pak Ardhan" gumam Vania.
"E..." lidah Alea mendadak ikut tercekat. Tak sanggup menjawab ucapan Vania. "Kamu pulang duluan ya, Van!" ucap Alea kemudian saat Ardhan sampai di depannya.
Pelan - pelan Ardhan meraih tangan Alea yang tampak kaku. Kemudian menariknya pelan menuju sofa. Untuk ia perkenalkan dengan bangga pada Fikri yang masih berdiri tertegun menatap Ardhan dan Alea secara bergantian.
Alea mengikuti langkah Ardhan dengan ragu. Namun dalam hatinya, sudah basah sekalian saja menyelam. Kejutan ini sungguh luar biasa.
"Ini istri saya! Aleandra Zavanya!" ucap Ardhan dengan bangga hati.
"A..A.. Alea?" ucap Fikri tergagap.
"Iya!" jawab Ardhan tegas.
Sementara Alea tampak nyengir kuda dengan menunjukkan semua barisan gigi putihnya.
Fikri mengulurkan tangannya pada Alea, dan di sambut oleh Alea dengan sisa - sisa keraguan yang masih menyelimuti.
"Kamu bilang suami kamu montir!" tanya Fikri masih tertegun.
"Hehehe! itu dulu, Pak! saat awal - awal kami berkenalan." jawab Alea dengan menggaruk belakang telinga yang tidak gatal.
Fikri tampak membuka mulutnya sedikit. Seolah semua ini terlihat hanya drama saja.
Ardhan tersenyum melihat kegugupan istrinya. Ardhan menarik istrinya untuk duduk di sofa bersamanya. Dengan sengaja dia meletakkan tangannya di belakang punggung Alea. Seolah menunjukkan Alea adlah bagian dari dirinya.
Fikri pun ikut duduk di tempatnya semula. Dengan rasa penasaran yang tinggi.
__ADS_1
Mata Alea menyusuri setiap sisi lobby, dan telinganya dapat mendengar bisikan - bisikan kecil dari beberapa penjuru mulut yang ada di sana. Begitu juga orang - orang yang baru keluar dari dalam, termasuk salah satunya adalah Toni. Mereka tampak menatap heran pada Alea yang duduk di samping Ardhan dengan posisi seperti itu.
Sampai mata Alea menangkap keberadaan Almer yang ternyata juga berdiri dari duduknya dengan mata yang membulat beserta ekspresi bodoh yang di tunjukkannya.
Melihat ekspresi Almer yang menggelitik perut Alea. Alea mengulum senyum di bibirnya. Rencana gila seolah muncul dari benak kepalanya.
Kebetulan sekali wanita ular itu ada di sini. Kejutan mas Ardhan kali ini benar - benar luar baisa.
Batin Alea terfokus pada Almer, meninggalkan Ardhan dan Fikri yang tampak asyik mengobrol membahas dirinya.
Alea mengangkat sebelah alisnya dan menyungging senyuman sinis. Dengan sengaja ia menyandarkan punggungnya di sofa. Membuat tangan Ardhan yang di belakang segera merengkuh pinggangnya.
Dengan sengaja pula ia meletakkan tangan kanannya di paha kiri Ardhan. Jika bukan suami istri tentu hal itu sangat tidak sopan bukan.
Bagaimana Nona psikopat? apa sekarang kau mengakui jika aku ini istri manager!
Ucap Alea dalam hati sambil melirik Almer yang masih terlihat betapa bodoh dirinya.
Terlihat Gita menarik tangan Almer, dan memintanya untuk duduk kembali di kursi kerjanya. Gita mencoba membuat Almer tersadar dari lamunan nya.
"Sudahlah, aku kan sudah bilang, siapkan dirimu!" ucap Gita yang dapat di dengar oleh Alea.
Gita menghela nafasnya panjang. "Aku sempat mendengarnya berbicara sendiri setelah kau keluar dari toilet kemarin pagi!" jawab Gita. "Lalu untuk memastikan, sore harinya aku ikuti langkah kaki Alea ke halte bus. Dan benar, mobil Pak Ardhan berhenti untuk menjemputnya!" Jelas Almer dengan nada bicara yang cukup santai.
Almer membuka sedikit mulutnya, tanpa mengeluarkan suara. Seolah tak percaya dengan penjelasan teman satu profesinya itu.
"Sudahlah, lupakan Pak Ardhan! sekarang beliau malah tengah menunjukkan pada dunia jika ia memiliki istri cantik yang tidak manja!" ucap Gita menenangkan Almer yang seperti ingin pingsan di tempat.
Gita menyodorkan botol minuman yang di bawa oleh Almer. Dan meminta Almer untuk segera meneguknya. Agar rasa shock itu ikut luruh dari dalam dirinya.
Seperti orang kesetanan, Almer meneguknya dengan sangat banyak dan menelannya dengan sangat cepat.
"Jangan berlebihan!" ucap Gita meraih botol Tuppy yang selalu di bawa Almer ke kantor.
Alea tersenyum penuh kemenangan saat mendengar penjelasan Gita. Rasanya ia ingin menjulurkan lidah tepat di depan wajah Almer. Agar wajah itu merasa terhina dan malu.
Alea kembali mengedarkan pandangan untuk mencari Vania. Tampaknya teman satu tim nya itu sudah berlalu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Vania dan Toni mengenai dirinya.
Pembohong? Drama Queen? atau apalah. Alea tidak dapat menyimpulkan sendiri.
__ADS_1
Sampai akhirnya tatapan Alea dan Almer bertemu. Alea memamerkan senyum kemenangannya. Bahkan dengan sengaja menyandarkan kepalanya di pundak Ardhan yang di tanggapi dengan kecupan di puncak kepalanya.
Alea semakin mengangkat tinggi alisnya, dan membuat Almer merasa jatuh dan malu.
Ardhan tau jika istrinya tengah memanas - manasi Almer, musuh istrinya selama do Sentani Group. Sehingga ia akan membuat situasi semakin intim.
"Jika saja aku tau kamu istrinya Pak Ardhan Al, sudah pasti kamu tidak aku jadikan sebagai OG!" ucap Fikri membuat Ale mengalihkan pandangannya dari Almer.
Alea tersenyum kikuk. "Saya hanya butuh pekerjaan yang bisa menghasilkan uang, Pak! posisi apapun itu!"
"Jika di lihat dari dirimu, aku sudah mengira rasanya tidak mungkin istri montir secantik kamu, Alea. Apalagi barang - barang yang kamu pakai itu." Fikri menunjuk tas, jam tangan juga jaket yang di pakai Alea. "Saya tau itu belinya di mana," ucap Fikri dengan nada normal yang di tanggapi senyuman manis oleh Alea.
Tentu saja ucapan Fikri itu terdengar oleh Almer, Gita dan beberapa orang yang melintas.
Almer terlihat mengepalkan tangannya. Entah merasa malu atau kalah, yang jelas Alea puas melihat Almer seperti itu. Kemenangan berada di genggamannya saat ini. Itu yang di pikiran Alea.
"Baiklah, Pak Fikri. Sepertinya kami harus segera pulang!" ucap Ardhan berdiri dan di ikuti oleh Alea. "Anak kami pasti sudah menunggu di rumah. Begitu juga anak kami yang masih di sini, mungkin dia sudah lelah, seharian ikut Mamanya bekerja!"
"Kamu hamil, Alea?" tanya Fikri yang ikut berdiri.
"Eh, iya, Pak!" jawab Alea sopan.
"Wah, selamat ya! kalian memang pasangan serasi!" ucap Fikri.
"Terim kasih, Pak Fikri!" ucap Ardhan mengangguk dan merasa bangga memiliki istrinya.
Panas! semakin panas saja telinga Almer, ketika kembali mendapati kenyataan jika Alea memang benar hamil anak seorang manager. Lebih tepatnya manager incarannya sejak lama.
.
.
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹
Spesial dua episode untuk hari ini 😘
Semoga tidak bosan bacanya 🤩
__ADS_1