
Tepat jam sembilan pagi, semua tim meeting Auto Galaxy Putra berkumpul di ruang meeting yang ada di lantai sembilan.
Ardhan duduk bersama dengan jajaran manager yang lain. Sedang Emanuel dan asistennya duduk di kursi utama sebagai pemimpin perusahaan. Para sekretaris pun tak luput dari kegiatan meeting kali ini.
"Baiklah, topik utama meeting kali ini adalah untuk menyambut tim baru kita. Yang mulai detik ini akan bergabung bersama kita. Nama lengkapnya Ardhan Bagaskara. Kita bisa memanggilnya Pak Ardhan!" ucap wakil CEO yang membuka acara meeting pagi itu.
Prok prok prok!
Ardhan berdiri dengan senyum dan sedikit anggukan di kepalanya. Suara tepuk tangan dan di iringi senyuman terbit di dalam ruang meeting berukuran 6 x 8 meter itu.
"Selamat bergabung bersama kami!" ucap Emanuel.
"Terima kasih, Pak!" ucap Ardhan seraya kembali duduk.
Acara meeting itu dilanjutkan dengan pengenalan satu persatu tim, kemudian perbincangan mengenai bisnis dan inovasi - inovasi yang akan mereka kembangkan.
Dan hari pertama ini Ardhan baru mendalami tugas dan rancangan yang bisa dia lakukan kedepannya.
Sebagai seorang manager pemasaran, tentu harus giat mengenalkan produknya, dan sebisa mungkin menguasai pasaran dunia.
Jam makan siang sudah berdenting di perut masing - masing anggota meeting. Mereka keluar dari ruang meeting dengan senyum mengembang. Bersiap mengisi perut dan kembali mengejar target.
Kerja! kerja! kerja! dan sukses!
Itulah misi setiap pekerja di dunia ini!
Kerja tidak sukses serasa dikerjain!
Sukses tanpa kerja serasa motivasi konyol!
Dengan petunjuk yang di berikan Weni, kini Ardhan tengah beristirahat di kantin yang ada di belakang gedung.
Ada banyak tiga level di kantin itu. Level di tentukan berdasarkan blok tempat makan. Merah kelas bawah, Kuning menengah, dan Hijau kelas atas.
Setiap blok menawarkan harga yang berbeda. Karena kenyamanan meja dan ruang yang membuat harga makanan berbeda.
Jadi sebelum masuk blok, lebih baik periksa kantong ya? biar aman! 😅
Ardhan masuk ke blok kuning. Dimana menurutnya harga di blok kuning masih bisa di jangkaunya, sebagai mantan manager cabang.
Ardhan duduk, dan langsung di hampiri oleh seorang waiters. Setelah menentukan pesanan Ardhan mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada sang istri.
"Salam kenal, Pak Ardhan!" sapa seseorang yang tiba - tiba sudah berdiri di sampingnya.
"Oh, selamat siang, Pak!" ucap Ardhan sopan dan tersenyum ramah.
"Boleh saya bergabung?"
"Boleh, silahkan!" jawab Ardhan cepat menunjuk kursi di depannya.
__ADS_1
"Terima kasih!" ucapnya
"Sama - sama, Pak!"
"Pak Ardhan ingat nama saya?" tanya laki berusia 31 tahun itu.
"Em... Pak..." Ardhan mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat nama laki - laki jangkung di depannya itu. "Oh! saya ingat! Pak Leon! Kepala Divisi Keuangan!" jawab Ardhan tersenyum puas karena berhasil mengingat pria berwajah ke barat - baratan itu.
"Ya! ternyata ingatan Pak Ardhan memang tajam ya?" puji Leon.
Ardhan hanya membalas dengan senyuman ramahnya.
"Emm.. bagaimana jika di luar kantor kita panggil nama saja, biar akrab! lagi pula usia kita hanya beda beberapa bulan." ucap Leon.
"Emm.. boleh juga!" Ardhan mengangguk.
"Leon!" ucap Leon menjulurkan tangannya.
"Ardhan!" ucap Ardhan menyambut tangan Leon.
Mereka melanjutkan perkenalan itu dengan obrolan santai, khas laki - laki seusia mereka. Apalagi mereka sudah sama - sama memiliki istri. Apalagi yang di bahas laki - laki selain hal - hal aneh dan menggelitik.
Di sisi lain, tepatnya di blok merah. Dua pasang mata mengamati dua pria yang sama - sama rupawan itu.
"Benar yang kami bilang! Manager baru itu sangat tampan!" ucap Angie pada Disty di sampingnya.
Mereka kompak duduk menghadap blok kuning yang hanya berbatasan dinding kaka dengan ornamen bunga - bunga di setiap sisinya. Sehingga tak membuat mereka terlihat jelas.
"Sangat!" jawab Angie. "Sudah punya istri belum?"
"Nah itu! barusan aku ketemu Bu Weni di toilet, katanya sudah menikah dan memiliki satu anak balita."
"Yaaahh... belum apa - apa sudah di patahkan saja hati ini!" Angie membuat wajahnya berekspresi menangis.
"Kita memang tidak ditakdirkan memiliki suami manager!" sahut Disty. "Dulu saat Pak Leon awal - awal masuk sini singel, eh ujuk - ujuk gelar resepsi!"
"Iya, sekarang ada manager yang indo banget, eh, sudah beristri!"
"Nggak usah di liatin deh kalo gitu! percuma naksir sama suami orang! kalau bukan di sebut pelakor ya per*x!"
"Iya ya! padahal sempet terbesit tadi buat coba curi - curi pandang!" ucap Angie.
"Janganlah! kasian istrinya yang sudah menemani dari nol!"
"He'em! kayak Bu Weni tuh, jadi sekretaris sejak delapan tahun yang lalu, tapi sekalipun menggoda manager!"
"Hehe, iya juga ya! padahal banyak kesempatan!"
"Nah!"
__ADS_1
Dua gadis berbeda usia dengan profesi yang sama itu tampak asyik membicarakan dua pria tampan yang sedang sibuk dengan makan siang mereka.
# # # # # #
"Wen, apa aku ada jadwal khusus untuk besok?" tanya Ardhan pada suatu hari.
"Meeting bersama Pak Fikri manager pemasaran Sentani Group, jam sembilan pagi Pak!" jawab Weni.
"Di sini atau di sana?"
"Di Sentani Group, Pak!" jawab Weni.
"Baiklah, kembalilah bekerja!"
"Siap, Pak!" Weni mengangguk lalu keluar dari ruang manager dengan sopan.
Hari ini tepat hari ke 30 Ardhan menjadi manager pemasaran di kantor pusat. Dia tengah duduk bersantai di singgasananya. Dan hari ini juga gaji pertamanya turun.
Dan dia merasa puas, saat ponselnya berdenting. Pertanda sebuah pesan masuk. Dimana pesan itu merupakan informasi gaji yang sudah masuk ke rekening Ardhan.
Ardhan tersenyum puas mengusap layar ponselnya yang memperlihatkan notifikasi gaji yang mencapai hampir 50 juta itu.
Setara dengan gajinya selama empat bulan sebagai manager AutoGalaxy.
"Terima kasih Ya Allah! terima kasih anak dan istriku yang selalu mendukungku!"
# # # # # #
🍄 Tiga bulan kemudian . . .
Kehidupan Ardhan dan Alea semakin jauh lebih baik dari segi ekonomi. Ardha pun semakin bahagia dan bangga bisa memberikan uang belanja berlipat - lipat untuk istrinya.
Alea pun kini semakin senang, karena bisa melakukan perawatan layaknya orang berduit. Sehingga kini ia lebih cantik dan segar untuk ukuran hot mommy.
Tapi satu yang tidak berubah dari mereka berdua, yakni sifat rendah hati. Sifat rendah hati mereka tetap pada tempatnya. Mereka tetap bergaul dengan para tetangga bahkan teman - teman di AutoGalaxy maupun Galaxy store.
Ardhan pun sudah menerima sebuah mobil dari perusahaan, sebagai fasilitasnya untuk sehari - hari sejak sebulan yang lalu.
Kehidupan itu terus berlanjut dengan sangat bahagia dan harmonis.
Ardhan dengan tugasnya mencari nafkah, dan menjadi pemimpin yang amanah. Meski kini dia sangat sibuk, dia selalu membuat akhir pekan keluarga kecilnya di penuhi canda tawa. Dengan cara liburan dan bermain bersama.
Dan Alea dengan tanggung jawabnya sebagai seorang istri sekaligus ibu untuk seorang putranya.
🪴🪴🪴
Inilah kebahagiaan Ardhan dan Alea sebelum negara api menyerang!
Ya! sebelum awan hitam menyelimuti rumah yang di bangun sekokoh mungkin oleh keduanya.
__ADS_1
🌹 Seperti itulah hidup, semakin tinggi sebuah pohon, maka akan semakin kencang angin yang menghembusnya. 🌹
Happy reading 🌹🌹🌹