
"Memangnya kenapa, mas?" tanya Alea berusaha untuk tetap santai. "Lagi pula mereka tidak tau kalau aku istri mu! jadi kamu tidak perlu malu!"
"Bukan urusan malu, Ma! apa kamu pikir mata ku tidak sakit melihat kamu membersihkan lantai seperti itu? membuatkan kopi untuk orang lain!"
"Karena itu pekerjaan ku, Mas! aku bukan sarjana seperti dirimu! pekerjaan apa yang bisa di dapatkan oleh seorang lulusan SMK dengan nilai standar?" tanya Alea menghadap Ardhan.
"Berhenti bekerja!" ucap Ardhan tegas. "Aku tidak suka melihat istri ku susah payah menguras keringat hanya untuk gaji yang tidak seberapa!"
"Aku harus memulai itu sekarang, mas! aku tidak ingin mencari kerja di saat kau sudah pergi!" jawab Alea dengan nada sepadan dengan nada Ardhan.
"Memangnya aku mau pergi kemana?" tanya Ardhan menatap Alea dengan tegas. "Rumah ku disini, anak dan istri ku ada di sini! memangnya aku pernah pulang ke rumah yang lain?"
"Bukan pernah, mas! tapi mungkin belum!" ucap Alea menatap tajam Ardhan.
"Kami pikir aku laki - laki seperti itu Aleandra?" tanya Ardhan lirih dan kecewa.
"Bukankah jelas - jelas Sofia ingin mengambil kembali dirimu, mas?" tanya Alea.
"Mana mungkin dia seperti itu! bukankah dia sudah menjelaskan padamu tentang kami yang hanya berteman?"
"Ya!" jawab Alea tegas dan menatap dalam mata Ardhan. "Dia memang menejelaskan sesuatu pada perempuan yang kau nikahi ini mas!" ucap Alea. "Kamu tau dia bilang apa? dia bilang aku pelakor! PE...LA...KORR!!" ucap Alea tegas.
"Maksudnya?"
"Mas, bukankah dia cinta pertamamu? apa sebegitu tidak kenalnya kamu dengan orang yang kamu cintai?" tanya Alea. "Dia mengirim pesan padaku, hanya untuk memberi tau ku, bahwa aku adalah pelakor! merebut kekasih orang!"
Ardhan mengerutkan keningnya, dia di buat bingung oleh dua perempuan yang tengah menduduki hatinya. Meskipun dia sadar betul posisi Ale jauh lebih tinggi, namun dia masih sulit membuang Sofia.
"Jika kamu tidak bisa membuang perasaan mu padanya, buang aku mas! aku enggan memiliki madu! atau terus - terusan melihat perempuan lain menggoda suamiku!" ucap Alea dengan nada tinggi.
"Yank, please! jelaskan dengan baik - baik! aku ingin mendengar penjelasan kamu dengan detail. Karena dia bilang kalian berhubungan baik!"
Dengan kesal, Alea melempar baju yang hendak dia pakai ke atas tempat tidur. Lalu meraih ponselnya di dalam tas. Alea menggeser beberapa kali.
"Lihat, mas! dia mengirim ku banyak chat, namun kemudian di hapus semua!" ucap Alea menunjukkan chat di layar ponsel.
Ardhan tampak mengerutkan keningnya membaca sisa - sisa chat di ponsel Alea. Teruma chat yang dikirim Alea.
"Dan kamu tau, apa yang di hapus?" tanya Alea menatap mata Ardhan yang di balas tatapan bingung oleh Ardhan.
__ADS_1
Alea kembali menggerakkan ibu jarinya di layar ponselnya. Kemudian mengangkat tangan Ardhan. Dengan Ale meletakkan ponselnya di atas telapak tangan yang cukup kasar itu.
Karena Ardhan mantan seorang Montir, sudah pasti tangannya tidak sehalus mereka yang dari awal bekerja hanya menyentuh keyboard dan mouse.
"Baca sendiri, Pak Ardhan!" ucap Alea menyerahkan ponsel dengan hasil screen shoot nya tadi. Kemudian beralih mengambil baju santai yang sempat ia lempar tadi.
Alea memakai semua pakaiannya satu persatu, tanpa melirik Ardhan sekalipun. Ia masih cukup kesal dengan suaminya yang seolah bisa di buta kan oleh cinta masa lalu nya.
Ale duduk di kursi meja rias. Sambil menyisir rambutnya yang lurus. Melirik sekilas Ardhan yang duduk di tepi ranjang sambil membaca chat di ponsel Alea.
Alea mengikat rambutnya asal, kemudian menyadari ada pergerakan dari Ardhan yang berjalan ke arahnya. Alea memang tidak melihat secara langsung. Tapi pantulan di cermin membuat pergerakan Ardhan terlihat melalui ekor mata Alea.
Ardhan meletakkan ponsel istrinya di meja rias tempat Alea sekarang masih duduk di sana. Ardhan berjongkok menghadap istrinya. Menatap Alea yang tampak sangat cuek padanya.
"Yank?" panggil Ardhan, namun Alea tak bergeming. "Apa kamu mengintai ku?"
"Hah!" Alea tersenyum miring. "Untuk apa aku mengintai mu, Mas!" tanya Alea tanpa menoleh Ardhan. "Apa kalimat yang keluar dari perempuan itu untuk ku belum bisa membuka mata mu, untuk melupakan dia?" tanya Alea menatap tajam mata Ardhan.
Ardhan meraih tangan kanan Alea, mencium dalam punggung tangan istrinya dengan memejamkan matanya.
"Beri aku waktu untuk menjauh darinya." ucap Ardhan.
"Dia bukan rumput liar, Yank."
"Aku tau dia bukan rumput liar, tapi janda ilegal!" jawab Alea ketus.
"Janda ilegal?"
"Cerai tidak! punya surat janda tidak! apa itu namanya wahai suami ku sayang?" tanya Ale lembut tapi penuh dengan sindiran yang buruk. "Dan satu lagi yang menjijikkan dari dia, menggoda suami orang!" lanjut Alea sedikit sinis. "Kamu tau mas, janda menggoda laki - laki itu sah - sah saja! tapi dia juga harus tau, jangan merusak pagar tetangga!"
Ardhan hanya menatap sendu istrinya yang sebenarnya tengah diliputi rasa cemburu, emosi, dan kesal padanya.
"Memberi mas waktu sama halnya memperbesar luka ku, mas! karena apapun di dunia ini bisa berubah hanya dalam sekejap mata."
"Yaaank?" panggil Ardhan lembut. "Sekarang kamu maunya bagaimana? aku mau kamu menjadi Aleandra yang dulu. Yang sangat patuh pada suaminya, yang lembut, yang manis!"
"Ganti nomor ponsel mu, mas! jauhi Sofia mu itu!"
"Yank, nomor ku sudah tercantum di perusahaan, jika aku mengganti nomor, maka aku harus mengajukan data ulang, dan banyak lagi saut pautnya! kamu tau itu kan?"
__ADS_1
"Bilang saja kamu masih ingin berchatting ria dengan Sofia!" ucap Alea menarik paksa tangan kanannya yang masih di genggam Ardhan. Beranjak dari kursinya dan mendekati pintu.
Clek! clek!
"Kuncinya mana mas?" Alea menoleh Ardhan yang sudah beralih duduk di kursi.
Ardhan menoleh Alea yang berjalan ke arahnya, dengan tatapan sendu dan bingung.
"Mas?" Alea menengadahkan tangan kanannya pada Ardhan, sebagai tanda untuk meminta kunci pintu.
Bukannya mengambil kunci, Ardhan justru menarik tangan itu untuk mendekat. Ardhan menarik pinggang Alea, dan memeluknya. Menyandarkan kepalanya di perut Alea.
"Aku akan mengatur semuanya, Ma! tapi please! berhentilah bekerja." Ucap Ardhan lirih. "Aku tidak sanggup melihat mu seperti itu, sayang. Hati ku sakit melihat tangan ini bekerja di saat aku mampu memberi nafkah jauh lebih banyak dari yang dia dapatkan!" Ardhan meraih tangan Alea dan menciumi nya.
"Sudahlah mas, jangan berlebihan. Aku baik - baik saja! aku tetap sehat meskipun aku bekerja!"
"Berhentilah, sayang! aku mohon! jika tidak bisa berhenti karena aku, maka berhentilah demi Andra. Dia membutuhkan kamu, yank!"
"Jangan berlebihan begini lah, mas! aku masih ingin mencari ketenangan. Dengan bekerja dan tidak bergantung padamu, membuat aku nyaman. Di saat hati suami ku tengah terbagi!"
"Tidak, tidak, tidak, please! beri aku waktu!" ucap Ardhan, "aku tidak akan pernah meninggalkan kamu demi dia, yank! aku juga tau dia bukan perempuan yang baik!"
"Kalau kamu tau dia bukan perempuan yang baik kenapa masih mempertahankannya?" tanya Alea mendorong pundak Ardhan agar melepas pelukannya. "Kenapa kamu kirimkan uang padanya! bahkan kamu sembunyi - bunyi dari ku! dan apa maksudnya kamu menghapus chat sebelum kamu pulang!" Alea berkata dengan nada tinggi. "Aku benci mas! aku tidak suka hal seperti itu!" air mata Alea yang sudah lama tidak menetes, entah kenapa bisa kembali menetes kali ini. "Kamu tidak menghargai aku mas!" teriak Alea.
.
.
🪴🪴🪴
Okey! pertarungan akan berlanjut di episode selanjutnya.
Hari ini sampai di sini dulu 🤩
Spesial 2 episode loh ini 🥰
Jadi jangan lupa tinggalkan dukungan untuk Othor ya kakak 🙏🤩
Happy reading 🌹🌹🌹
__ADS_1