Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 59# Terlelap


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju area parkir, Alea bingung mencari alasan yang tepat untuk di berikan pada Ardhan. Mengenai uang yang ia gunakan untuk membeli tas itu.


Sungguh memalukan baginya sebenernya. Ia berniat mentraktir Andra, eh malah harus jebol hampir empat juta gara - gara gengsi.


Apa aku jual lagi aja? dari pada aku punya utang sama mas Ardhan.


Memalukan nggak sih?


Ucap Alea dalam hati.


"Sebentar, sayang!" ucap Alea pada Andra.


Mereka berhenti di salah satu tempat duduk yang tersedia di mall. Alea mengeluarkan ponselnya, dan membuka aplikasi Mbanking dari kartu debitnya.


Terpaksa jatah untuk ayah dan ibu aku kurangi ajalah dikit. Selanjutnya aku akan bawa bekal saja ke tempat kerja. Jadi tidak perlu beli.


Batin Alea sembari mentransfer uang sebesar 700 ribu ke rekening Ardhan yang baru saja di pakai Alea untuk membeli tas.


Jadi punya cicilan kan!


Gerutu Alea.


Alea kembali mengajak Andra untuk berjalan menuju parkiran motornya. Agak susah ia menata kardus mainan Andra dan juga paper bag miliknya.


"Huuh!" Alea memanyunkan bibirnya kesal.


"Bisa nggak, Ma?" tanya Andra.


"Andra duduk di atas ya? kakinya di naikin!" ucap Alea.


"Ok, Ma!"


Akhirnya motor Alea keluar dari area parkiran mall. Sepanjang perjalanan Alea masih mencoba untuk menyusun kalimat yang pas dan tepat untuk Ardhan. Agar tidak terlihat memalukan.


Motor Alea berhenti tepat di depan rumahnya, terlihat Ardhan duduk di ruang tamu dengan tatapan lurus ke arah pintu.


Tanpa rasa bersalah, Alea memasukkan motornya ke teras melalui sela - sela mobil. Di sana motor Ardhan sudah terparkir dengan cantik. Entah kapan pria itu sampai di rumah.


"Papaaa!" teriak Andra membawa box mainan yang baru saja di belikan Alea. "Andra punya ini!" seru Andra menunjukkan mainan barunya pada Ardhan.


"Wow! beli dimana ini?" tanya Ardhan pura - pura tidak tau.


"Di mall! beli sama Mama!"


"Kenapa beli ini?" goda Ardhan.


"Tadi Andra mau mobil remote yang buesarl! tapi kata Mama nggak bisa bawa!"


"Oh!" Ardhan mengangguk dengan hati yang terenyuh, mengingat bukan itu alasan ia tak mendapatkan mainan incarannya. "Kapan - kapan bawa mobil ya, biar bisa bawa!" ucap Ardhan lembut.


"Yeay...yeay..yeay!" seru Andra girang.


Alea masuk dengan membawa paper bag berisi tasnya. Wajahnya datar setengah bingung. Alea langsung saja masuk ke kamar tanpa mengucap sepatah katapun pada Ardhan menatapnya.

__ADS_1


Dia masih bingung cara bicara pada suaminya. Karena suaminya itu pasti tau keluar masuk uang dari kartu debit yang ia pegang.


Ardhan tampak mulai membantu putranya untuk menatap satu set drum. Andra begitu puas mendapatkan mainan itu.


Setelah terpasang rapi, Ardhan mulai mengunci pagar dan pintu utama. Lalu masuk menyusul istrinya. Meninggalkan Ardhan yang asyik bermain di ruang tamu.


"Kamu marah?" tanya Alea saat melihat Ardhan membuka pintu.


"Marah kenapa?" tanya Ardhan yang bingung dengan ekspresi yang di tunjukkan Alea.


"Aku meminjamnya! akan aku cicil setiap aku gajian."


"Apa maksud kamu, Ma?" tanya Ardhan.


"Aku pakai uang kamu untuk beli tas itu!" ucap Alea menunjuk paper bag di atas meja rias.


"Memangnya kenapa kalau kamu pakai, Ma? itukan uang kamu juga."


"Tapi aku sudah bilang kalau mulai sekarang aku akan menggunakan uang ku sendiri. Karena aku tidak melayani mu dengan baik!"


"Kalai begitu layani aku dengan baik."


"Jangan memulai perdebatan yang tidak penting lah, Mas! aku malas. Pokok nya uang itu akan aku ganti!"


"Berhentilah bersikap seperti ini, Ma!" ucap Ardhan mendekati Alea yang baru selesai mengganti bajunya dengan baju tidur.


"Sudahlah, Mas! aku mau menemani Andra. Kasian sendirian."


Alea berusaha menghindari Ardhan yang seperti ingin mengajaknya untuk negoisasi. Tapi Alea masih malas untuk membahas hal lebih serius dengan Ardhan. Ia masih butuh waktu untuk memastikan suaminya benar - benar melupakan masa lalunya.


Alea ikut tidur di tempat tidurnya, awalnya ia hanya pura - pura, karena ia pasti akan pindah ke kamar tamu setelah putranya terlelap.


Namun karena lelah seharian beraktifitas dan membawa Andra jalan - jalan ke mall, sehingga membuatnya benar - benar tertidur.


Ardhan masuk ke kamar dan mendekati Alea. Terdengar dengkuran halus dari istrinya. Sehingga ia yakin jika Alea benar - benar tertidur.


Tak mau membuang kesempatan, cepat - cepat Ardhan mengunci pintu kamar dan menyembunyikan kuncinya. Ardhan segera berbaring di samping Alea yang membelakanginya. Karena istrinya tidur miring menghadap tempat tidur putra mereka.


Ardhan yang merindukan harum tubuh istrinya, mendekat pada punggung Alea. Melingkarkan tangan di perut istrinya yang tertidur lelap.


Satu jam, dua jam, tiga jam ...


Posisi tidur mereka sudah berubah. Tanpa di sadari mereka tidur dengan saling menghadap satu sama lain.


Alea sedikit menggeliat dan teringat jika dia masih di kamar utama. Seketika matanya terbuka. Yang pertama kali di tangkap oleh matanya adalah dada bidang suaminya.


Deg!


Jantung Alea berdetak lebih cepat. Saat menyadari tangan suaminya melingkar di perutnya. Seketika ia mendongak melihat wajah suaminya yang terlelap.


Tampan . . .


Itulah tanggapan yang pertama kali muncul di batin Alea. Memang tidak di pungkiri jika sang suami masuk dalam kategori pria tampan dan mapan.

__ADS_1


Suami ku memang tampan dan mapan, tidak salah jika masa lalunya pun masih mengharapkan dirinya.


Jujur saja, aku rindu aroma tubuh ini!


Ucap Alea dalam hati dengan menghirup bau leher suaminya dari jarak yang cukup aman. Alea menghela nafasnya begitu menyadari masih ada sisa luka di hatinya.


Namun anehnya tubuhnya kali ini tak berkutik. Seluruh sendinya seolah mati tak bisa bergerak. Hanya matanya saja berkedip, dengan memandangi setiap lekuk wajah yang dulu bebas ia cium selagi ingin.


Sekarang mencium?


Ingin sekali! tapi aku tidak mau lengah! Aku harus pastikan pelakor itu angkat kaki dan menyerah mengejar suami ku!


Batin Alea berkecamuk setiap mengingat percakapan Sofia. Apalagi jika mengingat chat Sofia pada Alea beberapa hari yang lalu.


🔥 Flashback On . . .


✉️ Secantik apa sih dirimu yang sebenarnya? Kenapa Ardhan sampai mencampakkan aku demi dirimu!


📨 Jika suami ku lebih berat pada ku dari pada kamu, itu artinya kecantikan ku lebih dari dirimu. Jadi tidak perlu tanya secantik apa aku ini.


✉️ Cih! percaya diri sekali!


📨 Bukan percaya diri kakak tua, tapi realitas!


✉️ Kakak tua? apa maksud mu memanggil ku kakak tua?


📨 Bukankah usiamu setara usia suamiku? suamiku enam tahun lebih tua dari ku! jadi tidak salah kan kalau kau itu setara kakak tua untukku?


✉️ Dasar iblis!


📨 Kau yang iblis! lebih busuk lagi kau itu setara per*x!


✉️ Ucapan mu itu sudah aku screen shoot, siap - siap saja Ardhan akan merobek mulut mu!


📨 Yakin sekali kamu, kalau mas Ardhan berani merobek mulut ku!


✉️ Hahaha! lihat saja!


Alea begitu jengah setiap mendapat pesan dari Sofia. Satu - satu perempuan yang membuatnya benci dengan sesama perempuan.


🔥 Flashback Off . . .


Ingin sekali ku bakar mulut perempuan ular itu!


Gerutu Alea dalam hati.


.


.


🪴🪴🪴


Kira - kira gimana sih akhirnya kisah Ardhan dan Alea?

__ADS_1


Jauh di lubuh hati mereka, masih tersimpan cinta yang dalam. Namun pihak ketiga masih terus saja mencoba untuk merangsak masuk di antara hubungan suci Ardhan dan Alea.


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2