
Beberapa hari kemudian . . .
"Assalammualaikum?"
"Wa'allaikum salam, Mas!" jawab Alea keluar dari ruang tengah.
Ardhan pulang kerja dengan di sambut ciuman tangan oleh Alea. Ardhan membalas dengan kecupan di dahi Alea dan beberapa kali usapan di perut buncit Alea.
Ardhan senang sekali, karena kini raut wajah Alea kembali seperti Alea saat sebelum hamil. Segar, dan lebih ceria. Meskipun badan Alea semakin terlihat terisi dan bulat.
"Yank, aku ada kabar baik," ucap Ardhan setelah selesai dengan ritual mandinya dan menghampiri Alea yang tengah menata makan malam untuk mereka nanti.
"Apa Mas?" tanya Alea ikut duduk di kursi meja makan samping Ardhan.
Ardhan senyum - senyum menatap wajah istrinya yang di penuhi rasa penasaran.
"Mas, apa kok?" tanya Alea menghardik sang suami.
"Penasaran?" tanya Ardhan semakin menggoda istrinya.
"Ayolah, Mas! cepet ngomong!" ucap Alea menggoyang lengan suaminya.
"Mulai senin depan, Mas naik menjadi Manager AutoGalaxy!" ucap Ardhan.
Alea membuka mulutnya lebar, dengan mata yang ikut membulat. Alea tertegun menatap suaminya untuk beberapa saat.
"Hey!" Ardhan mengusap pelan wajah Alea yang terlihat sangat lucu.
"Eh! beneran Mas?" tanya Alea.
"Iya, Yank! tiga bulan lalu, saat kamu masih merasa lemas, Mas, Zaka, Fahry, Randi, Eza dan Danang di panggil untuk mengikuti tes sebagai Manager. Menggantikan Manager yang lama, karena beliau naik ke kantor pusat, Galaxy Company. Tes pertama, Mas, Zaka, dan Fahry yang lolos ke tahap selanjutnya. Dan ..." Ardhan menggantung kalimatnya, menatap Alea dengan senyuman jahil.
"Apa Mas! cepetan dong, baby udah nggak sabar pengen denger kabar baik!" ujar Alea dengan mengusap perut buncitnya.
"Alasan, baby kan belum mengerti hal seperti ini!" jawab Ardhan.
"Hehe! mangkanya ayo cepet cerita yang jelas Suami ku yang tampan!" ujar Alea menangkup wajah tampan Ardhan.
"Psikotes terakhir, nilai Mas tertinggi! dan Mas berhasil menjadi Manager AutoGalaxy!"
"Alhamdulillah!" Alea mengusap kedua tangannya di wajah. "Kenapa Mas nggak bilang kalau mengikuti tes, Mas?" tanya Alea sembari menatap wajah sumringah suaminya.
"Mas nggak membebani kamu, Yank! kamu saja tidak kuat mengangkat kepala waktu itu."
"Iya, sih! tapi setidaknya kan aku bisa mendoakan Mas!"
"Kehadiran kamu saja, sudah membuat Mas mudah dalam mencari rezeki, Yank! dan baby inilah kunci utamanya!" lanjut Ardhan.
__ADS_1
"Hehe! brarti gaji Mas juga naik?"
"Sekitar 35%!"
"Alhamdulillah!" ujar Alea. "Rejekinya baby!" ucap Alea mengusap perutnya, diikuti tangan Ardhan yang ikut terjulur mengusap perut Alea.
# # # # # #
Ardhan memulai aktivitasnya di kantor manager yang berada di lantai dua bengkel. Dia masih dalam tahap training, manager lama masih berada di sana untuk menunjukkan tanggung jawab sebagai manager pada Ardhan.
Satu bulan berlalu, Ardhan sudah mulai bekerja sendiri tanpa pendampingan. Dan hari ini Ardhan mendapatkan gaji pertamanya sebagai manager.
Ardhan sengaja memesan catering untuk makan siang seluruh pegawai di AutoGalaxy. Tak lupa ia menjemput Alea dan membawanya bergabung untuk makan siang bersamanya di kantor. Bersama sebagian montir, karena mereka istirahat secara bergantian.
"Bu Alea sudah berapa bulan?" tanya Dimas di sela - sela makan siangnya.
"Tujuh bulan dua minggu, Bang Dimas!" jawab Alea.
"Wah! sebentar lagi bakal jadi Papa dan Mama dong nih?" sahut Yoga.
"Hehe!" Alea hanya terkekeh.
"Rejeki baby kalian benar - benar luar biasa ya? Sang Papa langsung naik jabatan begitu dia akan lahir!" ucap Randi tersenyum bangga pada sahabat seperjuangannya itu.
"Alhamdulillah, Bang Randi!" jawab Alea sembari mengusap perutnya dengan sayang.
"Betul tuh, Bang!" celetuk Yoga. "Dan lebih beruntungnya lagi, nasib anak itu tidak seperti ku!" lanjut Yoga sembari menatap sendu Ardhan yang menyuapi Alea dengan sabar. "Kalian terlihat saling menyayangi, tidak seperti orang tua ku!" Ekspresi Yoga semakin menyedihkan.
"Sudahlah Ga! mereka pasti punya alasan kenapa bertengkar! yang terpenting kau kan sudah bekerja, belajarlah hidup mandiri. Jika mereka bertengkar karena masalah ekonomi maka bantulah!" tutur Zaka.
"Iya, Bang!" jawab Yoga mengangguk.
Beberapa saat berlalu, semua kotak catering sudah di ambil oleh pemiliknya.
"Pak Ardhan, terima kasih makan siangnya ya!" ucap Yoga setelah menghabiskan nasi kotak miliknya.
"Ya!" jawab Ardhan
Menyisakan satu kotak yang belum di ambil. Sementara semua sudah kembali dengan pekerjaan masing - masing.
"Ini punya siapa, Mas?" tanya Alea menunjuk satu kotak yang belum bertuan di atas meja.
Ardhan yang baru saja membuang sampah sisa makanan mereka, menoleh kotak itu sembari mengerutkan keningnya. Mereka hanya berdua sekarang.
"Siapa ya?" Ardhan mengingat - ingat siapa yang tidak makan ke atas tadi. Sampai akhirnya ingatlah dia akan satu wajah yang tadi sama sekali tidak dia lihat. "Sepertinya itu jatah Fahry, Yank!" ucap Ardhan kemudian.
"Kenapa tidak di ambil?" tanya Alea menatap suaminya yang kembali duduk di sampingnya. "Mas masih tidak akur sama dia?"
__ADS_1
"Sebenarnya kami sudah biasa - biasa saja! Kuta sudah sering ngobrol meskipun bukan urusan pribadi. Tapi semenjak aku yang lolos menjadi manager, dia seperti kembali angkuh padaku."
"Oh ya?" Alea mengerutkan keningnya.
"Iya!" Ardhan mengangguk pelan sembari menatap manik mata Alea.
"Apa dia semakin merasa terkalahkan oleh Mas?"
"Entahlah, padahal jika menyangkut pekerjaan, semua adalah pure, dan murni hasil tes! semua bekerja keras agar bisa lolos seleksi ini!"
"Tapi mas tidak menganggap Bang Fahry musuh kan mas?"
"Tentu saja tidak, Yank! aku bukan lagi anak - anak!" jawab Ardhan yakin.
"Emang sifatnya seperti itu kali, Mas!"
"Sudahlah, jangan di pikirkan!" ucap Ardhan duduk berputar menghadap Alea.
"Pak Mul, tolong ini jatah milik Fahry kasihkan ke dia!" titah Ardhan pada salah satu cleaning service yang tengah membersihkan ruangannya.
"Baik, Pak Ardhan!" jawab Pak Mulyadi, seorang cleaning service yang tiga tahun lagi akan pensiun. Karena sudah berusia 52 tahun.
"Kok Pak Mul jadi manggil suami saya Pak sih?" tanya Alea pada pak Mul yang mengambil kotak nasi milik Fahry.
"Sudah strukturnya harus seperti itu, Bu" jawab Pak Mul.
"Oh!" Alea mengangguk. "Tapi jangan panggil saya Bu dong, Pak Mul! saya jadi berasa tua." ucap Alea mengerucutkan bibirnya.
"Hehe, saya bisa kena sanksi jika tidak memanggil Bu pada istri manager di lokasi kerja, Bu Alea," jelas Pak Mul.
"Oh" Alea kembali mengangguk sambil melirik suaminya yang sedari tadi asyik mengusap perutnya sambil menatap percakapan Alea dan Pak Mul.
"Berarti tadi mereka manggil Mas, dengan sebutan Pak, dan memanggil ku Bu itu karena serius seperti itu?" tanya Alea yang di angguki Ardhan dengan santainya.
"Aku kira mereka tadi bercanda!" ujar Alea.
Ardhan menyunggingkan senyum pada Alea yang terlihat sangat tidak nyaman dari tadi di panggil Bu, karena menyandang status istri manager.
.
.
...•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√•√...
...Happy reading kakak - kakak yang aku sayangi 🌹🌹🌹...
...Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya kak, secuil dukungan kakak, sangat berguna bagi Author super receh ini. 🙏🥰...
__ADS_1