Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 71# Last Day part 1


__ADS_3

Alea sengaja duduk di sebua halte bis yang berjarak 500 meter dari pintu masuk perusahaan. Menunggu sang suami menjemputnya di sana. Dia enggan di jemput di depan kantor. Dan itupun lewat 15 menit dari jam pulang kerja seharusnya.


Alea menunduk sambil memainkan ponselnya. Sampai akhirnya mobil berwarna lemon berhenti tepat di depannya. Alea mendongak dan memastikan itu mobil suaminya. Ia segera berjalan dan masuk ke dalam mobil.


Ardhan menatap Alea yang tengah memakai seat belt dengan menahan senyum di bibirnya. Senyum misterius yang seolah menahan sesuatu.


"Kenapa senyum - senyum gitu?" tanya Alea melirik suaminya.


"Nggak papa" jawab Ardhan kembali tersenyum misterius.


"Pa, suatu hari nanti, kalau kamu dapat undangan acara dari Sentani Group, bawa aku ya?" ucap Alea saat Ardhan mulai melajukan mobil.


"Tumben? biasanya nolak, bahkan kemarin - kemarin jangan nemuin kamu di Sentani."


"Yaaaa... itu kan waktu itu... aku masih sebagai OG. Tapi kalau suatu hari nanti kan aku buka. lagi OG di sana!" elak Alea mencari alasan.


Sementara Ardhan terkekeh mendengar alasan Alea. Karena dia tau, pasti bukan itu alasan yang sesungguhnya.


"Kok ketawa sih!" protes Alea memanyunkan bibirnya.


"Nggak papa!"


"Nggak papa mulu dari tadi!" gerutu Alea. "Jadi mau nggak, ajak aku ke Sentani Group suatu hari nanti!"


"Iyaa sayaang! maauu....." jawab Ardhan panjang melirik istrinya dengan mengulum senyum.


"Yeay!" lirih Alea bertepuk tangan kecil di depan dadanya.


"Seneng banget?" sindir Ardhan.


"Seneng lah!" sahut Alea.


# # # # # #


🍄 Keesokan harinya . . .


Tepat hari terakhir Alea menginjakkan kakinya di Sentani Group sebagai Office Girl, atau Cleaning Service. Ia melangkah dengan percaya diri setelah turun dari mobil suaminya.


Ia memasuki gedung dengan sumringah, menandakan hatinya jauh lebih baik dari pada saat awal - awal masuk Sentani Group.


"Cerah banget, non!" celetuk Vania iseng.


"Hehe, kan terakhir kerja! besok kita sudah berpisah, Van!" jawab Alea merangkul pundak Vania.


"Seneng banget kamu pisah sama aku dan Toni!" celetuk Vania memanyunkan bibirnya.


"Bukan begitu, Van! tapi aku senang karena semua kembali normal! aku bisa menjadi seperti Aleandra Zavanya dua bulan yang lalu. Bahagia dan damai!"


"Emang dua bulan ini nggak damai?" tanya Vania dengan nada menyelidik.


"Bukan nggak damai, hanya saja ada konflik kecil!"


"Jadi sebenarnya kamu kerja dua bulan ini bukan karena butuh uang?" tanya Vania.


"Emm... yaa karena butuh uang sih, tapi itu di sebabkan suatu konflik. Dan sekarang konflik itu sudah kelar!"


"Konflik apa?"


"Biasalah, namanya juga berumah tangga! pasti ada konflik yang harus di jadikan pelajaran untuk bisa lebih baik kedepannya!"

__ADS_1


"Dari awal itu aku udah yakin, kamu kerja bukan karena masalah ekonomi, Al"


"Eh udah, ayo kerja! udah setengah tujuh!" ajak Alea mengalihkan pembicaraan.


"Ngeles mulu ya?" Vania cekikikan.


"Hehe!"


***


"Vin, kamu aja ya yang bersihin meja resepsionis!" ucap Alea. "Ya? please?"


"Iya deh!" Vania mengerti maksud Alea.


Alea membersihkan kaca lobby sehingga ia bisa melihat situasi di luar. Dan benar dugaan Alea.


Untung Vania mau bersihin meja perempuan ular itu!


Batin Alea.


"Eghm!"


Tak di sangka, saat memasuki lobby perempuan itu berdehem yang seolah di tunjukkan untuk Alea.


Namun Alea diam saja, ia masih konsisten dengan tugasnya. Seolah menganggap deheman itu adalah angin luar yang masuk ke dalam lobby untuk menyisir kesunyian di pagi itu.


"Van, aku denger hari ini akan ada acara perpisahan di tim kalian ya?" tanya resepsionis itu dengan nada tinggi pada Vania yang tengah membersihkan meja resepsionis.


"Acara perpisahan?" tanya Vania pura - pura tidak tau.


"Bukannya di ganjen itu hari ini terakhir kerja?" perempuan itu melirik Alea.


"Siapa yang terakhir kerja?" sahut resepsionis satu lagi yang baru datang.


"Siapa OG ganjen?"


"Itu tuh!" resepsionis yang pertama menunjuk Alea dengan menyodorkan wajahnya ke arah Alea.


"Heh! gak boleh gitu! Aku yakin Alea bukan perempuan seperti itu" sahutnya lalu duduk di kursi kerjanya yang berdampingan dengan resepsionis pertama.


"Hah! jangan lihat orang dari tampangnya doang, Gitaaa!" ucapnya sinis.


"Almer, kamu itu syirik, mangkanya menganggap Alea itu ganjen!" sahut Gita.


"Capek ngomong sama kamu, Git!" celetuk Almer, resepsionis yang selama ini selalu julid dan memusuhi Alea. Semenjak Alea terlihat centil pada Ardhan.


Sedangkan Alea sendiri mendengarkan semua percakapan mereka. Namun ia tampak cuek dan tidak berniat untuk menyahut.


Suatu hari nanti, mulutmu akan terbungkam dengan sendirinya, nona! Tanpa perlu tangan ini capek - capek menyumpal mulutmu!


Ucap Alea dalam hati sambil menggosok kuat dinding kaca di depannya. Membayangkan solah tengah menggosok muka Almer sampai rata tak tersisa.


***


Ardhan melangkahkan kakinya menuju gedung utama Sentani Group. Saat jam dinding menunjukkan pukul 15.40 WIB. Sengaja ia keluar kantor lebih awal, untuk bisa sampai di Sentani Group sebelum istrinya pulang.


Masih banyak karyawan yang berlalu lalang. Karena ini akhir bulan, sehingga ada beberapa karyawan yang harus lembur untuk menyelesaikan laporan.


Ardhan menuju lobby dengan di sambut oleh seorang scurity.

__ADS_1


"Pak Ardhan ingin bertemu Pak Fikri?" tanya Scurity menyiapkan kartu visitor untuk Ardhan.


"Tidak, saya hanya ingin menunggu istri saya! boleh saya saya menunggu di sofa lobby?" tanya Ardhan.


"Istri?" pekik Scurity yang heran, sejak kapan istri Ardhan di Sentani Group.


"Iya!" jawab Ardhan mengangguk.


"Istri Pak Ardhan ada di sini?" tanya Scurity itu kebingungan.


"Iya" Ardhan kembali mengangguk santai.


"Yang mana, Pak? kok saya baru denger istri Pak Ardhan ada di sini!"


"Haha! pokoknya ada deh! nanti kalian juga tau! boleh saya masuk dan menunggu di sofa lobby?"


"Oh boleh, Pak! silahkan! jadi Pak Ardhan tidak membutuhkan kartu visitor ini?"


"Tidak! saya tidak ada janji dengan Pak Fikri ataupun yang lainnya!"


"Oh iya, Pak! lagi pula Pak Fikri juga belum pulang kok Pak!"


"Oh ya?"


"Iya!" jawab Scurity itu. "Mari Pak, saya antar!"


"Hemm!"


Ardhan mengikuti langkah kaki scurity yang mengantarnya ke sofa lobby.


Terlihat di lobby hanya ada dua resepsionis yang terlihat masih sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Tak nampak satu Cleaning Service pun yang ada di lobby.


Ardhan dan duduk dan langsung mengeluarkan gawai nya untuk mengusir kebosanan. Dan Ardhan sendiri menyadari jika resepsionis di mejanya tampak mencuri - curi pandang padanya.


Begitu juga karyawan - karyawan yabg keluar satu persatu. Mereka menyempatkan untuk melirik Ardhan yang duduk santai di sofa seorang diri.


Apa yang di lakukan salah satu manager pemasaran Galaxy Company di situ sendirian?


Mungkin itulah yang ada di benak mereka.


Tapi Ardhan terlihat sangat cuek. Sesekali ia melirik jam tangan bermerk yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Untuk menunggu sampai jarum hitam kecil itu menunjuk angka empat.


Jam 15.50 WIB, Fikri keluar dari lift di lantai dasar. Ia melangkahkan kaki menuju lobby. Dan saat menoleh sofa, betapa terkejutnya ia melihat Ardhan duduk manis di sana.


"Pak Ardhan!" sapa Fikri.


"Eh, Pak Fikri!" jawab Ardhan sambil berdiri dari duduknya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Fikri mendekat dan mengulurkan tangan pada Ardhan untuk saling berjabat.


"Apa yang Pak Ardhan lakukan di sini?" Fikri duduk di sofa samping Ardhan. "Apa kita punya janji dan saya lupa?" tanya Fikri sambil mengingat - ingat schedule nya.


"Ah, tidak ada Pak Fikri. Saya hanya ingin menjemput istri saya!" jawab Ardhan.


"Istri?" Fikri terlihat terkejut. "Siapa istri Pak Ardhan? sejak kapan ada di sini?"


.


.

__ADS_1


🪴🪴🪴


Happy reading 🌹🌹🌹


__ADS_2