Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 50# Gelisah


__ADS_3

Erat! begitu erat Ardhan memeluk tubuh Alea. Hingga Alea merasa sesak dan kesal. Karena dalam hatinya sungguh masih merasa jijik dengan pelukan suaminya itu.


"Tidurlah, sayang! jangan memberontak, please!" bisik Ardhan.


"Aku baru saja bangun, Mas! mana mungkin aku bisa tidur!" protes Alea.


"Ngantuk atau tidak, kamu tetap harus berada di sini!" ucap Ardhan bagaikan titah Tuan Raja.


Alea menghela nafas kesal. Ardhan mendekap tubuhnya seperti tanpa dosa. Apalagi saat dengan sengaja Ardhan membuat wajah Alea menghadap dadanya, tepat di bawah leher.


Sedangkan Ardhan memejamkan matanya, tapi tangan kanannya mengusap lembut rambut kepala Alea. Dan tangan kirinya mendekap pinggang Alea.


Alea menghela nafasnya, dengan kedua tangan berada di depan dadanya, seolah memberi jarak pada tubuh Ardhan.


Berada di pelukan mu seperti memang yang selalu aku inginkan, Mas! Sebelum badai itu datang. Tapi sekarang, melihat wajah mu saja seperti melihat pisau tajam yang siap menghujam jantungku!


Jika ingin pergi, pergilah dengan cepat! jangan membuat drama seperti ini!


Batin Alea seperti kapal yang terombang - ambing di laut lepas. Sang nahkoda enggan untuk berlayar, namun sulit untuk menepi.


Satu jam berlalu dengan aksi saling diam. Pikiran Alea di penuhi pertimbangan. Sedang pikiran Ardhan entah pergi kemana. Yang jelas mata Ardhan selalu terpejam.


Detik demi detik berlalu, bau bantal memang benar - benar tajam. Sampai sepasang mata lentik itu akhirnya terpejam juga, di ikuti dengan nafas yang teratur. Menandakan yang punya sudah tertidur bersama mimpinya.


Menyadari itu, sepasang mata Ardhan terbuka. Menggerakkan sedikit tangannya, untuk memastikan apakah Alea benar - benar terlelap. Namun dengkuran halus Alea meyakinkan Ardhan jika istrinya itu sudah tertidur.


Ardhan mengangkat pelan wajah Alea, hingga mata tertutup itu menghadapnya. Pelan - pelan jemari Ardhan mengusap wajah cantik itu. Bibirnya tergerak untuk menciumi wajah istrinya.


Aku tau aku bodoh! Aku juga tau aku salah!


Apa kamu mengintai ku? Apa kamu membaca setiap chat ku dengan Sofia?


Jika benar hubungan ku dengan Sofia yang membuat mu seperti ini, beri aku waktu untuk menjauhinya.


Tapi jujur sayang, aku adalah orang yang paling sulit melupakan cinta yang pernah tumbuh di hatiku.


Apalagi jika itu dirimu, perempuan yang kunikahi, yang menemaniku dari nol. Yang selalu setia menunggu ku di rumah.


Sampai ujung usia ku pun, aku akan selalu mencintai mu, sayang!


Ardhan menatap langit - langit kamarnya. Dia bingung kenapa dia selalu seperti itu. Dia mengingat suatu masa yang sunyi.


Pernah beberapa tahun yang lalu, sebelum berniat menikahi Alea. Ia bertemu dengan gadis yang pernah ia cintai semasa SMA di salah satu mall.


Ardhan tampak cemburu dan kesal saat melihat cinta keduanya itu tengah bersama suami dan anaknya.


Entah kenapa Ardhan begitu sulit melupakan mereka - mereka yang pernah hadir di dalam hatinya.


Ardhan kembali menatap wajah ayu Alea yang terlelap. Mencium dalam kening istrinya itu. Pikirannya mencoba menelaah kesalahannya.

__ADS_1


# # # # # #


Pagi hari, Alea terbangun saat mendengar adzan subuh. Dengan susah payah dia mengeluarkan kunci pintu dari saku celana Ardhan.


Setelah berhasil dia segera mandi, sholat dan langsung bersiap dengan baju yang rapi untuk masuk kerja di hari pertama.


Setelah itu, ia membangunkan sang putra, dan saat itu juga Ardhan ikut mengerjapkan mata dan terbangun.


Spontan mata Ardhan melihat pakaian Alea yang terlihat tidak biasa. Ardhan bangun mengikuti langkah Alea yang menggendong Andra untuk di mandikan.


Ardhan menyeruput kopi yang sudah di siapkan Alea. ya, hanya secangkir kopi tanpa menyiapkan sarapan untuk Ardhan.


Setelah memandikan Andra, Alea segera memakaikan seragam sekolah Andra. Dan menyuapinya sarapan.


"Andra mau berangkat sekolah sekarang, atau nanti di antar mbak Nur?" tanya Alea.


Ardhan masih mengamati pergerakan istrinya dengan ekor matanya. Nafasnya mulai tidak beraturan. Dia mulai tau ucapan Alea untuk bekerja kemarin tidak main - main.


"Ini kan masih pagi, Mama!" ucap Andra.


"Iya, sayang! tapi Mama harus pergi sepagi ini."


"Nanti aja deh, di antar Mbak Nurl!" jawab Andra.


"Ok, sekarang makan dulu!"


"Makan sama mbak Nurl aja!"


"Nggak mau!" ucap Andra yang lebih asyik menonton televisi.


"Kalau gitu Mama pergi sekarang boleh?"


"Memangnya Mama mau kemana sih?"


"Mama ada urusan, Nak! ini sangat penting untuk Mama." jawab Ale memberi pengertian pada putra nya itu.


"Iya udah deh! tapi nanti Andra di jemput Mama ya?"


"Iya, sayang! pasti!" jawab Alea.


Alea meninggalkan Andra yang menonton tayangan kartun di TV dengan sudah memakai seragam sekolah lengkap.


Alea melewati Ardhan begitu saja dan masuk ke kamar untuk mengambil ponsel dan tasnya. Saat itulah, Ardhan mulai bergerak cepat. Secepat kilat Ardhan masuk ke dalam kamar dan kembali mengunci pintu kamar.


"Mau kemana kamu, Ma?" tanya Ardhan dingin, dengan masih berdiri di balik pintu.


Alea menghela nafas, "aku hanya ingin meringankan beban mu, Mas!" jawabnya santai tanpa melihat suaminya.


"Apa maksud kamu?"

__ADS_1


"Aku ingin bekerja! dengan begitu Mas tidak perlu mengirim uang untuk orang tua Alea."


Seketika itu darah Ardhan seperti mendidih. Rasa tidak di hargai muncul di dalam kepalanya.


"Apa kamu pikir aku tidak sanggup menghidupi orang tua mu?" tanya Ardhan dingin menahan emosi yang mulai sedikit muncul.


"Aku tahu kamu sanggup, Mas! kamu mampu! karena kamu juga seseorang yang memiliki kedudukan tinggi. Tapi Alea nggak mau, orang tua Alea terus menerus bergantung sama kamu. Aku masih bisa menghasilkan uang dengan tanganku sendiri."


Ardhan memejamkan matanya, sebisa mungkin meredam emosi di dalam hatinya.


"Aku tidak mengizinkan kamu bekerja!"


"Maaf Mas! untuk satu hal ini aku harus membantah mu"


"Sekali tidak tetap tidak!" tegas Ardhan.


"Biarkan aku bekerja, Mas! bukankah kamu suka dengan wanita yang tidak manja?" tanya Alea menatap mata Ardhan. "Bukankah dari dulu kamu bangga pada seorang istri yang punya semangat untuk bekerja?" tanya Alea dengan nada bicara seperti menyindir.


Sedang Ardhan mulai tau arah bicara Alea. Ardhan pernah mengucapkan hal itu pada Sofia beberapa waktu yang lalu.


"Kecuali dirimu!" ucap Ardhan.


Alea tersenyum sinis, "kenapa harus ada pengecualian?"


"Berapa gaji yang akan kamu terima, jika kamu bekerja?" tanya Ardhan. "Aku memberikan dua kali lipat!"


"Sedikit! hanya sedikit, Mas! jauh dari uang belanja yang kamu berikan padaku!"


"Lalu untuk apa kamu bekerja, jika hasilnya tak bisa melampaui uang dari ku?"


"Aku ingin membuktikan kepada mu, Mas! aku pasti bisa berdiri di kaki ku sendiri, jika sewaktu - waktu suami ku meninggalkan aku!" jawab Alea, "tanpa perlu merayu suami orang!" lanjut Alea tegas dan geram.


"Kekonyolan apa yang kamu ucapkan!" hardik Ardhan.


"Tidak ada, permisi!" Alea melangkah ke arah pintu, dan membuka kunci pintu kamarnya.


Alea berjalan keluar sembari memakai jaket. Sedangkan Ardhan menatap punggung Alea. Mengusap wajahnya kasar setelah punggung istrinya tak terlihat.


"Aaakhh! Kenapa harus seperti ini?" gumam Ardhan.


Beberapa saat kemudian, Ardhan keluar dari kamarnya dan mendengar motor Alea keluar dari teras rumah. Menyisakan Ardhan menatap sendu sang putra yang tampak masih asyik menonton serial kartun.


.


.


🪴🪴🪴


...Hati Othor serasa jungkir balik. Di novel non fiksi ini, othor menulis sembari bersedih. Di novel fiksi Othor menulis sambil berbunga - bunga....

__ADS_1


...Apapun itu jangan lupa tinggalkan dukungannya ya Kakak 🙏🤩...


...Happy reading 🌹🌹🌹...


__ADS_2