
Adzan subuh berkumandang, Alea terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa berat akibat tangan Ardhan melingkar erat sejak Andra tertidur semalam.
Ale melirik lengan kekar itu, lalu menoleh wajah suaminya yang masih terlelap menghadap dirinya. Alea tersenyum tipis, menyusuri setiap lekuk dari wajah tampan Ardhan.
Setiap rumah tangga pasti ada saja badai. Tapi aku yakin semua akan terlewati. Selangkah lagi kita akan kembali menjadi keluarga yang utuh.
Batin Alea.
Alea menyingkirkan tangan suaminya dengan hati - hati. Namun ternyata tangan itu justru menariknya, hingga tubuhnya jatuh di dada suaminya.
"Mas!" pekik Alea.
Ardhan tak bergeming, ia masih memejamkan matanya.
"Mas, subuh!" hardik Alea.
"Tidur dulu, Yank! sebentar saja!" Ardhan menyusupkan wajahnya pada sela - sela leher Alea. "Sudah lama aku tidak memelukmu seperti ini, Ma!"
"Huh!" Alea mendengus.
"Mangkanya jangan banyak gaya!" ucap Alea.
"Iya..iya.. maaf! jangan di bahas lagi!"
"Sejatinya perempuan pasti akan selalu dan terus mengingat secuil kesalahan pun yang telah di lakukan suaminya di masa lalu. Jadi sampai sepuluh tahun lagi pun aku pasti ingat, kalau kamu pernah tergoda mantan!" gerutu Alea panjang lebar. "Eh, bukan mantan sih! tapi masa lalu yang belum kelar!" lanjut Ale mengerucutkan bibirnya.
Ardhan membuka matanya pelan. Menatap mata Alea yang terlihat masih menyimpan kekecewaan dan rasa kesal.
Tangannya terangkat, lalu mendarat tepat di pipi Alea. Bergerak menyingkirkan rambut - rambut yang berkeliaran di muka bantal itu dengan lembut.
"Maafkan aku, Yank!" ucap Ardhan lirih. "Aku tau aku salah, tapi aku akan belajar dari kesalahanku. Kehilangan kalian jauh lebih berat dari pada kehilangan apapun yang aku miliki sekarang!" ucap Ardhan menatap sendu mata Alea.
Alea hanya memanyunkan bibirnya, seolah mengejek sang suami yang baru sadar akan suatu kesalahan besar.
Pagi itu pun berlalu, dengan Alea yang kembali beraktivitas. Ia tetap berangkat kerja, meski Ardhan sudah melarangnya. Ia akan terus bekerja sampai Ardhan benar - benar mengganti nomor baru.
Alea memarkirkan motornya, dan langsung masuk ke ruang istirahat para cleaning service. Karena jam kerja masih 10 menit lagi, maka ia memutuskan untuk ponsel yang sedari malam belum ia cek.
"Ngapain nih makhluk hidup chat segala!" gerutu Alea melihat nomor yang paling di benci di dunia muncul di layar ponselnya.
Sofia
Jangan merasa menang kamu ya! 😡
^^^Memangnya kenapa?^^^
Kesempatan ku belum berakhir!
^^^Whatever! 😏^^^
Tunggu saja, Ardhan pasti kembali menghubungiku!
^^^Silahkan bermimpi sepuas mu, Nona! Aku tidak peduli! 🤨^^^
Laknat!
^^^Emang iya! 🤪^^^
__ADS_1
F*ck!
^^^**** you, too Kakak tua! 🤭🤣^^^
Setelah pesan terakhir yang ia kirim, Alea langsung menekan tombol blokir untuk nomor Sofia. Masuklah nomor itu ke dalam daftar blokirnya.
Detik terlewati, menitpun iku berlalu. Jam pun ikut menunjukkan waktu - waktu sibuk untuk para pekerja mengejar target, menjalankan tugas masing - masing.
Jam sepuluh pagi, Alea yang sedang mop lantai di lobby melakukan keteledoran. Saking senangnya karena tanda - tanda sang suami kembali normal sudah di depan mata, ia sampai gagal fokus.
Alea membersihkan lantai dengan menunduk, hingga mop yang ia dorong nyusruk sepasang sepatu pantofel berwarna hitam yang baru saja memasuki lobby hingga sepatu itu di penuhi debu.
"Wah, Alea bisa kena masalah!" gerutu Toni.
"Waduh!" seru Vania lirih.
Melihat sepasang sepatu itu, Alea membuka mulutnya lebar. Karena dia bisa memperkirakan harga sepatu itu, sehingga sudah pasti yang memakai bukan sembarang orang.
"Maaf, Pak!" seru Alea menunduk dalam sembari menarik gagang mop agar berdiri tegak di depan dadanya.
"Alea, kamu melamun?" tanya Fikri yang muncul dari belakang Alea.
"Maaf, Pak! saya tidak sengaja!" ucap masih dengan menunduk.
"Lihat, sepatunya jadi kotor!"
"Maaf, pak!" ucap Alea penuh penyesalan. "Akan saya bersihkan!" ucap Alea mengeluarkan lap dari sakunya.
"Tidak perlu!" ucap sang empunya sepatu saat Alea berjongkok hendak membersihkan sepatunya.
"Hah!" spontan Alea mendongak ke atas, melihat siapa pemilik sepatu. Suara itu sangat familiar di telinganya.
Seketika Alea tertegun, menatap tangan dan wajah suaminya bergantian.
Alea segera menyadarkan dirinya, lalu berdiri tanpa menerima uluran tangan Ardhan.
"Maafkan saya, pak!" ucap Alea kembali menunduk.
Ardhan tidak menjawab, ia menarik tangannya yang tidak di sambut oleh istrinya, dan memasukkannya ke dalam saku celana.
"Maafkan dia ya, Pak Ardhan" ucap Fikri.
"Tidak masalah" jawab Ardhan santai.
"Beneran bapak maafin saya?" tanya Alea berakting dengan memasang wajah menggemaskan dan senyuman penuh harap.
Ardhan menarik nafasnya dalam. Jika saja di rumah sudah pasti ia akan memakan wajah itu. Tidak lagi peduli dengan ancaman sang istri untuk tidak melakukan hal aneh - aneh.
Awas kamu, ya?
Gerutu Ardhan dalam hati.
Alea tau, suaminya itu tengah menahan sesuatu. Dia sengaja menggoda suaminya di tempat umum seperti ini.
Kalau sang suami berani menunjukkan pada semua orang di sana jika ia istrinya, sudah pasti ia akan ngambek untuk jangka waktu yang sulit di tentukan.
Apa yang akan kau lakukan, sayang?
__ADS_1
Ucap Alea dengan hati yang terbahak - bahak.
Semua orang di sekitar seperti resepsionis, Vania dan beberapa karyawan lain yang lewat, mulai menilai Alea perempuan genit. Gara - gara ekspresi yang di tunjukkan pada tamu perusahaan seperti tengah menggodanya.
"Heemm!" jawab Ardhan menatap Alea.
"Terima kasih, pak!" jawab Alea penuh suka cita.
"Bisa kita lanjutkan saja, Pak Fikri?" tanya Ardhan yang sudah tidak tahan berakting konyol dengan berpura - pura tidak mengenal sang istri.
[ Seperti para pengantri minyak goreng subsidi di supermarket 🤭 ]
"Bisa, Pak Ardhan! mari silahkan!" Fikri mengarahkan Ardhan untuk berjalan ke arah lift.
Ardhan dan Fikri berjalan mendekati pintu lift. Meninggalkan Alea yang merasa penuh kemenangan.
Kalau saja aku tadi tau, jika itu kaki Mas Ardhan, aku akan sengaja menabrakkan mop ini sampai celananya. Biar saja bekerja dengan sepatu dan celana kotor! Hahahah!
Tawa Alea dalan hati.
"Baru sebulan sudah mulai bertingkah!" seru salah satu resepsionis bagian dalam lobby. "Sok - sok an godain manager! mana mau manager sama OG!" celetuknya.
"Hah!" pekik Alea, yang menyadari sindiran itu mengarah padanya.
"Nggak usah to the point gitu juga kali, Mbak!" sahut Vania pada resepsionis itu.
"Lah, kenyataan!" sahutnya lagi tanpa menoleh Vania yang seolah tidak terima temannya di katai dengan suara lantang begitu.
Astaga... sepertinya aku salah tempat mengerjai suamiku!
Gerutu Alea merutuki kebodohannya.
Tapi bagaimana akhirnya, jika mereka tau Mas Ardhan itu suamiku?
Hehehe
Batin Alea tergelitik membayangkan betapa terkejutnya mereka jika tau kalau Ardhan Bagaskara itu adalah suaminya.
"Maaf ya Mbak, kalau tersinggung! saya nggak ada niat mengganggu bahkan menggoda Pak Ardhan." ucap Alea pada resepsionis itu.
"Alasan kamu Alea!" sahutnya. "Sok cantik!"
"Lah emang Alea cantik!" sahut Toni yang juga berada di lobby.
Alea hanya kembali menunduk, dan melanjutkan pekerjaannya. Tanpa berniat menanggapi panjang lebar ucapan resepsionis itu.
Sepertinya suatu saat Mas Ardhan harus memperkenalkan aku sebagai istrinya di Sentai group ini!
Mulut beberapa orang di sini cukup pedas memang!
Batin Alea bergemuruh.
.
.
🪴🪴🪴
__ADS_1
Happy reading 🌹🌹🌹