Aku Pelakor?

Aku Pelakor?
Episode 44# Pikiran Buruk Alea


__ADS_3

Sampai Andra tidur di jam 1 siang, Alea tak mendapat satu pesan pun dari suaminya. Alea menghela nafas kecewanya.


Alea ragu untuk membuka aplikasi chat suaminya. Dia takut jika menemukan chat yang lebih gila dari sebelumnya.


Dengan sekuat hati Alea kembali membukanya kembali. Untuk memastikan diri dalam mengambil keputusan selanjutnya.


Dan benar saja, sudah banyak sekali chat dari nama yang sama. Alea mendalami beberapa chat yang menurutnya sangat sensitif.


Typo tuh!


^^^Haduuh, ini hari rabu apa kamis sih? hilang konsentrasi ku sampek typo mulu😂^^^


Mungkin di sampingmu ada bidadari surga, mangkanya kamu sampek hilang konsentrasi.


^^^Kalau bidadari surga nggak bikin konsentrasi ku hilang.^^^


^^^Yang bikin konsentrasi ku hilang adalah ketika aku sudah menemukan bidadari ku yang hilang.^^^


^^^Tapi ternyata saat ditemukan aku tak mampu menggapainya.^^^


^^^Ia terbang terlalu tinggi dan jauh.^^^


^^^Hingga tangan rapuh ku ini tak mampu menggapainya.^^^


Jiiaahh 🥰😍 padahal kalau niat gampang banget!


bilang aja emang udah nggak ada cinta buat aku! aku aja masih ingat saat kamu cium tangan ku di rumah Yeni dulu.


^^^Sampai saat ini aku juga masih ada cinta untukmu. Aku juga ingat saat itu. Jantungku serasa ingin melompat 🤭.^^^


^^^Tapi mau apa di kata, aku sudah meminang anak orang. Aku sudah mendapatkan buah hati darinya.^^^


^^^Kalau saja masih jomblo, pasti langsung gas! 😉^^^


Alasan!


^^^Beneran!^^^


Kalau seandainya kita bertemu saat kamu masih pacaran sama istrimu, kamu bakal tetap lanjut sama dia, atau mutusin dia dan balik ke aku?


^^^Aku yang memintanya untuk menjadi pacar ku saat itu. Sangat menyakitkan untuknya jika aku yang memutuskan. Terlalu egois bukan?^^^


Sudahlah, Dhan. Jangan bahas lagi. Bikin aku menyesal kenapa harus berpisah dengan cara seperti itu dulu.


Apapun jawaban mu, aku yakin sampai kapan pun kamu tidak akan meninggalkan bidadari mu untukku. 😔


^^^Sorry . . . 😕🥲^^^


Udah makan siang?


^^^Sudah barusan, sama Leon dan Weni.^^^


Aku cemburu sama sekretaris mu si Weni itu. Dia bisa sama kamu terus ya?


^^^Ya kan sudah tugasnya mengikuti kemanapun aku pergi.^^^

__ADS_1


Dhan, video call yuk! bentar aja!


^^^Ok!^^^


Nomor keduanya pun tersambung dalam sebuah video call.


"Ternyata mereka pun video call! Dia bahkan tau Weni adalah sekretaris Mas Ardhan." Ucap Alea lirih.


Pikiran Alea semakin kemana - mana. Dia benar - benar meragukan kesetiaan Ardhan kedepannya.


"Selama ini aku takut jika kelak harta dan tahta yang di miliki mas Ardhan akan membuatnya tertarik pada perempuan liar di luar sana yang lebih cantik dan lebih muda dari ku.


Tapi ternyata dugaan ku salah. Dia justru tertarik pada masa lalunya. Yang usianya enam tahun lebih tua dariku!"


Gumam Alea lirih, sembari air mata yang menetes begitu saja.


"Aku telah salah meremehkan masa lalu mas Ardhan. Ternyata dia tak pernah melupakan masa lalunya!"


"Hiks!"


Air mata Alea semakin deras, membanjiri pipi putihnya. Lembaran tisu sudah berserakan di sekitarnya. Dia berusaha menekan suaranya. Agar tidak sampai terdengar oleh Andra yang terlelap di tempat tidurnya.


"Ayah, Ibu maafkan Alea, jika mas Ardhan sampai mengakhiri pernikahan kami, kalian pasti malu sama tetangga. Hiks!" tangis Alea terdengar sangat menyayat hatinya.


"Apalagi Alea pengangguran Yah, Bu. Uang apa yang Alea kirim untuk kalian. Selama ini Mas Ardhan yang memenuhi kebutuhan kalian."


"Kalaupun Alea bekerja, pekerjaan apa yang bisa dikerjakan IRT lulusan SMK seperti Alea. Hiks hiks hiks!"


Alea meletakkan ponselnya. Kedua tangannya mengusap air mata yang seolah tidak bisa berhenti. Hatinya terpuruk sedalam - dalamnya.


Alea menoleh pada putranya yang tampak terlelap dengan sangat pulas. Alea beranjak dari tempat tidurnya. Beralih duduk di tempa tidur Andra dengan menurunkan pagarnya. Alea mengusap lembut puncak kepala Andra.


Tanya Alea dalam hati dengan air mata yang terus menetes.


Jika ikut Mama, kita akan hidup dalam kesederhanaan. Mama tak punya apapun nak di dunia ini selain kamu. Mama pun tak yakin Kung dan Uti mau menerima kita.


"Hiks!"


Tangisan Alea pecah mengingat kehidupannya yang terombang - ambing.


Alea menatap pigura foto pernikahan mereka yang tercetak cukup besar di dinding kamar.


Aku pikir, setelah menikah hidup ku akan bahagia selamanya. Mengingat mas Ardhan tak pernah terlihat berhubungan dengan perempuan mana pun sebelum aku. Namun ternyata aku kalah dengan masa lalunya.


Alea menghapus air matanya, berdiam diri sejenak. Kemudian tiba - tiba sudut bibirnya terangkat lembut dan tulus.


Dari sini aku tau, jika mas Ardhan bisa mencintai seseorang dengan tulus. Hanya saja situasi yang membuat mereka berpisah.


Pantas saja dia tidak pernah terlihat berpacaran meskipun dia sangat mudah berbaur. Mungkin selama ini dia menunggu masa lalunya.


Dan aku?


Aku mengacaukan segalanya.


Alea menghapus air matanya. Mengeringkan air mata yang seolah enggan untuk berhenti.

__ADS_1


Alea berdiri, menormalkan dirinya di depan cermin almari. Memastikan wajahnya terlihat normal.


Namun saat melihat foto berdua saat mereka bermain di pantai semasa pacaran. Air mata itu kembali menetes.


Mungkin semua akan berakhir. Tapi aku harus mencari cara. Agar orang tua ku tidak tau tentang nasib ku saat ini. Aku tidak mau mereka kecewa dan malu karena anaknya di ceraikan suaminya. Apalagi mereka sudah berbangga memiliki menantu seorang Manager di perusahaan besar.


Alea mengusap lembut selembar foto berukuran 4R itu. Dimana dalam foto itu Alea berada dalam gendongan Ardhan.


Tiba - tiba kepala Alea terasa berdenyut. Seharian menangis sepertinya membuatnya kelelahan dan pusing.


Akhirnya Alea memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan mata.


# # # #


Jam 5 sore, mobil Ardhan sampai di depan pagar rumah. Dan kali ini Nur yang membuka pagar itu. Ardhan pun merasa aneh, karena biasanya Alea pasti sudah bersiap menyambut kapanpun dia datang.


"Istrinya kemana mbak Nur?"


"Bu Alea di kamar, Pak. Katanya sedikit pusing!" jawab Nur setelah menutup kembali pagar rumah.


"Pusing?" tanya Ardhan.


"Iya, Pak!" jawab Nur.


Ardhan bergegas masuk ke dalam rumah dan mendekati pintu kamarnya. Namun Andra lebih dulu membuka pintu kamar itu dari dalam.


"Papa!" teriak Andra melihat Ardhan pulang.


"Halo jagoan!" sapa Ardhan sembari mengangkat tubuh kecil itu. "Mama dimana?"


"Tidurl!" jawab Andra.


Ardhan membawa Andra di lengannya dan membuka pintu kamar pelan - pelan. Ardhan mendekati ranjang dan duduk di samping istrinya yang berselimut dan memejamkan matanya. Ardhan meletakkan tangannya di dahi Alea. Dan terasa cukup hangat.


"Ma, sudah minum obat?" tanya Ardhan mengusap kepala istrinya.


Alea tetap memejamkan matanya. Dia tau Ardhan sudah pulang, namun dia enggan membuka pintu pagar dan memilih memejamkan matanya dan tidak peduli dengan suaminya yang terlihat sok perhatian saat ini. Padahal seharian tak satu pesan pun ia kirim untuk sang istri.


Tidak perlu berpura - pura perhatian mas. Seharian saja kau tak ingat aku.


Ucap Alea dalam hati.


"Maa?" panggil Ardhan, namun Alea tak bergeming.


"Mama tidurl!" bisik Andra pada telinga papanya.


"Andra? Andra main di luar dulu ya nak?" ucap Ardhan pada Andra.


"Ok Papa!"


Andra keluar dari kamar mereka, dan kembali menutup pintu kamar. Meninggalkan orang tuanya yang terlihat masih diam saja di amat kecilnya.


.


.

__ADS_1


🪴🪴🪴


...Happy reading 🌹🌹...


__ADS_2