
Alea tengah mengaduk teh dan kopi yang sudah di tata di atas nampan berukuran cukup besar. Alea membawa nampan itu keluar dari pantry, untuk di bawa ke ruang meeting di lantai tiga.
Tok tok tok!
Ceklek!
Pintu ruang meeting di buka oleh salah satu sekretaris anggota meeting. Sontak seluruh anggota meeting menoleh ke arah pintu. Terlihat seseorang berpakaian CS memasuki ruangan dengan membawa nampan dengan 8 set cangkir. Satu persatu kopi di berikan pada pemesannya.
"Kok kamu yang antar?" tanya Fikri berbisik.
"Alea keburu ke toilet pak!" jawab Vania lirih di dekat telinga Fikri.
"Oh!" Fikri mengangguk pelan.
Padahal rencana ku tadi mau pamer pada mereka! kalau Sentani Group punya CS baru yang super cantik! hahaha
Batin Fikri iseng.
***
"Huh! untung ketemu Vania di lift!" gumam Alea yang kini tengah duduk di pantry sembari menikmati kopi susu yang dia buat untuknya.
Beberapa saat kemudian Vania masuk ke pantry. "Sudah nggak mules, Al?" tanya Vania sembari membuka pintu pantry.
"Eh, udah nggak, Van!" jawab Alea. Padahal dia hanya pura - pura mules.
"Rugi lo, Al! kamu nggak mau nganter kopi ke ruang meeting!" ucap Vania sembari duduk di kursi sebrang Alea.
"Memangnya kenapa?" tanya Ale.
"Uhh! apalagi kalau bukan karena ganteng - ganteng dan banyak duit!" jawab Vania tersenyum membayangkan para manager dari berbagai perwakilan perusahaan.
"Masa sih?" tanya Alea.
"Iya, Al! kamu tau Pak Ardhan yang tadi ngasih tips?" tanya Vania yang di jawab dengan sebuah gelengan oleh Ale. "Uh! dia itu sangat tampan! wajahnya Indonesia banget! sayangnya kata Pak Fikri, beliau sudah menikah!"
"Memangnya kalau belum kamu mau deketin dia?"
"Ya, enggaklah Al! aku sadar diri! mana mau dia sama aku yang pas - pasan gini! menurutku, istri nya paling tidak ya secantik kamu lah, Al!" ucap Vania.
Aku memang istrinya, Van! dan jika kamu bilang dia tampan! aku memang setuju. Sampai saat ini dia adalah pria paling tampan yang ku cintai!
Ucap Alea dalam hati.
"Cuma satu itu yang paling tampan?" tanya Alea.
"Nggak! masih ada pak Leon juga, beliau dari Galaxy company juga! sama seperti pak Ardhan. Hanya saja wajah dia setengah bule gitu!"
"Cakep dong bule!" sahut Ale.
"Aku suka yang Indo!" jawab Vania. "Ada sih yang indo dan masih jomblo, namanya pak Azkara, beliau dari perusahaan ABS group! masih muda tapi sangat dingin!"
"Oh, ya?"
"Hemm!" Vania mengangguk. "Eh, entar pas mereka mau pulang coba deh kamu stand bay di bawah! pasti kamu kagum melihat para bos besar itu!"
"Males ah! lagian aku sudah punya suami!"
__ADS_1
"Yeee.. cuci mata boleh kali!" celetuk Vania.
"Bener juga sih!" gumam Alea.
Tapi kalau ketahuan mas Ardhan, bisa gawat!
Batin Alea.
***
🍄 Diruang Meeting . . .
Kenapa seperti kopi buatan istri ku
Ucap Ardhan dalam hati, setelah menyeruput sedikit kopi hitam di cangkirnya.
"Ada apa, Pak Ardhan?" tanya Fikri saat melihat Ardhan seperti tengah melamun.
"Oh, tidak ada pak!" jawab Ardhan sembari menutup kopinya kembali.
Sedang mengerjakan apa dia sekarang?
Alea, kenapa juga kamu memutuskan bekerja sebagai CS. Itu sangat melelahkan sayang!
Gumam Ardhan dalam hati.
***
Tiga jam berlalu, para peserta meeting hari ini mulai keluar satu - persatu. Sedangkan Ale yang tidak mungkin bisa bersembunyi lama - lama karena harus bekerja, kini tengah membersihkan lantai lobby.
Saat Ale mendorong mop ke arah lobby, terlihat lift terbuka. Ale melihat pantulan wajah di dinding lift.
Dengan cepat Ale mendorong mop ke arah belakang, dengan membelakangi lift. Dimana mereka akan keluar.
"Eh, hati - hati Al!" ucap Fikri yang mengantar Ardhan dan yang lain keluar.
"Maaf, pak!" jawab Alea mengangguk tanpa melihat Fikri dan langsung mendorong mop ke arah pintu belakang.
"Tidak sopan sekali CS itu!" gerutu Azkara yang keluar dari lift di ikuti Ardhan dan para sekretaris.
"Maaf Pak Azkara, dia masih baru!" jawab Fikri.
"Oh! pantas saja!"
"Sudahlah, ayo! kita harus lanjut bekerja!" sahut Leon.
"Betul pak!" jawab Fikri.
Semua keluar dari gedung dan meninggalkan Sentani Group. Sedangkan Fikri menghampiri Alea.
"Alea kamu tadi kemana? kenapa bukan kamu yang antar kopinya?" tanya Fikri pada Alea yang masih mulai menghentikan mop nya saat melihat Fikri datang.
"Maaf, pak! tadi saya sudah bawa nampan hendak naik ke lantai tiga. Tapi tiba - tiba perut saya sakit. Saya takut terlihat tidak sopan jika saya menyerahkan kopi dengan menahan perut saya yang mules!"
"Oh, tapi tidak tengah sakit kan?"
"Tidak kok pak!"
__ADS_1
"Ya sudah, lanjutkan!" ucap Fikri sembari meninggalkan Alea.
"Iya, pak!" jawab Ale.
"Huuu!" Ale menghela nafasnya. "Semoga dia tidak mengenaliku!" gumamnya lirih.
# # # # # #
Ardhan memasuki gedung Galaxy Company bersama dengan Leon. Dan saat itu juga ponsel Ardhan berdenting.
✉️ SOFIA LARASATI
Ardhan, istri mu pasti sudah mengerti, aku sudah mengobrol dengannya! semoga dia tidak marah lagi chatting kita ini. Kamu jangan cuek - cuek lagi ya!
📨 Maksudnya?
Pokoknya dia pasti baik - baik saja!
Ardhan tidak membalas pesan itu, dia langsung masuk ke dalam lift bersama Leon dengan ekspresi wajah yang sulit di tebak.
# # # # # #
Jam empat sore, Alea pulang dengan lebih dulu menjemput Andra di sekolahnya. Namun sayang, ternyata Andra sudah di jemput Papa nya.
"Mas Ardhan, kau mencuri start!" gumam Alea sembari melajukan motornya pulang.
"Mama!" sapa Andra yang sudah tampan dengan pakaian rapi.
"Halo sayang!" jawab Alea sembari memarkirkan motornya di teras.
"Mama balu pulang?"
"Iya sayang!" jawab Alea sambil meraih tubuh mungil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke pintu utama rumah, mata Alea bertemu dengan mata Ardhan yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Alea tetap cuek, dan langsung masuk kamar dan bersiap mandi setelah meletakkan Andra kembali di mana Andra sebelumnya menggelar mainannya.
"Mbah Nur, makan malam sudah siap?" tanya Alea pada Nur yang sedang memasak.
"Sudah, Bu!" jawab Nur.
"Ok!"
Alea masuk ke kamar mandi, dan menuntaskan tujuannya ke kamar mandi. Setelah itu, dengan hanya menggunakan lilitan handuk Ale keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamarnya.
Belum sempat menutup kamar, Ardhan berhasil mendahului untuk ikut masuk ke dalam kamar. Dengan gerakan cepat Ardhan mengunci pintu dan langsung memasukkan kuncinya ke dalam saku celana. Kemudian menatap sinis Alea yang keheranan dengan ulahnya.
"Kamu ini kenapa sih, Mas! ngagetin aku aja!" gerutu Alea sembari berjalan ke arah jajaran almari pakaian.
"Apa kamu pikir aku tidak tau kamu di Sentani Group!" ucap Ardhan dengan sedikit menghardik.
Mendengar itu tubuh Ale membeku untuk beberapa detik. Matanya membulat terarah pada tatanan baju di dalam almari. Tangannya berhenti bergerak begitu saja.
.
.
__ADS_1
🪴🪴🪴
Happy reading 🌹🌹🌹